Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 3)
ORANG PERCAYA: Memiliki Benih Ilahi

ORANG PERCAYA: Memiliki Benih Ilahi

ORANG PERCAYA: Memiliki Benih Ilahi

Baca: 1 Yohanes 3:7-10

“Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” 1 Yohanes 3:9

Seseorang disebut Kristen bukan semata karena ia lahir dari rahim seorang ibu yang beragama Kristen, tetapi orang disebut Kristen ketika ia membuat keputusan untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan bertobat, yaitu meninggalkan kehidupan lamanya dan mengikut Kristus. Demikianlah ia mengalami kelahiran baru, manusia lamanya mati digantikan oleh manusia baru. Ia dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana yaitu firman Tuhan.

Di dalam diri kita ada benih Ilahi, maka seharusnya orang Kristen tidak mudah untuk disesatkan dan diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran sesat dari semua perkara yang ada di dunia ini. Mengapa? Sebab orang yang lahir dari Tuhan atau memiliki benih Ilahi hatinya senantiasa melekat kepada Kristus dan berakar kuat di dalam firman. Karena memiliki benih Ilahi jugalah orang Kristen mutlak hidup dalam kebenaran. “Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya.” (ayat 7b-8a). Patut dipertanyakan status kekristenannya jika ada orang Kristen yang masih terus hidup dalam dosa, hidup tak be-da jauh dengan orang-orang di luar Tuhan, sebab jelas dikatakan barangsiapa berbuat dosa berasal dari Iblis. Bahkan hidup Kristiani yang sejati itu bukan sekedar tidak lagi berbuat dosa, tapi harus benci dosa.

Orang Kristen yang menyadari bahwa di dalam dirinya ada benih Ilahi akan senantiasa hidup dalam kasih karena Bapa adalah kasih. Oleh sebab itu orang yang lahir dari Bapa pasti mewarisi sifat-sifat Bapa-Nya. Ada tertulis: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8). Kemudian ia akan menjadikan kasih sebagai gaya hidup sehari-hari, kasih yang bukan sekedar kata-kata, melainkan dimulai dari hati yang menyadari bahwa kita mengasihi karena Bapa lebih dahulu mengasihi kita, lalu diteruskan dengan mengekespresikan kasih itu dalam tindakan nyata, sehingga keberadaannya menjadi berkat bagi dunia ini!

Seorang Kristen sejati tercermin dari kehidupan nyata, yaitu hidup benar dan penuh kasih!


SELASA. ROH YANG LEBIH BESAR DARI APA PUN
Baca: 1 Yohanes 4:1-6

“…sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” 1 Yohanes 4:4

Alkitab menyatakan bahwa dunia sekarang ini sedang lenyap dengan segala keinginannya: keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (baca 1 Yohanes 2:16). Artinya semua keinginan duniawi dapat melenyapkan hidup seseorang: semakin menjauh dari Tuhan dan membawanya kepada jurang kebinasaan, tetapi “…orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yohanes 2:17).

Setiap orang percaya pasti punya kerinduan untuk hidup seturut dengan firman Tuhan, namun yang seringkali menjadi persoalan adalah: “…roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41), ditambah lagi dengan kuatnya arus dunia ini sehingga kita pun gagal dan gagal lagi untuk hidup dalam kebenaran. Bagi orang percaya yang hidup bergantung penuh kepada Tuhan, bukan saja akan diberi kerinduan untuk melakukan kehendak-Nya, tapi juga diberi kekuatan untuk melakukan kehendak Tuhan. Kekuatan itu datangnya dari Roh Kudus, Ia yang akan memampukan dan menguatkan kita untuk melawan arus duniawi sehingga kita dapat melawan arus dunia ini dan hidup menurut kehendak Tuhan, sebab “…Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” (ayat nas). Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk berkata: aku tidak sanggup, aku lemah, aku tak mampu melakukan ini dan itu, karena Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (baca Yohanes 16:13). Di tengah badai, masalah, dan pergumulan yang berat Tuhan tidak pernah membiarkan kita bergumul sendirian, Ia memberikan Roh-Nya untuk menguatkan kita. “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7). Bahkan Roh Kudus akan menyertai kita dalam menjalani hidup sampai kepada akhir zaman (baca Matius 28:20b).

Ada banyak perkara yang terjadi di dunia ini yang tidak kita mengerti, namun Roh Kudus hadir untuk mengajar kita dan memberi pengertian kepada kita (baca Yohanes 14:26), sehingga kita dapat mengambil sisi positif di setiap peristiwa.

Bersama Roh Kudus kita mampu menjalani hidup dengan kepala tegak berdiri!


RABU. MENJADI ANAK YANG TERHILANG

Baca: Lukas 15:11-32

“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Lukas 15:18-19

Perumpamaan tentang anak yang hilang menggambarkan seorang anak yang tidak menyukai hidup dalam dominasi orang tua. Ia berkeinginan hidup bebas dari pengawasan dan bebas menggunakan harta milik yang diklamin sebagai miliknya. “Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia mem-boroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.” (ayat 13). Model anak seperti ini banyak dijumpai, tak terkecuali pada mereka yang berstatus ‘Kristen’.

Ada banyak orang Kristen tidak merasa dirinya masuk kategori ‘anak yang hilang’, sebab menurut mereka anak yang hilang adalah mereka yang meninggalkan gereja dan hidup dalam hingar bingar duniawi. Selama masih pergi ke gereja, terlibat dalam pelayanan dan tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum, kita berpikir kita hidup dalam pertobatan dan tidak masuk kategori anak yang hilang. Benarkah? Sesungguhnya pertobatan yang Tuhan kehendaki lebih dari itu, yaitu kita sungguh-sungguh memberi diri hidup dalam penguasaan Tuhan dan kendali Roh Kudus sepenuhnya. Selama masih hidup menurut kehendak diri sendiri kita tergolong sebagai anak yang terhilang, meski secara lahiriah tampak beribadah. “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,” (Galatia 5:25).

Ciri nyata anak yang terhilang adalah hidup dalam kendali diri sendiri. Mereka menggunakan waktu, tenaga, uang, dan apa yang dimiliki sesuka hati untuk kepentingan diri sendiri dan menurut selera sendiri, bukan menurut kehendak Tuhan. Pertobatan adalah kesediaan datang kepada Bapa dan bersedia hidup dalam kekuasaan atau dominasi Bapa. Si bungsu yang bertobat berkata, “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” (Lukas 15:18-19). Kesediaannya untuk tidak menggunakan haknya sebagai anak dan rela diperlakukan sebagai hamba oleh bapa adalah bukti kesungguhannya bertobat.

Sudahkah kita bertobat setiap hari dan tunduk kepada kehendak Bapa?


KAMIS. ADA SUKACITA BESAR DI SORGA
Baca: Lukas 15:11-32

“Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” Lukas 15:32

Ketika anak bungsunya pulang (setelah lama terhilang) kembali ke rumah, orangtuanya mengadakan pesta untuk menyambut kepulangannya. Ini menggambarkan ada sukacita di sorga kalau ada satu orang bertobat. “…akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Lukas 15:7).

Pertobatan yang bagaimanakah yang membuat Tuhan bersukacita? Kalau hanya mengaku bertobat karena ada altar call di gereja belumlah membuat sorga bersukacita. Pertobatan yang dapat membuat sorga bersukacita adalah pertobatan yang benar menurut ukuran Tuhan. Pertobatan yang benar adalah pertobatan seperti si anak bungsu, yaitu dari kehidupan yang dikuasai oleh keinginan diri sendiri berbalik kepada kehidupan yang mau tunduk sepenuhnya kepada otoritas bapanya. Penundukan diri adalah ciri dari orang yang bersedia hidup dalam otoritas Tuhan, yaitu orang-orang yang pasti diperkenankan masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Sorga. Pertobatan yang benar yang membuat orang mengalami kelahiran baru bukanlah satu kali pertobatan, tetapi sebuah proses pertobatan terus menerus dan seumur hidup. Untuk pertobatan seperti ini dibutuhkan pencerahan oleh kebenaran firman Tuhan setiap hari, sebab “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16).

Kebenaran firman Tuhan yang mencerahi pikiran ditindaklanjuti oleh perubahan berpikir (“metanoia”). Metanoia mengekspresikan perubahan intelektual dan spiritual yang terjadi ketika seorang pendosa berbalik kepada Tuhan. Arti kata metanoia adalah memiliki pikiran lain atau mengubah pikiran orang dalam sikap dan tujuan perihal dosa. Atau, berpikir tentang sesuatu secara berbeda dari sebelumnya. “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20).

“Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” Matius 3:8


JUMAT. ORANG PERCAYA SEBAGAI AHLI WARIS (1)
Baca: Galatia 4:1-11

“Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.” Galatia 4:7
Satu perkara yang acapkali menjadi biang permasalahan atau sumber konflik, perpecahan, sengketa di dalam sebuah keluarga adalah persoalan warisan. Bahkan ada orang yang sampai tega membunuh saudara kandungnya hanya karena mengincar warisan. Warisan adalah harta peninggalan yang ditinggalkan pewaris kepada ahli waris. Sesungguhnya warisan adalah sesuatu yang baik, karena apa yang orangtua miliki diturunkan kepada anak-anaknya, sehingga anak-anaknya mendapatkan berkat dari orangtuanya. Namun ada banyak orang yang hidupnya hanya menanti dan mengandalkan warisan orangtua, sehingga warisan yang sebenarnya adalah sesuatu yang baik akhirnya menjadi sumber petaka di dalam keluarga. Letak persoalannya bukan pada warisan itu, tetapi pada pola pikir yang hanya memikirkan warisan, bahkan sampai menimbulkan sifat serakah.

Warisan yang sejati bukanlah hanya harta yang berhubungan dengan kebendaan, warisan yang sejati adalah bagaimana orangtua mewariskan iman kepada anak-anaknya. “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya,” (Amsal 13:22). Warisan yang sejati adalah bagaimana orangtua menanamkan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang takut akan Tuhan, sebagaimana yang disampaikan Musa: “Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun…supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi.” (Ulangan 11:19, 21).

Di dalam bacaan hari ini dijelaskan bahwa hidup orang Kristen adalah hidup yang terbebas dari perhambaan. Ini terjadi karena Kristus telah mengorbankan nyawa-Nya di atas kayu salib bagi kita. “Ia (Kristus – Red) diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” (Galatia 4:5). Jadi karena status kita bukan lagi hamba, melainkan diangkat sebagai anak, maka kita adalah orang-orang yang berhak menerima warisan dari Bapa karena kita adalah ahli-ahli waris (ayat nas). (Bersambung)


SABTU. ORANG PERCAYA SEBAGAI AHLI WARIS (2)
Baca: Roma 8:12-17

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8:17

Kalau bapa yang ada di dunia saja berpikir tentang warisan yang hendak diberikan bagi anak-anaknya, apalagi Bapa kita yang di sorga. Inilah warisan yang Bapa sediakan bagi kita orang percaya: 1. Kerajaan Sorga. Ada orang yang suka mengatakan janji-janji, tapi sulit sekali untuk menepatinya. Harus diakui bahwa dunia ini penuh dengan janji palsu, janji yang tidak pernah digenapi. Namun Tuhan kita adalah Tuhan yang berjanji dan memberikan kepastian dalam janji-Nya. Janji Tuhan adalah ya dan amin. Tuhan Yesus berkata, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14:2-3).

Sorga adalah sebuah kepastian bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. 2. Kemenangan. Di dunia ini ada banyak sekali tantangan, bahkan Iblis tidak pernah berhenti mencari cara untuk menghancurkan hidup orang percaya. Kita tidak perlu takut karena di dalam kita ada Roh Kudus, Dialah yang akan membawa kita kepada kemenangan: menang atas persoalan dan menang atas Iblis. “…syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya.” (2 Korintus 2:14). 3. Berkat. “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10b). Tak perlu kita hidup dalam kekuatiran. Selama kita mencari dahulu kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya maka semua akan ditambahkan di dalam hidup kita. Pegang teguh kebenaran firman ini! “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19).

Karena kita adalah ahli waris, “…Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Efesus 1:3


MINGGU. HIDUP ORANG PERCAYA PENUH MUJIZAT
Baca: Kisah Para Rasul 5:12-16

“Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.” Kisah 5:12

Semua orang pasti excited mendengar kata mujizat. Mujizat adalah salah satu faktor pendorong dan penyemangat orang datang ke gereja. Mereka mencari Tuhan dengan harapan ingin mendapatkan mujizat: sakit disembuhkan, masalah terselesaikan, ekonomi keluarga dipulihkan. Namun di sisi lain ada juga orang-orang skeptis mendengar kata mujizat. Skeptis adalah kurang percaya, ragu-ragu (terhadap keberhasilan ajaran dan lain-lain). Mereka menganggap mujizat adalah cerita masa lalu di zaman Alkitab. Benarkah demikian? Ketahuilah, mujizat sampai hari ini dan untuk selamanya tetap ada! Karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak berubah. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8).

Namun yang harus menjadi fokus utama kita dalam mengikut Tuhan adalah Pribadi-Nya, bukan semata-mata karena kita mengingini mujizat-Nya. Kita tidak perlu memikirkan mujizat, karena selama kita mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh dan hidup taat melakukan kehendak-Nya, hari-hari yang kita jalani pasti akan dipenuhi dengan mujizat. Mujizat dan tanda-tanda ajaib adalah bagian dari paket keselamatan yang Tuhan sediakan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Namun ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah melakukan mujizat seperti yang kita mau dan harapkan, tapi Tuhan membuat mujizat sesuai dengan kehendak-Nya. Mungkin kita bertanya, “Mengapa aku tidak pernah mengalami mujizat?” Bukannya Tuhan tidak sanggup atau tidak mau membuat mujizat, tapi kita sendiri yang seringkali mengharapkan melakukan mujizat menurut kehendak kita. Kita mendikte Tuhan untuk mengikuti kemauan dan keinginan kita!
Alkitab menyatakan bahwa tanda-tanda ajaib dan mujizat senantiasa menyertai perjalanan hidup orang percaya yang berlaku benar di hadapan Tuhan. “Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17:20).

Taat melakukan firman Tuhan dan memiliki iman adalah kunci mengalami mujizat!

PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. (Amsal 3:5)

PENDAHULUAN

Manusia cenderung lebih percaya kepada pengetahuan, yaitu sesuatu yang dapat dilihat dengan mata fisik, memiliki bukti, serta dapat dipahami melalui nalar dan logika, daripada percaya kepada Tuhan yang tidak kelihatan dan tidak dapat dipahami sepenuhnya secara rasional. percaya kepada Tuhan bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Percaya berarti memilih Tuhan sebagai dasar utama dalam mengambil keputusan sekalipun kita belum melihat dan memahami seluruh rencana-Nya.

Sebaliknya, orang beriman tidak bergantung atau menaruh kepercayaannya pada apa yang terlihat, melainkan kepada Allah, yang menopang segala sesuatu—baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat—dengan firman-Nya yang penuh kuasa (Ibrani 1:3). Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).

ISI

1. PERCAYA DENGAN SEGENAP HATI

  • Percaya dengan segenap hati berarti menyerahkan kendali hidup, menaruh harapan, dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Iman sejati tidak bergantung pada pikiran, logika, asumsi, perasaan, situasi, ataupun kondisi kita. Iman sejati bukanlah kepercayaan semu atau ilusi yang tidak berdasar, melainkan kepercayaan yang dibangun di atas pengenalan akan karakter Allah: siapa Allah bagi kita dan siapa kita di dalam Dia.
  • Bahwa Tuhan:
    • Baik dan setia, tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita.
    • Tidak pernah berdusta,
    • Tidak pernah terlambat,
    • Sanggup melakukan segala perkara,
    • Bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anak-Nya,
    • Rancangan-Nya bagi kita adalah rancangan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan
  • Bahwa kita:
    • Adalah anak-anak Allah dan ciptaan baru dalam Kristus,
    • Adalah ahli waris—yaitu orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah dan menerimanya bersama-sama dengan Kristus,
    • Menerima hidup yang berkelimpahan melalui karya keselamatan Kristus,
    • Menerima kuasa dan otoritas melalui kehadiran Roh Kudus untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, melakukan kehendak Allah, dan berkemenangan,
  • Ketika kita mengenal karakter Allah, kita akan belajar memercayai firman,
    janji, dan rancangan-Nya, sekalipun kita belum memahami atau melihat semuanya digenapi. Iman yang sejati selalu menghasilkan ketaatan. Seseorang tidak dapat berkata bahwa ia percaya kepada Tuhan apabila ia terus-menerus menolak melakukan firman-Nya. Kepercayaan kepada Tuhan terlihat melalui keputusan dan tindakan yang selaras dengan kehendak-Nya.6)

2. ALLAH BEKERJA MELAMPAUI PENGETAHUAN DAN LOGIKA MANUSIA

Pikiran, logika, nalar, dan pengetahuan manusia sangat terbatas. Semuanya hanya mampu memahami perkara-perkara yang terlihat atau berada dalam dimensi fisik. Sementara itu, Allah bekerja melampaui semua itu. Cara, waktu, dan rencana-Nya tidak dapat diukur ataupun diselami sepenuhnya oleh kapasitas akal budi manusia. Rencana Tuhan bagi kita bukan hanya menyangkut kehidupan kita saat ini, melainkan juga mencakup berbagai aspek dan pertimbangan yang berdampak pada generasi-generasi sesudah kita.

  • Yesaya 55:8-9 menjelaskan mengapa kita tidak mampu menyelami pekerjaan Tuhan: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Apa yang terlihat baik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut pandangan Allah. Amsal 16:25 mengatakan, “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”

  • Saat kita hanya mengandalkan pengertian sendiri tanpa mencari kehendak Tuhan, keputusan yang kita ambil dapat menjadi keliru, tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan persoalan baru dan membahayakan. “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri..” (Yeremia 17:5-6).

3. AKUILAH TUHAN DALAM SEGALA LAKUMU

Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

  • Mengakui Tuhan berarti melibatkan-Nya, menyerahkan setiap keputusan kepada-Nya, serta memohon tuntunan Roh Kudus dalam setiap aspek kehidupan, bukan hanya dalam perkara-perkara rohani. Ketika kita menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus, maka Roh Kudus akan meluruskan jalan kita.
  • Tuhan meluruskan jalan bukan berarti menghilangkan semua kesulitan dan rintangan, melainkan mengarahkan langkah kita agar tetap berada dalam kehendak-Nya dan mencapai tujuan Ilahi. Jadi hidup orang yang beriman bukan berarti jalan hidup menjadi mulus dan lancar tanpa rintangan. Sebaliknya, iman percaya akan kehadiran Tuhan yang setia menyertai dan memampukan kita melewati kesukaran, persoalan, dan penderitaan dengan kesabaran, ketekunan, serta kemenangan. Orang percaya memahami bahwa setiap kesulitan diizinkan Tuhan untuk memurnikan iman dan membentuk karakter Kristus di dalam dirinya.
  • Jalan yang diluruskan juga berarti pikiran, motivasi hati, keinginan, dan tindakan kita diselaraskan dengan kehendak-Nya. Segala sesuatu yang tidak kudus, tidak benar, tidak menghasilkan buah, dan menghambat pertumbuhan iman akan dipotong oleh Tuhan (Yohanes 15:2).

 

4. CIRI ORANG YANG PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

  • Ada ketenangan batin, damai sejahtera, sukacita, dan pengharapan yang timbul dari pewahyuan akan firman Tuhan.
  • Menolak bersandar pada pengertian sendiri dan overthinking(kecenderungan berpikir secara berlebihan, terutama dengan membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk atau memprediksi hal-hal negatif di masa depan), serta tidak mengizinkan perasaan/emosi negatif memimpin hidupnya.
  • Menjaga pikiran, hati, dan perkataan dengan firman Tuhan, serta mengenakan perisai iman agar dapat memadamkan semua panah api si jahat.
  • Berserah sepenuhnya kepada kedaulatan Tuhan dan mempercayai cara serta waktu-Nya.
  • Membuktikan iman melalui langkah-langkah ketaatan.
  • Mengucap syukur dalam segala hal.
  • Tidak jemu-jemu berdoa.

PENUTUP

Hikmat dunia mengajarkan manusia untuk mengandalkan diri sendiri dan apa yang terlihat oleh mata. Sebaliknya, hikmat Allah mengajarkan kita untuk percaya kepada Tuhan dengan segenap hati dan tidak bersandar pada pengertian sendiri. Percaya kepada Tuhan bukan hanya ketika doa segera dijawab, tetapi juga ketika Tuhan berkata, “Tunggu.” Penundaan bukanlah penolakan. Dalam masa penantian, Tuhan sedang membentuk karakter, memperdalam iman, dan mempersiapkan kita untuk menerima berkat-Nya pada waktu yang tepat.

Oleh sebab itu, bangunlah iman di atas pengenalan akan karakter Allah serta pemahaman tentang siapa Allah bagi kita dan siapa kita di dalam Kristus. Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati adalah keputusan yang harus diperbarui setiap hari. Walaupun kita tidak mengetahui seluruh perjalanan di depan, kita mengenal Pribadi yang memimpin perjalanan itu. Karena itu, akuilah Dia dalam segala lakumu, hiduplah dalam ketaatan kepada firman-Nya, dan tetaplah berharap kepada-Nya. Tuhan tidak pernah gagal menepati janji-Nya; Ia akan menuntun kita kepada kehendak-Nya yang sempurna dan memampukan kita melewati setiap persoalan dengan kemenangan.

TUHAN ADALAH TEMPAT PENGUNGSIAN KITA

TUHAN ADALAH TEMPAT PENGUNGSIAN KITA

Senin. TUHAN ADALAH TEMPAT PENGUNGSIAN KITA

Baca: Yesaya 31:1-9

“Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.” Yesaya 31:1

Sekarang ini tingkat kegelisahan dan stres manusia meningkat secara drastis. Salah satu faktor penyebabnya adalah keadaan yang sukar: perekonomian semakin tidak stabil, harga-harga kebutuhan hidup melangit, tingkat pengangguran tinggi; ditambah lagi dengan keadaan negeri ini yang dipenuhi goncangan-goncangan: bencana alam terjadi di mana-mana, banjir bandang, angin puting beliung, dan juga tanah longsor; belum lagi goncangan politik belakangan ini. Masalah, musibah atau bencana acapkali datang tiba-tiba dan tak seorang pun tahu apa yang terjadi di kemudian hari! Karena itu “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” (Amsal 27:1).

Adakah yang bisa kita banggakan dari dunia ini? Uang, harta benda, pangkat dan semua yang bersumber dari dunia tak bisa diandalkan dan tak bisa dijadikan tempat pengungsian yang aman. Bersyukur kita memiliki Tuhan sebagai satu-satunya Penolong yang bisa kita harapkan. Meminta pertolongan ke Mesir (gambaran dunia) mengandalkan kuda-kuda, kereta atau pasukan berkuda adalah sia-sia belaka. Tetapi orang yang menyandarkan harapannya kepada Tuhan pasti akan beroleh pertolongan dan bahkan terberkati: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7). Walaupun dunia dipenuhi dengan krisis dan goncangan, orang yang senantiasa mengandalkan Tuhan akan tetap terpelihara dan terjaga hidupnya, karena Tuhan adalah sumber berkat dan benteng perlindungan.

Di tengah kelaparan hebat melanda, janda Sarfat hanya punya segenggam tepung dan sedikit minyak dalam buli-buli. Secara logika ia tidak memiliki harapan, tetapi ketika taat kepada perintah Tuhan tiada perkara yang mustahil. Tuhan sanggup memberkati dan memulihkan keadaannya dengan berlipat kali ganda!

“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.” Mazmur 91:7


Selasa. SETIALAH MULAI DARI PERKARA KECIL
Baca: Lukas 16:10-18

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga da-lam perkara-perkara besar.” Lukas 16:10a

Banyak orang seringkali memusatkan perhatian atau hanya ter-fokus kepada hal-hal yang besar, sampai-sampai ia melupakan, meremehkan dan menyepelekan hal-hal yang kecil atau sederhana. Padahal untuk bisa sampai kepada perkara-perkara yang besar kita harus mulai dari hal-hal yang kecil. Untuk bisa men-capai puncak gunung kita harus mulai pendakian dari bawah atau melewati lembah dan lereng terlebih dahulu. Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa perjalanan seribu mil selalu dimulai dari langkah pertama.

Coba tanyakan kepada orang-orang yang berhasil, baik itu berhasil dalam pekerjaan ataupun pelayanan, mereka juga memulai segala sesuatunya dari nol, tidak langsung berada di top level. Di zaman sekarang ini orang maunya berhasil secara instan, terkenal secara instan, atau kaya secara instan, tak peduli meski harus menempuh cara yang tidak halal. Ketika melamar pekerjaan, orang maunya diposisikan di tempat teratas, tidak mau merintis dari bawah; kalau pekerjaan tidak sesuai dengan ijazah, mereka tidak mau. Begitu pula dalam hal melayani pekerjaan Tuhan, tidak sedikit orang Kristen yang pilih-pilih pelayanan. Baru mau melayani jika ditempatkan di posisi depan, dilihat banyak orang, di posisi strategis. Kalau hanya sebagai pendoa syafaat, pembesuk, apalagi hanya jadi tukang sapu lantai gereja, pelayanan itu pasti akan ditolak secara mentah-mentah, takut pamornya turun.

Sebelum kita layak untuk menerima sebuah kepercayaan yang lebih, mau tidak mau, kita harus terlebih dahulu melewati proses dari bawah. Kita tidak secara tiba-tiba berada di puncak. Ada ujian kesetiaan, ujian ketekunan dan ujian kesabaran dalam melakukan perkara-perkara kecil. Bahkan, adakalanya kita harus melewati pengalaman pahit atau situasi sulit yang sangat menyakitkan secara daging, namun kita tidak boleh menyerah begitu saja, kita harus terus melangkah dan tetap mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, tanpa ada sungut-sungut. Ini adalah modal untuk beroleh kepercayaan lebih!

“Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,” Mazmur 18:26


Rabu. MENJADI YANG TERBAIK DI BIDANGNYA

Baca: Pengkhotbah 9:1-12

“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” Pengkhotbah 9:10

Ayat nas ini merupakan pernyataan raja Salomo, seorang raja yang secara lahiriah memiliki apa saja yang menjadi dambaan semua manusia: hikmah, kedudukan, kekayaan, kemashyuran. Berdasarkan pengalaman hidupnya terungkap sudah bahwa kunci untuk meraih keberhasilan adalah menjadi yang terbaik dalam apa pun yang dikerjakannya.

Menjadi yang terbaik adalah kerinduan Tuhan bagi setiap orang percaya. Ini terwakili melalui pekerjaan tukang periuk dan tanah liat. “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” (Yeremia 18:4). Juga melalui perumpamaan tentang talenta, di mana si tuan menghendaki setiap hamba, yang beroleh masing-masing lima, dua dan satu talenta, melakukan yang terbaik supaya talentanya itu mengalami pelipatgandaan (baca Matius 25:14-30).

Sesungguhnya nasib semua orang adalah sama (baca Pengkhotbah 9:2-3), karena Tuhan tidak pernah membeda-bedakan manusia. Apa yang akhirnya membedakan dari masing-masing orang? Yang membedakan adalah kecakapannya dalam mengerjakan sesuatu dan iman yang dimiliki. Inilah yang kurang disadari semua orang! “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29). Hidup ini adalah kesempatan untuk menjadi yang terbaik, karena itu jangan pernah kita menyia-nyiakan kesempatan yang ada, “…karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” (ayat nas)

Tidak ada alasan bagi orang percaya untuk tidak menjadi yang terbaik, karena Tuhan dan kuasa-Nya senantiasa menyertainya. Sehebat apa pun manusia jika tanpa penyertaan Tuhan ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan,” (Efesus 3:20).

Ingin menjadi yang terbaik? “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23


Kamis. MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (1)

Baca: Lukas 21:34-38

“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supa-ya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” Lukas 21:36

Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati, yang bisa diartikan melakukan pencegahan atau berjaga-jaga terlebih dahulu untuk mengantisipasi atau menghindari kemungkinan yang lebih buruk terjadi. Prinsip ini bisa diterapkan di segala bidang kehidupan, bukan hanya berkenaan dengan sakit-penyakit yang datangnya tidak terduga dan sewaktu-waktu bisa menyerang semua manusia. Solusinya adalah melakukan pencegahan. Jangan sampai ketika ‘musuh’ datang kita baru sibuk mencari senjata untuk melawan. Terlambat sedikit, fatal akibatnya!

Dalam hidup ini pun adalah lebih baik berjaga-jaga atau mempersiapkan segala sesuatu sebaik mungkin daripada harus melakukan perbaikan atas kegagalan-kegagalan yang telah terjadi, yang tentunya akan lebih sulit. Tuhan Yesus pun telah memperingatkan kita untuk selalu berjaga-jaga sambil berdoa agar kita tidak jatuh ke dalam pencobaan (baca Matius 26:41). Mengapa kita harus berjaga-jaga? Karena “…Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Iblis selalu mencari celah dan memanfaatkan kelengahan kita. Jika kita tidak berjaga-jaga sambil berdoa, kita akan menjadi sasaran empuknya! Dunia ini penuh dengan godaan dan pencobaan (keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup – 1 Yohanes 2:16). Jika iman tidak teguh kita akan mudah terbawa arus yang ada. “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut diba-wa arus.” (Ibrani 2:1).

Rasul Paulus menasihati, “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.” (Roma 13:13). Mengapa? Karena “…kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.” (1 Tesalonika 5:5-6). Sebagai anak-anak terang kita harus menjaga diri supaya tidak larut dalam pesta pora dan kemabukan! (Bersambung)


Jumat. MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (2)

Baca: 1 Tesalonika 5:1-11

“karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.” 1 Tesalonika 5:2

Semua orang tahu bahwa orang yang mabuk adalah orang yang dalam keadaan tidak sadar. Biasanya orang yang hidupnya suka bermabuk-mabukan memiliki kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang semata-mata bertujuan memuaskan hawa nafsu kedagingan: melakukan seks sebelum menikah, selingkuh, mengkonsumsi obat-obat terlarang atau perbuatan-perbuatan jahat lainnya. Sekarang ini banyak orang secara tidak sadar sedang hanyut dalam ‘kemabukan’: tanpa sadar menyimpan kebencian, sakit hati, dendam, iri hati, dengki dan sebagainya. Inilah hidup dalam kemabukan, yang sesungguhnya hanya mengantarkan seseorang kepada kehancuran.

Jadi kita harus senantiasa menjaga jalan hidup kita. “Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jal-anmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.” (Amsal 4:26-27). Jalan hidup kita perlu dijaga supaya arah yang hendak dituju tidak salah, sebab “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12). Dalam dunia ini banyak jalan yang sedang dirancang oleh Iblis untuk menjatuhkan kita sebagai anak-anak terang. Ada pun jalan yang dirancang Iblis itu terasa sangat mudah untuk dilalui, menyenangkan daging dan tanpa ada harga yang harus dibayar, namun jalan itu penuh dengan jebakan yang sangat mematikan, “…karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;” (Matius 7:13).

Hal penting lain adalah kita harus menjaga mata dan lidah kita. “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.” (Matius 6:22-23). Mata kita tercipta bukan untuk memandang hal-hal negatif dan yang bersifat duniawi yang membawa kepada kehancuran, tetapi dicipta untuk memandang hal-hal yang positif dan bertujuan memuliakan Tuhan. Kita juga harus bijak dalam memfungsikan lidah kita, sebab “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21).

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,” Efesus 5:15


Sabtu. TANAH KANAAN SEBAGAI KASIH KARUNIA TUHAN
Baca: Bilangan 33:50-56

“Haruslah kamu menduduki negeri itu dan diam di sana, sebab kepadamulah Kuberikan negeri itu untuk diduduki.” Bilangan 33:53

Ketika itu orang-orang Israel sudah berada di dataran Moab, di tepi sungai Yordan dekat Yerikho, itu artinya tinggal sedikit waktu lagi mereka akan memasuki tanah Kanaan. Kanaan adalah tempat atau lokasi yang dijanjikan Tuhan untuk diberikan kepada Abraham dan keturunannya, atau disebut Tanah Perjanjian. “Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.” (Kejadian 17:8); suatu negeri yang baik dan luas, serta berlimpah-limpah susu dan madunya (baca Keluaran 3:8). Mungkin ini adalah sukacita terbesar yang dirasakan oleh umat Israel, setelah kurang lebih 40 tahun lamanya mereka harus menempuh perjalanan berputar-putar di padang gurun.

Sebelum memasuki Kanaan ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dan dipersiapkan, sebab ada bangsa lain yang menempati Kanaan, yang penduduknya adalah penyembah berhala. Karena itu Tuhan memerintahkan untuk menghalau semua penduduk, membinasakan segala patung tuangan dan memusnahkan bukit-bukit penyembahan berhala (Bilangan 33:52). Mengapa? Karena “…mereka akan menjadi seperti selumbar di matamu dan seperti duri yang menusuk lambung-mu, dan mereka akan menyesatkan kamu di negeri yang kamu diami itu.” (Bilangan 33:55); artinya bangsa yang ada di Kanaan kalau tidak ditumpas, cepat atau lambat, akan membawa pengaruh negatif dan menjadi jerat bagi bangsa Israel sendiri, terutama dalam hal ibadah, sebab orang-orang di Kanaan menyembah kepada dewa-dewa (berhala). Ini sangat berbahaya! “…karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” (Keluaran 34:14).

Kunci untuk mengalami berkat-berkat Tuhan adalah harus membuang semua dosa dan segala hal yang menghalangi kita untuk beribadah kepada-Nya. Setelah itu barulah bangsa Israel bisa menduduki negeri itu dan diam di sana. Menduduki berarti bukan sekedar menempati, tetapi juga mengelola, mengupayakan, mengembangkan potensi yang ada, serta mempertahankan sedemikian rupa.

Janji Tuhan pasti akan digenapi, asalkan kita hidup taat melakukan kehendak-Nya!


Minggu. HATI YANG BENAR: Menunjang Keberhasilan

Baca: Mazmur 127:1-5

“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” Mazmur 127:1

Keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup ini sangat ditentukan oleh berbagai faktor yang mendukung. Diawali dari sebuah impian atau cita-cita, ketekunan, kesungguhan, kerja keras, kecakapan khusus, sikap yang tidak mudah putus asa, orang-orang di sekitarnya dan masih banyak lagi. Namun semua ini tidak akan berarti apa-apa tanpa campur tangan Tuhan.

Salomo, yang adalah anak Daud dan juga raja, mengakui hal ini (ayat nas). Karena itu dibutuhkan sebuah hati yang penuh penyerahan diri kepada Tuhan, hati yang senantiasa melekat kepada-Nya, dan hati yang senantiasa selaras dengan kehendak Tuhan, itulah yang akan menuntun seseorang kepada sebuah pencapaian cita-cita, impian dan harapan. Jika Tuhan menyelidiki bumi untuk mencari
pemimpin, Ia tidak mencari orang dengan kriteria-kriteria jasmaniah sebagaimana manusia biasa memilih dan menilai sesamanya, “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” (2 Tawarikh 16:9a). Kalau kita memilih dan menilai seseorang dari apa yang terlihat secara kasat mata kita pasti akan kecewa, karena apa yang tampak dari luar bisa mengelabui dan menipu. Saat Tuhan mencari pemimpin Ia hanya mencari orang-orang yang memenuhi kriteria-Nya, yang memiliki kualitas tertentu, seperti Ia temukan dalam diri Daud, raja Israel. “Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” (Kisah 13:22).

Kualitas pertama yang Tuhan lihat dalam diri Daud adalah hatinya. Hati Daud senantiasa melekat kepada Tuhan, artinya hidupnya berkenan kepada Tuhan dan senantiasa taat melakukan kehendak-Nya. Tuhan mencari orang-orang yang hatinya senantiasa berpaut kepada-Nya, hati yang terbebas dari segala bentuk kejahatan.

“…sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” 1 Tawarikh 28:9

 

HIDUP OLEH IMAN MENYENANGKAN HATI ALLAH (bagian 1)

HIDUP OLEH IMAN MENYENANGKAN HATI ALLAH (bagian 1)

“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibrani 11:6)

PENDAHULUAN

Iman adalah karunia Allah yang menjadi dasar hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Iman bukan sekadar persetujuan intelektual bahwa Allah itu ada, melainkan kepercayaan penuh kepada pribadi Allah yang dinyatakan melalui ketaatan kepada firman-Nya.

Ibrani 11:1 menjelaskan bahwa:

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

Selanjutnya, Ibrani 11:3 menyatakan bahwa:

“Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.”

 Segala sesuatu yang kelihatan berasal dari Allah yang tidak kelihatan melalui firman-Nya yang kekal. Karena itu, orang yang hidup oleh iman tidak hanya berfokus pada keadaan yang terlihat, tetapi kepada Allah yang memegang kendali atas segala sesuatu.

Rasul Paulus menegaskan:

“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (2 Korintus 5:7)

Inilah inti kehidupan Kristen. Hidup oleh iman berarti hidup dalam kebenaran, kekudusan, dan ketaatan kepada Tuhan. Kehidupan seperti inilah yang menyenangkan hati Allah.

⸻

I. IMAN MENYENANGKAN TUHAN

“Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” (Ibrani 11:6)

Allah tidak terutama mencari orang yang berbakat, berhasil, kaya, atau terkenal. Allah mencari orang yang percaya kepada-Nya dan taat kepada kehendak-Nya.

Setelah menerima kasih karunia keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus, kita dipanggil untuk mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar (Filipi 2:12). Dalam perjalanan tersebut, Tuhan Yesus sendiri menjadi Pemimpin dan Penyempurna iman kita (Ibrani 12:2).

Tanpa iman kepada Kristus, segala jerih lelah kita hanya menjadi usaha manusia yang tidak memiliki nilai kekal. Karena itu, iman bukan sekadar sarana untuk menerima mukjizat atau jawaban doa. Iman adalah cara hidup yang menyenangkan hati Allah setiap hari.

⸻

II. IMAN ADALAH PERCAYA KEPADA PRIBADI ALLAH

“Barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada.”

Percaya bahwa Allah ada belum tentu berarti hidup oleh iman. Banyak orang mencari Tuhan hanya ketika menghadapi masalah, membutuhkan pertolongan, kesembuhan, atau jalan keluar. Namun ketika keadaan membaik, mereka kembali hidup menurut keinginan sendiri.

Hidup mereka dipimpin oleh:

  • logika manusia,
  • hikmat dunia,
  • kecerdasan,
  • emosi,
  • dan kepentingan pribadi, bukan oleh Roh Kudus dan firman Tuhan.

Hidup oleh iman berarti mempercayai karakter Allah, hikmat-Nya, kasih-Nya, dan kedaulatan-Nya, bahkan ketika kita belum mengerti apa yang sedang Dia kerjakan.

⸻

III. IMAN DINYATAKAN MELALUI KETAATAN

Iman yang sejati selalu menghasilkan ketaatan. Iman bukan hanya apa yang kita percayai, tetapi bagaimana kita hidup. Iman kita dibangun di atas Kristus dan firman-Nya, bukan atas pengalaman, perasaan, ataupun keadaan.

Ketaatan diwujudkan melalui:

  • menaati prinsip-prinsip Firman Allah (Logos),
  • melakukan tuntunan Roh Kudus (Rhema),
  • serta tetap setia meskipun belum melihat hasilnya.

Nuh membangun bahtera sebelum hujan turun. Abraham meninggalkan negerinya tanpa mengetahui tujuan. Musa memilih menderita bersama umat Allah daripada menikmati kesenangan dosa sesaat. Semua tokoh iman bertindak terlebih dahulu karena percaya kepada Tuhan.

Demikian pula kita dipanggil untuk taat terlebih dahulu, lalu melihat pekerjaan Allah.

⸻

Bersambung minggu depan…

ROH KUDUS MEMBERI KEKUATAN DAN KARUNIA

ROH KUDUS MEMBERI KEKUATAN DAN KARUNIA

Senin. ROH KUDUS MEMBERI KEKUATAN DAN KARUNIA
Baca: 1 Korintus 12:4-11

“Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.” 1 Korintus 12:11

Ketika kita tunduk dalam pimpinan Roh Kudus maka Ia akan melimpahkan kekuatan kepada kita sehingga kita dimampukan untuk menghadapi segala sesuatunya. Walau harus dihadapkan pada tantangan, ujian, masalah dan penderitaan, rasul Paulus mampu melewatinya, bukan karena ia kuat, tapi “…kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” (2 Korintus 4:7-9). Inilah peranan Roh Kudus sebagai penolong dalam kehidupan orang percaya sebagaimana yang dikatakan Tuhan Yesus sebelum ia naik ke sorga. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,” (Yohanes 14:16). Selama kita hidup dalam pimpinan Roh kudus berarti ada satu kuasa yang menyertai, menjaga dan melindungi kita.

Bukan hanya itu, semakin kita tunduk dalam pimpinan Roh Kudus semakin Ia akan memberikan kepada kita karunia-karunia rohani sebagai bekal untuk kita melayani pekerjaan Tuhan. Dengan demikian pekerjaan Tuhan itu berada di atas bahu semua orang percaya yang telah menerima karunia Roh Kudus: satu, dua atau lima talenta (baca: Matius 25:15). Artinya ada ‘kadar’ atau ‘ukuran’ anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita menurut ketentuan Tuhan sendiri. “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.” (Roma 12:6). Dan karunia apa yang diberikan kepada kita, itu juga tergantung dari kehendak Tuhan (ayat nas).

Rasul Paulus menasihati agar kita senantiasa mengobarkan karunia yang Tuhan beri (2 Timotius 1:6) dan memiliki roh yang menyala dalam melayani Tuhan (Roma 12:11). Alkitab menyatakan barangsiapa setia melayani Tuhan dengan kasih, mahkota kemuliaan telah disediakan Tuhan baginya (baca 1 Petrus 5:4).

Tanpa kekuatan dan kemampuan yang Roh Kudus beri, kita ini nothing!


Selasa. JIWA-JIWA: Berharga Di Mata Tuhan (1)

Baca: Lukas 15:1-7

“Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” Lukas 15:4

Perumpamaan tentang domba yang hilang yang kita baca ini juga memiliki kesamaan makna dengan perumpamaan-perumpamaan lain di pasal ini: tentang dirham yang hilang (Lukas 15:8-10), dan juga anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Kesemuanya ini menunjukkan betapa pentingnya ‘jiwa-jiwa’ bagi Tuhan!

Tuhan sangat mengasihi jiwa-jiwa, dan di pemandangan mata-Nya jiwa-jiwa itu sangat berharga: “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.” (Yesaya 43:4). Tuhan tidak menghendaki satu jiwa pun terhilang dan mengalami kebinasaan kekal. “…Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9). Karena kasih-Nya Bapa mengutus Putera-Nya datang ke dunia dengan sebuah misi: “…Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Lukas 19:10). Jika ada satu jiwa saja yang bertobat, “…ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Lukas 15:7).

Dunia saat ini adalah dunia yang sangat ‘duniawi’, artinya dunia sedang dipenuhi segala hal yang bersifat kedagingan. Uang, harta, kekayaan, kemewahan, pangkat/kedudukan, popularitas, kepuasan seks dan sebagainya sedang dicari dan dikejar oleh banyak orang, karena semua itu dianggapnya sebagai sesuatu yang paling penting dan terutama dalam hidup ini. Perselingkuhan, seks bebas, narkoba, melakukan berbagai tindak kejahatan kini tidak lagi menjadi hal yang ditakutkan. Bahkan banyak orang sudah tidak lagi merasa sungkan atau malu untuk melakukannya. Bagi mereka yang penting adalah keinginan dagingnya terpuaskan! Mereka tidak lagi memikirkan keselamatan jiwanya. Apa gunanya orang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya atau jiwanya terhilang? (Bersambung)


Rabu. JIWA-JIWA: Berharga Di Mata Tuhan (2)

Baca: 1 Korintus 9:15-23

“Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.” 1 Korintus 9:23

Dengan segala tipu dayanya Iblis terus berjalan keliling seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (baca 1 Petrus 5:8), dengan menawarkan segala kenikmatan dan kemewahan dunia ini supaya manusia kian ter-lena dengan hal-hal yang duniawi, sehingga tujuannya untuk me-nyesatkan jiwa-jiwa tercapai. Melihat jiwa-jiwa yang terhilang dan sedang berjalan menuju kepada kebinasaan, akankah kita bersikap masa bodoh? Jika Tuhan begitu mengasihi dan mem-perdulikan jiwa-jiwa yang terhilang (orang berdosa), masakan kita tidak punya hati yang terbeban bagi mereka?

Kebanyakan orang tidak mengerti betapa pentingnya jiwa-jiwa bagi Tuhan, sehingga mereka bersikap seperti orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang bersungut-sungut ketika melihat Tuhan Ye-sus makan bersama-sama dengan orang berdosa (baca Lukas 15:2). Ketika ada jemaat Tuhan yang mulai undur dari persekutu-an, ketika melihat orang-orang di sekitar hidup dalam dosa, ban-yak dari kita termasuk para pelayan Tuhan justru bersikap acuh, dan tidak sedikit yang menghakimi. Kita tidak berbuat sesuatu agar mereka dapat kembali kepada Tuhan dan diselamatkan. Se-bagai orang-orang yang telah diselamatkan kita dipanggil untuk melakukan sebuah tugas yang mulia yaitu menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang.

Untuk bisa mengerjakan panggilan Tuhan ini kuncinya adalah ‘hati hamba’. Tanpa memiliki hati hamba tak mudah bagi orang untuk mengasihi jiwa-jiwa! Rasul Paulus merespons panggilan Tuhan untuk melayani jiwa-jiwa! Rasul Paulus merespons panggian Tuhan untuk melayani jiwa-jiwa dan menjadi hamba dari semua orang. “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.” (1 Korintus 9:19), dan bertekad “…jika aku harus hidup di dunia ini, itu be-rarti bagiku bekerja memberi buah.” (Filipi 1:22a). Salah satu buah yang dihasilkan adalah buah jiwa-jiwa! “…sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk me-layani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28), kita pun dipanggil untuk melaya-ni jiwa-jiwa!

Gembalakanlah kawanan domba, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela!


Kamis. DENDAM MEMBARA DI HATI (1)
Baca: Kejadian 27:41-46

“Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: ‘Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh.'” Kejadian 27:41

Esau adalah anak sulung dari Ishak dan Ribka, yang ketika lahir seluruh tubuhnya berbulu seperti jubah dan berwarna merah (baca Kejadian 25:25). Ia pandai berburu dan kesenangannya tinggal di padang. Ishak sangat mengasihi Esau karena Ishak su-ka makan daging buruannya.

Keputusan Esau untuk menjual hak kesulungannya kepada Yakub (adiknya) adalah awal petaka baginya sebab ia harus ke-hilangan berkat sebagai anak sulung; peristiwa ini sekaligus menguatkan legitimasi Yakub sebagai tuan atas Esau. Karena telah menganggap remeh hal berharga yang seharusnya menjadi bagiannya, Esau harus menanggung akibatnya. Penyesalan pun tiada guna! Sejak saat itu “Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadan-ya,” (ayat nas). Kata dendam memiliki arti: berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan dan sebagainya). Benih dendam Esau ini akhirnya mengakar sampai kepada keturunannya yang lebih dikenal sebagai orang-orang Edom. Begitu hebatnya dampak negatif dari sebuah akar pahit yang bahkan menurun sampai pada keturunan-keturunan berikutnya. Akhirnya Tu-han pun menjatuhkan hukuman atas mereka karena den-damnya yang kesumat dan perlakuan jahat mereka terhadap umat Israel. “Oleh karena Edom membalaskan dendam kesumat terhadap kaum Yehuda dan membuat kesalahan besar dengan melakukan pembalasan terhadap mereka, oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH, Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan Edom dan melenyapkan dari padanya manusia dan binatang dan Aku membuatnya menjadi reruntuhan; dari Teman sampai Dedan mereka akan mati rebah oleh pedang.” (Yehezkiel 25:12-13).

Melalui kisah Esau dan keturunannya ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa dendam itu sangat berbahaya dan berdampak sangat buruk! Dendam hanya menimbulkan akar pahit dan dapat menghasilkan tindakan-tindakan jahat. Tuhan sangat membenci orang-orang yang memiliki dendam kesumat terhadap sesamanya! (Bersambung)


Jumat. DENDAM MEMBARA DI HATI (2)
Baca: Imamat 19:17-18

“Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasi-hilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TU-HAN.” Imamat 19:18

Ketika disakiti, dijahati atau diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain naluriah kita cenderung untuk melakukan pembalasan atau menyimpan dendam di hati, yang sewaktu-waktu -ketika timing sudah tepat- akan dilampiaskan.

Sebagai orang percaya layakkah kita ‘memelihara’ den-dam? Mendendam adalah pelanggaran terhadap firman Tu-han. Dendam berarti menyimpan akar pahit, sakit hati dan juga kebencian terhadap orang lain! “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.” (Imamat 19:17). Orang yang mendendam pasti mem-iliki hati yang tidak bersih, biasanya pikirannya akan dipenuhi dengan rencana-rencana jahat. Semakin kita mendendam semakin kita dibawa kepada tindakan jahat lainnya. Ini sep-erti mata rantai yang saling terhubung antara perilaku buruk yang satu kepada perilaku buruk lainnya.

Memiliki dendam terhadap orang lain sama artinya belum bisa mengampuni kesalahan orang lain. Alkitab menegaskan bahwa jika kita tidak mau mengampuni orang lain, maka Bapa di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan kita (baca Matius 6:14-15); artinya dendam hanya akan menghalangi hubungan kita dengan Tuhan, termasuk menghalangi doa-doa kita. Daud berkata, “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar.” (Mazmur 66:18). Dendam tidak pernah mem-bawa kepada kebaikan, sebaliknya hanya akan membuat hidup menderita. Rasul Paulus menasihati, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13).

“…janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, fir-man Tuhan.” Roma 12:19


Sabtu. DUNIA PENUH DENGAN KEKERASAN (1)
Baca: Matius 26:47-56

“Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab ba-rangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” Matius 26:52

Kalau kita perhatikan hari-hari ini dunia semakin hari semakin dipenuhi dengan kekerasan. Moral manusia semakin mengala-mi kemerosotan! Surat kabar dan juga televisi selalu memunculkan berita baru tentang tindak kejahatan atau berita-berita tentang kriminalitas setiap hari, mulai dari pembunuhan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, pelecehan dan se-bagainya. Ada ibu tega menganiaya dan bahkan membunuh bayinya sendiri; karena rebutan warisan saudara kandung bisa saling membunuh; ayah tega memperkosa anak kandungnya; ada pula anak tega menjebloskan orangtuanya sendiri ke da-lam penjara karena silau dengan harta. Kekerasan telah men-jadi warna kelam kehidupan ini, dan tanpa terasa dunia telah berubah menjadi hutan rimba yang sangat menakutkan!

Di tengah dunia yang keras ini, di mana krisis kasih melan-da semua orang dan terjadi di mana-mana, orang percaya justru dituntut untuk memiliki kehidupan yang berbeda yaitu menyatakan kasih kepada sesama. Mengapa? Karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita. “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1 Yohanes 4:10). “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yo-hanes 4:8). Jika dunia berprinsip bahwa kekerasan adalah so-lusi terbaik untuk setiap permasalahan, Alkitab justru mengajarkan prinsip yang berbeda. (Bersambung)


Minggu. DUNIA PENUH DENGAN KEKERASAN (2)
Baca: Yohanes 18:1-11

“Kata Yesus kepada Petrus: ‘Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?'” Yohanes 18:11

Untuk menang orang-orang dunia akan menggunakan segala cara, jika perlu dengan kekerasan disertai ancaman, men-jegal, menindas, bahkan ‘memangsa’ sesamanya, seperti istilah homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya) yang telah ada sejak tahun 195 SM, dice-tuskan oleh Plautus dalam karyanya berjudul “Asanaria”. Mereka juga berprinsip setiap kejahatan harus di balas dengan kejahatan yang setimpal, atau malah lebih kejam.

Tetapi firman Tuhan mengajarkan: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum!… Janganlah kamu kalah terhadap keja-hatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan ke-baikan!” (Roma 12:17, 18, 20, 21). Karena itulah Yesus dengan tegas berkata kepada Petrus, “Sarungkan pedangmu itu;” (ayat nas). Teguran ini mungkin membuat Petrus kecewa. Ingin membela Tuhan Yesus tetapi justru ia dimarahi-Nya dan diperintahkan menyarungkan pedangnya; bermaksud membela Guru namun ia justru disalahkan, dan serasa dipermalukan di depan orang banyak. Pernyataan Tuhan Yesus ini menunjukkan bahwa Dia sangat anti kekera-san. Sampai kapan pun kekerasan tidak pernah me-nyelesaikan masalah, sebaliknya justru semakin memper-buruk masalah, berakibat hal-hal negatif, menciptakan pem-berontakan yang berujung malapetaka. “Orang yang menggunakan kekerasan menyesatkan sesamanya, dan mem-bawa dia di jalan yang tidak baik.” (Amsal 16:29). Tuhan Yesus sangat anti kekerasan, tetapi Dia adalah Tuhan yang sangat tegas tanpa kompromi.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kekerasan harus dihadapi dengan kasih. Meski dunia dipenuhi kejahatan dan kekerasan, orang percaya dituntut tetap mempraktekkan kasih, karena Tuhan tidak pernah mengajarkan kita melakukan pembalasan. Pembalasan adalah hak Tuhan (Roma 12:19).

“TUHAN menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia mem-benci orang yang mencintai kekerasan.” Mazmur 11:5

HIDUP OLEH IMAN

HIDUP OLEH IMAN

“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.”  (2 Korintus 5:7)

PENDAHULUAN

Setelah pada bulan Juni kita belajar Living with Purpose (Hidup dengan Tujuan Ilahi), kita menyadari bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk menjalankan misi Allah. Namun, mengetahui tujuan hidup saja tidak cukup. Untuk menggenapi panggilan Tuhan, kita harus belajar berjalan dengan iman.

Firman Tuhan berkata, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1) Iman bukan sekadar semangat, optimisme, atau berpikir positif. Iman adalah keyakinan yang teguh kepada Allah dan kepada janji-janji-Nya yang tidak pernah gagal.

Perjalanan bersama Tuhan jarang memperlihatkan seluruh peta kehidupan sekaligus. Tuhan biasanya hanya menerangi langkah berikutnya, bukan seluruh perjalanan. Di sinilah iman bertumbuh. Iman bukanlah menunggu semua jawaban tersedia, tetapi tetap melangkah karena mengenal Pribadi yang memimpin perjalanan. Orang percaya dipanggil bukan untuk hidup berdasarkan apa yang terlihat, melainkan berdasarkan Firman Allah yang tidak pernah gagal.

I. IMAN BERAKAR KEPADA PENGENALAN YANG BENAR AKAN TUHAN

  • Pengenalan yang benar akan Tuhan dimulai dari pembaruan akal budi melalui perenungan firman Tuhan, doa, pujian, dan penyembahan setiap hari. Pengenalan ini juga dibentuk melalui proses pemuridan dan pengalaman pribadi bersama Tuhan. Melalui pengalaman-pengalaman tersebut, Roh Kudus menolong kita sehingga iman kepada Kristus semakin berakar dan bertumbuh di dalam kasih (Efesus 3:16–17).
  • Iman yang berakar di dalam kasih menumbuhkan trust, yaitu keyakinan, pengharapan, dan penyerahan kendali hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Iman kita bergantung kepada karakter Allah dan kepada firman-Nya yang tidak pernah berubah. Kepercayaan seperti ini tidak terbentuk dalam sekejap, melainkan bertumbuh melalui hubungan kasih yang konsisten dengan Tuhan.

II. IMAN TIMBUL DARI PENDENGARAN AKAN FIRMAN TUHAN (Roma 10:17).

  • Iman timbul bukan hanya karena kita mendengar firman Tuhan dengan telinga jasmani, tetapi karena hati kita terbuka menerima suara Tuhan melalui firman yang didengar maupun dibaca. Roh Kudus menerangi firman Tuhan yang telah tertulis sehingga firman itu menjadi hidup dan berbicara secara pribadi kepada kita. Ketika firman itu dipercayai dan ditaati, iman semakin bertumbuh.
  • Firman yang diterangi oleh Roh Kudus membuat kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah, memercayai Dia sepenuhnya, dan mendorong kita menaati perintah-Nya. Firman itu menjadi dasar yang meneguhkan kita untuk hidup oleh iman, bukan karena melihat.

Contoh: Abraham.

Abraham percaya kepada Allah yang telah menjanjikan keturunan kepadanya. Janji Allah menjadi dasar imannya untuk tetap percaya sekalipun ia menghadapi berbagai tantangan. Abraham dan Sara telah lanjut usia dan harus menantikan kelahiran Ishak selama dua puluh lima tahun. Pengenalannya akan Allah membuat Abraham memilih untuk hidup oleh iman, yaitu percaya kepada Tuhan, bukan berfokus pada keadaan yang terlihat. Ketekunan imannya berujung pada penggenapan janji Allah.

III. AKIBAT HIDUP OLEH IMAN VS HIDUP KARENA MELIHAT
Akibat hidup oleh iman:

  • Memiliki cara pandang yang selaras dengan Firman Tuhan.
  • Tetap hidup dalam kebenaran sekalipun perasaan sedang lemah.
  • Tidak mundur atau tawar hati ketika menghadapi tekanan, tantangan, maupun penderitaan.
  • Bersedia menyangkal diri dan memikul salib demi menaati kehendak Tuhan.
  • Memiliki ketenangan batin yang mengalahkan ketakutan.
  • Mampu memadamkan semua panah api si jahat.
  • Memiliki arah dan tujuan hidup sesuai kehendak Allah.
  • Iman yang bertekun menghasilkan buah berupa kebenaran, pemulihan, berkat, kelimpahan, penggenapan janji Allah, damai sejahtera, sukacita, kemenangan, bahkan hidup yang kekal.

Akibat hidup karena melihat:

  • Menghasilkan cara pandang yang keliru menurut diri sendiri dan dunia.
  • Hidup dipimpin oleh logika dan pengertian sendiri sehingga membatasi pekerjaan Tuhan.
  • Hidup dikendalikan oleh perasaan yang berubah-ubah: takut, cemas, ragu-ragu, kecewa, marah, maupun mengasihani diri sendiri.
  • Sulit mempercayai Tuhan sehingga tidak taat dan akhirnya mengambil keputusan yang keliru.

Membangkitkan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.
Manusia roh menjadi lemah, mudah menyerah, dan tidak mengalami kemenangan.

BAGAIMANA MELATIH HIDUP OLEH IMAN SETIAP HARI?

  • Membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari.
  • Berdoa sebelum mengambil setiap keputusan.
  • Tetap taat kepada Firman meskipun belum melihat hasilnya.
  • Mengingat kembali kesetiaan Tuhan dalam perjalanan hidup kita.
  • Tetap mengucap syukur dalam setiap keadaan.

 

REFLEKSI

Apa yang saat ini lebih mengendalikan hidup saya?

Firman Tuhan atau keadaan?

Firman Tuhan atau perasaan?

Firman Tuhan atau ketakutan?

Firman Tuhan atau pikiran, logika, dan asumsi saya sendiri?

 

PENUTUP

Hidup oleh iman bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan, tetapi melihat kenyataan melalui sudut pandang Allah. Iman bukan menyangkal adanya masalah, melainkan mempercayai bahwa Tuhan tetap berdaulat di tengah masalah.

Ketika kita hidup oleh iman, kita tidak lagi dikendalikan oleh apa yang kita lihat, rasakan, atau pikirkan, melainkan oleh Firman Tuhan yang tidak pernah berubah. Sebab langit dan bumi akan berlalu, tetapi Firman Tuhan tetap selama-lamanya.

Iman bukan sekadar percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu, tetapi percaya bahwa Tuhan akan menggenapi setiap janji-Nya menurut waktu dan kehendak-Nya yang sempurna. Karena itu, marilah kita terus berjalan bersama Tuhan, selangkah demi selangkah, sampai setiap janji-Nya digenapi menurut waktu dan kehendak-Nya yang sempurna. Sebab hidup kita adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.

KESEMPATAN MEMBERI YANG TERBAIK (1)

KESEMPATAN MEMBERI YANG TERBAIK (1)

Senin. KESEMPATAN MEMBERI YANG TERBAIK (1)
Baca: Kejadian 18:1-15

“‘Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!'” Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya.” Kejadian 18:6-7

Memberi itu tidak selalu berbicara tentang nominal atau seberapa besar nilainya, tetapi memberi selalu berhubungan dengan seberapa tulus hati kita terlihat dalam pemberian itu. Jadi rahasia memberi adalah kasih. Jika kita mengasihi seseorang kita tak mungkin memberi dia sesuatu yang buruk, barang bekas, atau yang sisa-sisa, bukan? Pastilah kita akan memberi dia sesuatu yang pantas dan baik. Ingat! Suatu pemberian merupakan cerminan kasih kita kepada Tuhan, sebab Tuhan adalah teladan utama dalam hal memberi yang tak tertandingi. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).

Ketika sedang duduk di dalam kemahnya ketika cuaca di luar sangat panas, Abraham melihat ada tiga orang sedang datang menuju kemahnya. Alkitab menyatakan bahwa tamu itu adalah Tuhan sendiri. Segeralah “…ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah,” (Kejadian 18:2). Abraham memiliki sikap hati yang tulus dan menyembah. Selanjutnya ia berkata, “Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini.” (Kejadian 18:3). Artinya Abraham tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, yaitu kesempatan untuk diberkati. Inilah kairos, waktu yang diberikan Tuhan dan yang di dalamnya terdapat kesempatan; waktunya Tuhan bertindak untuk mendatangkan kebaikan bagi manusia (baca Pengkhotbah 3:11); suatu periode tertentu, yang kalau sudah lewat tidak akan kembali lagi, alias tidak datang kedua kali.

Pergunakanlah setiap kesempatan yang Tuhan beri dengan sebaik mungkin! Adalah tidak mudah bagi seseorang untuk menangkap kairos dari Tuhan, butuh kepekaan rohani untuk dapat memahami kapan saatnya Tuhan membuka dan menutup pintu (kesempatan), sebab “…apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” (Wahyu 3:7). (Bersambung)


Selasa. KESEMPATAN MEMBERI YANG TERBAIK (2)

Baca: Kejadian 18:1-15

“Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Kejadian 18:10

Sebelum mengalami berkat dari Tuhan Abraham terlebih dahulu berinisiatif memberikan sesuatu kepada tamunya itu; dan yang diberikan oleh Abraham adalah persembahan yang terbaik! (ayat 6-8). Mungkin kita tidak mempunyai cukup harta atau kekayaan untuk diberikan, sama seperti yang diperbuat oleh Abraham, tapi yakinlah bahwa apabila kita memberi dengan hati tulus kepada Tuhan, apa pun itu dan seberapa pun nilainya, itu-lah yang terbaik untuk Tuhan. Ketika hendak memberi jangan pernah menunda-nunda dan jangan bergantung pada keadaan. “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menu-ai.” (Pengkhotbah 11:4).

Kata segeralah dan berlarilah (Kejadian 18:6, 7) menunjuk-kan bahwa Abraham tidak menunda-nunda waktu untuk mem-beri atau berlambat-lambat dalam berbuat baik pada sesama, apalagi untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” (Pengkhotbah 11:6). Rasul Paulus juga menasihati, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, kare-na apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:9). Bagian kita hanyalah sep-erti petani yang selalu giat dan tidak pernah lelah untuk mena-bur, karena kita tidak tahu taburan mana yang akan menda-tangkan hasil yang luar biasa. Bagi Abraham, ia menuai berkat yang berkelimpahan karena memberi yang terbaik bagi Tuhan dengan tidak hitung-hitungan.

Apa persembahan yang terbaik bagi Tuhan? “…supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Yang Tuhan kehendaki adalah kita mempersembahkan seluruh keberadaan hidup kita kepada Tuhan. Kalau kita memberi yang terbaik bagi Tuhan: waktu, tenaga, pikiran, atau bahkan materi, maka kita pun layak untuk menerima juga yang terbaik dari Tuhan sebagai upah kita.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:33


Rabu. MEMPERSEMBAHKAN HASIL PERTAMA

Baca: Amsal 3:1-10 “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,” Amsal 3:9

Kita sering mendengar banyak orang Kristen yang berkomitmen kepada Tuhan: jika Tuhan memberkati usahaku, memberkati sewa-ladangku, memberi aku keturunan, atau memberi peker-jaan baru, aku mau memuliakan Tuhan dengan beribadah dan melayani pekerjaan Tuhan dengan sungguh. Tetapi jika ditantang untuk memuliakan Tuhan dengan harta atau kekayaan yang dimiliki? Kita pasti akan berpikir 1000 kali untuk melakukannya, apalagi bila diminta untuk mempersembahkan hasil pertama dari segala penghasilan: gaji pertama, hasil kebun pertama, atau keuntungan pertama usahanya.

Bangsa Israel mempersembahkan hasil panen pertama kepada Tuhan. “…haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu,” (Ulangan 26:2), sebagai wujud pengakuan bahwa Tuhanlah Sang Pemilik tanah itu dan yang memberkati tanah itu sehingga benih yang ditabur bisa tumbuh dan menghasilkan tuaian. Karena itu Salomo meng-ingatkan supaya kita memuliakan Tuhan secara khusus melalui persembahan hasil pertama kita kepada Tuhan secara khusus melalui persembahan hasil pertama kita kepada Tuhan sebagai bentuk penghormatan kita kepada-Nya, sebab Tuhan adalah Pemilik segala-galanya, sedangkan kita ini hanyalah dipercaya sebagai pengelola. Kalau kita mau memprioritaskan Tuhan lebih dari apa pun, maka Tuhan akan membuka jalan untuk mencu-rahkan berkat-berkat-Nya, “maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.” (Amsal 3:10). Artinya bahwa Tuhan akan mencurahkan berkat-berkat-Nya secara berlimpah, “…suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk men-gukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Inilah janji Tuhan kepada setiap orang yang menghormati Tuhan dan tidak hitung-hitungan dengan Tuhan.

Siapkah Saudara menerima berkat Tuhan yang melimpah? Belajarlah taat untuk mempersembahkan hasil pertama dari se-tiap penghasilan kita.

“Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah.” Kejadian 27:28


Kamis. ADA RENCANA TUHAN DI SETIAP PERKARA

Baca: Lukas 1:5-25

“Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.”Lukas 1:25

Pada zaman dahulu kemandulan dianggap sebagai aib. Masyarakat menganggap bahwa wanita yang tidak memiliki ke-turunan alias mandul pastilah mempunyai hal yang tidak beres dalam dirinya. Karena itu kemandulan menjadi masalah terbesar bagi semua wanita, sebab hal ini menyangkut harga diri dan tanda ketidaksempurnaan. Akibatnya wanita yang mandul pasti akan merasa rendah diri, tidak berharga, mengalami penolakan di mana-mana, dan bahkan dikucilkan; dan lebih menyakitkan lagi kemandulan seringkali dijadikan alasan oleh para suami un-tuk berbuat semena-mena terhadap isteri, selingkuh, atau bahkan menikah lagi dengan wanita lain.

Elisabet adalah salah satu wanita yang tercatat di Alkitab yang mengalami masalah ini, tapi kemandulannya bukan karena ada sesuatu yang tidak beres, ada aib atau dosa yang diper-buatnya… Bukan! Sebab Elisabet, isteri dari seorang imam yang bernama Zakharia, “Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.” (ayat 6). Melihat fakta ini tidak selayak-nya orang tergesa-gesa untuk menghakimi, mencari-cari kesala-han, memojokkan, atau mencela. Sudah menjadi rahasia umum, ketika orang sedang tertimpa musibah atau masalah, banyak orang langsung berpikir bahwa orang itu telah berbuat dosa.

Tidak selalu demikian! Adakalanya Tuhan mengijinkan hal itu terjadi karena Tuhan punya rencana di balik masalah yang ada. Kemandulan yang dialami Elisabet adalah bagian dari rencana Tuhan atas hidupnya. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk menda-tangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Al-lah.” (Roma 8:28).

Dari sisi Elisabet, kita bisa belajar tentang ketegaran hati, tidak mudah kecewa dan berputus asa, serta tidak berubah sikap hati, meski dihadapkan pada situasi sulit. Bahkan ia tetap mampu menjaga kualitas hidupnya dengan berlaku benar di hadapan Tuhan tanpa cacat cela. Ketaatan Elisabet mendatangkan upah: ia mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki (Lukas 1:57), dan anak itu adalah Yo-hanes Pembaptis.

Adakah yang mustahil bagi Tuhan? Tidak ada rencana-Nya yang gagal


Jumat. TUNDUK DALAM PIMPINAN ROH KUDUS (1) Baca: Galatia 5:16-26

Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,” Galatia 5:25

Menjadi orang Kristen tidaklah cukup hanya percaya kepada Tuhan Yesus, beribadah ke gereja, atau turut terlibat dalam pelayanan… tapi kita harus mau hidup dipimpin Roh Kudus. Kalau tidak, kita akan berjalan dengan mengandalkan ke-mampuan dan kekuatan sendiri, dan selama kita mengandal-kan kekuatan sendiri kita pasti akan gagal dalam menjalani hidup kekristenan kita. Penting sekali kita memberi diri un-tuk dipimpin Roh Kudus, artinya dengan sadar kita menun-dukkan diri pada kehendak Tuhan.

Bagaimana kita tahu bahwa kita sedang dipimpin Roh Kudus? Yaitu ketika kita memulai hari dengan doa dan men-erapkan firman Tuhan dalam hidup sehari-hari, sebab salah satu pekerjaan Roh Kudus adalah “…mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 14:26). Hidup dalam pimpinan Roh Kudus berarti kita bersedia dikoreksi, ditegur dan diarahkan apabila langkah kita mulai menyimpang dari firman Tuhan. Setiap orang pasti punya banyak kelemahan, tapi ketika kita memberi diri untuk dipim-pin Roh Kudus maka Ia akan berkarya di dalam kita dan memberi kita kekuatan untuk menghadapi segala sesuatu. Ada saat-saat di mana kita merasa sudah kehilangan akal dalam menghadapi masalah, bahkan mengalami jalan buntu, tetapi kalau kita selalu berada dalam pimpinan Roh Kudus, maka kita akan dapat mengerti jalan mana yang harus kita tempuh atau keputusan apa yang harus diambil, karena Roh Kudus adalah Counselor, Penasihat Ajaib, yang dengan suara lembut berbicara kepada kita dan memberi jalan keluar untuk masalah yang kita hadapi. Tuhan berfirman, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9).

Semakin hidup dipimpin Roh Kudus semakin kita memiliki kepekaan rohani, “…pancaindera yang terlatih untuk mem-bedakan yang baik dari pada yang jahat.” (Ibrani 5:14). Inilah yang membawa kedewasaan rohani! Artinya kehidupan rohani kita akan terus mengalami pertumbuhan apabila kita tunduk dalam pimpinan Roh Kudus. Karena itu berikanlah keleluasaan gerak kepada Roh Kudus untuk memimpin hidup kita!

“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,” Galatia 5:25


Sabtu. TUNDUK DALAM PIMPINAN ROH KUDUS (2)

Baca: Yehezkiel 47:1-12

“Sekali lagi ia mengukur seribu hasta lagi, sekarang air itu su-dah menjadi sungai, di mana aku tidak dapat berjalan lagi, sebab air itu sudah meninggi sehingga orang dapat berenang, suatu sungai yang tidak dapat diseberangi lagi.” Yehezkiel 47:5

Pembacaan firman hari ini mengisahkan tentang aliran sungai. Ada sungai yang mengalir dengan ketinggian mulai dari sepergelangan kaki, lutut, pinggang, dan sampai menjadi sungai. Pada waktu hanya sampai sepergelangan kaki, lutut ataupun pinggang, orang masih bisa melawan arusnya. Tetapi ketika air sudah semakin meninggi orang tidak dapat berjalan lagi, apalagi sampai melawan arus, melainkan harus mengikuti aliran sungai itu.

Ini adalah gambaran perjalanan hidup orang percaya! Ada pun sasaran hidup orang percaya adalah “…mencapai kesatu-an iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:13-15). Kalau kita ingin sampai ke level itu (sesuai sasaran), mau tidak mau kita harus mengikuti aliran kuasa Roh Ku-dus. Namun masih banyak orang Kristen yang tak mau masuk ke dalam aliran ‘sungai’ Tuhan ini. Mereka memilih menjalani hidup sekehendak hati. Selama kita masih mengeraskan hati, tidak mau tunduk kepada pimpinan Roh Kudus, kerohanian kita takkan bisa bertumbuh, sebaliknya akan mengalami kemunduran.

Ketika kita mengikuti pimpinan Roh Kudus terkadang kita dibawa kepada suatu keadaan yang tidak mengenakkan secara daging, bertentangan dengan logika, dan tantangan serasa semakin berat, namun bila kita taat seperti Abraham meski tidak tahu kemana Roh Tuhan akan menuntunnya (baca Ibrani 11:8) maka kita akan dibawa kepada rencana-Nya yang indah. Seberat apa pun tantangannya kita pasti mampu melewatinya, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7).

Dalam pimpinan Roh Kudus kita dibawa kepada rencana-Nya yang indah! Karena itu jangan berontak.


Minggu. ROH KUDUS MENGAJAR KITA BERDOA

Baca: Roma 8:26-30

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8:26

Semua orang pasti akan menyanggah dengan keras jika dikatakan tidak bisa berdoa, karena kita menganggap bahwa berdoa adalah suatu perkara yang mudah. Benarkah demikian? Berdoa adalah hal yang sulit dilakukan bagi ban-yak orang Kristen yang tidak memiliki persekutuan yang karib dengan Roh Kudus. Doa itu bukan sekedar menghafal-kan atau membaca tulisan, tetapi doa yang benar harus lahir dari kedalaman hati kita. Jiwa, roh dan perasaan kita berada dalam satu aliran yang sama jika Roh Kudus menggerakkan dan memimpin kita dalam doa.

Alkitab menyatakan bahwa kita dapat berdoa dengan akal dan juga berdoa dengan roh. Hal itu dimungkinkan jika kita mau dipimpin Roh Kudus, sebab kedua cara berdoa ini adalah pekerjaan Roh Kudus. Rasul Paulus berkata, “Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” (1 Korintus 14:14-15). Roh Kudus itulah yang membawa kita kontak dengan Bapa di sorga, sebab Ia adalah Roh doa. Sesudah ada kontak barulah kita berdoa dan menyatakan isi hati kita kepada Tuhan. Berdoa itu berbicara dengan Tuhan dari hati ke hati, memandang Tuhan dengan mata iman dan menyam-paikan segala permintaan kita. Inilah kunci kehidupan doa orang percaya!

Tuhan Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Matius 5:8). Hati memiliki peranan sangat penting dalam hidup seseorang, sebab “…dari hati timbul segala pikiran jahat,” (Matius 15:19). Hati yang suci berarti hati yang terbebas dari segala kejahatan. Inilah modal bagi seseorang untuk dapat ‘melihat’ Bapa, dan orang yang dapat melihat Bapa berarti ia berkesempatan untuk berkata-kata atau berbicara dengan-Nya. Namun “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar.” (Mazmur 66:18).

Hanya oleh pertolongan Roh Kudus kita dapat berdoa dengan tiada berkeputusan!

HIDUP UNTUK DAMPAK KEKAL

HIDUP UNTUK DAMPAK KEKAL

PENDAHULUAN

Kehidupan baru dalam Kristus adalah kehidupan yang memiliki desain, arah, dan tujuan ilahi (Ef. 2:10). Tuhan Yesus menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah. Buah kehidupan yang dihasilkan dalam persekutuan dengan Tuhan merupakan harta surgawi yang tidak dapat rusak, dicuri, lenyap, ataupun binasa.

ISI

  • Cara kita memandang kekekalan membentuk cara kita hidup setiap hari. Pengenalan yang benar akan Tuhan membuat kita tidak hidup secara asal, sembrono, sekadar eksis, atau fokus mengejar keinginan dan kesuksesan pribadi, melainkan hidup dengan misi yang berdampak kekal. Berdampak tidak selalu berarti melakukan hal yang besar, hebat, atau sulit dicapai, tetapi memberikan pengaruh yang kuat sebagai warisan rohani dalam kehidupan orang lain.
  • Warisan rohani bukan sekadar apa yang kita tinggalkan UNTUK orang lain, melainkan apa yang kita BANGUN DALAM hidup mereka. Jangan sekadar meninggalkan apa yang bisa habis, tetapi tinggalkanlah warisan yang bernilai kekal, yaitu prinsip Kerajaan Allah yang dapat mengubah hidup orang lain. Uang akan habis, materi akan lapuk, popularitas akan pudar, karier maupun jabatan bisa berakhir. Namun, warisan rohani akan bertahan untuk selamanya.
  • Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 2:10). Tuhan memiliki tujuan khusus bagi setiap kita untuk mendampaki dunia sekitar. Dunia sekitar kita adalah keluarga, gereja lokal, Cool, lingkungan pergaulan, sekolah, dunia kerja/bidang usaha, dunia digital/media sosial, lingkungan tempat tinggal, kota, dan bangsa.
  • Berdampak bagi dunia sekitar dimulai dari langkah kecil setiap hari: melalui keramahan, berbuat kebaikan, melayani kebutuhan orang lain, kejujuran, tanggung jawab, ikut menjaga kebersihan lingkungan sekitar, dlsb. Semua orang bisa melakukan hal-hal umum tersebut, namun tidak ada satu pun yang mampu meniru cara unik kita melakukannya.
  • Lakukan segalanya dengan kasih dan konsistensi yang menghidupi prinsip Kerajaan Allah, sebab konsistensi kita adalah benih yang membangun serta mengubah kehidupan orang lain. Jangan terjebak pada rutinitas yang sekadar task-oriented, namun mintalah hikmat dari Roh Kudus agar kita mampu memandang sesama dan dunia dari perspektif Tuhan yang Kingdom-oriented.

PERTANYAAN BESAR

Kalau hidup kita selesai hari ini,

  • Siapa yang lebih dekat kepada Tuhan karena hidup kita?
  • Apa warisan rohani kita kepada dunia sekitar?
  • Siapa yang tertolong karena ketaatan kita?

OBJECTIVE

Tujuan dari mempelajari pesan Tuhan sepanjang bulan Juni adalah agar setiap anggota COOL mengalami transformasi:

  • Hidup asal jalan -> hidup dengan tujuan Tuhan.
  • Hidup sekadar sibuk -> hidup yang berdampak kekal.
  • Hidup sekadar eksis -> menghasilkan buah yang matang dan tetap.
  • Berjalan dalam ambisi pribadi -> berjalan dalam panggilan Tuhan.
  • Dari konsumen gereja (dilayani) -> menjadi agen pembawa terang Kristus (melayani).

PENUTUP

Tuhan tidak mencari orang yang pintar, terkenal, kaya, berpengalaman, atau memiliki karunia yang hebat. Tuhan mencari orang yang tersedia, setia, dan mau dipakai. Tujuan hidup kita bukan tentang panggung yang besar, melainkan kesetiaan pada tugas dari Tuhan.

Oleh karena itu, hiduplah dengan bijaksana! Bangun hidup kita di atas dasar batu, yaitu ketaatan pada perintah Tuhan. Izinkan Tuhan memproses kita, agar hidup kita menghasilkan buah yang berdampak kekal bagi sesama. Jangan sibuk mengumpulkan harta di bumi, melainkan kumpulkanlah harta di sorga. Sebab pada akhirnya, satu-satunya hal yang tidak dapat lenyap karena kematian hanyalah warisan rohani—sebuah harta kekal yang menanti kita di sorga.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

DEKLARASI BULAN JUNI:

  • Saya diciptakan dengan tujuan.
  • Hidup saya bukan kebetulan.
  • Saya akan menjadi terang.
  • Saya akan hidup berdampak.
  • Dan saya akan setia pada panggilan Tuhan atas hidup saya.
MENCARI KEHENDAK TUHAN? BERLUTUTLAH!

MENCARI KEHENDAK TUHAN? BERLUTUTLAH!

Senin. MENCARI KEHENDAK TUHAN? BERLUTUTLAH!

Baca: Mazmur 143:1-12

“Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!” Mazmur 143:10

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita dihadapkan pada masalah atau situasi sulit di mana kita harus membuat sebuah keputusan atau pilihan.  Timbullah pertanyaan bagaimana caranya mengerti apakah ini kehendak Tuhan atau bukan.  Mungkin ada yang berkata,  “Aku seorang yang ber-IQ tinggi, bahkan jenius, jadi mencari kehendak Tuhan adalah hal mudah.  Aku berpengalaman, sudah makan asam garam kehidupan, karena itu tidak perlu mengajariku untuk mencari kehendak Tuhan!”  Jawaban semacam ini wajar apabila segala hal orang lebih mengandalkan kekuatan sendiri, mengandalkan akal atau logika, mengandalkan pengalaman dalam menganalisa suatu masalah.

Untuk mencari kehendak Tuhan kita tidak bisa mengandalkan nalar, logika atau isi otak, tetapi butuh kepekaan rohani.  Bagaimana caranya?  Melatih lutut Saudara untuk berdoa dan melatih pendengaran Saudara untuk mendengar firman Tuhan setiap hari adalah cara jitu untuk melatih kepekaan rohani kita.  Inilah harga yang harus dibayar!  Yesaya berkata,  “Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.”  (Yesaya 50:4b).  Kalau kita berusaha dengan sungguh mencari kehendak Tuhan maka Tuhan pun tidak pernah kehilangan cara untuk menyatakan kehendak-Nya dalam kehidupan kita, sebab keinginan Tuhan untuk menyatakan kehendak-Nya itu jauh lebih besar daripada keinginan kita untuk mencari kehendak-Nya.  “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.”  (2 Tawarikh 16:9a).

Inilah janji Tuhan kepada setiap orang yang bersungguh hati mencari Dia.  “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”  (Matius 7:7-8).

Terhadap orang yang karib, perjanjian dan kehendak-Nya diberitahukan kepada mereka  (baca  Mazmur 25:14).


Selasa. BUTA ROHANI: Tidak Melihat Kebenaran

Baca: Matius 15:1-20

“Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.” Matius 15:14b

Apa yang terbayang di benak Saudara jika melihat ada 2 orang buta yang hendak menyeberangi jalan umum, sementara jalan tersebut penuh dengan kendaraan yang sedang lalu lalang?  Tentu itu sangat berbahaya!  Kita pasti akan berpikir bahwa kecil kemungkinan kedua orang buta tersebut dapat menyeberangi jalan dengan selamat, atau kemungkinan terburuknya adalah mereka akan tertabrak oleh kendaraan.

Pernyataan keras pada ayat nas disampaikan Yesus untuk menyindir keberadaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang secara lahiriah memiliki mata normal alias dapat melihat, tetapi sesungguhnya mereka mengalami kebutaan rohani, sehingga tidak dapat melihat kebenaran.  “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”  (ayat 8-9).  Mereka tahu tentang kebenaran secara detil, memiliki ilmu teologia sangat tinggi, bahkan cakap mengajar orang lain, namun tragisnya mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran…  apalah arti semuanya itu?  Jika mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran bagaimana mungkin membawa orang lain kepada kebenaran?  Bagaimana mungkin menjadi berkat atau kesaksian bagi orang lain?  Menjadi batu sandungan, iya.  “Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”  (Matius 23:3).

Alkitab menyatakan bahwa setiap orang yang belum mengenal Kristus disebut sebagai orang-orang yang masih buta rohaninya karena mereka belum melihat terang, sebab Kristus adalah terang itu sendiri  (baca  Yohanes 8:12).  Tetapi ada pula orang-orang yang sudah tahu kebenaran, mendengar berita Injil, tapi tidak mau percaya, karena  “…pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.”  (2 Korintus 4:4).

Sebagai orang percaya, yang telah menerima terang Kristus dan firman-Nya, seharusnya kita memiliki kehidupan yang memancarkan terang bagi orang lain, sehingga orang lain dapat  ‘melihat’  kebenaran itu melalui kita.


Rabu. JANGAN BERLAKU SEPERTI KUDA ATAU BAGAL (1)

Baca: Mazmur 32:1-11

“Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.” Mazmur 32:9

Seringkali timbul pertanyaan di benak kita:  “Mengapa masalah masih dialami oleh orang yang percaya kepada Kristus?  Mengapa Tuhan seolah-olah membiarkan umat-Nya berjuang sendirian menghadapi pergumulan hidup?”  Tuhan tidak pernah berjanji bahwa setiap orang percaya kepada-Nya pasti terbebas dari masalah, namun yang pasti bahwa masalah yang dialami  “…tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”  (1 Korintus 10:13).  Pemazmur juga menyatakan,  “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;”  (Mazmur 34:20).

Jika Tuhan mengijinkan masalah berarti Ia pasti punya suatu rencana di balik masalah tersebut.  Adakalanya Tuhan menggunakan masalah sebagai salah satu cara untuk mengajar kita.  “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”  (Mazmur 32:8).  Tuhan perlu mengajar kita karena Ia hendak memperbaiki kualitas hidup kita.  Dalam mazmur ini Tuhan tidak menghendaki umat-Nya berlaku seperti kuda atau bagal!  Ada beberapa sifat dasar dari kuda, antara lain tidak bisa mengenal siapa pemiliknya meski ia dirawat setiap hari olehnya;  secara refleks kuda akan menyepak siapa saja yang mendekatinya dari belakang, atau akan mengangkat kedua kaki depannya dan menendang siapa saja yang mencoba untuk mendekatinya dari depan, sekalipun itu adalah pemiliknya sendiri.

Bukankah kita tanpa sadar seringkali berlaku seperti kuda atau bagal?  Padahal Tuhan telah menyelamatkan hidup kita, menebus dosa-dosa kita melalui pengorban-Nya di atas kayu salib;  ketika sakit-penyakit menimpa, Tuhanlah yang menyembuhkan;  ketika mengalami jalan buntu, Tuhanlah yang membuka jalan bagi kita;  ketika berada dalam krisis, Tuhan selalu hadir untuk menolong dan memulihkan keadaan kita.  Meski demikian, kita tetap saja tidak memiliki pengenalan yang benar akan Dia.


Kamis. JANGAN BERLAKU SEPERTI KUDA ATAU BAGAL (2)

Baca: Mazmur 105:1-11

“Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” Mazmur 105:4

Jika sampai saat ini kita mampu menjalani hari-hari, karena apa?  Jika kita masih dapat bernafas dan menghirup udara segar, karena apa?  Semua itu bukan karena kuat dan gagah kita, tapi semata-mata karena anugerah, sebab  “…di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”  (Yohanes 15:5b).  Jika menyadari betapa besar kasih Tuhan dalam hidup ini seharusnya kita semakin terdorong untuk mendekat kepada-Nya dan membangkitkan kerinduan kita untuk mengenal Dia lebih dalam lagi.  Tuhan berkata,  “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”  (Hosea 6:6).  Tanpa sadar selama ini yang kita ingini dari Tuhan hanyalah berkat-Nya, mujizat-Nya, dan pertolongan-Nya, tapi kita tidak merindukan Pribadi-Nya dan tidak mau mencari wajah-Nya!

Masih mengenai kuda, kuda juga memiliki kecenderungan untuk lari menjauh.  Ini menunjukkan betapa susahnya menjinakkan kuda.  Meski telah dirawat dengan baik, begitu ada kesempatan atau celah sedikit saja kuda akan berusaha lari dari tuannya.  Itulah sebabnya pemazmur menyebut kuda atau bagal sebagai binatang yang tidak berakal.  Seringkali hanya karena terbentur masalah, kesulitan atau menghadapi pergumulan hidup yang berat, kita gampang sekali memberontak kepada Tuhan, mengeluh, bersungut-sungut, dan mengomel.  Bahkan bukannya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, tapi malah semakin menjauh dan meninggalkan Dia, karena merasa kecewa.  Kita pun menjadi orang Kristen yang bebal!  Nasihat dan teguran firman Tuhan kita abaikan.  “Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.”  (Amsal 15:31-32).

Dalam situasi seperti ini Tuhan tahu persis bagaimana cara mengajar kita, yaitu menggunakan tali les dan kekang!  Tuhan akan mengijinkan hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi yang secara daging mungkin sakit, dengan tujuan untuk menarik kita mendekat kepada-Nya dan supaya kita menyadari kesalahan kita.

“Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar,”  Amsal 15:10


Jumat. TIDAK SUKA MEMBACA ALKITAB
Baca: Mazmur 119:1-16

“Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firmanMu tidak akan kulupakan.” Mazmur 119:16

Sudahkah Saudara membaca Alkitab sampai tuntas, mulai dari kitab Kejadian sampai Wahyu? Jawabannya mungkin belum. Meski sudah menjadi pengikut Kristus bertahun-tahun, sedikit orang Kristen yang mampu menyelesaikan pembacaan Alkitab secara tuntas. Sementara kita sering mendengar banyak orang dari kepercayaan lain justru sudah membaca kitab suci mereka sampai khatam (tamat) berkali-kali. Kesibukan menjadi alasan klise bagi orang Kristen sehingga tidak sempat membaca Alkitab atau bahkan tidak pernah membaca Alkitab, kecuali ketika di tempat ibadah. Mereka berpikir bahwa datang ke gereja setiap Minggu itu sudah lebih dari cukup, baca Alkitab tidak terlalu penting.

Pesan Tuhan kepada Yosua, “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yosua 1:8). Untuk dapat bertindak hati-hati sesuai kehendak Tuhan hanya dimungkinkan jika kita membaca dan merenungkan Kitab Suci itu siang dan malam, bukan hanya sesekali atau kalau sempat. Ini adalah keharusan! Kegiatan membaca Kitab Suci tidak bisa digantikan dengan kegiatan-kegiatan rohani apa pun. Yang dimaksud membaca adalah menunjuk kepada keseluruhan proses belajar: menyimak, meneliti, merenungkan, dan menyimpannya dalam hati (Mazmur 1:1-3), seperti Ezra yang “…bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.” (Ezra 7:10).

Iblis tidak takut orang Kristen tampak rajin ke gereja dan terlibat aktif dalam pelayanan, yang ia takutkan adalah jika orang Kristen tekun membaca, mempelajari dan merenungkan firman Tuhan. Karena itu Iblis terus menghembuskan roh kemalasan dan kantuk supaya orang Kristen enggan membaca Alkitab, tujuannya adalah supaya mereka tidak punya pondasi iman yang kuat, tidak tahu tentang kebenaran firman, sehingga mereka akan mudah untuk disesatkan dan diombang-ambingkan!

“Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” Mazmur 119:97


Sabtu. JANGANLAH TAKUT… TUHAN SELALU BESERTAMU (1)

Baca: Matius 14:22-33

“Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.” Matius 14:24

Hari-hari ini banyak orang mengalami ketakutan karena dunia dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang mengejutkan yang datangnya tanpa bisa diprediksi, mulai dari perubahan iklim yang tidak menentu dan ekstrem, bencana alam  (banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung), kecelakaan, tindak kejahatan yang semakin menjadi-jadi, wabah sakit penyakit dan sebagainya.  Rasa takut yang mencekam dapat membuat seorang kehilangan keseimbangan, kehilangan pegangan dan kehilangan pengharapan.  Orang percaya yang awalnya sudah memulai segala sesuatu dengan roh, bisa jadi mengakhirnya dengan daging,  “Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!”  (Galatia 3:3-4).

Ketika kapal mereka sedang diombang-ambingkan oleh gelombang besar, murid-murid Tuhan Yesus mengalami ketakutan yang luar biasa.  Mengapa?  Karena mereka merasa berjuang sendirian melawan gelombang besar yang membuat kapal nyaris tenggelam.  Ketika peristiwa itu terjadi Tuhan Yesus sedang tidak bersama-sama dengan mereka, Ia masih berdoa seorang diri di atas bukit.  Saat gelombang besar menyerang, perahu mereka sudah beberapa mil jauhnya dari pantai.  Dalam teks aslinya, ukuran yang digunakan bukanlah mil, tetapi stadia  (1 stadia = kurang lebih 185-200 meter), artinya perahu mereka berada jauh di tengah danau.  Secara logika mustahil bagi mereka untuk bisa merapat kembali ke daratan untuk meminta pertolongan kepada Tuhan Yesus.  Ketakutan mereka semakin menjadi-jadi karena ada mitos bahwa laut atau perairan luas adalah tempat bermukimnya roh-roh jahat, terdapat makhluk jahat yang merupakan simbol kuasa jahat  (Iblis), yang disebut Lewiatan.  Lewiatan juga merupakan simbol naga.

“Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.”  (Matius 14:25).  Begitu melihat ada sesosok manusia sedang berjalan di atas air dan mendekat, berteriaklah mereka karena takut:  “Itu hantu!”  (Matius 14:26).  Karena dibayangi oleh rasa takut yang berlebihan, murid-murid tidak menyadari akan kehadiran Tuhan Yesus!  (Bersambung)


Minggu. JANGANLAH TAKUT… TUHAN SELALU BESERTAMU (2)

Baca: Matius 14:22-33

“Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ‘Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?'” Matius 14:31

Melihat murid-murid-Nya sedang dalam ketakutan hebat Tuhan Yesus pun menenangkan mereka dengan berkata,  “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”  (Matius 14:27).  Yang menarik untuk diperhatikan adalah cara Tuhan Yesus menenangkan murid-murid-Nya, Ia tidak hanya memerintahkan mereka untuk tidak takut, tetapi mengawalinya dengan ucapan  ‘Aku ini’  (egoo eimi)  adalah merujuk pada atribut-atribut yang dimiliki Bapa, atau menunjuk pada hakikat diri Bapa, di mana Tuhan Yesus adalah manifestasi dari kehadiran Bapa.  Ini sebagai penegasan bahwa hanya Dialah yang mampu dan sanggup menundukkan kuasa-kuasa gelap yang bermukim di perairan laut lepas.  “Engkaulah yang membelah laut dengan kekuatan-Mu, yang memecahkan kepala ular-ular naga di atas muka air. Engkaulah yang meremukkan kepala-kepala Lewiatan, yang memberikannya menjadi makanan penghuni-penghuni padang belantara.”  (Mazmur 74:13-14).

Meski demikian murid-murid tidak seratus persen percaya kepada Tuhan alias ragu-ragu, sehingga mereka pun minta bukti.  Ini terwakili oleh pernyataan Petrus,  “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”  (Matius 14:28).  Petrus meminta bukti apakah Dia benar-benar Tuhan dengan membolehkannya mendekat kepada-Nya dengan berjalan di atas air,  “Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ‘Tuhan, tolonglah aku!'”  (Matius 14:30).  Kita percaya Tuhan Yesus adalah Juruselamat, Dia adalah jalan dan kebenaran hidup;  Dia Tuhan yang penuh kuasa;  namun begitu menghadapi situasi sulit, krisis, atau terpaan badai dan gelombang kehidupan, kita pun mulai terpengaruh, iman menjadi goyah, dan bahkan kita mulai meragukan kuasa Tuhan!

Tidak seharusnya kita merasa sendiri dan takut menghadapi gelombang kehidupan karena Tuhan itu dekat dan memperdulikan kita, bahkan  “‘Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.’ Itulah firman iman, yang kami beritakan.”  (Roma 10:8).  Karena itu berserulah kepada Tuhan dan perkatakan firman-Nya!  “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.”  (Roma 10:13).

MENEMUKAN TUJUAN HIDUP  MELALUI KESETIAAN KEPADA TUHAN

MENEMUKAN TUJUAN HIDUP MELALUI KESETIAAN KEPADA TUHAN

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.  (Lukas 16:10)

PENDAHULUAN

Manusia cenderung memberikan perhatian, tanggung jawab, usaha, serta komitmen untuk hal-hal besar, dan meremehkan hal-hal kecil. Prinsip Kerajaan Allah mengatakan bahwa jika kita setia dalam hal kecil, kita setia juga dalam hal besar. Jika kita berlaku tidak benar dalam hal yang kecil, maka kita juga akan berlaku tidak benar dalam perkara-perkara besar.

ISI

I PURPOSE DIMULAI DARI HATI YANG SETIA KEPADA TUHAN

Hati yang setia kepada Tuhan berarti memiliki loyalitas kepada-Nya, berpegang teguh pada kebenaran firman, taat, serta dapat dipercaya. Kesetiaan adalah buah dari iman yang murni dan pengenalan yang benar akan Tuhan. Ada roh yang takut akan Tuhan dan hati yang melekat kepada-Nya. Orientasi hidupnya adalah mengabdi kepada Tuhan (Christ-centered life), bukan mengejar keinginan/kepentingan atau agenda pribadi.

II PURPOSE DIBANGUN DENGAN SETIA DALAM HAL KECIL

Orang yang setia dalam perkara kecil melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (baca Kolose 3:23). Ini tidak terjadi begitu saja, tetapi harus punya komitmen untuk membangun sikap bertanggung jawab dan disiplin diri setiap hari/setiap saat.

Contoh sikap setia dalam hal-hal kecil:

  • Konsisten berdoa, memuji, menyembah, dan membaca firman setiap hari walaupun ada tantangan seperti banyak kesibukan/tanggung jawab, sedang dalam masalah, sedang liburan, dll.
  • Disiplin menjaga hati, pikiran, perasaan dan perkataan dengan kebenaran firman Tuhan. Memiliki penguasaan diri, menolak prasangka yang salah, dan menolak tipu daya si jahat.
  • Menyelesaikan tugas/tanggung jawab rutin dalam rumah tangga, pekerjaan, sekolah, dan pelayanan dengan baik, bukan asal-asalan (termasuk tugas kecil/tidak berarti, tidak diawasi, tidak ada reward berupa pujian/upah, tidak dilihat orang).
  • Memiliki kejujuran dan ketulusan. Hati lurus, perkataan selaras dengan perbuatan, menjauhi mulut serong dan bibir dolak-dalik (perkataan yang tidak jujur, menipu, memutarbalikkan fakta, plin-plan).
  • Memperlakukan bawahan, orang kecil/lemah dengan hormat dalam takut akan Tuhan.
  • Disiplin dalam keuangan: mengembalikan persepuluhan, bayar pajak, bayar tagihan tepat waktu, menabung, mematahkan sifat cinta akan uang dengan cara menabur/memberkati orang lain, tidak berperilaku boros/konsumtif, belajar mencukupkan diri dengan kondisi keuangan yang ada, dlsb.
  • Disiplin waktu: tepat waktu, tidak menunda tugas, tidak menggunakan waktu untuk hal yang tidak berguna/sia-sia, dlsb.

III HASIL DARI SETIA DALAM PERKARA KECIL

  • Komitmen untuk berlaku benar dalam perkara kecil akan menghasilkan karakter yang dewasa dan berintegritas, yang siap dipercaya untuk melakukan perkara-perkara besar. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh serta tidak kekurangan suatu apa pun (Yakobus 1:4).
  • Contoh tokoh dalam Alkitab: Daud, yang setia menggembalakan domba sebelum memimpin bangsa yang besar. Integritas karakternya dibangun melalui pengenalannya akan Tuhan dan pengalamannya menggembalakan kawanan kecil domba – suatu pekerjaan yang tampaknya sederhana, tidak berarti, dan jauh dari perhatian orang.

Ketekunan Daud menggembalakan kawanan kecil domba melatih keberanian, tanggung jawab, dan kesetiaannya. Meski ayahnya sendiri tidak menganggap Daud sebagai anak yang layak diperhitungkan untuk diperkenalkan kepada Samuel (1 Samuel 16:10-11), ia tetap setia menjaga kawanan domba ayahnya. Ketulusan dan kesetiaan Daud membuat Tuhan mengangkatnya menjadi pemimpin bangsa Israel.

TANTANGAN

  • Jangan memandang rendah musim kehidupan kita yang tampaknya kecil. Jangan berkecil hati dan berpikir pekerjaan/pelayanan kita tidak berarti seperti yang orang lain lakukan. Itu adalah masa pembentukan dan persiapan yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup kita.
  • Jangan membanding-bandingkan keadaanmu dan apa yang kamu punya dengan orang lain. Sikap ini berbahaya sebab dapat memicu iri hati, rendah diri, perasaan tidak aman, mengasihani diri, kesombongan, merusak rasa syukur kepada Tuhan, dan membuat kita keluar dari tujuan Tuhan.

PENUTUP

Tuhan tidak pernah menganggap remeh hal-hal kecil dalam hidup kita. Perkara-perkara kecil yang ada di hidup kita bukan sesuatu yang sia-sia, buang waktu dan konyol, sebab dalam Tuhan tidak ada yang tidak berguna.  Jika saat ini kita berada dalam musim kehidupan yang tampak kurang berarti, bersyukurlah. Kesetiaan membutuhkan komitmen, tanggung jawab dan disiplin. Kesetiaan dalam perkara kecil mempersiapkan kita untuk bisa dipercaya dalam perkara yang lebih besar. Be faithful in what you have, setia dengan apa yang ada padamu.