Devotional Blog

Home / Archive by category "Devotional Blog"
KRISTUS : Fondasi Hidup Orang Percaya

KRISTUS : Fondasi Hidup Orang Percaya

Senin. KRISTUS : Fondasi Hidup Orang Percaya

“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Matius 16:18 Fondasi adalah hal terpenting dari suatu bangunan. Mengapa? Sebab kualitas fondasi sebuah bangunan akan menentukan batasan seberapa kokoh dan seberapa tinggi bangunan bisa dibangun di atasnya. Begitu pula dalam kehidupan rohani, hukum yang sama juga berlaku. Kehidupan orang percaya itu diumpamakan seperti sebuah bangunan. Karena itu penting sekali memperhatikan fondasi hidup kita, sebab fondasi akan menentukan kualitas kerohanian kita.

Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25). Alkitab jelas menyatakan bahwa fondasi hidup orang percaya adalah Tuhan Yesus sendiri, bukan yang lain seperti tertulis: “…tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” (1 Korintus 3:11). Jadi, yang menjadi fondasi hidup orang percaya bukanlah sebuah pelayanan, keanggotaan atau jabatan dalam struktur keorganisasian di sebuah gereja dan sebagainya.

“Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” (1 Petrus 2:6).

Nama Petrus dalam bahasa Yunani adalah petros yang memiliki arti batu kecil atau kerikil. Adapun batu karang dalam ba-haasa Yunani adalah petra yang artinya batu besar. Artinya bahwa gereja tidak dibangun di atas pribadi Petrus, yang ada-lah seorang manusia lemah, penuh keterbatasan dan mudah sekali rapuh, seperti batu kecil atau kerikil. Gereja yang dibangun diatas pribadi manusia takkan mampu berdiri kokoh dan mudah sekali diombang-ambingkan. Bukti nyata adalah perjalanan rohani Petrus sendiri yang pernah menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali. Satu-satunya fondasi hidup yang ko-koh bagi orang percaya, tak lain dan tak bukan, hanyalah Tuhan Yesus sendiri. “Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota ben-tengku, aku tidak akan goyah.” Mazmur 62:3 Baca: Matius 16:13-20


Selasa. MEMUNGKIRI KEBESARAN

KUASA TUHAN “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? Tingginya seperti langit – apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati – apa yang dapat kauketahui?” Ayub 11:7-8

Sungguh mengherankan jika sampai hari ini masih ada orang yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Mereka bertanya: “Bagaimana kita dapat meyakini Tuhan itu benar-benar ada?” Padahal setiap hari kita melihat keajaiban-keajaiban alam terjadi di depan mata: keindahan bunga yang bermekaran di padang, pertumbuhan tanaman dan buah-buah yang dihasilkan, siapakah yang berkarya di balik itu? Belum lagi keagungan benda-benda di langit, di angkasa yang begitu menakjubkan. Siapa yang memerintahkan matahari untuk terbit dari ufuk timur dan memancarkan sinarnya secara penuh pada siang hari, serta bintang-bintang dan rembulan menerangi bumi pada malam hari? Mengapa selalu tepat waktu dan tidak pernah tertukar waktunya? Siapakah yang mengatur planet-planet sehingga semuanya berjalan dengan teratur tanpa dikendalikan oleh sua-tu alat yang terlihat oleh mata jasmani? Tuhan-lah tentu yang mengatur (baca Yeremia 33:25).

Kalau mau jujur, pasti kita akan mengakui bahwa semuanya itu ada yang mengatur dan mengendalikan, yaitu Tuhan, “Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya. Utara dan selatan, Engkaulah yang menciptakannya, Tabor dan Hermon bersorak-sorai karena nama-Mu. Punya-Mulah lengan yang perkasa, kuat tangan-Mu dan tinggi tangan kanan-Mu.” (Mazmur 89:12-14). Jelas bah-wa alam semesta dan semua yang ada di bawah langit dan di atas bumi telah memperlihatkan keberadaan Tuhan sebagai Sang Pencipta.

Adalah sebuah kebodohan jika manusia berusaha untuk memungkiri, meragukan dan bahkan menolak Tuhan secara mentah-mentah, serta menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada. Karena itu mereka dengan sengaja tak mau taat kepada firman yang telah ditetapkan di dalam Alkitab. Siapakah kita ini se-hingga merasa gengsi untuk mengakui bahwa sesungguhnya kita ini penuh dengan keterbatasan dan membutuhkan Juruselamat dalam hidup ini? Bapa telah menyediakan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus, tetapi banyak orang dengan sombong tak mau mengakui, apalagi menerima-Nya.

“Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.” (Mazmur 33:9). Masihkah kita tak percaya kepada-Nya? Baca: Ayub 11

MENJADI BERKAT: Punya Beban Ilahi

MENJADI BERKAT: Punya Beban Ilahi

Senin. MENJADI BERKAT: Punya Beban Ilahi (1)
Baca: Kisah Para Rasul 4:32-37

“Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa…” Kisah 4:34

Hidup yang menjadi berkat adalah panggilan Tuhan bagi setiap orang percaya. “…Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.” (Kisah 4:36), adalah salah satu contoh orang yang hidupnya menjadi berkat atau kesaksian bagi orang lain. Orang yang menjadi berkat adalah orang yang menerima beban Ilahi, sehingga ia memiliki empati ketika melihat satu kebutuhan yang dirasakan oleh orang lain atau lingkungan, dan kemudian mengabdikan diri dalam pelayanan.

Ketika gereja mulai bertumbuh banyak sekali petobat baru, di mana kebanyakan adalah orang-orang yang berasal dari keluarga sederhana, secara materi pas-pasan dan bisa dikatakan hidup dalam kekurangan. Untuk dapat melayani mereka diperlukan orang yang memiliki hati yang terbeban. Muncullah Yusuf (para rasul lebih suka menyebutnya Barnabas), anak penghiburan, yang ketika melihat kebutuhan jemaat hatinya terbeban sehingga ia rela menjual ladang miliknya dan kemudian uang hasil penjualan tersebut diserahkan kepada para rasul untuk membantu jemaat yang hidup berkekurangan. “Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.” (2 Korintus 8:13-14).

Orang yang menyadari betapa besar kasih Tuhan dalam hidupnya pasti tidak akan berdiam diri, melainkan berusaha melakukan sesuatu untuk membalas kasih-Nya. Dan bukti kasihnya kepada Tuhan adalah kerelaannya untuk berkorban seperti yang dilakukan oleh Yusuf Barnabas, yang rela menjual tanahnya. Tanah atau ladang adalah sesuatu yang sangat berharga. Artinya Yusuf rela mempersembahkan sesuatu yang berharga yang dimilikinya untuk melayani jiwa-jiwa. Hal itu menunjukkan bahwa ia menempatkan pekerjaan Tuhan dan kepentingan sesama lebih dari kepentingan diri sendiri. Yusuf sadar benar bahwa Tuhan Yesus adalah Raja di atas segala raja, Tuhan segala tuan, yang berhak dan layak untuk menerima segala yang terbaik dari hidup kita.


Selasa. MENJADI BERKAT: Punya Beban Ilahi (2)
Baca: Kisah Para Rasul 4:32-37

“Ia menjual ladang miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.” Kisah 4:37

Untuk memberi yang terbaik diperlukan sebuah pengorbanan, bukan hanya korban materi saja tapi juga korban tenaga, waktu dan pikiran. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Ada banyak orang Kristen tampak menggebu-gebu melayani pekerjaan Tuhan ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan. Begitu dihadapkan pada masalah, gesekan dan benturan, semangat mereka melayani Tuhan pun mengendur, apalagi bila dituntut untuk berkorban, tanpa basa-basi mereka langsung mundur secara teratur.

Tuhan Yesus adalah teladan utama dalam hal melayani. Ia bukan sekedar melayani orang-orang dengan pengajaran-Nya, tapi Ia rela mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib. Bagaimana dengan kita? Maukah kedagingan kita disalibkan setiap hari? Maukah kita menyangkal diri dan memikul salib? Yesus berkata, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Matius 10:38). Pelayanan sejati menuntut pengorbanan! Melayani pekerjaan Tuhan dan melayani jiwa-jiwa harus dilakukan sepenuh hati dan butuh kerelaan hati untuk berkorban. Tidak ada alasan orang percaya tidak melayani karena Tuhan telah memberi kita karunia-karunia. “Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu…” (2 Timotius 1:6).

Melayani bisa dimulai dari hal yang sederhana atau sesuatu yang kecil. Dinyatakan bahwa orang yang setia dalam perkara kecil akan diberikan tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar oleh Tuhan (baca Lukas 16:10). Setialah mengerjakan apa pun yang Tuhan percayakan dan jangan menganggap remeh. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (Kolose 3:23-24).

Ingin menjadi berkat? Berilah yang terbaik dan lakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati!


Rabu. ORANG PERCAYA: Hamba-Hamba Tuhan

Baca: Roma 6:15-23

“Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Roma 6:18

Setiap orang percaya, yaitu orang-orang yang telah diselamatkan di dalam Kristus, menyandang status sebagai hamba Tuhan. Seringkali ketika mendengar istilah ‘hamba’ Tuhan pikiran kita langsung tertuju kepada pendeta atau gembala sidang sebuah gereja.

Alkitab menyatakan pada dasarnya ada kekuatan yang luar biasa yang dapat memperhamba hidup manusia. Iblis dengan kuasanya menawarkan pertolongan, kesembuhan, kekayaan dan semua hal yang sifatnya hanya semu, karena itu hanyalah sebuah trik untuk menjerat dan membelenggu hidup manusia. Ketika manusia sudah masuk perangkapnya mereka akan diperhamba oleh Iblis, diperhamba oleh dosa. Alkitab memperingatkan: “Lawanlah dia dengan iman yang teguh…” (1 Petrus 5:9).

Sebagai hamba Tuhan kita mutlak menghambakan diri kepada-Nya, menjadikan Kristus sebagai Tuan atas hidup kita sepenuhnya. Jadi setiap manusia hanya dihadapkan pada dua pilihan: menjadi hamba Tuhan (hamba kebenaran) atau hamba Iblis (hamba dosa). Waktu kita menyerahkan hidup kita kepada Kristus, kita menjadi hamba kebenaran. Menjadi hamba kebenaran artinya harus melakukan apa yang berkenan kepada Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan. “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:20). Setelah seseorang dibeli dan kemudian menjadi hamba kebenaran berarti kita tidak lagi
menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata, tetapi menjadi senjata kebenaran (baca
Roma 6:13).

Karena kita adalah hamba, kita harus selalu siap bekerja keras melaksanakan tanggung jawab, tanpa menuntut hak. Namun seringkali kita hanya mengedepankan hak atau menuntut hak saja, tapi mengabaikan kewajiban. Sebagai hamba tidak seharusnya kita berkata bahwa kita sudah berbuat banyak bagi Tuhan.

“Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba
yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Lukas 17:10).

Kalau kita menjadi hamba yang setia Tuhan tidak akan pernah lalai menepati janji-Nya. “…hakku terjamin pada TUHAN dan
upahku pada Allahku.” Yesaya 49:4


Kamis. PANDANGLAH KE ATAS, JANGAN MENUNDUK!
Baca: Ibrani 12:1-4

“Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” Ibrani 12:3

Lemah, tawar hati dan tak berdaya seringkali menyusupi hidup kita pada saat kita sedang berada dalam masalah, tekanan atau situasi-situasi sulit. Hal ini bisa terjadi ketika arah pandang kita hanya tertuju pada situasi atau keadaan yang ada. Akibatnya hati dan pikiran kita terus dihujani tanpa henti dengan hal-hal yang negatif. Kalau pikiran sudah penuh hal-hal negatif, sadar atau tidak, kita sedang berjalan menuju kegagalan dan kehancuran.

Jika kita tidak segera menyadari dan tetap memandang ke bawah bukan ke atas, tidak membuat perubahan arah pandang, manusia rohani kita akan kehilangan kuasanya, karena firman Tuhan tidak dapat bekerja sepenuhnya di dalam kita, terhalang oleh rasa takut, kuatir, cemas dan sebagainya. Tertulis: “Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.” (Matius 13:22). Karena iman kita adalah hasil dari firman (baca Roma 10:17), maka itu berarti iman kita akan menjadi layu. Yang harus kita lakukan untuk menghentikan reaksi kelemahan yang ada adalah mengarahkan mata kepada Tuhan Yesus, “…yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,” (Ibrani 12:2).

Seorang pelari yang berlari di atas lintasan dengan membiarkan kepalanya tetap tertunduk pasti akan dengan mudah dilewati oleh lawan-lawannya, tertinggal, dan menuai kekalahan. Ingin berkemenangan? Tegakkanlah kepala Saudara dan pandang terus Tuhan Yesus. Ingatlah selalu akan Tuhan dan firman-Nya. Biarlah pemikiran-Nya menjadi pemikiran kita. Inilah yang dilakukan oleh rasul Paulus: “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,” (2 Korintus 10:5b). Palingkan pandangan dari semua situasi atau keadaan di sekitar, dan arahkan mata kepada Sumber Sorgawi. Tuhan dapat memelihara hidup kita di segala situasi. Tuhan ada di atas, tapi Iblis ada di bawah, tepat di bawah kaki Saudara.

“Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” Mazmur 16:8


Jumat. PERABOT MULIA ATAU PERABOT BIASA
Baca: 2 Timotius 2:20-26

“Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah, yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.” 2 Timotius 2:20

Sesungguhnya Tuhan memiliki rencana besar bagi setiap orang percaya, karena itu kita perlu diproses, dibentuk dan dipersiapkan Tuhan terlebih dahulu supaya kita benar-benar layak untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik, yang telah dipersiapkan-Nya. Namun banyak orang Kristen yang berkilah: “Tak mungkin aku dapat menjadi alat-Nya Tuhan untuk tujuan yang mulia, karena aku orang biasa dan tak punya kemampuan apa-apa.”

Alkitab menyatakan bahwa di dalam rumah yang besar, terdapat dua jenis perabot: 1. Perabot dari emas dan perak untuk maksud yang mulia. 2. Perabot dari kayu dan tanah untuk maksud yang kurang mulia. Apakah kita masuk dalam jenis perabot yang mulia atau yang biasa saja bukan ditentukan oleh latar belakang pendidikan, status sosial, warna kulit atau embel-embel lainnya, tapi sangat ditentukan oleh keputusan dan pilihan hidup kita. “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (2 Timotius 2:21). Untuk menjadi perabot Tuhan untuk maksud yang mulia, dikuduskan, dan dipandang layak mengerjakan pekerjaan mulia, ada harga yang harus dibayar yaitu kita harus mau menyalibkan kedagingan kita, mau memisahkan diri dari hal-hal yang jahat, cemar dan najis.

Mana yang Saudara pilih? Tidak sedikit orang Kristen memilih untuk melakukan pekerjaan ‘biasa’ bagi Tuhan dan merasa puas menjadi perabot untuk maksud yang kurang mulia. Alasan utamanya adalah mereka tidak mau membayar harga! Hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai tekad yang kuat untuk memisahkan diri dari ‘dunia’ dan lebih menuruti keinginan dagingnya. Mereka enggan keluar dari comfort zone dan tidak bersedia berpaling dari jalan duniawi untuk berjalan terus dengan Tuhan. Sampai kapan kita seperti itu? Ingat! Hari kedatangan Tuhan sudah sangat dekat! Mari kita pergunakan waktu-waktu yang sisa ini untuk bersungguh-sungguh di dalam Tuhan, memaksimalkan setiap potensi dan karunia yang ada dan melakukan yang terbaik bagi-Nya.

Tanpa mau membayar harga, kita tidak akan pernah menjadi perabot yang mulia!


Sabtu. MENABUR GANDUM: Menuai Semak Duri (1)
Baca: Yeremia 12:7-13

“Mereka telah menabur gandum, tetapi yang dituai adalah semak duri; mereka telah bersusah payah, tetapi usaha mereka tidak berguna; mereka malu karena hasil yang diperoleh mereka, akibat dari murka TUHAN yang menyala-nyala.” Yeremia 12:13

Di dalam kehidupan ini, ada hukum rohani sekaligus hukum alami yaitu hukum tabur-tuai. Ada tertulis: “Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” (Kejadian 8:22). Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Tuhan adalah Tuhan dari tuaian, dan tuaian itu dipanen pada waktu-Nya, bukan waktu kita. Kalau kita menabur kebaikan, maka yang akan kita tuai adalah kebaikan. Sebaliknya kalau kita menabur hal-hal yang jahat, dampaknya pun akan kembali ke diri sendiri, kita akan menuai hal-hal yang jahat pula. “Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga.” (Ayub 4:8). Karena itu perhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang kita tabur selama kita hidup di dunia ini.

Secara teori, orang yang menabur gandum tentunya akan menuai gandum juga. Tetapi ayat nas menyatakan bahwa ada orang yang menabur gandum namun yang dituai adalah semak duri. Ini suatu keadaan yang sangat menyakitkan. Mengapa bisa terjadi? Karena Tuhan memperhatikan motivasi seseorang dalam melakukan segala sesuatu, “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” (Amsal 16:2) dan “Ia mengetahui rahasia hati!” (Mazmur 44:22). Ketika kita memiliki motivasi yang tidak benar, jahat atau terselubung, Tuhan tahu secara persis, karena itu Ia tidak akan berkenan dengan apa pun yang kita perbuat. Ia berkata, “Banyak gembala telah merusakkan kebun anggur-Ku, memijak-mijak tanah-Ku, dan membuat tanah kedambaan-Ku menjadi padang gurun yang sunyi sepi.” (Yeremia 12:10).

Motivasi atau sikap hati menentukan tuaian! Banyak orang bersikap egois dan mau hidup seenak sendiri dengan menabur semak duri, tapi berharap menuai gandum. Ada pula orang yang menabur gandum tapi disertai motivasi yang salah, maka semak durilah yang mereka tuai. Yang harus diperhatikan saat menabur antara lain: milikilah hati yang bersih. Menabur dalam hal apa pun, untuk sesama atau untuk Tuhan dan pekerjaan-Nya, harus didasari dengan sikap hati yang bersih.


Minggu. MENABUR GANDUM: Menuai Semak Duri (2)
Baca: Matius 13:1-8

“Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” Matius 13:8

Seluruh cara dan motivasi orang menabur pasti akan menentukan tuaian. Perhatikan sikap hati saat menabur, jangan sampai ada motif terselubung atau tendensi yang tidak benar. Ini yang dimaksudkan dengan menabur gandum, tetapi hati penuh semak duri. “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:7-8).

Apakah lagi yang harus diperhatikan saat menabur? Tekun dan sabar. Petani yang sedang menabur tidak seketika menuai, ia harus menunggu sampai benih itu tumbuh. Butuh proses dan waktu! Terkadang petani harus menghadapi panas terik matahari, hujan, angin atau badai. Kalau ia tidak tekun dan sabar ia pasti akan menyerah dan berputus asa. Yakobus menasihati, “Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.” (Yakobus 5:7). Pada saatnya pasti akan menghasilkan sesuatu yang indah. “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.” (2 Timotius 2:6).

Saat berada dalam ‘proses’ tak perlu kita menjadi panik, kecewa, mengeluh atau bersungut-sungut, sebab proses itu sifatnya hanya sementara waktu. Belajarlah untuk sabar dan berserah penuh kepada Tuhan. Lakukan yang terbaik. Ada tertulis: “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga,” (Pengkhotbah 9:10). Artinya apa pun yang kita kerjakan dalam hidup ini lakukanlah itu dengan segenap hati, jangan setengah-setengah. Tuhan telah memperlengkapi kita dengan segala potensi, namun jika kita mengerjakan segala sesuatu yang dipercayakan-Nya dengan setengah-setengah, berarti kita telah menyia-nyiakan potensi yang Tuhan beri.

“Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” Pengkhotbah 11:6


Minggu (Tambahan). KRISTUS: Fondasi Hidup Orang Percaya
Baca: Matius 16:13-20

“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Matius 16:18

Fondasi adalah hal terpenting dari suatu bangunan. Mengapa? Sebab kualitas fondasi sebuah bangunan akan menentukan batasan seberapa kokoh dan seberapa tinggi bangunan bisa dibangun di atasnya. Begitu pula dalam kehidupan rohani, hukum yang sama juga berlaku. Kehidupan orang percaya itu diumpamakan seperti sebuah bangunan. Karena itu penting sekali memperhatikan fondasi hidup kita, sebab fondasi akan menentukan kualitas kerohanian kita.

Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25). Alkitab jelas menyatakan bahwa fondasi hidup orang percaya adalah Tuhan Yesus sendiri, bukan yang lain seperti tertulis: “…tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” (1 Korintus 3:11). Jadi, yang menjadi fondasi hidup orang percaya bukanlah sebuah pelayanan, keanggotaan atau jabatan dalam struktur keorganisasian di sebuah gereja dan sebagainya. “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” (1 Petrus 2:6).

Nama Petrus dalam bahasa Yunani adalah petros yang memiliki arti batu kecil atau kerikil. Adapun batu karang dalam bahasa Yunani adalah petra yang artinya batu besar. Artinya bahwa gereja tidak dibangun di atas pribadi Petrus, yang adalah seorang manusia lemah, penuh keterbatasan dan mudah sekali rapuh, seperti batu kecil atau kerikil. Gereja yang dibangun di atas pribadi manusia takkan mampu berdiri kokoh dan mudah sekali diombang-ambingkan. Bukti nyata adalah perjalanan rohani Petrus sendiri yang pernah menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali. Satu-satunya fondasi hidup yang kokoh bagi orang percaya, tak lain dan tak bukan, hanyalah Tuhan Yesus sendiri.

“Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” Mazmur 62:3

DUNIA YANG SEMAKIN GENTING

DUNIA YANG SEMAKIN GENTING

Senin. DUNIA YANG SEMAKIN GENTING
Baca: Lukas 21:25-33

“Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.” Lukas 21:26

Stres adalah satu kata yang menggambarkan keadaan manusia di zaman sekarang ini. Secara umum arti kata stres adalah gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar; ketegangan. Banyak orang mengalami tekanan dan ketakutan karena terjadinya hal-hal di bumi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Alkitab sudah menyatakan bahwa menjelang kedatangan Kristus yang kedua kalinya manusia akan mengalami berbagai masalah hidup yang seolah-olah tak ada jalan keluarnya. Bukankah hal itu sudah dan sedang terjadi? Setiap hari kita disuguhi dengan berita-berita yang mengejutkan, bukan hanya tentang kejadian-kejadian yang ada di luar negeri, tapi juga berita-berita di dalam negeri sendiri. Hal-hal yang aneh terjadi di mana-mana!

Sesungguhnya yang terutama harus diperhatikan adalah kata Tuhan Yesus: “…dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” (Matius 24:10-12). Karena tekanan-tekanan hidup inilah sering dijumpai orang mudah sekali tersinggung, tersulut emosi, marah dan akhirnya melakukan tindakan-tindakan yang di luar batas kewajaran. Saat ini beban pekerjaan para psikolog semakin bertambah karena harus melayani pasien yang semakin hari semakin banyak jumlahnya. Tak terkecuali para pengacara juga kebanjiran order karena semakin hari semakin banyak kasus, dan semakin banyak pula orang yang ingin dibela perkaranya, menuntut keadilan ditegakkan.

Mari, yang manusia butuhkan sekarang adalah Tabib Agung, penyembuh segala jenis penyakit dan luka-luka batin. Perhatikan undangan Kristus ini: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Kristus bukan sekedar memberi kelegaan, tapi Dia juga sanggup melepaskan kita dari semua beban fisik maupun mental.

Dalam kegentingan dunia ini kita harus makin melekat kepada Tuhan, sebab “…orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Matius 24:13


Selasa. ANGKATLAH MUKAMU: Penyelamatan Sudah Dekat
Baca: Lukas 21:25-33

“Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.” Lukas 21:28

Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, cepat atau lambat, langit dan bumi pasti akan berlalu. Semua yang ada di bawah langit dan di atas bumi akan hancur lebur. Masihkah kita disibukkan dengan perkara-perkara yang ada di dunia ini? Masihkah kita berlomba sedemikian rupa mengumpulkan harta dunia? Masihkah kita memiliki cara hidup yang duniawi? Sampai kapan kita berubah? Ada tertulis: “Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.” (Pengkhotbah 9:12).

Tuhan selalu berkenan kepada orang-orang yang senantiasa mengarahkan pandangannya kepada-Nya dan memalingkan mukanya dari segala sesuatu yang ada di dunia ini. Memalingkan muka dari segala sesuatu termasuk dari cara berpikir duniawi dan hanya memandang akan kebesaran dan kekuatan Tuhan saja yang sanggup mengubah segala perkara. Memandang Tuhan sebagai tempat perlindungan dan penyelamatan. Seperti Nuh yang tetap fokus membuat bahtera dan memalingkan mukanya terhadap orang-orang yang mencemoohnya. Ketaatan yang Nuh bayar dalam hidupnya mendatangkan upah yang besar: ia dan seisi keluarganya selamat karena ketaatannya membuat bahtera yang diperintahkan Tuhan. Bahtera adalah lambang dari Yesus Kristus, yang merupakan Gunung Batu Keselamatan, tempat pelarian dan perlindungan bagi mereka yang senantiasa berharap kepada-Nya.

Dewasa ini pikiran manusia telah dirusak, disesatkan dan dicemari oleh berbagai kekacauan dan kabar-kabar yang menggetarkan. Sebagai orang percaya kita tak perlu gentar menghadapinya, karena dari semula Tuhan Yesus telah memberitahukan dan memperingatkan kita bahwa segalanya pasti terjadi, yaitu peperangan, pemberontakan, gempa bumi, kelaparan dan bermacam-macam musibah lainnya. Yang teramat penting untuk direnungkan adalah: “Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.” (ayat nas).

Setiap orang yang tetap dalam ‘bahtera’ Kristus akan beroleh keselamatan kekal!


Rabu. TETAP DALAM KEADAAN SUCI
Baca: 1 Yohanes 3:1-10

“Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.” 1 Yohanes 3:3

Ketika tugas Tuhan Yesus di bumi selesai Ia kembali kepada Bapa di sorga. Sebelum pergi Ia meninggalkan pesan yang menguatkan: “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14:3). Karena itu kita tak perlu gelisah. Alkitab menyatakan bahwa “…Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” (Matius 16:27).

Dalam menantikan kedatangan Kristus yang harus kita lakukan adalah tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya, agar kita tetap dalam keadaan suci dan tak bernoda. Rasul Yohanes menasihati: “Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya.” (1 Yohanes 2:28). Kita takkan malu di hadapan Tuhan jika kita dalam keadaan suci bersih. Jangan sampai ketika Kristus datang Ia berkata kepada kita demikian: “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.” (Wahyu 3:16-18).

Oleh karena itu “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (Yohanes 9:4) dan terus menyucikan diri, sebab Tuhan memanggil kita bukan untuk melakukan yang cemar, melainkan apa yang kudus! (1 Tesalonika 4:7).

Orang-orang yang hidup dalam kebenaran dan dalam keadaan sucilah yang layak tinggal bersama Kristus di Sorga!


Kamis. JANGAN LUPAKAN KARYA KESELAMATAN TUHAN (1)
Baca: Yosua 24:1-28

“Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu.” Yosua 24:27

Setelah empat puluh tahun mengembara di padang gurun akhirnya umat Israel memasuki tanah Kanaan. Semua bukan karena kekuatan dan kemampuan mereka, tapi semata-mata karena kasih, pemeliharaan dan penyertaan Tuhan sehingga mereka dapat menduduki tanah perjanjian itu. Kedua belas suku Israel pun telah mendapatkan tanah yang menjadi milik pusaka mereka. Bukan hanya itu, Tuhan juga menganugerahkan keamanan di seluruh Kanaan. Hal itu menunjukkan bahwa janji Tuhan untuk memberikan seluruh negeri kepada umat Israel telah digenapi-Nya.

Seiring berjalannya waktu usia Yosua makin bertambah tua, dan bisa dikatakan sedang berada di puncak karir dan punya pengaruh besar karena telah berhasil mengantarkan umat Israel kepada kehidupan baru. Dapat dikatakan bahwa Yosua adalah pemimpin yang berhasil dan berjasa besar. Dalam posisi ini kebanyakan pemimpin akan jumawa dan membusungkan dada. Sikap Yosua tidaklah demikian! Ia tidak pernah merasa diri berjasa dan berharap umat Israel menghormati atau menyanjungnya! Tidak ada niat sedikit pun untuk menyondongkan hati umat Israel kepada dirinya. Inilah pernyataan Yosua, “Aku telah tua dan sangat lanjut umur, dan kamu ini telah melihat segala yang dilakukan TUHAN, Allahmu, kepada semua bangsa di sini demi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang telah berperang bagi kamu.” (Yosua 23:2-3).

Yosua berupaya mengarahkan pandangan umat Israel hanya kepada Tuhan, dan mengingatkan bahwa keberhasilan memasuki tanah Kanaan bukan karena keahliannya dalam berperang, tapi karena ada tangan Tuhan yang berkuasa melindungi, menuntun, menolong dan menyelamatkan mereka. Tuhanlah yang telah berperang bagi mereka, sebagaimana yang Musa pernah sampaikan pula: “TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” (Keluaran 14:14), sehingga mereka dapat memperoleh kemenangan. Untuk itulah Yosua mengumpulkan semua suku yang ada di Israel, para tua-tua, para kepala, para hakim dan juga pengatur pasukan umat Israel di Sikhem.

Tanpa campur tangan Tuhan umat Israel takkan bisa mencapai tanah Kanaan!

Jumat. JANGAN LUPAKAN KARYA KESELAMATAN TUHAN (2)
Baca: Mazmur 77:1-21

“Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala.” Mazmur 77:12

Tindakan mengingat-ingat apa yang telah Tuhan perbuat di waktu lalu, jika tanpa dilandasi oleh sikap iman, hanya akan menghasilkan nostalgia belaka. Namun jika tindakan mengingat-ingat karya Tuhan ini dilandasi dengan sikap iman atau respons hati yang benar, hal itu akan menjadi suatu kekuatan atau peneguhan untuk lebih berkomitmen makin setia kepada Tuhan. Pemazmur menulis: “Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu.” (Mazmur 77:13).

Mengingat-ingat perbuatan-perbuatan Tuhan dan keajaiban kuasa-Nya adalah hal yang harus kita lakukan, terlebih-lebih ketika sedang dalam masalah atau penderitaan, karena pada situasi itu seringkali kita mudah sekali menjadi lemah, putus asa, dan kehilangan pengharapan. Yosua berusaha mengingatkan umat Israel untuk tidak melupakan begitu saja karya keselamatan Tuhan dan mengajak mereka untuk membuat pilihan hidup yang benar. Ia mau bahwa keputusan yang mereka ambil bukan karena keterpaksaan, tapi benar-benar atas kesadaran dan kerelaan hati. “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini.” (Yosua 24:15). Tindakan Yosua ini mencerminkan sikap seorang pemimpin yang arif dan bijak. Yosua menambahkan, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15b). Keteladanan yang ditunjukkan Yosua berdampak, umat Israel pun membuat pilihan hidup yang benar dengan berkata: “Jauhlah dari pada kami untuk beribadah kepada allah lain!” (Yosua 24:16).

Pula karya keselamatan yang Kristus kerjakan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib hendaknya semakin menguatkan dan meneguhkan kita untuk bersungguh-sungguh lagi dalam mengiring Tuhan. “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:20).

Karena anugerah Tuhan semata kita diselamatkan, karena itu beribadahlah kepada-Nya dengan hati yang takut dan gentar!


Sabtu. JANGAN LARI DARI PANGGILAN KUDUS (1)
Baca: Keluaran 32:1-14

“Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya.'” Keluaran 32:7

Kalau diperhatikan secara teliti, kisah penyembahan berhala yang dilakukan oleh umat Israel ini sangatlah unik dan luar biasa. Umumnya penyembahan berhala hanya dilakukan oleh sekelompok orang saja, namun di sini dinyatakan bahwa sebagian besar umat Israel serempak dan sepakat untuk meninggalkan Tuhan dan menyembah kepada patung anak lembu emas. Bagaimana mungkin suatu bangsa dapat berubah sikap dalam waktu sekejap meninggalkan Tuhan yang telah membuktikan kasih, kuasa, penyertaan dan pemeliharaan-Nya yang ajaib, lalu meminta Harun untuk membuat sebuah patung emas tuangan dalam bentuk seekor lembu?

Mengapa umat Israel tidak mampu mempertahankan kesetiaan iman dan kekudusan hidup sebagai umat pilihan Tuhan? Mereka berdalih bahwa Musa terlalu lama berada di gunung Sinai, dan mengulur-ulur waktu untuk turun dari gunung itu. “Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: ‘Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami, sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir – kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.'” (Keluaran 32:1). Padahal Musa hanya meninggalkan mereka selama empat puluh hari dan empat puluh malam saja, tidak sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun (baca Keluaran 24:18), dan ia juga telah mendelegasikan tugas kepemimpinan kepada Harun dan Hur: “…siapa yang ada perkaranya datanglah kepada mereka.” (Keluaran 24:14).

Mengapa mereka tidak tahan tanpa kehadiran Musa dan begitu cepat berbalik meninggalkan Tuhan? Tampaknya Harun dan Hur tidak mampu menjalankan tugas kepemimpinan yang dipercayakan Musa kepadanya. Terbukti keduanya tak bisa berbuat banyak ketika umat Israel mendesaknya untuk dibuatkan patung, bahkan Harun memberi solusi dengan meminta mereka untuk mengumpulkan emas yang dimiliki untuk dijadikan patung tuangan dalam bentuk anak lembu emas (baca Keluaran 32:2-4), dan juga membuatkan mezbah di depan anak lembu emas tersebut (baca Keluaran 32:5).

Tanpa kehadiran Musa umat Israel begitu cepat berbalik meninggalkan Tuhan!


Minggu. JANGAN LARI DARI PANGGILAN KUDUS (2)
Baca: Keluaran 32:15-35

“Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap TUHAN, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu.” Keluaran 32:30

Ketika Musa berkata kepada Harun, “Apakah yang dilakukan bangsa ini kepadamu, sehingga engkau mendatangkan dosa sebesar itu kepada mereka?” Tetapi jawab Harun: “Janganlah bangkit amarah tuanku; engkau sendiri tahu, bahwa bangsa ini jahat semata-mata.” (Keluaran 32:21-22). Apakah kedurhakaan yang dilakukan oleh umat Israel sepenuhnya merupakan kesalahan Harun? Tidak. Sesungguhnya tindakan untuk meninggalkan Tuhan dan mencondongkan diri kepada penyembahan berhala adalah berasal dari keinginan umat Israel sendiri, karena mereka ingin hidup sesuka hati. Terlihat dari apa yang mereka perbuat setelah menyembah patung anak lembu emas, yaitu “…duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.” (Keluaran 32:6).

Sikap bangsa Israel yang meninggalkan Tuhan ini pada hakekatnya merupakan upaya untuk membebaskan diri dari panggilan hidup kudus supaya dapat menuruti keinginan daging dan hidup dalam hawa nafsu duniawi, seperti yang pernah dialami selama tinggal di Mesir. Tidak tahan karena ditinggalkan Musa bukanlah alasan utama! Mereka beranggapan bahwa hidup menurut pola dunia adalah hal yang sangat menyenangkan. Sebagai bangsa pilihan Tuhan bangsa Israel dipanggil dengan identitas yang baru, yang berarti harus menjalani hidup yang berbeda dari bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan. Artinya mereka harus hidup dalam pertobatan setiap hari, menjauhkan diri dari segala kecemaran atau penyangkalan diri terhadap hawa nafsu.

Melihat kedurhakaan umat Israel itu Tuhan berencana untuk membinasakan mereka, namun Musa tampil sebagai jurusyafaat memohon agar Tuhan tidak membinasakan umat-Nya. “Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu.” (Keluaran 32:12b). Musa percaya bahwa Tuhan itu berlimpah kasih setia. “Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati;” (Mazmur 30:6). Itulah sebabnya Tuhan tidak sampai membinasakan semua umat Israel, termasuk Harun dan Hur.

Kedurhakaan bangsa Israel adalah bukti mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk!

KEMENANGAN SEOLAH DI PIHAK MUSUH

KEMENANGAN SEOLAH DI PIHAK MUSUH

Senin. KEMENANGAN SEOLAH DI PIHAK MUSUH (1)
Baca: Daniel 3:1-30

“Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu.” Daniel 3:20

Pemazmur menyatakan, “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu; Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah.” (Mazmur 34:20-21). Ketika orang percaya hidup mengandalkan Tuhan dan melekat kepada-Nya, ada jaminan perlindungan dan pemeliharaan dari Tuhan meski dihadapkan pada banyak tantangan, tekanan, penderitaan atau aniaya sekalipun. Terkadang kemenangan gemilang yang terjadi atas orang percaya berawal dari peristiwa-peristiwa yang seakan-akan merupakan suatu kekalahan. Orang beriman yang memegang teguh janji firman Tuhan dapat saja menghadapi suatu situasi yang teramat gelap dan mengerikan, seolah-olah Iblis sedang berada di atas angin dan mengalahkan mereka.

Walaupun jiwanya terancam atau nyawa menjadi taruhannya, Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap tak mau menukarkan Tuhan mereka dengan patung buatan raja Nebukadnezar. Inilah bukti iman yang hidup, yaitu iman yang didukung dengan suatu komitmen kepada Tuhan. Raja mengancam akan mencampakkan ketiga pemuda itu ke dalam perapian yang menyala-nyala bila mereka tak mau menyembah kepada patung emas itu. Ancaman itu tak menggoyahkan iman mereka! “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:16-18).

Inilah ketaatan yang tanpa syarat! Ketiga pemuda ini menaati Tuhan, tidak peduli apakah Dia mau melepaskan mereka atau tidak. Tentu saja Tuhan sanggup melepaskan, namun ketaatan kita tidak boleh berdasarkan pada hal ini atau pada syarat apa pun. Berbeda dengan kebanyakan orang Kristen masa sekarang yang umumnya mau taat tapi dengan syarat-syarat tertentu: asal Tuhan mau melepaskan mereka dari masalah, asal Tuhan menyembuhkan sakit-penyakit yang dideritanya, asal… asal… asal…
(Bersambung)


Selasa. KEMENANGAN SEOLAH DI PIHAK MUSUH (2)
Baca: Daniel 3:1-30

“Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.” Daniel 3:29

Sekalipun Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadapi kemustahilan, karena Iblis telah mengikat dan menjerumuskan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala, iman mereka tak melemah. Jika kita mempercayai Tuhan dan berpegang teguh pada janji firman-Nya, Roh Kudus akan berkarya dan melepaskan ikatan-ikatan kita. Tuhan berfirman, “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.” (Yesaya 43:1-2).

Betapa banyak orang Kristen ketika dalam api ujian tak yakin bahwa Tuhan menyertainya. Pengalaman 3 pemuda itu adalah bukti nyata bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang benar. Raja terheran-heran melihat ada sesosok orang yang berjalan bersama ketiga pemuda itu, yang rupanya seperti anak dewa. “Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu, berkatalah ia: ‘Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!’ Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.” (Daniel 3:26).

Dalam situasi berat sekalipun percayalah bahwa kita tidak berjuang sendiri, ada Tuhan yang siap memberikan pertolongan. Milikilah iman seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego, iman yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi! Ketiga pemuda itu pun menjadi berkat bagi orang lain, bahkan raja pun mengeluarkan perintah baru agar semua orang menghormati Tuhan-nya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Tuhan sanggup membalikkan keadaan.

“Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.” Mazmur 20:7


Rabu. MENANG KARENA MENGANDALKAN TUHAN (1)
Baca: 1 Samuel 17:1-39

“Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?” 1 Samuel 17:26b

Suatu saat hendak berperanglah orang Filistin dengan orang-orang Israel. Pemimpin orang Filistin bernama Goliat, orang yang memiliki postur tubuh yang tinggi besar bagaikan raksasa. “Tingginya enam hasta sejengkal.” (1 Samuel 17:4). Satu hasta kira-kira 45 cm atau sama dengan dua jengkal. Dengan perlengkapan senjata yang lengkap (1 Samuel 17:5-7) Goliat menantang, mengejek dan mengintimidasi orang-orang Israel, sehingga seluruh bangsa Israel yang pada waktu itu dipimpin oleh Saul menjadi sangat ketakutan dan tawar hati. Tidak ada satu pun orang Israel yang berani maju melawan Goliat. Daud, yang waktu itu masih sangat muda, kemerah-merahan dan elok parasnya, ketika melihat kejadian itu dan mendengar Goliat menantang bangsanya segera berkata kepada Saul, “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu. Tetapi Saul berkata kepada Daud: ‘Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.'” (1 Samuel 17:32-33).

Fakta memang menunjukkan bahwa di atas kertas dan ditinjau dari sudut mana pun kekuatan Goliat jauh di atas kekuatan prajurit yang ada di pihak bangsa Israel, dan dapat dipastikan orang yang akan melawan Goliat akan dihabisinya. Itulah sebabnya bangsa Israel menjadi tawar hati karena merasa mustahil bisa mengalahkan raksasa Filistin itu. Jadi ketika Daud berkata bahwa ia akan pergi melawan Goliat, mungkin orang akan menertawakan dan merendahkan Daud dengan berkata: “Impossible mission!” Meski demikian Daud tidak dikalahkan oleh situasi yang ada dan tidak gentar sekalipun terhadap Goliat, bahkan ia menguatkan bangsa Israel untuk tidak tawar hati.

Ketika menghadapi masalah teramat berat kita pun merasa bahwa masalah itu begitu besar seperti raksasa yang tak mungkin untuk dikalahkan. Respons kita pun sama seperti bangsa Israel yaitu cemas, takut dan tawar hati. Namun seberat apa pun masalah yang kita hadapi, belajarlah untuk tidak tawar hati seperti Daud, sebab ada tertulis: “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10). Kalau kita tawar hati saat dalam masalah, kita akan semakin tak berdaya!
(Bersambung)


Kamis. MENANG KARENA MENGANDALKAN TUHAN (2)
Baca: 1 Samuel 17:40-58

“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” 1 Samuel 17:45

Saul sangat meragukan kemampuan Daud berhadapan dengan Goliat, karena itu ia mengenakan kepada Daud baju perang, lengkap dengan ketopong tembaga di kepala dan dikenakannya pula baju zirah. Atas saran Saul Daud pun mengenakan baju perang itu dan mencoba berjalan, namun berkatalah ia, “Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya. Kemudian ia menanggalkannya.” (1 Samuel 17:39b). Hal ini memberikan suatu hikmat kepada kita bahwa ‘pakaian kebesaran’, pangkat, kehormatan dan sebagainya seringkali membawa kita tak dapat bergerak dan berjalan sesuai pimpinan Roh Kudus. Karena itu kita harus menanggalkan segala perlengkapan duniawi yang membebani hidup kita agar kuasa Tuhan dinyatakan bagi kita.

Keberanian Daud menghadapi Goliat bukan karena nekat, tapi ia memiliki keyakinan bahwa Tuhan akan menyertainya. “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” (1 Samuel 17:37). Bersama Tuhan Daud sanggup melawan dan mengalahkan binatang-binatang buas, bersama-Nya pula ia pasti mampu mengalahkan Goliat, “Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.” (1 Samuel 17:36b).

Jika Goliat sangat mengandalkan kekuatan dan kemampuannya secara fisik untuk berperang, berbeda dengan Daud yang menyadari bahwa kemampuan fisik dan kecanggihan peralatan tempur bukanlah segala-galanya, tetapi kuasa Tuhanlah yang memegang peranan penting dalam pertempuran yang dihadapinya. Apa yang terjadi kemudian? Daud dengan penuh iman mengambil sebuah batu dari dalam kantongnya, lalu diumbannya Goliat tepat di dahinya, dan ia pun jatuh tersungkur… “Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.” (1 Samuel 17:50).

Untuk dapat mengalahkan ‘Goliat’ dalam hidup ini kita harus mengandalkan Tuhan dan Roh Kudus, bukan dengan kekuatan manusia.


Jumat. JANGAN MENCARI PERTOLONGAN KEPADA DUNIA
Baca: Kejadian 12:10-20

“Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu.” Kejadian 12:10

Pada suatu ketika Tuhan memanggil Abram dan menyuruhnya keluar dari negerinya dan dari sanak saudaranya. “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;” (Kejadian 12:1). Lalu pergilah Abram bersama Sarai (isterinya) dan Lot dengan beberapa orang dan segala harta benda mereka. Abram berjalan terus dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb, suatu wilayah padang pasir di Israel selatan. Setelah sampai di tempat itu terjadilah kelaparan yang hebat. Mungkin timbul pertanyaan dalam diri Abram: “Tuhan, aku sudah taat, aku sudah melayani Engkau, tapi mengapa hal-hal yang tak menyenangkan terjadi? Mengapa aku harus dihadapkan pada situasi yang teramat sulit seperti ini?”

Kemudian karena kelaparan timbul di negeri itu pergilah Abram ke Mesir (ayat nas). Dengan kata lain, ketika mengalami masalah yang berat Abram meminta pertolongan ke Mesir. Mesir adalah lambang dunia. Abram pergi ke Mesir bukan atas petunjuk dari Tuhan, tetapi atas kehendaknya sendiri. Pada waktu itu iman Abram belum bertumbuh sehebat yang dikisahkan dalam Alkitab, di mana ia di kemudian hari disebut bapa orang percaya. Dalam situasi-situasi sulit Abram lebih berharap kepada Mesir daripada berharap kepada Tuhan. Abram mencoba mencari jalan keluar untuk masalahnya dengan mengandalkan jalan pikirannya sendiri yang terbatas. Karena keadaannya sangat mendesak dan demi mendapatkan pertolongan secara instan, Abram bahkan berani berbohong kepada Firaun dengan mengatakan bahwa Sarai adalah adiknya, sehingga Sarai pun diambil isteri oleh Firaun! Namun oleh karena anugerah dan campur tangan Tuhan semata akhirnya rumah tangga Abram dipulihkan, Sarai kembali kepadanya…

Berbagai persoalan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup ini adalah bagian dari proses pendewasaan iman kita. Karena itu Tuhan mengajar kita untuk berseru kepada-Nya dan berharap hanya kepada-Nya saja, bukan kepada yang lain, seperti tertulis: “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.” (Mazmur 34:18).

Berharaplah hanya kepada Tuhan, karena pertolongan-Nya itu cukup bagi kita!


Sabtu. KEKUATAN ITU BERASAL DARI TUHAN
Baca: 2 Korintus 4:1-15

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” 2 Korintus 4:7

Bukan hal yang mengejutkan lagi jika seseorang berhasil seringkali ia lupa diri. Ia merasa bahwa keberhasilan yang diraihnya itu adalah hasil usahanya sendiri, karena kekuatan dan kehebatannya. Bukan hanya mereka yang berhasil di bidang pekerjaan konvensional, hamba-hamba Tuhan pun merasa bahwa keberhasilannya dalam pelayanan adalah buah dari kerja kerasnya sendiri, bukan karena campur tangan Tuhan. Mereka lupa dengan ayat ini: “…di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5b).

Alangkah baiknya memiliki pola pikir seperti rasul Paulus yang menyadari bahwa dalam keadaan apa pun ia dapat berhasil karena kasih karunia Tuhan. “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (1 Korintus 15:10). Pengakuan Paulus ini merupakan suatu kebenaran, bahwa setiap keberhasilan yang diraihnya bukan karena kesanggupan, kekuatan dan kemampuan yang ia miliki, tapi karena kasih karunia Tuhan yang menyertainya. Karena itu tidak ada alasan bagi siapa pun untuk bermegah dan menyombongkan diri apabila saat ini berhasil dalam apa saja yang dikerjakan. Roh Tuhanlah yang berperan besar dalam hidup manusia sebagaimana tertulis: “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.” (Zakharia 4:6). Tidak ada yang patut dibanggakan dalam diri manusia, kita ini “…tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2:22).

Jangan pernah membanggakan diri karena merasa kuat, pintar, gagah, kaya atau hebat! Yang Tuhan kehendaki dalam diri umat-Nya adalah hati yang penuh kerendahan di hadapan pencipta-Nya. Kita harus ingat bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja dan apa saja demi kepentingan-Nya. Salah satu contoh di Alkitab adalah Tuhan memakai keledai untuk berbicara kepada Bileam (baca Bilangan 22:28-30).

Jika kita berhasil, itu bukan karena siapa kita, tapi karena Tuhan berkenan memakai kita… Karena itu bersyukurlah!


Minggu. AWAL SAMA, AKHIR BERBEDA
Baca: 1 Samuel 10:1-16

“Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: ‘Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel?'” 1 Samuel 10:1

Dalam menempuh perjalanan hidup tidak selamanya kita berhadapan dengan jalan yang lurus, ada banyak sekali persimpangan, yang apabila kita salah memilih di persimpangan tersebut haluan hidup kita pun dapat berubah. Salah dalam memilih jalan akibatnya pasti akan mengarah kepada hal-hal yang buruk. Pertanyaannya: apakah kita sedang berjalan dengan Pemimpin dan Pemandu sejati kita? Orang yang memiliki penyerahan penuh kepada Tuhan pasti akan berkata: “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku,” (Mazmur 25:4-5a).

Saul dan Daud tak berbeda pada awalnya, Alkitab mencatat bahwa Saul diurapi Tuhan dan Daud pun demikian (1 Samuel 16:13). Kedua pemuda ini juga sama-sama memiliki paras elok: Saul “…seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorangpun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.” (1 Samuel 9:2). Pula tentang Daud: “…Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok.” (1 Samuel 16:12). Apakah Tuhan memilih kedua pemuda ini karena memiliki paras elok? Tidak. Ada tertulis: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7b). Baik Saul maupun Daud memulai karirnya dengan penuh kerendahan hati, karena itu tangan Tuhan juga berada atas kedua pemuda ini. Keduanya dimahkotai menjadi raja pada usia yang hampir bersamaan.

Namun dalam perjalanan selanjutnya, ketika dihadapkan pada persimpangan-persimpangan, jalan yang mereka pilih berbeda. Daud memilih untuk tetap taat mengikuti jalan Tuhan, dan ketaatannya ini membawa hidup Daud semakin naik dan mengalami peninggian demi peninggian dari Tuhan. Sedangkan Saul di tengah perjalanan hidupnya memilih untuk tidak taat, dan karena ketidaktaatannya ini Tuhan menolaknya sebagai raja atas Israel (1 Samuel 15:26), dan akhir hidupnya pun sangat tragis.

Ketaatan mendatangkan berkat, ketidaktaatan menuntun kepada kehancuran!

KESEMPATAN UNTUK MENGHASILKAN BUAH

KESEMPATAN UNTUK MENGHASILKAN BUAH

SENIN. KESEMPATAN UNTUK MENGHASILKAN BUAH
Baca: Matius 3:1-12

“Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” Matius 3:10

Rancangan Tuhan bagi kehidupan anak-anak-Nya adalah rancangan yang baik dan bermasa depan cerah (baca Yeremia 29:11). Karena itu Tuhan memberikan segala sesuatu untuk kita, bahkan Ia rela mengorbankan nyawa-Nya supaya kita beroleh penebusan dosa, dibebaskan dari kutuk, “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.'” (Matius 8:17). Bukan hanya itu, Tuhan juga memberikan Roh Kudus-Nya sebagai Penolong supaya kita memiliki kesempatan untuk berbuah. Ini adalah target Tuhan dalam hidup setiap orang percaya! “Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya.” (Lukas 6:44a).

Buah pertama yang harus dihasilkan orang percaya adalah buah pertobatan. “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3:8). Buah pertobatan dalam diri seseorang akan terlihat jelas melalui perubahan hidup yang semakin baik, yaitu meninggalkan kehidupan lama dan menjalani hidup sebagai manusia baru (baca 2 Korintus 5:17). Manusia baru adalah proyek besar Bapa sendiri yang dikerjakan-Nya secara sempurna melalui Kristus. “…yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:22-24).

Selanjutnya buah yang harus dihasilkan adalah buah Roh. Orang yang sudah mengalami pertobatan sejati pasti ada buah Roh di dalam kehidupannya, yaitu “…kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Galatia 5:22-23). Ketika buah pertobatan dan buah Roh berjalan secara seimbang, saat itulah kehidupan seseorang melangkah ke taraf yang lebih lagi, yaitu hidup yang menjadi berkat atau kesaksian bagi orang lain. Inilah yang disebut buah jiwa. Melalui kesaksian hidup secara nyata kita dapat membawa orang lain datang kepada Kristus.

Kunci agar kehidupan kita berbuah adalah tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya!


SELASA. SUPAYA TAK ADA YANG BINASA
Baca: Yehezkiel 33:1-20

“Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu!” Yehezkiel 33:11

Banyak orang bertanya, “Kapan Tuhan datang kali yang kedua? Dari dulu digembar-gemborkan bahwa kedatangan Tuhan sudah sangat dekat, tapi mana buktinya? Bohong!” Rasul Petrus menyatakan, “…pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: ‘Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.'” (2 Petrus 3:3-4). Apakah firman Tuhan itu bohong? Firman Tuhan adalah ya dan amin, dan semua yang difirmankan Tuhan pasti akan digenapi-Nya.

Ketahuilah bahwa Tuhan memberi kita banyak kesempatan dengan tujuan supaya tidak ada orang yang mengalami kebinasaan kekal. “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9). Itulah maksud dari kesabaran Tuhan! Sesungguhnya Tuhan tidak ingin menghukum manusia, tapi Tuhan menghukum karena menegakkan keadilan-Nya. Neraka diciptakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya, bukan untuk manusia, tetapi manusia tetap ditipu oleh Iblis sehingga manusia masuk dalam jerat dan perangkap Iblis. Sayangnya kesempatan yang Tuhan beri justru disalahgunakan oleh manusia untuk memuaskan keinginan dagingnya. “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:7-8).

Tuhan yang memberi kesempatan kepada kita adalah Tuhan yang menginginkan kita menghargai kesempatan itu dan merespons setiap kesempatan itu dengan meninggalkan dosa dan hidup dalam pertobatan yang sungguh!

Bertobatlah dan jangan mengeraskan hati sebelum hari Tuhan itu tiba!


RABU. TUHAN TIDAK PERNAH MEMBATASI IMAN
Baca: Lukas 17:1-6

“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” Lukas 17:6

Alkitab menyatakan: “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,” (Efesus 3:20). Artinya bersama Tuhan, asal ada iman walaupun hanya sekecil biji sesawi, kita pasti dapat melakukan perkara-perkara yang besar. Tuhan Yesus tidak berkata bahwa kita harus mempunyai iman sebesar pohon sesawi. Tumbuhan sesawi (mustard – English, Red) adalah suatu pohon yang dapat tumbuh setinggi 3 meter (9 kaki), tetapi tumbuh dari biji yang sangat kecil. Iman yang hanya sebesar biji sesawi jika ditanam akan tumbuh pohon yang jauh lebih besar daripada bijinya.

Mungkin kita merasa tak memiliki iman sebesar nabi Elia, yang doanya seperti ini: “…supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.” (Yakobus 5:17-18). Lalu kita berkata, “Mustahil sakitku bisa sembuh, mustahil ekonomi keluarga dipulihkan… mustahil!” Kita selalu melihat pada ketidakmampuan kita dan juga pada keterbatasan iman kita sehingga kita menjadi bimbang, benarkah Tuhan itu sanggup melakukan mujizat? Selama kita masih bimbang dan tak percaya, maka kuasa Tuhan tidak akan bekerja di dalam kita. Tuhan berkata, “Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?” (Yeremia 32:27). Bukankah Tuhan menegaskan, “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23b). Tuhan Yesus tidak berkata bahwa ada perbedaan antara iman untuk hal kecil dan hal yang besar. Yang menjadi masalah ialah iman yang kita miliki itu harus ditanam dan dipraktekkan agar dapat menghasilkan.

Bagaimana kita menanam benih iman itu? Yaitu dengan melakukan apa yang firman Tuhan katakan. Kita tak memerlukan iman lebih besar untuk hal-hal yang besar. Yang perlu kita lakukan ialah mempraktekkan iman yang kita miliki dengan berpegang pada firman Tuhan sepenuhnya!

Jika iman itu tidak disertai perbuatan maka pada hakekatnya adalah mati!


KAMIS. MEMBAWA ORANG KEPADA SEBUAH KEPUTUSAN
Baca: Wahyu 3:14-22

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Wahyu 3:20

Dalam menjalani kehidupan ini seringkali kita dihadapkan pada keputusan-keputusan. Pengambilan keputusan amat penting, sebab itulah yang akan menentukan langkah berikutnya. Keputusan bukanlah sebuah pertobatan, melainkan suatu tindakan kemauan manusia. Tuhan tidak dapat mengubah kerohanian seseorang sebelum ia mengambil keputusan ini. Tuhan menginginkan manusia mengambil keputusan untuk menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, namun tanpa suatu paksaan atau tekanan dari pihak mana pun. Tuhan hanya mengetuk pintu hati orang. Jika ada yang mendengarkan suara-Nya dan membuka pintu hatinya, Tuhan akan masuk dan tinggal bersama dengan dia.

Tuhan sangat menghargai kebebasan manusia dalam membuat keputusan atau pilihan hidup. Keputusan atau pilihan yang salah akan membawa seseorang kepada jalan yang salah pula. Bila saat ini kita mempunyai kesempatan yang luas untuk memberitakan siapa Yesus Kristus itu, mari kita pergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, sebab kesempatan itu hanya sekali saja datangnya. Kesempatan tak akan datang kembali apabila ia telah berlalu. Jangan sampai orang berkata terhadap kita pada hari penghakiman nanti: “Ia tak pernah memperkenalkan aku kepada Yesus Kristus!”

“Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Roma 10:14-15).

Adalah kewajiban bagi orang percaya untuk memperkenalkan dan memberitakan Kristus kepada orang lain. Inilah kebenaran yang harus diberitakan: “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yohanes 5:24).

Keputusan tetap ada pada mereka, yang terpenting kita sudah mengerjakan apa yang menjadi bagian kita.


JUMAT. JIKA TUHAN MAU…
Baca: Lukas 5:12-16

“Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: ‘Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.'” Lukas 5:12b

Ketika masih berada di bumi Tuhan Yesus membuat banyak mujizat dan perkara-perkara besar, dan banyak orang menjadi percaya ketika melihat mujizat-mujizat yang Dia kerjakan. Tak banyak pertanyaan apakah Tuhan Yesus diurapi oleh Bapa sehingga Ia mempunyai kuasa yang luar biasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Tetapi ketika Tuhan Yesus tak lagi berada di bumi banyak orang menjadi ragu apakah Dia masih memiliki kuasa dan mampu melakukan mujizat seperti dahulu kala. Perlu ditegaskan kembali bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang tidak pernah berubah, Ia tetap sama baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (baca Ibrani 13:8); kuasa-Nya, kasih-Nya, kebaikan-Nya, takkan berubah.

Apabila dahulu Tuhan Yesus selalu berbelas kasih dan menginginkan kesembuhan pada orang yang sakit dan menolong mereka yang menderita, maka sekarang Dia juga masih tetap sama dan Dia tetap mau menyembuhkan dengan belas kasih-Nya seperti yang dilakukan terhadap orang yang sakit kusta itu: “Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: ‘Aku mau, jadilah engkau tahir.’ Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.” (Lukas 5:13). Orang kusta ini sangat percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang penuh kuasa. Yang menjadi masalah baginya adalah apakah Tuhan Yesus mau menyembuhkan dia atau tidak. Oleh sebab itu ia berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (ayat nas).

Walaupun sudah mendengar firman Tuhan ribuan kali banyaknya, tapi jika kita tak mengerti kehendak Tuhan, maka firman itu tidak menimbulkan iman. Kehendak Tuhan bagi kita ialah agar kita semua berada dalam keadaan sehat jasmani dan juga sehat secara rohani. Kita harus mengerti kehendak Tuhan yang dituliskan dalam Alkitab: “Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan…” (Mazmur 103:3-5a).

Kalau orang lain ditolong, kita juga pasti akan ditolong-Nya! Jangan pernah meragukan kuasa dan kasih Tuhan, karena Dia tidak berubah! Tuhan mau kita sembuh.


SABTU. HIDUP BERKECUKUPAN DALAM KRISTUS
Baca: 2 Korintus 9:6-15

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” 2 Korintus 9:8

Banyak janji Tuhan tertulis dalam Alkitab, terutama tentang keselamatan kekal, kemenangan, pertolongan dan juga kelimpahan hidup. Sebelum memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan terlebih dahulu kita harus memiliki ‘sumber’ yang mempunyai segalanya itu. Sumber itu adalah Yesus dan melalui Dia kita dapat memperoleh segalanya.

Ada tertulis: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah 4:12). Tuhan Yesus berkata, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput… Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:9, 10b); “…Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6).

Untuk mengalami penggenapan janji Tuhan ini selain percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita harus mendahulukan Tuhan dalam segala hal. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Apa yang kita peroleh dari Bapa itu pun tergantung dari ketaatan kita juga seperti tertulis: “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” (2 Korintus 9:6). “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Memberi atau mempersembahkan sesuatu bagi Tuhan dan juga bagi sesama jangan menunggu sampai kita berkelebihan atau kelimpahan terlebih dahulu; itu bukan iman namanya. Berilah atau persembahkanlah serela dan semampu apa yang dapat kita berikan.

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Yohanes 15:7


MINGGU. JANGAN MENCURI KEMULIAAN TUHAN
Baca: Kisah Para Rasul 14:1-20

“Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.” Kisah 14:15b

Ketika rasul Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di beberapa kota, “Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan. Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan.” (ayat 8-9). Segeralah Paulus menyuruh orang yang lumpuh itu berdiri, maka ia pun melonjak berdiri, lalu berjalan ke sana ke mari (ayat 10). Mujizat terjadi!

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu mengira bahwa Paulus dan Barnabas adalah dewa-dewa yang turun dari langit dalam wujud manusia, sehingga mereka pun menyanjung dan menghormati keduanya sebagaimana yang mereka perbuat terhadap dewa-dewa mereka. Bagaimana reaksi Paulus dan Barnabas? Apakah keduanya merasa bangga dan semakin besar kepala? Justru keduanya mengoyakkan pakaian sambil berseru: “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu.” (ayat 15a). Karakter seperti yang dimiliki Paulus dan Barnabas pada zaman seperti sekarang ini sangatlah langka ditemukan. Orang-orang di zaman sekarang haus akan sanjungan dan pujian dari sesama. Bukan hanya orang di luar Tuhan, tidak sedikit orang Kristen dan hamba-hamba Tuhan yang memiliki motivasi salah dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Mereka suka sekali namanya dikenal, dipuji atau dielu-elukkan oleh banyak orang. Kita lupa bahwa orang dapat disembuhkan atau bertobat bukan karena kehebatan kita, tapi karena kuasa Tuhan yang turut bekerja di dalamnya dan juga oleh karena iman dari orang yang didoakan itu sendiri.

Tanpa Roh Tuhan bekerja kita ini bukan siapa-siapa! Kita ini hanyalah alatnya Tuhan, tidak lebih. Tidak sepatutnya kita mencuri kemuliaan Tuhan untuk kepentingan diri sendiri. Pujian, hormat dan kemuliaan itu hanya patut diberikan hanya kepada Kristus saja, karena “…punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi!” (1 Tawarikh 29:11).

Mencari pujian dari manusia adalah sia-sia belaka! Ini adalah kebencian Tuhan.

SEBERAT APA PUN JANGAN MENGGERUTU

SEBERAT APA PUN JANGAN MENGGERUTU

Senin. SEBERAT APA PUN JANGAN MENGGERUTU
Baca: Kisah Para Rasul 16:6-35

“Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.” Kisah 16:10

Pada suatu malam rasul Paulus mendapat penglihatan, tampaklah seorang Makedonia berseru kepadanya: “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!” (Kisah 16:9). Ia percaya penglihatan itu merupakan panggilan Tuhan untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang di sana. Segeralah Paulus dan Silas merespons panggilan Tuhan ini dan pergi menuju ke daerah penginjilan baru itu.

Begitu sampai di wilayah Makedonia bagaimana reaksi orang-orang? Ketika Paulus dan Silas sampai di Filipi banyak orang menentang keras. Mereka menyeret Paulus dan Silas ke pasar dan menghadapkannya kepada penguasa kota: pakaian mereka dikoyak dan didera berkali-kali, lalu keduanya dimasukkan ke dalam ruang penjara yang paling tengah dengan kaki terbelenggu dalam pasungan. Seandainya Paulus dan Silas berkarakter seperti orang-orang Kristen kebanyakan pastilah mereka mengeluh, bersungut-sungut, menggerutu, marah kepada Tuhan. Mungkin mereka berkata, “Aku sudah taat mengerjakan panggilan-Mu, mengapa seperti ini?” Tapi Paulus dan Silas adalah hamba Tuhan yang patut diteladani. Dalam situasi sulit mereka tetap memuliakan nama Tuhan. “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” (Kisah 16:25).

Paulus dan Silas percaya ada rencana Tuhan yang indah di balik penderitaan yang dialaminya. Seringkali kita juga mengalami penderitaan karena kesetiaan kita dalam melayani Tuhan dan hidup benar. Namun seringkali kita menggerutu dan menyalahkan Tuhan. Kita lupa bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (baca Roma 8:28).

“Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” 1 Petrus 2:21


Selasa. SALING JEGAL: Tidak Hidup Dalam Kasih
Baca: Lukas 9:49-50

“Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Lukas 9:49

Semakin hari dunia semakin ‘panas’ dengan persaingan antar manusia. Karena keadaan ini banyak orang mudah tersulut emosi. Kasih menjadi sesuatu yang langka dan tak mudah ditemukan, karena hubungan antarinsani selalu dilandasi kepentingan tertentu. Saling jegal menjadi sesuatu yang biasa terjadi.

Saling jegal juga terjadi di dunia pelayanan! Para pelayan Tuhan menjegal rekan sepelayanan di ladang Tuhan karena merasa tersaingi. Intinya orang saling jegal karena tidak suka melihat orang lain lebih maju, lebih berhasil, atau lebih dipakai Tuhan dalam pelayanan. Karena itu berbagai cara ditempuh untuk menghambat dan menghalangi langkahnya. Mengapa Yohanes pembaptis berkata kepada Tuhan Yesus, “…kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” (ayat nas)? Mulai ada iri hati dalam diri Yohanes: mengapa ada orang lain yang bukan pengikut Kristus mengusir setan demi nama-Nya dan berhasil. Mungkin timbul pertanyaan di benaknya: “Mengapa harus orang lain yang dapat melakukannya, mengapa bukan aku?”

Seharusnya kita bersyukur jika ada orang lain yang hidupnya dipakai Tuhan secara luar biasa. Itu menjadi pendorong atau motivasi bagi kita untuk belajar lebih lagi dan berusaha untuk meningkatkan kualitas kerohanian kita. Sebagai kawan sekerja di ladang Tuhan seharusnya kita saling menopang dan bahu-membahu dalam melayani Tuhan. Sikap saling jegal adalah tanda bahwa kita tidak memiliki kasih. Orang yang memiliki kasih justru akan belajar untuk menghargai kelebihan orang lain, dan membuat kita bisa bersyukur karena nama Tuhan dipermuliakan melalui orang-orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa, jangan justru kita iri hati dan dengki kepada mereka. Tuhan Yesus berkata, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:34-35).

Memiliki kasih adalah tanda bahwa kita ini adalah anak-anak Tuhan, jangan malah menjegal!


Rabu. JANGAN MENJADI BATU SANDUNGAN
Baca: 2 Timotius 2:14-26

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” 2 Timotius 2:15

Semua orang percaya tanpa terkecuali memiliki tanggung jawab sebagai pekerja-pekerja Tuhan. Yang disebut pekerja Tuhan bukan hanya mereka yang mempunyai jabatan resmi di gereja, semisal pendeta, gembala sidang, diaken, atau yang sudah terlibat dalam pelayanan mimbar, akan tetapi semua orang yang mengaku diri sebagai orang percaya atau pengikut Kristus.

Rasul Paulus mengatakan bahwa tugas utama seorang pekerja Kristus adalah memberitakan kebenaran. Karena kita adalah pemberita kebenaran maka kita pun tidak boleh main-main dengan kekristenan kita. Adalah mutlak bagi seorang pekerja Tuhan untuk memiliki sifat Ilahi, yaitu hidup yang mencerminkan Kristus. “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yohanes 2:6). Rasul Paulus meminta kepada Timotius untuk memperingatkan semua orang percaya: “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.” (2 Timotius 2:19). Tetapi banyak dijumpai orang Kristen yang, justru, bukan teladan baik yang ditunjukkan, sebaliknya malah menjadi batu sandungan bagi orang-orang lain; sering terjadi pertengkaran, percekcokan, perselisihan, fitnah, gosip dan saling menjatuhkan satu sama lain di antara jemaat dalam satu lingkup gereja; dan yang lebih menyedihkan Roh Kudus ialah terjadi persaingan yang tidak sehat antar denominasi gereja sehingga gereja menjadi terpecah-pecah atau membentuk kubu-kubu.

Rasul Paulus mengingatkan bahwa seorang pekerja Tuhan harus mampu mengekang lidahnya, “…agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya… hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.” (2 Timotius 2:14, 16). Kalau hidup kita sendiri tidak mampu menjadi kesaksian yang baik, bagaimana kita bisa melayani jiwa-jiwa dan memberitakan kebenaran kepada orang lain?

Jika seseorang menyucikan diri dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia (baca 2 Timotius 2:21).


Kamis. JANGAN BERSUMPAH PALSU ATAU DUSTA (1)
Baca: Amsal 19:1-9

“Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.” Amsal 19:5

Zaman sekarang ini keadaan makin bertambah jahat, orang lebih suka berbuat kejahatan daripada melakukan hal-hal yang baik. Lebih banyak pembohong daripada orang berkata jujur, bahkan di pengadilan sekalipun banyak sekali terdapat ketidakadilan, ketidakjujuran, banyak saksi-saksi dusta atau sumpah-sumpah palsu sebagai pertanda bahwa manusia tidak lagi takut akan Tuhan. Sering dijumpai banyak orang rela bersumpah palsu atau bersaksi dusta demi rasa solidernya kepada atasan, relasi bisnis, sahabat atau teman dekat. Rasa solider ini seringkali ‘buta’ dan tidak obyektif walaupun tahu benar bahwa atasan, relasi bisnis, sahabat atau teman dekatnya itu melakukan kesalahan atau pelanggaran, mereka tetap saja mau menjadi saksi dusta. Ada pula orang yang rela menyampaikan saksi dusta meski hal itu bertentangan dengan firman karena mereka diiming-imingi uang, jabatan atau materi, sehingga matanya menjadi ‘silau’ dan akhirnya mau melakukan kompromi.

Berhati-hatilah, Tuhan tidak pernah menutup mata terhadap apa yang kita perbuat! Mungkin kita bisa berkilah atau menyembunyikan kebohongan itu di hadapan manusia, tapi di hadapan Tuhan tidak, sebab “…tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Tuhan tidak bisa dipermainkan, Ia tidak akan tinggal diam, apa yang telah difirmankan-Nya pasti akan dilaksanakan. Amatlah penting firman Tuhan mengenai hukuman atas orang yang suka menggemakan kebohongan atau saksi dusta sampai-sampai peringatan ini diulangi: “Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa.” (Amsal 19:9).

Daud dalam mazmurnya juga menegaskan bahwa tidak sembarangan orang boleh naik ke gunung Tuhan atau berdiri di tempat-Nya yang kudus! Hanya “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.” (Mazmur 24:4-5).
(Bersambung)


Jumat. JANGAN BERSUMPAH PALSU ATAU DUSTA (2)
Baca: Matius 5:33-37

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Matius 5:37

Mereka yang suka bersumpah palsu atau berbohong hidupnya pasti akan mengalami masalah demi masalah karena berkat Tuhan pasti terhalang. Orang yang suka bersumpah palsu atau berbohong adalah pertanda bahwa mereka telah meremehkan Tuhan dan menganggap bahwa Tuhan tidak mendengar apa yang diucapkannya. Mereka lupa bahwa ada hukuman atas orang-orang yang tidak takut akan Tuhan dan melecehkan Tuhan. “Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.” (Imamat 19:12).

Pembacaan firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh bersumpah, apalagi bersumpah palsu: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:34-37). Jika kita telah terlanjur melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan ini, telah melakukan suatu kesalahan atau kekhilafan, adalah lebih baik kita mengakui kesalahan itu dan cepat berbalik kepada Tuhan. Segeralah berlutut di bawah kaki Tuhan, mengakui semua pelanggaran yang telah kita lakukan secara terperinci, dan memohon pengampunan serta belas kasihan Tuhan!

Melalui nabi Zakharia Tuhan berfirman, “Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang terhadap yang lain dan janganlah mencintai sumpah palsu. Sebab semuanya itu Kubenci, demikianlah firman TUHAN.” (Zakharia 8:17). Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu (baca 1 Petrus 3:10).

“Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu… Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu.” Mazmur 5:6-7


Sabtu. HIDUP ADALAH SEBUAH KESEMPATAN BERHARGA (1)
Baca: Lukas 13:6-9

“Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!” Lukas 13:7

Dalam perumpamaan tentang pohon ara yang kita baca, dikatakan sudah tiga tahun lamanya si pemilik kebun mencari buah pada pohon ara itu, tetapi tidak mendapatkannya. Lalu si pengurus kebun meminta kepada pemilik kebun untuk memberi kesempatan setahun lagi: “…aku mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (ayat 8-9). Ini berbicara tentang sebuah kesempatan!

Dalam hidup kita menjumpai ada banyak kesempatan. Dengan kata lain hidup ini adalah sebuah kesempatan. Pertanyaannya: bagaimana agar kita dapat melihat kesempatan itu dan menggunakannya dengan baik? Orang-orang yang berhasil dalam bidang apa pun yang ditekuninya adalah mereka yang mampu menangkap setiap kesempatan yang menghampiri hidupnya. Bukan berarti mereka tidak pernah gagal, tapi mereka mampu menjadikan kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar, berbenah dan memperbaiki diri. Sebaliknya ada banyak orang yang hidup dalam kegagalan demi kegagalan oleh karena telah menyia-nyiakan dan membuang kesempatan yang datang dalam hidupnya.

Bicara tentang kesempatan selalu berkaitan dengan waktu. Dalam membicarakan waktu Tuhan ada tiga istilah dalam Alkitab:
1. Waktu kronos. Yang dimaksud kronos adalah waktu yang biasa, yang selalu ada. Kronos menunjukkan jangka waktu tertentu, entah itu waktu yang singkat (sekejap saja) atau waktu yang lama. Kata Yunani kronos dipakai berhubungan dengan jam, hari, bulan dan tahun. Waktu kronos adalah siklus waktu yang biasa.
2. Waktu aion. Kata aion dipakai untuk menunjukkan entah waktu yang lama sekali, atau waktu yang tanpa batas. Oleh sebab itu aion dipakai untuk waktu yang dimulai dengan penciptaan dan berakhir dengan kedatangan Kristus yang kedua kali; atau juga tentang waktu kekekalan, yaitu waktu tanpa batas.
3. Waktu kairos. Kata kairos berbicara tentang periode tertentu. Kalau waktu itu sudah lewat tidak akan kembali lagi. Ini berbicara tentang kesempatan dan momentum yang ada di waktu-waktu tertentu. Kalau tidak dipergunakan sebaik-baiknya maka waktu (kairos) itu akan hilang.
(Bersambung)


Minggu. HIDUP ADALAH SEBUAH KESEMPATAN BERHARGA (2)
Baca: Pengkhotbah 9:1-12

“Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.” Pengkhotbah 9:12

Menyadari betapa berharganya waktu atau kesempatan dalam hidup ini rasul Paulus pun menasihati agar kita benar-benar memperhatikan dengan seksama hal ini: “…bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (Efesus 5:15-16). Kalau kita tidak cermat memperhatikan, maka kita akan kehilangan kesempatan. Karena itu kita harus memperhatikan waktu pintu terbuka dan waktu pintu tertutup. Ada tertulis: “…apabila Ia (Tuhan Yesus) membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” (Wahyu 3:7). Artinya ada waktunya Tuhan membuka pintu masuk bagi kita dalam sebuah kesempatan; bilamana kita tidak masuk, pintu akan tertutup. Pintu itu bisa sebuah kesempatan-kesempatan baik yang kita miliki, yang mungkin cuma sekali saja. Jadi, perhatikan kairos yang Tuhan berikan!

Pengkhotbah menyatakan bahwa nasib semua orang sama, yang membedakan antara yang satu dengan yang lain adalah apakah kita bisa menggunakan kesempatan dalam hidup ini dengan baik, ataukah justru menyia-nyiakannya. Maka dari itu firman Tuhan menasihati: “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tidak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” (Pengkhotbah 9:10). Selagi ada waktu dan kesempatan, selagi kita masih diberi nafas hidup oleh Tuhan, mari kita kerjakan segala sesuatu yang Tuhan sudah percayakan dalam bidang apa pun (pelayanan, pekerjaan, studi dan sebagainya) dengan begitu sungguh-sungguh, sepenuh hati dan setia!

Betapa banyak dari kita yang memiliki kebiasaan klasik suka menunda-nunda waktu dalam mengerjakan sesuatu. Kita berkata: “Ah nanti saja kan bisa… besok atau lusa, pasti akan kukerjakan…!” Padahal manusia tidak mengetahui waktunya (ayat nas), tidak tahu apa yang terjadi hari esok.

Karena itu jadilah peka dan berlakulah bijaksana, atau kita akan menyesalinya!

PADA TUHANLAH KUASA DAN KEMENANGAN

PADA TUHANLAH KUASA DAN KEMENANGAN

Senin. PADA TUHANLAH KUASA DAN KEMENANGAN
Baca: Ayub 12:1-25

“Pada Dialah kuasa dan kemenangan, Dialah yang menguasai baik orang yang tersesat maupun orang yang menyesatkan.” Ayub 12:16

Dalam kepahitan dan kegetiran hati karena beratnya penderitaan yang dialami, pada akhirnya Ayub tersadar dan mengerti bahwa di dalam Tuhan ada kuasa dan kemenangan. Ayub akhirnya juga ingat akan kuasa Tuhan yang sanggup mengubah keadaan hidupnya. Jika Tuhan turut campur tangan dalam kehidupan seseorang, segala sesuatu yang tak beres pasti dapat diubah-Nya, asal kita memiliki penyerahan diri penuh kepada kekuatan kuasa-Nya. Ada tertulis: “Bila Ia membongkar, tidak ada yang dapat membangun kembali; bila Ia menangkap seseorang, tidak ada yang dapat melepaskannya.” (Ayub 12:14). Kalau Tuhan ingin memperbaiki hidup seseorang yang tak benar, tak seorang pun dapat mencegahnya.

Kita tidak bisa lari dari hadapan Tuhan untuk menghindarkan diri dari proses-Nya ini. Pemazmur berkata, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.” (Mazmur 139:7-10). Ada banyak kesaksian, sebelum seseorang bertobat bisnisnya sangat lancar. Tetapi setelah ia bertobat dan mengikut Tuhan, bisnisnya justru menjadi bangkrut. Dalam keadaan seperti ini banyak di antara mereka yang memilih lari meninggalkan Tuhan. Mengapa bisa terjadi?

Sesungguhnya Tuhan ingin ‘membersihkan’ hidup orang, siapa tahu dahulu bisnis dan kekayaan yang dimilikinya didapatnya dari cara yang tak wajar atau bertentangan dengan firman Tuhan; dan kini Tuhan mau kita memulai segala sesuatu dari nol bersama-Nya dan bertumbuh kembali dalam kelimpahan berkat yang benar, jujur dan berkenan di mata Tuhan. Pada saat dibentuk Tuhan, apabila kita mau merendahkan diri dan berserah, Tuhan yang adalah sumber hikmat dan kekuatan, pasti akan menolong kita sehingga kita dapat bertahan dan mampu melewati masa kritis itu dengan kemenangan.

“Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.” Ayub 12:13


Selasa. HIDUPLAH MENGANDALKAN TUHAN
Baca: Yeremia 17:5-10

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” Yeremia 17:7

Hari ini kita memasuki hari pertama di bulan September. Jika memperhatikan keadaan dunia saat ini, semakin baikkah? Sebaliknya, bukan? Semakin hari semakin banyak goncangan terjadi. Secara naluriah goncangan-goncangan yang ada membuat kita semakin was-was, gelisah dan takut. Kemudian karena terpengaruh oleh keadaan atau situasi yang ada, tidak sedikit orang percaya yang awalnya memiliki roh yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan atau mengerjakan perkara-perkara rohani akhirnya menjadi suam-suam kuku. Mereka mulai kehilangan kasih mula-mula kepada Tuhan, dan klimaksnya mereka mengakhirinya dengan hidup di dalam daging (baca Galatia 3:3).

Hal ini tidak akan terjadi apabila kita hidup mengandalkan Tuhan dan bersandar kepada-Nya. Keadaan orang-orang yang hidup mengandalkan Tuhan pasti berbeda dari orang tidak mengandalkan Tuhan. Orang yang hidup mengandalkan Tuhan “…akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:8). Orang yang hidupnya mengandalkan Tuhan tidak akan terpengaruh oleh situasi atau keadaan, tidak perlu takut pada musim-musim kering, tidak perlu takut menghadapi goncangan. Seperti pohon yang akar-akarnya merambat ke tepi batang air, maka daunnya tidak akan pernah layu, selalu hijau, dan senantiasa menghasilkan buah pada musimnya. Berbuahnya pun tidak sekedar berbuah, tetapi lebat dan manis rasanya.

Sesungguhnya goncangan sudah terjadi sejak dahulu. Ketika Tuhan Yesus dilahirkan, goncangan dan aniaya hebat terjadi, sampai-sampai Ia harus dibawa mengungsi ke Mesir. Meski demikian terang yang dibawa Kristus tidak pernah redup, bahkan terang-Nya mampu mengalahkan kegelapan dunia, sebagaimana tujuan Kristus datang ke bumi adalah untuk menyatakan keberadaan dan kebenaran Bapa, sehingga “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;” (Yohanes 14:9).

Hidup kita akan tetap menunjukkan kualitas berbeda di tengah goncangan asal kita senantiasa mengandalkan Tuhan!


Rabu. CIRI ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN (1)
Baca: Yeremia 17:5-10

“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” Yeremia 17:5

Mengapa kita harus mengandalkan Tuhan Yesus dalam hidup ini? Karena Dia adalah Tuhan yang penuh kuasa dan tidak ada perkara yang mustahil bagi-Nya. Tuhan Yesus berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius 28:18). Karena itu kita tidak perlu takut menghadapi goncangan-goncangan yang ada di dunia ini, sebab kita punya Tuhan yang tak pernah melepaskan tangan-Nya untuk menuntun kita. Ada tertulis: “TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.” (Yesaya 58:11), dan penyertaan-Nya yang sempurna tidak akan berakhir. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20b).

Apa ciri-ciri orang yang hidup mengandalkan Tuhan? Tidak hidup mengandalkan diri sendiri atau kekuatan sendiri. Mengandalkan diri sendiri sama artinya mengandalkan apa yang dimiliki: asal-usul, pendidikan, status, kekayaan, kedudukan, kepintaran dan sebagainya. Pemazmur mengingatkan siapa diri kita di hadapan Tuhan, bahwa kita ini adalah debu (baca Mazmur 103:14). Seharusnya kita sadar bahwa pada akhirnya segala perkara yang melekat pada kita tidak akan berguna, tidak dapat menolong, apalagi menyelamatkan dan meluputkan kita dari goncangan-goncangan dunia. Digambarkan tentang keadaan orang yang hidup mengandalkan diri sendiri dan menjauh daripada Tuhan: “Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.” (Yeremia 17:6).

Betapa banyak orang percaya yang ketika sentosa seperti tidak membutuhkan Tuhan, sehingga teguran dan peringatan Tuhan dianggapnya remeh karena merasa diri mampu. “Aku telah berbicara kepadamu selagi engkau sentosa, tetapi engkau berkata: ‘Aku tidak mau mendengarkan!’ Itulah tingkah langkahmu dari sejak masa mudamu, sebab engkau tidak mau mendengarkan suara-Ku!” (Yeremia 22:21). Kata sentosa (shalvah) diartikan: aman, sukses, makmur dan baik-baik saja.


Kamis. CIRI ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN (2)
Baca: Mazmur 91:1-16

“Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.” Mazmur 91:14

Akar suatu pohon atau tanaman itu pasti mendekat dan melekat pada batang air. Air berbicara tentang firman Tuhan, dan firman Tuhan itu adalah Kristus sendiri. Ini berbicara tentang pentingnya sebuah persekutuan. Kata persekutuan artinya dipersatukan menjadi satu. Jadi, apabila ada persekutuan akan terjadi satu ikatan (batin, roh) antara satu dengan yang lainnya dengan begitu erat, bersatu dan tidak dapat dipisahkan.

Ada lagi ciri orang yang hidup mengandalkan Tuhan: hatinya melekat kepada Tuhan. Melekat kepada Tuhan artinya memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan. Ini adalah tanda ketergantungan kita kepada Tuhan, sama seperti ranting-ranting yang tidak dapat hidup dan berbuah tanpa melekat kepada pokok anggur. Tuhan Yesus berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5). Pemazmur menegaskan bahwa ada berkat yang luar biasa bagi orang yang hidup melekat kepada Tuhan, yaitu hidupnya senantiasa dalam pengawasan Tuhan dan pertolongan-Nya pasti dinyatakan. “Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.” (Mazmur 91:15-16). Tuhan Yesus juga memberikan sebuah jaminan yang pasti bahwa “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7).

Orang yang hatinya melekat kepada Tuhan adalah orang yang suka sekali merenungkan firman Tuhan setiap hari, memperkatakannya dengan iman serta melakukannya, sebab “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” (Roma 10:8). Firman itulah yang akan menuntun, sebab “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105).

Karena hatinya senantiasa melekat kepada Tuhan dan firman-Nya, apa saja yang diperbuatnya menjadi berhasil dan beruntung!


Jumat. JANGAN ANDALKAN APA PUN SELAIN TUHAN
Baca: Amos 6:1-14

“Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang!” Amos 6:1

Melalui nabi Amos Tuhan memperingatkan umat-Nya agar tidak merasa aman di Sion, merasa tenteram di Samaria, serta tidak mengandalkan manusia.

Sion adalah pusat ibadah bangsa Yehuda, di mana mereka melakukan kegiatan keagamaan: ibadah, mempersembahkan korban dan perayaan. Seringkali kita berpikir bahwa ketika kita sudah rajin beribadah, aktif melayani dan memberi persembahan kita sudah menyenangkan hati Tuhan. Ibadah dan pelayanan yang sesungguhnya itu berbicara tentang ketaatan terhadap firman Tuhan. Ibadah kita hanya akan disebut rutinitas agamawi apabila tidak disertai ketaatan. Tertulis: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (1 Samuel 15:22).

Samaria adalah ibukota kerajaan Israel bagian utara, gambaran tentang pusat kekayaan dan kekuasaan. Kata tenteram (batach) berarti percaya atau mengandalkan pada kekuasaan. Banyak orang mengandalkan kekayaan yang dimiliki dan juga membangga-banggakan jabatan, kedudukan atau kekuasaan. Padahal Alkitab menyatakan bahwa kekayaan adalah sesuatu yang tidak pasti. “Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia (kekayaan), karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.” (Amsal 23:5).

Orang terkemuka berbicara tentang orang-orang yang biasa kita andalkan, koneksi, relasi, atau yang kepadanya kita berharap mendapatkan pertolongan. Berharap kepada manusia pasti akan berujung pada kekecewaan, sebab manusia itu mudah sekali berubah. Karena itu “Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2:22). Usia, kekuatan dan kemampuan manusia itu sangatlah terbatas, bersifat fana dan pada akhirnya akan mati. Artinya bahwa di dalam diri kita ini tidak ada yang dapat diandalkan!

Karena itu jangan sekali-kali kita mengandalkan apa pun yang ada di dunia ini!


Sabtu. YABES: Menang Atas Penderitaan
Baca: 1 Tawarikh 4:9-10

“Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: ‘Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan.'” 1 Tawarikh 4:9

Alkitab menyatakan bahwa Yabes disebut sebagai keturunan Yehuda dari cabang lain. Itu artinya ia berasal dari keturunan yang sama sekali tidak diperhitungkan. Begitu juga dengan namanya, bukan merupakan nama yang memiliki arti baik. Nama Yabes berarti sakit, membawa kemalangan dan kesusahan. Namun pada akhirnya hidup Yabes dan namanya pun terdaftar sebagai orang-orang yang dimuliakan.

Inilah rahasia doa Yabes sehingga beroleh jawaban dari Tuhan:
1. Doanya tidak bertele-tele. Dalam hal berdoa Tuhan Yesus mengajarkan, “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” (Matius 6:7-8). Tuhan kita adalah Tuhan yang Mahatahu, Ia tahu apa yang ada di dalam hati, pikiran, dan rencana kita. “TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” (1 Tawarikh 28:9). Karena itu Tuhan menghendaki kita untuk berdoa dengan tidak bertele-tele, melainkan doa yang singkat, jelas, dan tepat pada sasaran. Itulah yang dilakukan oleh Yabes saat berdoa!

2. Tidak mudah putus asa. Sekalipun namanya memiliki arti negatif, buruk dan penuh kemalangan, Yabes tidak larut dalam penyesalan atau mengasihani diri sendiri seperti yang biasa dilakukan oleh banyak orang dengan berkata: “Mengapa hidupku seperti ini… mengapa aku harus menanggung penderitaan ini?” Ia juga tidak menyalahkan keadaan, menyalahkan orangtua yang memberinya nama, apalagi menyalahkan Tuhan. Yabes berjuang untuk mengalahkan penderitaan yang tertulis dalam namanya dengan hidup mengandalkan Tuhan sepenuhnya, karena ia sangat percaya bahwa tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan! “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Lukas 18:7).

“Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?” Amsal 18:14


Minggu. YABES: Menang Atas Penderitaan (2)
Baca: 1 Tawarikh 4:9-10

“Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.” 1 Tawarikh 4:10b

Yabes berdoa, “Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!” (1 Tawarikh 4:10). Ini merupakan cermin iman! Ia berkeyakinan Tuhan sanggup melakukan segala perkara. Permohonannya untuk memberkati, memperluas daerah, menyertai dan melindungi adalah wujud tanggung jawabnya terhadap tugas-tugas yang harus diembannya, yaitu tugas dan tanggung jawab kepuakan.

Puak artinya golongan, kelompok atau kaum (golongan keluarga, suku bangsa). Yabes berdoa bukan untuk kepentingan diri sendiri, tapi untuk banyak orang, dan bertujuan untuk kemuliaan nama Tuhan. Ini berbicara tentang motivasi atau sikap hati!

Betapa banyak orang Kristen yang kecewa karena doa-doanya tidak dijawab Tuhan. Seharusnya kita mengoreksi diri mengapa doa kita tidak dijawab? Karena kita memiliki motivasi yang salah saat berdoa. Jangan sampai terselip sedikitpun untuk mencari kemuliaan diri sendiri, atau ada motivasi terselubung. “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Yakobus 4:3). Ingat! Tuhan menyelidiki hati dan menguji batin kita, Ia tahu motivasi hati kita saat berdoa.

Rahasia ke-3 doa Yabes: Untuk kemuliaan nama Tuhan. Kehendak Tuhan adalah memberkati kita dengan hidup berlimpah dan lebih dari pemenang, dengan tujuan supaya kita menjadi berkat sehingga Tuhan dipermuliakan melalui hidup kita. Yabes mempertanggungjawabkan berkat-berkatnya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan terlebih untuk puaknya. Perluasan kekuasaan berkaitan dengan pemasyhuran nama Tuhan. Yabes sadar bahwa tanpa Tuhan semuanya sia-sia, karena segala sesuatu yang diterimanya itu berasal dari Tuhan dan karena campur tangan-Nya semata. Pengakuan yang sedemikian ini membuat Tuhan berkenan kepadanya. Kesadaran itu sejalan dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5). Segala sesuatu yang kita kerjakan haruslah untuk memuliakan nama Tuhan!

Karena melibatkan Tuhan dan mengandalkan-Nya, hidup dipulihkan dan menjadi berkat!

HIKMAT DALAM RELASI

HIKMAT DALAM RELASI

PENDAHULUAN

Setiap orang memiliki sifat, karakter, kebiasaan, kesukaan, tingkat kedewasaan, latar belakang, dan karunia yang berbeda-beda. Perbedaan ini dapat menjadi tantangan dalam membangun hubungan karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, perselisihan, iri hati, kesombongan, mementingkan diri sendiri, luka hati, dan perpecahan.

Itu sebabnya diperlukan hikmat agar perbedaan tersebut diarahkan menjadi kesempatan untuk belajar saling mengasihi, menghormati, memahami, melengkapi, menajamkan, dan bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus. Hikmat dari Allah menghasilkan hubungan yang sehat, damai, dan penuh kasih.

ISI

Baca Yakobus 3:13–18.
Dalam membangun hubungan, yang kita perlukan adalah hikmat Allah, bukan hikmat dunia. Hikmat Allah berorientasi kepada kebenaran dan kekekalan, hikmat dunia berorientasi kepada ‘diri sendiri’, kedagingan dan perkara-perkara duniawi.

PERBANDINGAN

Hikmat dunia:
– Mementingkan diri sendiri.
– Sombong.
– Iri hati.
– Menimbulkan perpecahan.

Hikmat dari Allah:
– Murni.
– Membawa damai.
– Lemah lembut.
– Penuh belas kasihan.
– Tulus dan tidak munafik.

Orang yang memiliki hikmat dari Allah menyatakan perilakunya dengan:

1. KERENDAHAN HATI

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kolose 3:12).

Kerendahan hati dalam hubungan adalah sikap yang menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.
Contoh sikap kerendahan hati:
– Tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia, menganggap orang lain lebih utama dan melayani kepentingan mereka (Filipi 2:3-4).
– Bisa mengakui kekurangan, kesalahan, dan minta maaf,
– Bisa menerima teguran, koreksi dan diajar,
– Bisa menghargai, mengakui kelebihan, dan keberhasilan orang lain,
– Tidak perlu membuktikan diri dan menganggap diri benar,
– Ada penundukkan diri, bisa bekerja sama dengan orang lain,
– Menyikapi perbedaan dan menyelesaikan konflik dengan prinsip kebenaran dan kasih.

Kerendahan hati menghindarkan kita dari sikap egois, sombong (merasa diri hebat dan menunjukkannya), dan angkuh (merasa diri lebih tinggi dan memandang rendah orang lain). Kerendahan hati melindungi kita dari tipu daya si jahat yang membawa kepada kejatuhan. Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Orang yang rendah hati akan ditinggikan atau dipromosikan oleh Tuhan pada waktunya, sementara orang yang tinggi hati akan direndahkan. Sikap saling merendahkan hati menciptakan keharmonisan, damai sejahtera, dan kesatuan.

2. KELEMAHLEMBUTAN

Kelemahlembutan (meekness) adalah kekuatan yang berada di bawah penguasaan diri. Kelemahlembutan bukan kelemahan, sikap pengecut atau pasif, melainkan pilihan yang disengaja untuk menahan kekuatan, hak, dan reaksi diri yang didasari oleh kerendahan hati dan kelembutan. Kelemahlembutan membuat seseorang tidak mudah terpancing oleh tindakan, ucapan, atau situasi yang dapat menimbulkan amarah atau emosi negatif lainnya. Sebaliknya, ia mampu menguasai diri dan menyerahkan kendali kepada pimpinan Roh Kudus.

Kelemahlembutan:
– mampu meredakan kegeraman dalam sebuah konflik atau perselisihan (Amsal 15:1).
– mencairkan ketegangan dan membuka ruang untuk berdialog.
– mampu bertutur kata dengan santun dan tenang, bahkan berempati terhadap orang yang memiliki pandangan berbeda.
– menghormati perbedaan tanpa harus memaksakan kesamaan pandangan.
– fokusnya menyelesaikan masalah dan mencari solusi, bukan berdebat atau memaksakan kehendak.

3. MENGAMPUNI

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (Kolose 3:13)

Firman Tuhan mengajarkan bahwa respons terbaik dan paling bijak ketika kita disakiti adalah mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Mengampuni orang lain merupakan kewajiban setiap orang percaya. Sebagaimana Tuhan telah mengampuni kita, kita pun wajib mengampuni orang lain. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Matius 6:14–15).

Untuk bisa mengampuni orang lain, kita perlu membereskan hati dengan Tuhan terlebih dahulu. Saat hati kita telah dipulihkan, Roh Kudus memberikan kemampuan untuk mengampuni orang lain. Melepaskan pengampunan mendatangkan berkat dan kebaikan bagi diri kita. Hati dan jiwa kita dilepaskan dari ikatan dan beban emosi negatif sehingga kita mengalami ketenangan, damai sejahtera, sukacita, pemulihan, dan pertumbuhan karakter.

Belajarlah untuk melihat segala sesuatu dari perspektif kedaulatan Tuhan: bahwa perlakuan buruk yang kita alami dapat dipakai Tuhan untuk mendatangkan kebaikan, membentuk karakter, serta membawa kita masuk ke dalam panggilan-Nya. Seperti Yusuf memaknai perlakuan buruk saudara-saudaranya di masa lalu dengan cara pandang Tuhan: Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar (Kejadian 50:20).

4. MENJADI PEMBAWA DAMAI

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh… (Kolose 3:14-15).

Menjadi pembawa damai bukan berarti kita berkompromi dengan dosa dan dunia atau memihak kepada manusia. Menjadi pembawa damai juga tidak berarti menyenangkan semua orang. Menjadi pembawa damai berarti kita berpihak pada kebenaran yang berdasarkan firman Tuhan. Damai yang sejati hanya timbul dari kebenaran, bukan dari perasaan atau keadaan (Yesaya 32:17).
Sebagai pembawa damai, hati kita harus dipenuhi oleh kasih dan damai sejahtera yang diperoleh melalui persekutuan dengan Kristus, Sang Raja Damai.

Dalam mengusahakan perdamaian:
– minta hikmat dari Roh Kudus untuk menyelesaikan konflik dengan bijak;
– kenakan kasih Allah sebagai pengikat yang mempersatukan;
– gunakan perkataan yang santun, membangun, dan mengarahkan kepada kebenaran,
– jangan memperkeruh keadaan dengan menghakimi, menghasut, memecah-belah, atau menyebarkan gosip;
– tanggalkan keakuan, rendahkan hati, dan utamakan kepentingan bersama serta kesatuan.

Belajarlah menjadi pihak yang proaktif dalam mengusahakan perdamaian di tengah sebuah konflik. Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang (Roma 12:18).

APLIKASI
Mintalah Tuhan menunjukkan satu hubungan yang perlu dipulihkan, lalu ambillah langkah pertama untuk berdamai.

PERTANYAAN DAN DISKUSI SINGKAT

Hubungan apa yang perlu dipulihkan?
Bagaimana hikmat Allah dapat mengubah cara Anda merespons orang lain?

PENUTUP

Hubungan pribadi kita dengan Tuhan akan memancarkan kasih, kelemahlembutan, kemurahan, kerendahan hati, dan kedamaian yang dapat kita bagikan kepada orang lain. Jadilah pelaku firman agar hikmat yang kita peroleh menolong kita menata relasi dengan orang lain menjadi sehat, harmonis, damai, dan penuh kasih.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Filipi 2:5).

Hikmat membuat kita mampu melihat dan menyikapi perbedaan dengan cara pandang Tuhan, sehingga kita dapat menjalankan visi-Nya secara sinergis dan dalam kesatuan.

JANGANLAH MENJADI SETERU SALIB

JANGANLAH MENJADI SETERU SALIB

Senin. JANGANLAH MENJADI SETERU SALIB

Baca: Filipi 3:17-21

“Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.” Filipi 3:18

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata seteru memiliki arti: musuh perseorangan (orang dengan seorang); musuh pribadi. Mengenai salib, ada yang menyenangi salib karena menganggap salib tak dapat dipisahkan dari kasih, karena di atas salib itu ada orang yang mau mati bukan karena manusia baik, melainkan demi keselamatan manusia berdosa. Bagi sebagian orang salib segala-galanya, karena salib ia diselamatkan, dosanya diampuni, dan ia dibenarkan. Demikianlah sikap yang benar tentang salib, bahwa karena salib kita diangkat sebagai anak Allah. Pada salib ada pengharapan dan kepastian bahwa yang sakit disembuhkan, yang lemah dikuatkan dan yang susah dihiburkan.

Siapa yang dimaksudkan rasul Paulus sebagai seteru salib itu? Seteru salib bukanlah sekedar orang yang tidak percaya, tapi yang Paulus maksudkan adalah orang yang tidak peduli terhadap kuasa salib, yaitu mereka yang sudah mengenal dan tahu tentang kebenaran, dan mengalami kuasa salib, tapi tidak hidup dalam kebenaran, alias tetap hidup dalam dosa. Itu artinya sama saja menolak dan meremehkan salib Kristus. Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan hendaklah kita menjadi orang-orang yang menghargai salib Kristus, karena kita ada sebagaimana kita saat ini hanya karena darah Kristus yang tercurah di atas kayu salib.

Seteru salib adalah orang yang tidak siap memikul salib. Artinya orang yang hanya mau enaknya saja, mau menerima berkat, mau menerima mujizat, tapi ketika dihadapkan pada ujian dan tantangan, mereka secepat kilat bersungut-sungut kepada Tuhan, menjadi kecewa dan bahkan meninggalkan Tuhan. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24). Seteru salib adalah orang yang tidak menjadikan salib sebagai tujuan hidupnya, tujuan hidupnya semata-mata kepentingan diri sendiri dan berorientasi kepada perkara-perkara duniawi.

“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Galatia 6:14


Selasa. JANGAN SEMBARANGAN MENEGUR
Baca: 1 Tesalonika 5:12-22

“Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.” 1 Tesalonika 5:14

Adalah fakta jika banyak orang suka sekali menegur orang lain, tapi tidak senang ditegur. Kita mudah sekali melihat kesalahan dan kelemahan orang lain, tapi tak mudah melihat kesalahan dan kelemahan diri sendiri. Dan yang tak kalah pentingnya adalah cara menegur pun keliru, tidak sesuai firman Tuhan. Berhati-hatilah! Sebab jika cara kita menegur salah dapat berakibat fatal: orang menjadi tersinggung, marah, kecewa, ngambek, sakit hati atau terluka. Ada juga yang berniat baik menegur, tapi menyuruh orang lain menyampaikannya karena merasa sungkan menegur langsung. Dalam ayat 14 ini setidaknya ada empat hal yang perlu ditegaskan: tegurlah mereka yang hidup tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, dan sabarlah terhadap semua orang.

Siapa yang pantas menegur? Orang yang hidup sungguh-sungguh di dalam Tuhan dan memiliki kasih. Jangan sekali-kali kita menegur orang lain karena iri hati, jengkel atau marah, melainkan karena kita mengasihi mereka. Kita menegur karena ada kasih dalam hati kita. Dalam menegur, kasih saja tidaklah cukup, kita sendiri harus hidup benar. Kalau kita sendiri tidak hidup dalam kebenaran kita tidak pantas menegur orang lain. Itu bisa mendatangkan cela bagi diri sendiri, atau senjata makan tuan.

Bagaimana cara menegur yang tepat? Ketika menegur gunakan kata-kata yang bermuatan kasih, dengan kata-kata yang tepat, dan pada saat yang tepat pula. Dunia saat ini penuh dengan orang-orang yang dengan sembarangan menegur sesamanya dengan tujuan untuk mempermalukan dan merendahkan.

Siapa yang perlu ditegur? Orang yang melakukan kesalahan atau pelanggaran. Janganlah menegur orang hanya karena mereka berbeda prinsip dengan kita, atau tidak menuruti kemauan dan kehendak kita, tapi tegurlah orang yang berbuat salah atau menyimpang dari firman Tuhan, bukan orang yang kita anggap salah.

“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain…” Kolose 3:16


Rabu. ORANG PERCAYA: Berasal dari Kebenaran
Baca: 1 Yohanes 3:19-24

“Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran.” 1 Yohanes 3:19

Meski masih menjalani hidup di dunia ini Alkitab menegaskan bahwa keberadaan orang percaya bukanlah dari dunia ini, sehingga tidak sepatutnya kita memiliki pola hidup seperti dunia. “…kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” (Yohanes 15:19); dan karena kita berasal dari kebenaran (ayat nas), maka Tuhan memberikan Roh Kudus untuk menyertai dan menolong kita. Selain itu Tuhan memberikan sebuah amanat bagi orang percaya yaitu supaya menjadi garam dan terang bagi dunia ini (Matius 5:13-16).

Inilah ciri hidup orang yang berasal dari kebenaran yaitu hidup dalam ketenangan. Kalau kita berasal dari kebenaran dan hidup dalam kebenaran kita pasti akan tenang dalam menjalani hidup. “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.” (Yesaya 32:17). Yang membuat orang tidak hidup tenang adalah ketika ia hidup dikuasai oleh dosa sehingga setiap saat selalu timbul rasa bersalah, karena Iblis terus mendakwanya. Selama kita hidup dalam kebenaran Tuhan pasti akan membela dan memberkati hidup kita. Orang yang berasal dari kebenaran pasti memiliki kerinduan yang besar untuk tinggal dekat Tuhan, sebab ia menyadari bahwa “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.” (Mazmur 62:2). “Karena itu…lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.” (Mazmur 84:11). Di mana pun kita berada dan seberat apa pun tantangan, kita akan mampu melewatinya selama kita dekat dengan-Nya.

Orang yang berasal dari kebenaran pasti taat melakukan perintah Tuhan dan berbuat apa yang berkenan kepada Tuhan, “dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” (1 Yohanes 3:22). Jaminan bagi orang yang taat melakukan perintah Tuhan dan berbuat apa yang berkenan adalah apa yang diminta dan didoakan pasti dijawab oleh Tuhan!

Sudahkah kita benar-benar memenuhi kriteria sebagai orang yang berasal dari kebenaran?


Kamis. DI BALIK LAYAR
Baca: Kisah Para Rasul 9:1-19

“Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: ‘Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.'” Kisah 9:17

Banyak orang terkagum-kagum dengan kebesaran, kehebatan atau prestasi yang diraih seseorang dalam bidang yang ditekuninya. Misalnya adalah Susi Susanti. Siapa yang tidak mengenal sosok Susi Susanti? Salah satu legenda bulutangkis Indonesia. Lucia Fransisca Susi Susanti (nama lengkapnya), lahir 11 Februari 1971 di Tasikmalaya (Jawa Barat). Serentetan prestasi telah diukir Susi Susanti: medali emas Olimpiade, juara dunia 1993, juara piala dunia (6x), juara final Grand Prix (6x), dan masih banyak lagi. Tapi tahukah siapa orang-orang yang berperan besar dalam keberhasilan Susi Susanti? Tak semua orang tahu. Selain kedua orangtua, ada peran pelatih, baik yang melatih Susi mulai dari klub kecil atau yang melatihnya saat berada di pelatnas Cipayung. Meski hanya berada di balik layar mereka memiliki sumbangsih yang cukup berarti bagi karir Susi Susanti.

Begitu pula rasul Paulus, semua orang percaya pasti mengenal namanya! Seorang tokoh besar di dalam Perjanjian Baru yang dipakai Tuhan secara luar biasa dalam pemberitaan Injil. Namun di balik kesuksesan rasul Paulus dalam pelayanan ada orang yang tak boleh dilupakan dan dianggap remeh perannya. Orang itu adalah Ananias, orang Kristen pada abad pertama Masehi di kota Damsyik atau Damaskus. Disebutkan bahwa Ananias diperintahkan Tuhan untuk menyembuhkan kebutaan Paulus, yang waktu itu masih bernama Saulus. “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel” (Kisah Para Rasul 9:15), membaptisnya menjadi seorang pengikut Kristus (Kristen), serta membimbingnya untuk mengenal Tuhan Yesus lebih lagi. Bisa dikatakan Ananias menjadi tokoh di balik layar yang mengantarkan Paulus menjadi hamba Tuhan besar.

Mungkin saat ini Saudara hanya bekerja ‘di balik layar’ dan pelayanan, tidak semua orang mengenal siapa Saudara dan mungkin Saudara dipandang remeh oleh banyak orang. Namun jangan merasa kecil hati, percayalah bahwa Tuhan melihat, memperhatikan dan memperhitungkan setiap jerih lelah Saudara!

Meski manusia tak melihat, Tuhan tidak pernah terlelap dan tertidur!


Jumat. PENGUASAAN DIRI PERLU DILATIH
Baca: Titus 2:1-10

“Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal…” Titus 2:6

Sebagian orang Kristen merasa bangga dan menganggap diri kuat secara rohani jika telah melayani pekerjaan Tuhan atau terlibat secara aktif dalam kegiatan-kegiatan kerohanian gereja. Namun masih sering kita dengar dan lihat dengan mata kepala sendiri banyak di antara mereka yang jatuh dalam dosa, sekalipun melayani di altar, ada yang terlibat dalam pertikaian keluarga karena urusan warisan, saling berselisih dengan sesama hamba Tuhan dan saling menjatuhkan, ada pula yang jatuh dalam dosa meski dilakukan secara sembunyi-sembunyi! Hendaklah kita pahami bahwa percaya pada Tuhan Yesus tidak secara otomatis menjadikan kita kebal terhadap segala macam godaan dari si jahat, sebab “…si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Oleh karena itu kita harus senantiasa berjaga-jaga dalam berdoa supaya kita tidak jatuh!

Keberadaan kita sebagai jemaat awam, terlebih-lebih bagi kita yang sudah masuk dalam dunia pelayanan, mengharuskan kita memiliki kehidupan yang berbeda dengan orang-orang di luar Tuhan. Siapa pun yang mempercayakan hidup kepada Tuhan Yesus harus hidup sama seperti Kristus telah hidup (baca 1 Yohanes 2:6), sehingga keberadaannya mampu menjadi teladan… “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,” (Titus 2:7).

Demikian pula untuk dapat menjadi teladan, kita memerlukan latihan dalam hal penguasaan diri. “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Korintus 9:27). Melatih tubuh dan menguasai seluruhnya berarti berjuang untuk dapat menguasai diri dari belenggu keinginan-keinginan dagingnya yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, supaya ia tidak ditolak oleh Tuhan.

Bagaimana mungkin kita bisa menjadi teladan dan mampu memenangkan jiwa bagi Tuhan, bila kita sendiri masih belum memiliki penguasaan diri terhadap keinginan-keinginan daging?

Ada harga yang harus dibayar untuk menjadi berkat dan teladan yang baik!


Sabtu. TAK PERNAH MEMAKSA
Baca: Yohanes 13:1-20

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” Yohanes 13:13

Dunia saat ini penuh orang-orang yang suka memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Terkadang pemaksaan itu disertai tekanan dan ancaman. Berbeda dengan Tuhan Yesus, Ia tak pernah memaksa orang untuk menyebut Dia sebagai Tuhan. Tuhan Yesus tidak pernah berkata, “Kamu harus sujud di bawah kaki-Ku, kamu harus menyembah Aku, kamu harus…” Tuhan memberikan kehendak bebas kepada setiap manusia. Demikianlah bebasnya sampai ada orang yang “…meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia,” (Matius 26:67). Itulah yang diperbuat orang-orang yang membenci dan memusuhi-Nya, bahkan menghujat, mengumpat, menjadikan Dia bahan tertawaan atau lelucon. Puncaknya mereka membunuh dan menyalibkan Dia di atas Golgota.

Sebagai orang percaya kita menyerahkan hidup sepenuhnya di bawah kekuasaan Tuhan Yesus dan taat kepada-Nya karena kemahakudusan-Nya, karena ke-Ilahian-Nya, bukan karena kita dipaksa dan diintimidasi untuk melakukan hal itu. Tuhan Yesus tak pernah memaksa kita untuk taat kepada-Nya, tetapi karena kita tahu bahwa Dia adalah Tuhan, dan Raja di atas segala raja, maka patutlah kita menghormati, menyanjung dan meninggikan nama-Nya, karena Bapa sendiri sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:9-11).

Adalah kerugian besar jika kita tak mau percaya dan taat kepada Tuhan Yesus, karena “…baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” (Roma 14:8-9).

Inilah keunggulan Tuhan Yesus, lebih dari nabi-nabi yang pernah ada, sebab Dia bukanlah nabi, tapi Dia adalah Tuhan dan Raja di atas segala raja, tapi manusia enggan mengakui-Nya. “Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya… Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.” Yohanes 3:31


Minggu. MEMERHATIKAN YANG KELIHATAN PASTI KECEWA
Baca: 2 Korintus 4:16-18

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” 2 Korintus 4:16

Pada banyak kesempatan Tuhan Yesus sering memperingatkan umat-Nya untuk tidak mudah kecewa, karena pada dasarnya Tuhan tahu bahwa tidak seorang pun manusia kebal terhadap kekecewaan. Inilah yang gencar diperbuat Iblis, yaitu mencari cara untuk melemahkan dan membuat orang percaya mudah kecewa. Di masa-masa seperti ini Iblis ingin sekali membuat kita hanya mengarahkan pandangan atau memerhatikan hal-hal yang sifatnya tampak kasat mata. Karena dengan memerhatikan apa yang kelihatan, pada akhirnya semua itu akan menuntun kepada kekecewaan demi kekecewaan.

Memang kalau kita melihat yang kelihatan di depan mata, siapa pun pastinya pasti kecewa: masalah datang silih berganti, penderitaan dirasa makin hari makin berat, keadaan semakin hari semakin menyulitkan. Namun rasul Paulus mengingatkan, “…penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2 Korintus 4:17). Mengapa dikatakan penderitaan ringan? Bukankah berat? “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13). Kita tidak menghadapi pergumulan itu sendirian, sebab Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya (baca Roma 8:28).

Karena kesemuanya itulah rasul Paulus bertekad untuk “…tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (2 Korintus 4:18). Sesulit apa pun keadaannya, jangan kecewa, sebab semua itu sementara. Marilah belajar melihat apa yang tidak kelihatan, yaitu mengarahkan pandangan kepada Yesus dan janji firman-Nya.

“Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.” Ibrani 10:35

MERDEKA: Tidak Lagi Diperbudak

MERDEKA: Tidak Lagi Diperbudak

Senin: MERDEKA: Tidak Lagi Diperbudak
Baca: Galatia 5:1-15

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1)

Haleluyah! Kita sebagai orang percaya yang juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI patut bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan Yesus, karena pada hari ini bangsa kita memperingati Hari Kemerdekaan. Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-81! Di samping bersyukur, perlu sekali kita mengkaji ulang melalui firman Tuhan tentang arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Merdeka berarti secara fisik tidak ada bangsa lain yang menjajah lagi. Berbicara mengenai kemerdekaan juga tidak terlepas dari hal kelepasan, ketenangan, kedamaian, sukacita dan kesejahteraan. Selama 81 tahun bangsa Indonesia mengenyam kemerdekaan, sudahkah kita benar-benar mengalami kemerdekaan yang sejati? Ini yang patut untuk kita renungkan.

Peringatan Hari Kemerdekaan RI di tahun 2026 ini terasa sangat berbeda, karena kita merayakan hari ulang tahun kemerdekaan di tengah situasi bangsa yang sedang karut-marut. Ada banyak sekali ujian dan cobaan menimpa bangsa ini: mulai dari banyaknya bencana alam yang terjadi, semakin meningkatnya tingkat kriminalitas, pemerintah juga diguncang oleh berbagai penyimpangan, bahkan isu SARA yang mengarah kepada perpecahan dan ketidakharmonisan begitu marak terjadi. Sungguh sangat memprihatinkan! Firman Tuhan sudah memperingatkan: “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (Galatia 5:13). Kemerdekaan tidak akan berarti apa-apa jika kemerdekaan yang telah diraih dengan penuh perjuangan oleh para pahlawan bangsa tersebut tidak diisi dengan hal-hal yang baik dan positif.

Pula dalam kekristenan, karena kita telah dimerdekakan oleh Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, maka kita harus memiliki kesadaran tinggi untuk tidak mau diperbudak lagi oleh dosa. Karena itu kita harus mengerjakan keselamatan yang telah dianugerahkan Tuhan itu dengan hati yang takut dan gentar (baca Filipi 2:12).

Jangan sia-siakan kemerdekaan, tapi pergunakan kemerdekaan itu untuk hidup lebih berkenan kepada Tuhan!


Selasa: KEGAGALAN: Ketidaktaatan dan Kekerasan Hati

Baca: Ibrani 3:7-19

“Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun,”” (Ibrani 3:7-8)

Tuhan telah berjanji kepada umat Israel: “Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,” (Keluaran 3:8). Namun tidak semua umat Israel dapat menikmati Kanaan, sebagian dari mereka gagal mencapainya dan harus meninggal di padang gurun. Kegagalan itu bukan berarti Tuhan ingkar terhadap janji-Nya atau berlaku kejam terhadap mereka. Ingat, Tuhan tidak pernah merancang kecelakaan atau hal-hal yang jahat bagi umat-Nya, tapi rancangan-Nya adalah “…rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).
Kalau pada akhirnya ada sebagian bangsa Israel yang gagal mencapai Tanah Perjanjian, penyebabnya adalah keputusan dan pilihan mereka sendiri, sekalipun mereka adalah bangsa pilihan Tuhan, “Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun. Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat,” (1 Korintus 10:5-6). Secara individu ada banyak dari bangsa Israel yang mengeraskan hati dan tidak mau tunduk kepada tuntunan Tuhan, padahal selama menempuh perjalanan di padang gurun hari-hari mereka dipenuhi dengan mujizat dan perbuatan ajaib dari Tuhan. Bahkan Alkitab mencatat: “Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini.” (Ulangan 8:4).
Kegagalan bangsa Israel ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi orang percaya! Tuhan tidak menghendaki kita bernasib sama seperti mereka yang binasa, Ia mau kita bersungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan, setia sampai akhir! Tak ingin menuai kegagalan dan kebinasaan? Perhatikanlah hidupmu mulai dari sekarang!

Sebagian umat Israel harus menelan pil pahit yaitu binasa di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian karena mereka mengeraskan hati dan tidak taat!


Rabu: SAAT TUJUAN HIDUP MULAI BERGESER

Baca: Yohanes 5:30-47
“…sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.” (Yohanes 5:30b)

Setiap orang pasti memiliki tujuan hidup. Karena memiliki tujuan hidup kita terdorong untuk menjalani hari-hari dengan penuh kehati-hatian dengan mata yang tertuju kepada apa yang hendak dicapai. Iblis senang sekali mengaburkan dan merenggut tujuan hidup dari setiap orang percaya dan membawanya kepada suatu keadaan yang dipenuhi dengan kebimbangan dan keragu-raguan. Ketika orang hidup dalam kebimbangan dan keraguan saat itulah ia tidak lagi percaya penuh akan Tuhan dan janji firman-Nya. Itulah permulaan orang mulai kehilangan tujuan hidupnya!

Keberhasilan hidup dinilai oleh dunia dari apa yang dimiliki seseorang, seperti kekayaan, reputasi, kekuasaan, jabatan, popularitas dan sebagainya. Jika orang percaya merasa tidak memiliki semuanya itu mereka menganggap diri sebagai orang yang gagal mencapai tujuan hidup. Tetapi ukuran keberhasilan hidup seseorang di mata Tuhan adalah bagaimana ia memiliki hidup yang berkenan kepada-Nya. Tuhan Yesus memiliki satu tujuan hidup yaitu melakukan kehendak Bapa yang mengutus-Nya (ayat nas). Ini bukanlah merupakan kata-kata belaka, tapi Dia membuktikan dengan tindakan nyata pada waktu Dia menghadapi penyaliban-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Lukas 22:42). Sesungguhnya Tuhan Yesus tidak ingin minum cawan dosa segenap dunia, tetapi Dia menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa-Nya, dan bahkan Ia taat sampai mati di atas kayu salib.

Kita harus mengerti tujuan Bapa mengutus Tuhan Yesus ke dunia yaitu untuk menebus dan menyelamatkan kita dari penghukuman kekal, menyembuhkan segala penyakit kita dan untuk menghapus segala kutuk. Semua perkara itu dapat disimpulkan secara ringkas: “Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” (1 Yohanes 3:8b). Sebagai umat tebusan-Nya seharusnya kita mengerti akan kebenaran ini. Apa respons Saudara?

“Karena bagiku hidup adalah Kristus… jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” (Filipi 1:21-22)


Kamis: ORANG PERCAYA BUKAN ANAK GAMPANG

Baca: Ibrani 12:1-17

“Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” (Ibrani 12:9)

Jangan pernah kita menganggap enteng atau sepele jika kita dihadapkan pada masalah atau penderitaan, dan jangan anggap pula bahwa hal itu sebagai hal yang kebetulan saja. Semua itu bukanlah suatu peristiwa atau kejadian yang tanpa sebab musabab. Kita harus memiliki kepekaan rohani, bahwa hal-hal itu diatur oleh Bapa setiap hari bagi kita demi kebaikan kita juga. Ini adalah cara Bapa untuk mendidik kita agar kita tak tersesat jalan dan beroleh hidup yang kekal. Sebagai Bapa yang baik Dia tak ingin jiwa kita binasa oleh ketidaktaatan kita terhadap perintah-perintah-Nya.

Dengan masalah atau penderitaan yang kita alami Bapa mendidik kita agar kita dapat hidup dengan iman yang benar-benar tertuju kepada Tuhan Yesus. Karena itu beban-beban dan dosa harus ditinggalkan semua seperti tertulis: “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” (Ibrani 12:2-3).

Oleh karena itu “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (Ibrani 12:7-8). Tetaplah mengucap syukur jika kita ditegur Tuhan melalui masalah atau penderitaan, itu artinya Tuhan sangat mengasihi dan memperhatikan kita.

Banyak anak Tuhan yang ngambek dan tidak bisa menerima keadaan ketika menghadapi masalah dan penderitaan. Mereka berpikir Tuhan itu jahat dan tidak mengasihi dirinya. Namun, “… Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula.” (Ayub 5:18).

Teguran Tuhan atas kita adalah bukti bahwa kita ini anak yang dikasihi-Nya!


Jumat: SESUAI DENGAN WAKTU TUHAN

Baca: Kejadian 37:1-11

“Katanya: ‘Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku.'” (Kejadian 37:9b)

Waktu Tuhan berbeda dengan waktu manusia, cara Tuhan bukanlah cara manusia, jalan dan rancangan Tuhan berbeda pula dengan jalan dan rancangan manusia. Tuhan mempunyai rancangan terhadap setiap kehidupan orang percaya. Tetapi adakalanya rencana itu baru terwujud kebenarannya atau tergenapi setelah beberapa waktu kemudian sesuai dengan waktu-Nya. Itulah yang seringkali tidak kita mengerti! Karena ketidakmengertian ini akhirnya kita mengambil jalan pintas sendiri, atau terlalu cepat mengeluarkan pendapat atau komentar terhadap orang lain.
Peristiwa seperti di atas menimpa kehidupan Yusuf. Ia bermimpi tentang masa depannya yang cerah dan gemilang, tapi semua saudaranya dan termasuk orangtuanya tak mempercayainya. Yusuf terlalu dini menceritakan semua mimpinya sehingga hal itu menimbulkan kecemburuan dan kebencian dalam diri saudara-saudaranya. Sebelum mimpi itu terwujud Yusuf harus mengalami proses demi proses, penderitaan demi penderitaan: sempat dimasukkan ke dalam penjara. Semua orang mencemooh, menghina dan mencaci. Mungkin mereka berkata, “Ah, kasihan Yusuf, mimpinya tak terwujud. Pasti ada yang tak beres dengan hidupnya.”

Yusuf tak dapat membantah perkataan dan tudingan miring semua orang yang ditujukan terhadapnya, ia pun tak sanggup membela diri karena fakta saat itu benar adanya. Tapi Yusuf tak putus asa, penderitaan tak membuatnya kecewa kepada Tuhan, ia tetap berkeyakinan bahwa apa yang datangnya dari Tuhan, lambat atau cepat, pasti digenapi-Nya. Rencana Tuhan itu tidak pernah gagal seperti yang Ayub katakan, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” (Ayub 42:2).

Apa yang terlihat saat ini bukanlah merupakan titik akhir rencana Tuhan. Orang yang dewasa rohani pasti sanggup melihat dengan mata iman bahwa di balik semua penderitaan pasti ada berkat yang Tuhan sediakan. Orang yang berada dalam ‘ujian’ adalah orang yang sedang dipersiapkan Tuhan untuk menerima berkat-Nya yang besar.

Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya! (Pengkhotbah 3:11)


Sabtu: MEMEDULIKAN ORANG YANG HINA

Baca: Matius 25:31-46

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Matius 25:45)

Banyak orang Kristen sudah merasa diri sebagai orang yang ‘rohani’ atau memiliki tingkat kerohanian yang mumpuni oleh karena sudah rajin beribadah, terlibat aktif dalam pelayanan, bahkan sudah melayani di atas mimbar, baik itu sebagai pengkhotbah, pemimpin pujian atau singer. Menurut hemat manusia mereka bisa dikatakan sudah cukup teruji, dan tentunya berharap bahwa apa yang dilakukannya akan menyenangkan hati Tuhan dan Tuhan akan memberikan pujian terhadapnya.

Perhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan, “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.” (ayat 41b-43). Mendengar perkataan Tuhan Yesus ini semua orang pasti akan terperanjat dan menyangkal, bahwa selama ini mereka tak pernah melihat Tuhan Yesus dalam keadaan seperti yang disebutkan itu: “Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?” (ayat 44).

Banyak anak Tuhan sudah berbuat baik, namun tidak dinyatakan kepada orang yang paling hina. Memang berbuat baik kepada orang yang dipandang hina, kotor dan rendah tak mendapat pujian manusia. Sedikit orang mau melakukannya. Umumnya kita berbuat baik kepada orang yang juga berbuat baik kepada kita, alias mereka yang memiliki kontribusi bagi kita. Perbuatan baik cenderung didasarkan pada untung-rugi. Atau kita berlomba-lomba untuk berbuat baik kepada orang yang kaya, terpandang, atau orang besar, supaya kita beroleh perhatian. Tuhan memperingatkan kita dengan keras agar kita memiliki kepedulian kepada orang-orang miskin dan hina papa.

Kepedulian kita sangat berarti bagi orang-orang yang miskin papa. Inilah ujian kasih yang sesungguhnya! Semua yang kita lakukan untuk mereka, Tuhan perhitungkan.


Minggu: TETAPLAH KERJAKAN KESELAMATANMU!

Baca: Efesus 2:1-10
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,” (Efesus 2:8)

Keselamatan adalah anugerah dan diberikan secara cuma-cuma bagi orang yang percaya! Ada ayat-ayat lain di Alkitab yang menguatkan pernyataan ini: “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Roma 3:24); “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (2 Timotius 1:9). Timbul pertanyaan: “Kalau keselamatan itu anugerah dan diberikan secara cuma-cuma, mengapa harus dikerjakan?” Seperti yang rasul Paulus nasihatkan, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,” (Filipi 2:12).

Orang-orang dunia mengerjakan berbagai amal demi untuk memperoleh keselamatan. Tetapi bagi orang percaya, melakukan perbuatan baik adalah wujud syukur atas keselamatan yang telah dianugerahkan kepadanya melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Keselamatan itu anugerah, namun kita perlu meresponsnya dengan tindakan iman. Alkitab menyatakan bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia dan bukan hasil usaha sendiri (ayat nas), maka sudah sepatutnya anugerah keselamatan itu ditanggapi dengan tindakan iman.

Keselamatan itu memang anugerah, tapi untuk memperoleh mahkota perlu kerja keras dan perjuangan yang tidak gampang, “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1 Korintus 9:24). Kita yang sudah diselamatkan tetap perlu berjuang seumur hidup kita untuk memperoleh mahkota; dan karena kita telah diselamatkan, maka kita harus terus mengerjakan keselamatan itu sampai tercapai goal yaitu kita semakin diubahkan menjadi serupa seperti Kristus (baca 2 Korintus 3:18).

Mengerjakan keselamatan berarti kita sungguh-sungguh berjuang “…supaya tiada beraib dan tiada bercela…” (Filipi 2:15), ketika Tuhan datang menjemput kita!