Weekly Message

Home / Archive by category "Weekly Message"
SEORANG MURID BELAJAR MENGIKUTI YESUS

SEORANG MURID BELAJAR MENGIKUTI YESUS

“Setiap hari ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
(Lukas 9:23)

PENDAHULUAN

Kita diselamatkan bukan hanya untuk menjadi orang percaya, dibaptis, datang beribadah, menerima berkat, dan memperoleh hidup kekal. Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk menjadi murid-Nya. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…”
Matius 28:19–20. Menjadi murid bukan sekadar mengetahui lebih banyak tentang Alkitab, mengembangkan karunia, atau melakukan pelayanan.

Seorang murid belajar mengikuti Gurunya. Melalui proses pemuridan, kita memahami bahwa menjadi murid Yesus bukan hanya percaya kepada-Nya, tetapi belajar mengikuti Dia setiap hari—menempatkan kehendak Tuhan di atas kehendak pribadi dan memilih jalan-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, pertanyaannya bukan hanya: “Apakah saya percaya kepada Yesus?”
Tetapi: “Apakah saya sungguh-sungguh mengikuti Yesus?”

Bagaimana cara seorang murid mengikut Yesus?

1. MENYANGKAL DIRI

Menyangkal diri bukan berarti membenci diri sendiri atau menganggap diri tidak berharga. Menyangkal diri berarti menempatkan kehendak Allah di atas kehendak pribadi. Artinya, kita belajar berkata: “Bukan kehendakku yang terutama, tetapi kehendak Tuhan.”
Yesus sendiri memberikan teladan ketika berdoa di Taman Getsemani: “Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Lukas 22:42).

Menyangkal diri berarti bahwa ketika keinginan saya bertentangan dengan firman Tuhan, saya memilih firman Tuhan. Bagaimana kita mengetahui kehendak Tuhan?

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2).

Pikiran kita perlu terus diperbarui oleh firman Tuhan dan pekerjaan Roh Kudus. Semakin pikiran kita diperbarui, semakin kita belajar mengenali apa yang berkenan kepada Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, menyangkal diri dapat berarti:

Memilih yang benar meskipun tidak populer.

Mengampuni ketika kita ingin membalas.

Mengatakan “tidak” kepada dosa dan godaan.

Menahan ego ketika kita ingin menang sendiri.

Memilih kehendak Tuhan ketika berbeda dengan keinginan kita.

Menyangkal diri berarti: Tuhan menjadi yang terutama.

2. MEMIKUL SALIB

Yesus berkata: “…memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23).

Memikul salib berarti bersedia membayar harga untuk tetap taat kepada Kristus. Mengikuti Yesus tidak selalu berarti memilih jalan yang paling nyaman.

Kadang-kadang kita harus memilih:

Ketaatan daripada kenyamanan.

Kebenaran daripada penerimaan manusia.

Pengampunan daripada kepahitan.

Kehendak Tuhan daripada keinginan pribadi.

Dipimpin Roh Kudus daripada mengikuti keinginan daging.

Berkenan kepada Tuhan daripada berusaha menyenangkan semua orang.

Yesus sendiri menunjukkan teladan ketaatan kepada Bapa. Ia tetap taat sekalipun jalan yang dihadapi-Nya sangat berat. “Aku telah disalibkan dengan Kristus…” (Galatia 2:19).
Memikul salib bukan berarti mencari penderitaan. Memikul salib berarti tetap memilih Kristus ketika ketaatan kepada-Nya membutuhkan pengorbanan.

3. MENGIKUTI YESUS SETIAP HARI

Perhatikan satu kata penting dalam Lukas 9:23: SETIAP HARI.
Menjadi murid bukan keputusan satu kali yang kemudian selesai. Mengikuti Yesus adalah komitmen yang terus dijalani setiap hari.

Setiap hari kita menghadapi pilihan:

Mengikuti firman atau mengikuti perasaan.

Mengikuti kebenaran atau mengikuti tekanan lingkungan.

Mengampuni atau menyimpan kepahitan.

Berjalan dalam iman atau hanya berdasarkan apa yang kita lihat.

Mengikuti kehendak Tuhan atau kehendak diri sendiri.

Karena itu, menjadi murid berarti setiap hari kita berkata: “Yesus, hari ini saya memilih mengikuti Engkau.” Bukan hanya pada hari Minggu. Bukan hanya ketika berada di gereja.
Tetapi di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dalam keluarga, dalam hubungan, dalam penggunaan uang, dalam perkataan, dan bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

PERTANYAAN DISKUSI COOL

  1. Apa perbedaan antara percaya kepada Yesus dan mengikuti Yesus?
  2. Dalam area kehidupan apa yang paling sulit bagi kita untuk berkata:
    “Bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu”?
  3. Menurut Roma 12:2, mengapa pembaruan pikiran penting untuk mengetahui kehendak Allah?
  4. Apa contoh “memikul salib” dalam kehidupan kita sehari-hari?
  5. Pernahkah kita mengetahui apa yang benar menurut firman Tuhan, tetapi tetap memilih apa yang kita inginkan? Mengapa?
  6. Apa satu hal yang Tuhan sedang minta kita tinggalkan, ubah, atau taati?

KESIMPULAN

Menjadi murid berarti belajar mengikuti Yesus.

MENYANGKAL DIRI → Menempatkan kehendak Tuhan di atas kehendak pribadi.

MEMIKUL SALIB → Tetap taat meskipun membutuhkan pengorbanan.

MENGIKUTI YESUS SETIAP HARI → menjadikan Kristus sebagai Tuhan atas seluruh kehidupan kita.

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.”
(Lukas 9:24)

ONE THING TO REMEMBER

A disciple does not only believe in Jesus. A disciple follows Jesus.

Seorang murid bukan hanya percaya kepada Yesus. Seorang murid belajar mengikuti Yesus.
Tutup dan berdoa, supaya 1 minggu ke depan ada langkah nyata yang dapat saya lakukan minggu ini untuk mengikuti Yesus.

KEDEWASAAN ROHANI TERLIHAT DARI KARAKTER

KEDEWASAAN ROHANI TERLIHAT DARI KARAKTER

sambungan minggu lalu…

IV TUHAN MEMBENTUK KARAKTER MELALUI PROSES

Karakter biasanya tidak dibentuk di zona nyaman. Tuhan sering menggunakan keadaan yang tidak kita inginkan—masalah, tekanan, penderitaan, kegagalan, penolakan, kelemahan, bahkan pujian dan keberhasilan—untuk membentuk karakter kita.

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin…”  

Yeremia 17:10a

“Setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.”  

Yohanes 15:2b

Melalui proses, Tuhan menyingkapkan apa yang ada di dalam hati kita, meluruskan motivasi, memperbaiki cara pandang, menanggalkan hal-hal yang tidak berkenan kepada-Nya, memperkuat iman, memperbesar kapasitas hati, dan mempersiapkan kita untuk tanggung jawab yang lebih besar.

Karena itu, ketika menghadapi proses, jangan hanya bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi?” Belajarlah bertanya, “Tuhan, apa yang sedang Engkau bentuk di dalam saya melalui proses ini?”

V. KEDEWASAAN ROHANI TERLIHAT DARI CARA KITA MERESPONI

Kita tidak selalu dapat mengontrol apa yang terjadi kepada kita, tetapi kita dapat belajar mengontrol bagaimana kita meresponsnya.

Ketika disakiti, kita belajar mengampuni. Ketika dikritik, kita belajar mendengar. Ketika kecewa, kita belajar tetap percaya. Ketika marah, kita belajar menguasai diri. Ketika berhasil, kita belajar tetap rendah hati. Ketika gagal, kita belajar bangkit dan bertumbuh.

Dewasa bukan berarti tidak pernah marah, kecewa, atau terluka. Dewasa berarti kita tidak membiarkan emosi menentukan arah hidup kita. Kita membawa emosi, pikiran, dan keinginan kepada Tuhan dan belajar merespons sesuai dengan Firman-Nya.

VI. PENGUASAAN DIRI ADALAH TANDA KEKUATAN ROHANI

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan; orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota.” Amsal 16:32

Dunia sering mengukur kekuatan dari kemampuan mengalahkan atau mengendalikan orang lain. Alkitab memberikan perspektif yang berbeda: kekuatan terbesar adalah kemampuan menguasai diri sendiri.

Medan perang terbesar sering kali bukan di luar diri kita, tetapi di dalam hati, pikiran, emosi, ego, dan keinginan daging.

Orang yang belum dewasa secara rohani mudah dikuasai emosi, tersinggung, menyalahkan orang lain, membalas ketika disakiti, ingin selalu membuktikan dirinya benar, sulit mendengarkan, mengikuti keinginan sesaat, atau mengambil keputusan secara impulsif.

Sebaliknya, orang yang dewasa secara rohani belajar tetap tenang di bawah tekanan, mendengarkan, menerima koreksi, mengakui kesalahan, mengampuni, menjaga perkataan, tidak gegabah mengambil keputusan, dan tetap setia sekalipun prosesnya sulit.

Pahlawan sejati bukan hanya orang yang mampu menaklukkan sesuatu di luar dirinya, tetapi orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri.

VII. BAGAIMANA MEMBANGUN PENGUASAAN DIRI?

1. Hidup dipimpin oleh Roh Kudus.

Serahkan pikiran, perasaan, keinginan, dan keputusan kepada tuntunan-Nya.

“Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”

Galatia 5:16

2. Belajar berkata “tidak” kepada diri sendiri.

Tidak semua yang kita inginkan harus dilakukan. Tidak semua yang kita rasakan harus dikatakan. Tidak semua pikiran harus dipercayai, dan tidak semua kesempatan harus diambil.

3. Melatih diri melalui disiplin.

Puasa, menjaga perkataan, mengatur waktu, membatasi media sosial dan hiburan, mengendalikan pengeluaran, serta menyelesaikan tanggung jawab sebelum mencari kesenangan adalah latihan penguasaan diri.

4. Menaklukkan pikiran dengan Firman Tuhan.

Tidak semua pikiran yang muncul adalah kebenaran. Pikiran yang salah dan negatif harus ditolak dan digantikan dengan kebenaran Firman Tuhan.

Kedewasaan rohani berarti belajar membawa pikiran, perasaan, keinginan, perkataan, dan tindakan semakin tunduk kepada Kristus.

VIII. KASIH ADALAH BUKTI KARAKTER YANG DEWASA

Kita tidak dapat berbicara tentang karakter Kristus tanpa berbicara tentang kasih.

1 Korintus 13:4–7 menggambarkan kasih sebagai sesuatu yang sabar, murah hati, tidak sombong, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak mudah marah, dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya mengasihi Tuhan?” tetapi juga, “Apakah orang-orang di sekitar saya dapat merasakan kasih Tuhan melalui karakter saya?”

Karakter Kristus bukan hanya sesuatu yang kita katakan. Karakter Kristus harus terlihat dan dirasakan melalui kehidupan kita. Ketika kita hidup dalam keintiman dengan Roh Kudus, Dia membentuk kita semakin serupa dengan Kristus.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”  

Galatia 5:22–23

Buah tidak muncul dalam satu malam. Demikian juga karakter Kristus dibentuk melalui proses, ketaatan, dan perjalanan kita bersama Tuhan.

PENUTUP

Dunia tidak kekurangan orang pintar, berbakat, berpengetahuan, atau memiliki kemampuan luar biasa. Namun, dunia membutuhkan orang-orang yang memiliki karakter seperti Kristus: berintegritas, jujur, rendah hati, setia, dapat dipercaya, mampu menguasai diri, dan melayani dengan kasih.

Karunia diberikan untuk melayani, membangun tubuh Kristus, dan memuliakan Tuhan. Namun, karakter menentukan bagaimana kita menggunakan karunia tersebut. Karunia perlu disertai karakter yang dewasa agar pelayanan kita menjadi berkat dan memuliakan Tuhan.

Karunia menunjukkan apa yang dapat kita lakukan.

Karakter menunjukkan siapa kita.

Kedewasaan rohani terlihat ketika karakter Kristus semakin nyata dalam kehidupan kita.

Karena itu, jangan hanya berdoa, “Tuhan, pakai saya.” Berdoalah juga, “Tuhan, bentuk saya.”

Jangan hanya meminta Tuhan memperbesar pelayanan kita. Mintalah Tuhan membentuk karakter kita. Sebab Tuhan bukan hanya mempersiapkan kita untuk melakukan sesuatu yang besar bagi-Nya; Tuhan sedang membentuk kita menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus.

“…sampai Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”  

Galatia 4:19

Itulah kedewasaan rohani: bukan sekadar semakin banyak tahu, semakin banyak melayani, atau semakin banyak memiliki karunia, tetapi semakin banyak Kristus terlihat dalam diri kita.

KEDEWASAAN ROHANI TERLIHAT DARI KARAKTER.

DEWASA ROHANI TERLIHAT DARI KARAKTER

DEWASA ROHANI TERLIHAT DARI KARAKTER

PENDAHULUAN

Karakter adalah salah satu tanda kedewasaan rohani.  Karakter mencerminkan nilai, watak, dan keadaan batin seseorang yang diwujudkan secara nyata dalam bentuk perilaku, sikap, serta kebiasaan sehari-hari.

Kedewasaan karakter merupakan proses pertumbuhan rohani yang berlangsung secara terus-menerus. Melalui proses yang panjang, Tuhan membentuk cara berpikir/cara pandang, perasaan, sikap, perilaku, perkataan, serta gaya hidup kita agar semakin sesuai dengan kepenuhan Kristus. Efesus 4:13–15, “…sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”

ISI
Tujuan pertumbuhan rohani bukan sekadar supaya kita tahu lebih banyak tentang Tuhan, tetapi supaya hidup kita semakin menyerupai Kristus.

1. KARUNIA DAN PENGETAHUAN TIDAK OTOMATIS MENJADIKAN SESEORANG DEWASA

Pengetahuan akan Firman Tuhan dan karunia yang kita miliki adalah hal yang sangat penting. Namun, keduanya tidak secara otomatis menjamin kedewasaan karakter.

Seseorang dapat: mengajar, berkhotbah, memiliki karisma & talenta, atau pandai berbicara,
bahkan aktif melayani, atau disiplin berdoa, tidak otomatis menunjukkan bahwa karakter orang tersebut sudah dewasa.

Karakter justru paling terlihat ketika kita menghadapi tekanan.

Ketika dikritik. Ketika ditolak.

Ketika disalahpahami.

Ketika mengalami konflik.

Ketika kecewa.

Ketika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan.

Ketika orang lain tidak menghargai kita.

Saat itulah karakter kita diuji.

Karunia menunjukkan apa yang dapat kita lakukan, tetapi karakter menunjukkan siapa kita.
Karunia dapat diperoleh dari lahir tetapi karakter dibentuk melalui proses yang panjang dan berbagai ujian.

Tuhan menggunakan proses tersebut untuk mengajar kita merendahkan hati, terus belajar, hidup dalam pertobatan, meninggalkan manusia lama, dan semakin taat kepada Firman serta kehendak-Nya.

2. KARUNIA HARUS DISERTAI KARAKTER

Karunia diberikan Tuhan untuk melayani, membangun tubuh Kristus, dan memuliakan Tuhan. Tetapi karakter menentukan bagaimana kita menggunakan karunia tersebut.

Seseorang dapat memiliki karunia yang luar biasa tetapi menggunakannya dengan motivasi yang salah. Sebaliknya, seseorang yang memiliki karakter yang benar akan menggunakan karunianya dengan: rendah hati, kasih, integritas, kesetiaan, tanggung jawab, dan takut akan Tuhan.

Karena itu, kita tidak hanya perlu bertanya:“Apa karunia saya?” tetapi Kita juga harus bertanya:“Apakah karakter saya sudah siap menopang karunia tersebut?”

Karunia dapat membuka pintu, tetapi karakter menentukan bagaimana kita berjalan setelah pintu itu terbuka. Karunia dapat membuat orang melihat kita. Karakter membuat orang dapat melihat Kristus melalui kita.

3. KARAKTER ADALAH HASIL PEKERJAAN ROH KUDUS

Ketika kita hidup dalam keintiman dengan Roh Kudus, Dia terus bekerja membentuk karakter Kristus dalam diri kita. Galatia 5:22–23 berkata:
“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.”

Perhatikan bahwa Firman Tuhan berbicara tentang buah Roh. Buah tidak muncul dalam satu malam. Buah membutuhkan: waktu, proses, pertumbuhan, pemeliharaan, dan ketekunan.

Demikian juga karakter. Kedewasaan karakter merupakan hasil karya pengudusan Roh Kudus yang terus bekerja dalam kehidupan kita. Karakter yang dewasa terlihat ketika buah buah roh mulai menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

PENUTUP

Pertanyaan untuk direnungkan : Apa yang sedang Tuhan bentuk dalam karakter saya melalui proses yang sedang saya alami sekarang?

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” (Efesus 5:15-17)

KEDEWASAAN ROHANI DIUJI SAAT BADAI DATANG

KEDEWASAAN ROHANI DIUJI SAAT BADAI DATANG

PENDAHULUAN

Akar memiliki fungsi untuk menyerap nutrisi dari dalam tanah yang dibutuhkan bagi pertumbuhan serta menopang pohon agar dapat berdiri tegak dan tidak mudah tumbang. Dengan sistem perakaran yang baik, sebuah pohon dapat tumbuh secara optimal. Akar yang kuat membuat pohon tetap berdiri kokoh saat diterpa badai dan hujan deras. Sebaliknya, pohon yang memiliki akar dangkal akan lebih mudah goyah dan tumbang karena tidak memiliki pijakan yang kuat di dalam tanah.

ISI

Dalam kehidupan orang percaya, akar menggambarkan hal-hal yang ada di dalam hati dan batin  yang tidak tampak dari luar. Akar kehidupan orang percaya adalah hati yang percaya kepada Tuhan Yesus. Seperti halnya akar menopang sebuah pohon, demikian pula iman kepada Kristus menopang seluruh kehidupan kita. Akar yang kuat membuat kita tetap kokoh ketika menghadapi masalah dan penderitaan. Selama kita tetap berakar di dalam Kristus, kita akan terus bertumbuh menuju kedewasaan rohani.

CARA MEMPERKUAT AKAR

1. Tinggal di dalam Kristus dan berakar dalam kasih-Nya.

  • Berakar berarti tetap tinggal di dalam Kristus sekalipun situasi yang kita hadapi tidak selalu mudah. Agar menjadi kuat, akar harus senantiasa terhubung dengan sumber Air Hidup, yaitu firman Tuhan dan hadirat Roh Kudus melalui doa, pujian, dan penyembahan. Persekutuan dengan Tuhan membuat kita semakin mengenal Pribadi-Nya, kehendak-Nya, dan cara kerja-Nya, terlebih ketika kita mengalami masalah. Persekutuan dengan Tuhan membuat hati kita dipenuhi kasih-Nya sehingga kita dapat melihat segala sesuatu dari perspektif Tuhan.
  • Saat berada dalam pergumulan, Roh Kudus mengingatkan kita untuk tetap percaya dan mengandalkan Tuhan, bukan bersandar pada kekuatan dan pengertian kita sendiri. Batin kita dikuatkan dan diteguhkan untuk tetap tinggal di dalam Kristus dan kasih-Nya. Kita dimampukan untuk merespons setiap masalah sesuai dengan firman Tuhan, sekalipun itu terasa sulit dan tidak enak.

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah (Yeremia 17:7-8).

  • Orang yang hatinya percaya kepada Tuhan diibaratkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Dalam keadaan apa pun, ia tetap terhubung dengan Sumber Air Hidup. Ia tidak takut menghadapi panas terik dan tidak khawatir ketika tahun kering tiba, sebab imannya berakar kuat di dalam Tuhan. Akar yang kuat menghasilkan pertumbuhan dan buah.
  • Badai masalah tidak membuat jiwanya menjadi kering, letih lesu, berbeban berat, cemas, gelisah, khawatir, putus asa, mengasihani diri sendiri, atau kecewa, hingga akhirnya menyalahkan Tuhan atau orang lain. Di tengah masa sulit dan tekanan sekalipun, ia tetap menghasilkan buah karena akarnya terus bertumbuh semakin dalam hingga mencapai sumber Air Hidup. Badai tidak selalu dapat kita hindari, tetapi akar yang kuat membuat kita tidak mudah tumbang ketika badai datang, bahkan tetap menghasilkan buah.

Firman → Akar → Iman Kuat → Tetap Teguh → Menghasilkan Buah.

  • Hal lain yang perlu dipahami tentang perlunya memiliki akar yang kuat:

Semakin kita bertumbuh dan semakin besar tanggung jawab yang Tuhan percayakan, semakin penting kita memiliki akar yang dalam. Agar tidak tumbang, akar iman kita harus kuat. Jika tidak, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam kesombongan dan dosa. Itulah sebabnya Tuhan perlu memproses kita melalui berbagai masalah dan ujian iman agar akar iman kita semakin dalam dan kuat.

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih (Efesus 3:16-17).

2 Persekutuan dengan orang percaya.

  • Di dalam persekutuan dengan orang percaya,  kita belajar saling menguatkan, menolong, menopang, dan mendoakan supaya tetap kuat di dalam Tuhan, terutama saat menghadapi masalah. Jika kita memilih menyendiri, kita bisa menjadi lemah, rawan jatuh, dan mudah dikalahkan oleh masalah.

Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan. (Pengkhotbah 4:12)

  • Gereja lokal menjadi tempat kita bertumbuh bukan hanya melalui pengajaran firman, tetapi juga dengan belajar saling mengasihi, menerima satu dengan yang lain, melayani, saling mengampuni, saling menajamkan, dan lain sebagainya.

Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya (Amsal 27:17).

PENUTUP

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.  Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur (Kolose 2:6–7)

Kristus bukan hanya tempat kita mulai; Kristus adalah tempat kita terus tinggal sampai garis akhir.

Kita telah menerima Kristus. Karena itu, kita harus terus hidup di dalam Dia.

Kita berakar di dalam Dia. Kita dibangun di atas Dia. Kita diteguhkan dalam iman.Dan akhirnya, hidup kita melimpah dengan syukur. Itulah kedewasaan rohani.

BERTUMBUH MENJADI DEWASA ROHANI

BERTUMBUH MENJADI DEWASA ROHANI

PENDAHULUAN

Allah tidak memanggil kita hanya untuk percaya kepada-Nya, tetapi juga untuk bertumbuh menjadi dewasa secara rohani. Pertumbuhan rohani bukan sekadar mengetahui lebih banyak tentang Tuhan, melainkan juga menjadi semakin serupa dengan Kristus. Melalui bahan Cool bulan ini, kita akan belajar untuk bertumbuh dalam karakter Kristus, menjadi pribadi yang tidak mudah dipengaruhi oleh keadaan, memiliki akar iman yang kuat, menghasilkan buah Roh, bertanggung jawab atas kehidupan rohani kita, serta menjadi teladan bagi orang lain.

ISI

Tidak ada yang mengharapkan seorang bayi tetap menjadi bayi selamanya. Demikian pula dalam kehidupan rohani. Ketika mengalami kelahiran baru, kita adalah bayi-bayi rohani yang lahir dari benih ilahi (1 Petrus 1:23; 1 Yohanes 3:9). Namun, Tuhan tidak menghendaki kita tetap menjadi bayi rohani. Ia ingin kita terus bertumbuh menuju kedewasaan rohani dan pada akhirnya menghasilkan buah.

Bertumbuh menjadi dewasa secara rohani membutuhkan proses yang panjang. Kedewasaan rohani tidak terjadi secara instan atau otomatis hanya karena usia kita bertambah. Dibutuhkan ketetapan hati, kesabaran, dan ketekunan untuk menjalani setiap proses hingga mencapai kedewasaan rohani.

Seperti halnya seorang bayi yang sangat membutuhkan air susu yang murni untuk bertumbuh, demikian pula manusia roh kita membutuhkan makanan rohani untuk mendukung pertumbuhannya.

1 Petrus 2:2 “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan”

Ini bukanlah ajakan untuk kita tetap menjadi bayi rohani yang hanya mau minum susu dan tidak mau menerima makanan yang keras. Ayat ini merupakan seruan bagi kita untuk memiliki rasa haus dan lapar akan makanan rohani yang murni.

Asupan rohani yang murni dan sangat kita butuhkan setiap hari adalah firman Tuhan dan hadirat Roh Kudus. Firman Tuhan adalah kebenaran yang murni dan sejati, yang tidak tercemar oleh hikmat dunia, dosa, kepalsuan, penyesatan, keinginan manusia yang berpusat pada diri sendiri, hawa nafsu, maupun tipu daya Iblis. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).

Firman Tuhan bukan saja mengenyangkan roh dan jiwa kita, tetapi juga membuat kita bertumbuh, menghasilkan buah, dan memperoleh keselamatan. Roh Kudus adalah sumber air hidup yang memuaskan dahaga jiwa, mengingatkan kita akan firman Tuhan, mengajar, dan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran.

Supaya terus memiliki rasa haus dan lapar akan makanan rohani yang murni, kita perlu mendisiplinkan diri untuk masuk hadirat Tuhan melalui doa, pujian, penyembahan, serta menerapkan firman Tuhan yang kita tahu dan renungkan.

Keadaan orang yang terus memenuhi dirinya dengan Firman Tuhan dan hadirat Roh Kudus:

  • Iman jadi kuat dan semakin berakar dalam,
  • Tidak mudah diombang-ambingkan oleh perasaan, keadaan, dan rupa-rupa angin pengajaran,
  • Arah hidupnya benar karena berjalan dalam ketaatan kepada perintah Tuhan,
  • Menanggalkan manusia lama dan senantiasa hidup dalam pertobatan,
  • Masalah, tantangan, dan penderitaan tidak membuatnya menyerah, melainkan mendorongnya untuk terus bertumbuh dan menghasilkan buah yang matang.

Sebaliknya, apa saja yang menyebabkan seseorang kehilangan rasa haus akan Tuhan sehingga tidak lagi bertumbuh (stagnasi)?

  • Hidup dalam dosa yang disembunyikan dan berkompromi dengan dosa,
  • Fokus mengejar perkara-perkara duniawi dan ambisi pribadi, serta hidup dalam hawa nafsu kedagingan,
  • Menjalani rutinitas agamawi tanpa membangun relasi pribadi dengan Tuhan melalui doa, pujian, penyembahan, perenungan firman, dan ketaatan kepada firman Tuhan,
  • Menyimpan kepahitan dan kekecewaan terhadap manusia ataupun Tuhan,
  • Kenyamanan hidup yang membuatnya merasa tidak memerlukan Tuhan,
  • Menjauhkan diri dari kasih karunia, dari pertemuan ibadah, dan dari komunitas orang percaya.

ALUR PROSES PERTUMBUHAN ROHANI

Bayi rohani yang lahir dari benih ilahi → setia dan bertekun dalam proses pembentukan Tuhan melalui masalah, tantangan, penderitaan, dan ujian iman → merespons dengan benar meski di bawah tekanan dengan tetap menaati perintah Tuhan → iman berakar semakin kuat dalam kasih Kristus → bertumbuh menuju kedewasaan iman, hikmat, dan karakter → menghasilkan buah nyata yang dapat dinikmati oleh keluarga, gereja, dan sesama.

REFLEKSI DIRI

Dari alur pertumbuhan di atas, renungkanlah pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Saudara sedang berada di fase yang mana?
  • Apakah Saudara masih bertekun untuk bertumbuh menuju kedewasaan rohani, atau sudah berhenti bertumbuh?
  • Jika Saudara berhenti bertumbuh, apa yang menjadi penyebabnya?
  • Langkah apa yang harus Saudara ambil untuk mengatasi pertumbuhan rohani yang terhenti?

PENUTUP

DEWASA ROHANI BUKAN TENTANG BERAPA LAMA KITA MENJADI ORANG KRISTEN, TETAPI SEBERAPA JAUH HIDUP KITA BERUBAH MENJADI SERUPA KRISTUS.

sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, (Efesus 4:13)

Orang yang dewasa secara rohani bukan berarti tidak pernah lemah, jatuh, atau berbuat salah. Namun, ia memiliki kemauan untuk bangkit kembali dan tidak menyerah, mengasihani diri, atau menjauh dari Tuhan dan saudara seiman. Selama kita mau hidup dalam pertobatan dan ketaatan, kasih karunia Tuhan yang berlimpah akan menopang kita sepanjang proses pertumbuhan rohani.

MEMBANGUN KEHIDUPAN YANG KOKOH

MEMBANGUN KEHIDUPAN YANG KOKOH

PENDAHULUAN

Tuhan Yesus menghendaki setiap orang percaya membangun kehidupan yang kokoh di dalam Dia. Dalam perumpamaan di Matius 7:24-27, Ia mengatakan bahwa orang bijak adalah orang yang membangun hidupnya di atas batu. Ketika masalah, kesulitan, dan penderitaan datang, kehidupannya tidak goyah. Orang bijak memiliki kehidupan yang kokoh karena dibangun di atas ketaatan kepada perintah Tuhan. Ia bukan hanya mendengar firman, tetapi juga melakukannya.

ISI

I. MENDENGAR FIRMAN TUHAN

Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. (Ayub 33:14a).

Allah dapat berfirman dengan cara apa pun. Ia tidak dapat dibatasi oleh pikiran, pengertian, waktu, dan keinginan kita. Pertanyaannya, apakah kita mendengarkan dan memperhatikan ketika Ia berfirman? Bagaimana kita dapat mendengar suara Tuhan?

Mendengar suara Tuhan dimulai dengan membangun hubungan dengan Roh Kudus melalui doa, pujian, penyembahan, dan perenungan firman. Akal budi kita harus mengalami pembaruan melalui firman Tuhan, sehingga kita memiliki panduan untuk membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.

Saat hubungan dengan Roh Kudus terus dijaga dan akal budi terus diperbarui oleh firman Tuhan, hati kita menjadi lebih terbuka untuk menerima suara Tuhan yang disampaikan oleh Roh Kudus melalui berbagai cara, antara lain:
• melalui firman Tuhan yang dibaca dan direnungkan;
• melalui impresi atau kesan yang muncul dalam hati atau pikiran;
• melalui keadaan, teguran, penderitaan, mukjizat, serta pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain;
• melalui doa, mimpi, penglihatan, lagu pujian dan penyembahan, khotbah, renungan harian, artikel, maupun buku;
• melalui orang lain;
• melalui suara yang terdengar secara audibel.

Perlu diperhatikan bahwa suara Tuhan yang kita dengar tidak pernah bertentangan dengan firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Roh Kudus tidak akan pernah membawa kita kepada hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran firman-Nya.
Suara Tuhan juga dapat dikonfirmasi melalui mentor atau pemimpin rohani yang dapat memberikan nasihat dan peneguhan. Suara Tuhan mendatangkan damai sejahtera, menimbulkan iman, menerangi jiwa, dan membuat kita semakin bertumbuh dalam hikmat.

Langkah praktis untuk belajar mendengar suara Tuhan:
• Disiplinkan diri untuk bersaat teduh setiap pagi pada waktu yang sama, sebelum memulai aktivitas. Tempatkan hubungan kita dengan Tuhan sebagai prioritas utama.
• Masuk ke dalam hadirat Tuhan dengan mengucap syukur, memuji, menyembah, dan berdoa.
• Belajar menenangkan diri dan berdiam diri sambil menantikan Tuhan dalam hadirat-Nya. Fokuskan pikiran hanya kepada Tuhan Yesus.
• Baca renungan harian dan renungkan beberapa pasal firman Tuhan, misalnya dua pasal pada pagi hari, dua pasal pada siang hari, dan dua pasal pada malam hari.
• Semakin konsisten kita melatih diri, semakin peka pula kita dalam mendengar suara Tuhan.

II. MELAKUKAN FIRMAN TUHAN

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (Matius 7:24)

Roh Kudus akan mendorong kita untuk menanggapi dan menaati suara Tuhan yang kita dengar. Orang bijak adalah orang yang belajar menaati suara Tuhan, sekalipun ketaatan itu terasa tidak nyaman. Alkitab mengatakan bahwa keinginan Roh memang selalu berlawanan dengan keinginan daging. Oleh sebab itu, hiduplah oleh Roh, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging (Galatia 5:16).

Orang berhikmat yang melakukan firman Tuhan akan hidup dalam berkat:
Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik. Orang yang bijak lebih berwibawa daripada orang kuat, juga orang yang berpengetahuan daripada orang yang tegap kuat (Amsal 24:3–4)

Ketaatan kepada firman Tuhan membawa kita mengalami penggenapan janji-Nya, penyertaan, penyediaan, pemeliharaan, mukjizat, pemulihan, kesembuhan, perlindungan dari yang jahat, dan kemenangan.

III. TETAP TEGUH SAAT MENGHADAPI BADAI KEHIDUPAN

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. (Matius 7:25)

Ketaatan kepada firman Tuhan membuat kita memiliki fondasi kehidupan yang kokoh. Sekalipun badai kehidupan menerpa, iman kita tetap teguh, bahkan semakin kuat. Masalah, kesulitan, dan penderitaan tidak dapat menghancurkan kehidupan orang yang taat kepada firman Tuhan. Mengapa? Karena Allah menopang segala sesuatu dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan (Ibrani 1:3). Tuhan sendiri yang menjamin, meneguhkan, dan membela firman-Nya.

”demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” (Yesaya 55:11).

Firman Tuhan itu hidup, penuh kuasa, kekal, dan tidak pernah berubah di tengah keadaan yang berubah-ubah. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Matius 24:35).

IV. MENINGGALKAN WARISAN IMAN BAGI GENERASI BERIKUTNYA

Meninggalkan warisan iman kepada generasi berikutnya adalah tugas dan tanggung jawab rohani yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Uang bisa habis, harta bisa lapuk, dan ketenaran bisa pudar, tetapi iman adalah warisan terbaik dan kekal yang dapat kita teruskan kepada anak cucu.

Meninggalkan warisan iman bukan hanya berarti memberitakan firman Tuhan secara teoretis kepada anak cucu, tetapi juga menjadi pelaku firman. Keaslian iman yang dibuktikan melalui kehidupan yang benar dan ketaatan kepada perintah Tuhan menjadi teladan nyata yang membawa dampak kekal bagi generasi berikutnya. Mereka dapat melihat dan mengalami secara langsung bagaimana ketaatan kepada firman Tuhan membuat kehidupan orang tua mereka tetap kokoh, sekalipun menghadapi berbagai masalah dan kesulitan.

APLIKASI

Lakukan evaluasi terhadap:
Kehidupan rohani.
Keluarga.
Pekerjaan.
Pelayanan.
Keuangan.
Karakter.

PERTANYAAN DAN DISKUSI

Di atas dasar apa Anda sedang membangun hidup?
Area mana yang perlu lebih taat kepada firman Tuhan?

PENUTUP

Kehidupan yang kokoh bukanlah kehidupan yang dibangun atas dasar kehebatan, kekuatan, kepintaran, harta kekayaan, pencapaian, ataupun kesuksesan. Kehidupan yang kokoh juga bukanlah kehidupan yang nyaman dan bebas dari masalah. Kehidupan yang kokoh adalah kehidupan yang tetap teguh ketika mengalami badai kehidupan, karena dibangun di atas fondasi yang kuat. Fondasi yang kuat itu bukan sekadar pengetahuan akan firman Tuhan, melainkan ketaatan dalam melakukan firman Tuhan.

Jadilah orang bijak yang terus bertumbuh dalam iman dan hikmat, agar kehidupan kita tetap kokoh dan kita dapat meninggalkan warisan iman bagi generasi berikutnya.

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

SESI 2
HIKMAT DALAM HUBUNGAN DAN KEPUTUSAN

Review SESI 1
Di sesi 1 kita belajar bahwa hikmat memengaruhi cara kita hidup: bagaimana kita menggunakan waktu dan bagaimana kita berkata-kata.

Di sesi 2 kita akan melihat bagaimana hikmat memengaruhi: hubungan yang kita bangun dan keputusan yang kita ambil.

III. HIKMAT UNTUK MEMILIH DAN MEMBANGUN HUBUNGAN YANG SEHAT
Baca Yakobus 3:13

Yakobus mengajarkan bahwa hikmat sejati tidak terutama dibuktikan melalui kata-kata yang hebat, pengetahuan yang luas, atau kemampuan untuk mengalahkan lawan bicara. Hikmat dibuktikan melalui cara hidup yang baik dan perilaku yang lahir dari kelemahlembutan.

Ini sangat penting dalam hubungan. Kita dapat memiliki pengetahuan yang benar, tetapi memiliki sikap yang kasar. Kita dapat memiliki niat yang baik, tetapi kata-kata kita justru melukai.

Kita dapat merasa sedang menolong seseorang, tetapi cara kita memperlakukan orang tersebut justru membuat hubungan menjadi rusak.
Karena itu, hikmat Tuhan menghasilkan kelemahlembutan. Kelemahlembutan bukan berarti lemah. Kelemahlembutan adalah kekuatan yang berada di bawah penguasaan diri.

Orang yang berhikmat belajar:
tidak cepat bereaksi,
tidak mudah tersinggung,
tidak selalu harus menang,
mau mendengar,
menghargai perbedaan,
mampu mengendalikan emosi,
berbicara dengan hormat,
memberikan ruang bagi orang lain untuk bertumbuh.

Dalam memilih dan membangun hubungan, kita juga membutuhkan hikmat untuk mengenali:
Siapa yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita? Hubungan mana yang perlu kita bangun?
Hubungan mana yang perlu kita jaga batasnya? Bagaimana kita dapat menjadi berkat bagi orang lain tanpa kehilangan prinsip kebenaran?

Setiap orang harus kita perlakukan dengan kasih dan hormat, terutama orang-orang terdekat kita.
Namun, kita juga perlu memahami: tidak semua orang harus menjadi orang terdekat kita.
Mengasihi seseorang tidak berarti kita harus memberikan akses yang sama kepada semua orang.
Ada hubungan yang perlu dibangun.
Ada hubungan yang perlu dipulihkan.
Ada hubungan yang perlu dijaga.
Dan ada hubungan yang membutuhkan batas yang sehat.

Hikmat menolong kita mengasihi tanpa kehilangan batas, dan menetapkan batas tanpa kehilangan kasih.

IV. HIKMAT UNTUK MENETAPKAN PRIORITAS YANG BENAR
Baca Amsal 3:5–6

“Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Salah satu bentuk hikmat terbesar adalah kemampuan untuk menentukan:
Apa yang harus didahulukan?
Tidak semua hal memiliki tingkat kepentingan yang sama.
Tidak semua kesempatan harus kita ambil.
Tidak semua masalah harus kita selesaikan sendiri.
Tidak semua permintaan harus kita penuhi.

Belajar berkata “tidak” pada sesuatu yang bukan prioritas bukan berarti egois. Itu dapat menjadi bentuk hikmat. Kita membutuhkan Roh Kudus untuk:
memahami,
menerima pewahyuan,
menilai,
membedakan,
menemukan,
memaknai,
dan mengambil kesimpulan dengan benar.

Hikmat membuat kita mampu melihat bukan hanya apa yang terlihat sekarang, tetapi juga apa akibatnya bagi masa depan.
Setiap keputusan yang kita ambil dapat memengaruhi: diri kita → keluarga kita → orang-orang di sekitar kita → bahkan generasi yang akan datang.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan, tanyakan:
1. Apakah ini memuliakan Tuhan?
2. Apakah ini membawa manfaat?
3. Apakah ini menunjukkan kasih?
4. Apakah ini sesuai dengan prinsip firman Tuhan?
5. Apakah ini bernilai untuk kekekalan?

Kadang-kadang keputusan yang paling bijaksana bukanlah keputusan yang paling menguntungkan saat ini, tetapi keputusan yang paling benar di hadapan Tuhan.

REFLEKSI DAN DISKUSI SESI 2
Adakah hubungan dalam hidup saya yang membutuhkan kelemahlembutan, batas yang sehat, atau pemulihan?

Apakah saya memiliki kecenderungan untuk selalu ingin menang dalam hubungan atau argumentasi?

Apa yang selama ini menjadi prioritas saya? Apakah prioritas tersebut benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan?
Keputusan apa yang sedang saya hadapi saat ini dan membutuhkan hikmat Tuhan?

Apakah ada sesuatu yang perlu saya katakan “tidak” supaya saya dapat mengatakan “ya” kepada
sesuatu yang lebih penting bagi Tuhan?

PENUTUP

Amsal 4:7 berkata: “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kauperoleh, perolehlah pengertian.”

Hikmat dimulai dengan takut akan Tuhan. Kita membaca dan merenungkan firman Tuhan sehingga memperoleh pengertian tentang kebenaran dan kehendak-Nya. Tetapi hikmat tidak berhenti pada pengetahuan. Hikmat adalah ketika kebenaran yang kita ketahui mulai mengubah cara kita hidup.

Kita dapat menyederhanakannya:
Pengetahuan rohani + Pengertian + Penerapan = Hikmat yang menghasilkan kehidupan yang benar.

Hikmat sejati bersumber dari Tuhan dan diberikan melalui Roh Kudus. Karena itu, bangunlah hubungan yang benar dengan Tuhan. Ketika kita berjalan dekat dengan Tuhan, kita belajar melihat kehidupan bukan hanya dari apa yang kita rasakan atau pikirkan, tetapi dari perspektif Tuhan.

Hikmat akan menolong kita:
menggunakan waktu dengan bijaksana, berkata-kata dengan benar, membangun hubungan yang sehat, menetapkan batas yang benar, menentukan prioritas yang benar, dan mengambil keputusan yang membawa kita semakin dekat kepada tujuan Tuhan.

Pada akhirnya, hidup berhikmat bukan sekadar tentang membuat keputusan yang pintar.
Hidup berhikmat adalah:
belajar melihat seperti Tuhan melihat,
memilih seperti Tuhan menghendaki,
dan hidup dengan cara yang memuliakan Tuhan.

Iman membawa kita untuk percaya kepada Tuhan. Hikmat menolong kita berjalan bersama Tuhan.
Dan ketika iman dan hikmat berjalan bersama, kita bukan hanya percaya kepada rencana Tuhan, tetapi juga belajar menjalani rencana Tuhan dengan benar.

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

SESI 1
HIKMAT DALAM CARA KITA HIDUP

PENDAHULUAN

Untuk hidup dalam tujuan dan rencana Tuhan, kita bukan hanya membutuhkan iman, tetapi juga hikmat. Iman adalah dasar hubungan dan kepercayaan kita kepada Allah.
Hikmat adalah kemampuan untuk menerapkan kebenaran dan pengetahuan rohani dalam kehidupan nyata—sehingga kita mampu membuat pilihan yang benar, menyelesaikan masalah, membangun hubungan yang sehat, dan bertindak dengan tepat.

Dengan kata lain: Iman membuat kita percaya kepada Tuhan. Hikmat menolong kita berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita dapat memiliki iman yang kuat, tetapi tetap membutuhkan hikmat dalam menentukan:
kapan harus berbicara,
kapan harus diam,
apa yang harus dilakukan,
siapa yang harus kita percayai,
bagaimana menggunakan waktu,
dan apa yang harus menjadi prioritas.

Hikmat membuat iman kita terlihat dalam cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.

ISI
I. HIKMAT UNTUK MENGGUNAKAN WAKTU DENGAN BIJAKSANA (baca Efesus 5:15-17)
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif…”

Paulus mengingatkan kita untuk memperhatikan dengan saksama bagaimana kita hidup.
Pertanyaannya bukan hanya: “Apa yang saya lakukan?”
Tetapi:“Untuk apa saya menggunakan hidup dan waktu yang Tuhan berikan kepada saya?”

Kita dapat begitu sibuk memenuhi tuntutan kehidupan—bekerja, mengurus keluarga, mengejar kebutuhan, menikmati keinginan, bahkan melakukan banyak aktivitas—tetapi belum tentu semuanya membawa kita kepada Tuhan. Orang bijaksana melihat waktu bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dilalui atau diisi, tetapi sebagai kesempatan yang Tuhan percayakan.

Jangan hidup seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.
Ciri orang bebal:
Degil dan keras kepala;
Merasa dirinya selalu benar dan sulit bertobat atau berubah.
Tidak mau belajar dan menerima teguran.
Suka menyalahkan orang lain dan sulit mengambil tanggung jawab.
Hidup sesuka hati dan mengikuti hawa nafsu.
Lamban mendengar dan tidak konsisten.
Mendengar firman tetapi tetap hidup dengan mindset yang tidak sesuai firman.
Tidak peka terhadap suara dan teguran Roh Kudus.
Sulit membedakan mana yang benar dan salah, mana yang penting dan mana yang sia-sia.

Ciri orang arif atau bijaksana:
Mau mendengar, belajar, dan menerima teguran.
Belajar dari firman Tuhan, pengalaman, orang lain, bahkan dari masalah yang dihadapi.
Sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan.
Mau menaati Tuhan dan hidup dalam pertobatan.
Melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan.
Membuat keputusan berdasarkan prinsip firman Tuhan.
Berhati-hati dalam berbicara dan bertindak.
Mampu membedakan mana yang penting dan mana yang hanya membuang waktu.

Mazmur 90:12 berkata: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Orang bijaksana tahu menghargai waktunya. Karena itu kita perlu bertanya:
“Apakah ini perlu mendapatkan waktu saya?” Waktu adalah bagian dari hidup yang tidak dapat kita beli kembali. Kita dapat menghasilkan kembali uang yang hilang. Kita dapat mengganti barang yang rusak, tetapi kita tidak dapat mengembalikan waktu yang sudah berlalu.
Waktu kita di dunia terbatas. Karena itu, gunakanlah waktu dengan saksama.

II. HIKMAT UNTUK BERKATA-KATA (baca Kolose 4:5–6)

Perkataan adalah sesuatu yang kelihatannya sederhana, tetapi mempunyai kuasa yang besar.
Perkataan dapat menjadi benih. Benih yang baik dapat menghasilkan:
kebenaran,
kasih,
iman,
pengharapan,
penghiburan,
dan pemulihan.

Sebaliknya, perkataan yang tidak dijaga dapat menghasilkan:
kebingungan,
kekhawatiran,
ketakutan,
kesalahpahaman,
kemarahan,
perpecahan,
kepahitan,
bahkan penyesatan.

Karena itu, orang yang berhikmat belajar bukan hanya: “Apa yang harus saya katakan?”
Tetapi juga:
“Kapan saya harus mengatakannya?”
“Bagaimana saya harus mengatakannya?”
“Apakah memang perlu saya katakan?”

Kita perlu meminta Roh Kudus memimpin perkataan kita supaya perkataan kita:

Menghormati dan meninggikan Tuhan.
Lemah lembut dan meredakan kegeraman, bukan memperbesar konflik.
Mengandung hikmat dan didikan.
Membawa penghiburan dan nasihat.
Memberikan jawaban yang tepat pada waktunya.
Membangkitkan iman, pengharapan, dan kekuatan berdasarkan firman Tuhan.

Kebenaran membutuhkan hikmat dalam penyampaiannya. Orang bijaksana tidak menggunakan perkataan hanya untuk membuktikan bahwa dirinya benar, tetapi untuk membawa orang kepada kebenaran dan kasih.

REFLEKSI DAN DISKUSI

Bagaimana selama ini saya menggunakan waktu yang Tuhan berikan kepada saya?
Apa yang paling banyak menyita waktu saya?
Apakah semuanya membawa saya semakin dekat kepada Tuhan?
Apakah ada perkataan yang perlu saya jaga atau ubah dalam hubungan saya dengan seseorang?

Ketika berbicara dalam situasi konflik, apakah tujuan saya membuktikan bahwa saya benar atau
membawa hubungan kepada kebenaran dan kasih?

Kalimat kunci sesi minggu ini : Orang yang berhikmat tahu bagaimana menggunakan waktunya dan menjaga perkataannya.

Bersambung Sesi 2 minggu depan…

BERTUMBUH DALAM HIKMAT

BERTUMBUH DALAM HIKMAT

PENDAHULUAN

Allah telah memberikan kepada setiap orang kehendak bebas untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan dalam hidup. Setiap keputusan membawa konsekuensi, baik maupun buruk. Karena itu, kita membutuhkan hikmat dari Allah agar dapat menggunakan kehendak bebas kita dengan penuh tanggung jawab dan sesuai dengan kehendak-Nya.

Hikmat bukanlah sesuatu yang diperoleh hanya melalui kecerdasan, pendidikan formal, atau pengalaman hidup. Hikmat sejati adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia. “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”(Amsal 9:10)

I HIKMAT MENURUT ALKITAB

 Apa itu hikmat?

Hikmat lebih daripada sekadar kecerdasan, pendidikan, atau pengetahuan. Seseorang dapat memiliki IQ yang tinggi, gelar akademik yang tinggi, serta pengalaman yang luas, namun tetap tidak memiliki hikmat Allah. Menurut Alkitab, hikmat adalah kemampuan untuk melihat kehidupan dari sudut pandang Allah, memahami kehendak-Nya, dan mengambil keputusan yang selaras dengan Firman-Nya.

Hikmat bukan hanya mengetahui apa yang benar, tetapi hidup sesuai dengan kebenaran itu. Hikmat yang sejati dimulai dengan takut akan Tuhan. Artinya, menghormati Allah, mengasihi-Nya, dan dengan sukarela tunduk kepada otoritas-Nya. Sikap ini bukan sekadar tampilan lahiriah, melainkan mengalir dari hati yang telah diubahkan oleh Roh Kudus.

II TAKUT AKAN TUHAN

 Diskusi

  • Apa arti “takut akan Tuhan” menurut Anda?
  • Dalam bidang kehidupan apa Anda paling membutuhkan hikmat Tuhan saat ini?

Takut akan Tuhan berarti:

  • Menghormati Allah.
  • Taat kepada Firman Tuhan.
  • Mempercayai Tuhan dalam setiap keadaan.

Takut akan Tuhan bukanlah ketakutan yang membuat kita menjauh dari-Nya. Sebaliknya, takut akan Tuhan adalah kesadaran yang mendalam akan hadirat, kekudusan, kebesaran, kemuliaan, kuasa, kasih, dan kebenaran-Nya. Kesadaran ini menghasilkan rasa hormat, kasih, serta kerinduan yang tulus untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan hati-Nya.

Alkitab juga berkata: “…mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”

Mengenal Allah berarti memiliki hubungan yang pribadi dan intim dengan-Nya, bukan sekadar memiliki informasi tentang Dia.

Semakin kita mengenal Allah, semakin kita mampu:

  • memahami Firman-Nya,
  • mengenali kehendak-Nya,
  • membedakan yang benar dan yang salah,
  • mengenali suara Tuhan di tengah berbagai suara dunia,
  • mengambil keputusan yang bijaksana.

Dalam Matius 7:24–27, Yesus mengajarkan bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang mendengar perkataan-Nya dan melakukannya. Hikmat tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dinyatakan melalui ketaatan. Sebaliknya, orang bodoh mendengar Firman Tuhan tetapi tidak menaatinya. Mereka mengetahui kebenaran, tetapi tidak menjadikannya sebagai dasar kehidupan mereka.

III. BERKAT DARI HIDUP DALAM HIKMAT

Orang yang hidup dalam hikmat Allah akan mengalami banyak berkat, di antaranya:

  1. Menerima arah hidup yang jelas

Hikmat memampukan kita memahami kehendak dan tujuan Allah sehingga hidup kita tidak disia-siakan, melainkan dipakai untuk menggenapi panggilan ilahi-Nya.

  1. Terlindung dari bahaya dan kesalahan yang merugikan

Hikmat menjaga kita dari tipu daya musuh, keputusan yang tergesa-gesa, kebodohan, dan kesalahan yang membawa kerugian serta penderitaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

  1. Memiliki kepekaan rohani

Karena hikmat berasal dari Roh Kudus, orang yang memilikinya akan menjadi peka terhadap suara Tuhan, pimpinan-Nya, dan teguran-Nya.

  1. Hidup dalam damai sejahtera

Orang yang berhikmat memilih untuk hidup dalam kebenaran. Ketaatan kepada Allah menghasilkan damai sejahtera yang sejati dan bertahan lama.

PENERAPAN

  1. Mulailah setiap hari dengan mencari Tuhan sebelum memulai pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.
  2. Bacalah dan renungkan satu pasal dari Kitab Amsal setiap hari.
  3. Berdoalah sebelum mengambil setiap keputusan. Jangan bertindak terburu-buru; mintalah tuntunan Tuhan agar setiap langkah yang Anda ambil selaras dengan prinsip-prinsip Firman-Nya.
  4. Mintalah hikmat kepada Tuhan setiap hari agar hidup Anda tetap terarah, efektif, dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya.

 PENUTUP

Hikmat adalah salah satu kebutuhan terbesar dalam kehidupan setiap orang percaya. Melalui hikmat Allah, kita dimampukan untuk mengambil keputusan yang benar, membangun hubungan yang sehat, memimpin dengan bijaksana, menghadapi tantangan hidup dengan iman, serta menjadi saksi Kristus yang setia melalui cara hidup kita.

Kiranya setiap kita terus bertumbuh dalam hikmat Allah sehingga setiap perkataan, sikap, dan keputusan kita memuliakan nama-Nya dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” (Yakobus 1:5)

PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. (Amsal 3:5)

PENDAHULUAN

Manusia cenderung lebih percaya kepada pengetahuan, yaitu sesuatu yang dapat dilihat dengan mata fisik, memiliki bukti, serta dapat dipahami melalui nalar dan logika, daripada percaya kepada Tuhan yang tidak kelihatan dan tidak dapat dipahami sepenuhnya secara rasional. percaya kepada Tuhan bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Percaya berarti memilih Tuhan sebagai dasar utama dalam mengambil keputusan sekalipun kita belum melihat dan memahami seluruh rencana-Nya.

Sebaliknya, orang beriman tidak bergantung atau menaruh kepercayaannya pada apa yang terlihat, melainkan kepada Allah, yang menopang segala sesuatu—baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat—dengan firman-Nya yang penuh kuasa (Ibrani 1:3). Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).

ISI

1. PERCAYA DENGAN SEGENAP HATI

  • Percaya dengan segenap hati berarti menyerahkan kendali hidup, menaruh harapan, dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Iman sejati tidak bergantung pada pikiran, logika, asumsi, perasaan, situasi, ataupun kondisi kita. Iman sejati bukanlah kepercayaan semu atau ilusi yang tidak berdasar, melainkan kepercayaan yang dibangun di atas pengenalan akan karakter Allah: siapa Allah bagi kita dan siapa kita di dalam Dia.
  • Bahwa Tuhan:
    • Baik dan setia, tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita.
    • Tidak pernah berdusta,
    • Tidak pernah terlambat,
    • Sanggup melakukan segala perkara,
    • Bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anak-Nya,
    • Rancangan-Nya bagi kita adalah rancangan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan
  • Bahwa kita:
    • Adalah anak-anak Allah dan ciptaan baru dalam Kristus,
    • Adalah ahli waris—yaitu orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah dan menerimanya bersama-sama dengan Kristus,
    • Menerima hidup yang berkelimpahan melalui karya keselamatan Kristus,
    • Menerima kuasa dan otoritas melalui kehadiran Roh Kudus untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, melakukan kehendak Allah, dan berkemenangan,
  • Ketika kita mengenal karakter Allah, kita akan belajar memercayai firman,
    janji, dan rancangan-Nya, sekalipun kita belum memahami atau melihat semuanya digenapi. Iman yang sejati selalu menghasilkan ketaatan. Seseorang tidak dapat berkata bahwa ia percaya kepada Tuhan apabila ia terus-menerus menolak melakukan firman-Nya. Kepercayaan kepada Tuhan terlihat melalui keputusan dan tindakan yang selaras dengan kehendak-Nya.6)

2. ALLAH BEKERJA MELAMPAUI PENGETAHUAN DAN LOGIKA MANUSIA

Pikiran, logika, nalar, dan pengetahuan manusia sangat terbatas. Semuanya hanya mampu memahami perkara-perkara yang terlihat atau berada dalam dimensi fisik. Sementara itu, Allah bekerja melampaui semua itu. Cara, waktu, dan rencana-Nya tidak dapat diukur ataupun diselami sepenuhnya oleh kapasitas akal budi manusia. Rencana Tuhan bagi kita bukan hanya menyangkut kehidupan kita saat ini, melainkan juga mencakup berbagai aspek dan pertimbangan yang berdampak pada generasi-generasi sesudah kita.

  • Yesaya 55:8-9 menjelaskan mengapa kita tidak mampu menyelami pekerjaan Tuhan: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Apa yang terlihat baik menurut kita belum tentu yang terbaik menurut pandangan Allah. Amsal 16:25 mengatakan, “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”

  • Saat kita hanya mengandalkan pengertian sendiri tanpa mencari kehendak Tuhan, keputusan yang kita ambil dapat menjadi keliru, tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan persoalan baru dan membahayakan. “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri..” (Yeremia 17:5-6).

3. AKUILAH TUHAN DALAM SEGALA LAKUMU

Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

  • Mengakui Tuhan berarti melibatkan-Nya, menyerahkan setiap keputusan kepada-Nya, serta memohon tuntunan Roh Kudus dalam setiap aspek kehidupan, bukan hanya dalam perkara-perkara rohani. Ketika kita menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus, maka Roh Kudus akan meluruskan jalan kita.
  • Tuhan meluruskan jalan bukan berarti menghilangkan semua kesulitan dan rintangan, melainkan mengarahkan langkah kita agar tetap berada dalam kehendak-Nya dan mencapai tujuan Ilahi. Jadi hidup orang yang beriman bukan berarti jalan hidup menjadi mulus dan lancar tanpa rintangan. Sebaliknya, iman percaya akan kehadiran Tuhan yang setia menyertai dan memampukan kita melewati kesukaran, persoalan, dan penderitaan dengan kesabaran, ketekunan, serta kemenangan. Orang percaya memahami bahwa setiap kesulitan diizinkan Tuhan untuk memurnikan iman dan membentuk karakter Kristus di dalam dirinya.
  • Jalan yang diluruskan juga berarti pikiran, motivasi hati, keinginan, dan tindakan kita diselaraskan dengan kehendak-Nya. Segala sesuatu yang tidak kudus, tidak benar, tidak menghasilkan buah, dan menghambat pertumbuhan iman akan dipotong oleh Tuhan (Yohanes 15:2).

 

4. CIRI ORANG YANG PERCAYA KEPADA TUHAN DENGAN SEGENAP HATI

  • Ada ketenangan batin, damai sejahtera, sukacita, dan pengharapan yang timbul dari pewahyuan akan firman Tuhan.
  • Menolak bersandar pada pengertian sendiri dan overthinking(kecenderungan berpikir secara berlebihan, terutama dengan membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk atau memprediksi hal-hal negatif di masa depan), serta tidak mengizinkan perasaan/emosi negatif memimpin hidupnya.
  • Menjaga pikiran, hati, dan perkataan dengan firman Tuhan, serta mengenakan perisai iman agar dapat memadamkan semua panah api si jahat.
  • Berserah sepenuhnya kepada kedaulatan Tuhan dan mempercayai cara serta waktu-Nya.
  • Membuktikan iman melalui langkah-langkah ketaatan.
  • Mengucap syukur dalam segala hal.
  • Tidak jemu-jemu berdoa.

PENUTUP

Hikmat dunia mengajarkan manusia untuk mengandalkan diri sendiri dan apa yang terlihat oleh mata. Sebaliknya, hikmat Allah mengajarkan kita untuk percaya kepada Tuhan dengan segenap hati dan tidak bersandar pada pengertian sendiri. Percaya kepada Tuhan bukan hanya ketika doa segera dijawab, tetapi juga ketika Tuhan berkata, “Tunggu.” Penundaan bukanlah penolakan. Dalam masa penantian, Tuhan sedang membentuk karakter, memperdalam iman, dan mempersiapkan kita untuk menerima berkat-Nya pada waktu yang tepat.

Oleh sebab itu, bangunlah iman di atas pengenalan akan karakter Allah serta pemahaman tentang siapa Allah bagi kita dan siapa kita di dalam Kristus. Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati adalah keputusan yang harus diperbarui setiap hari. Walaupun kita tidak mengetahui seluruh perjalanan di depan, kita mengenal Pribadi yang memimpin perjalanan itu. Karena itu, akuilah Dia dalam segala lakumu, hiduplah dalam ketaatan kepada firman-Nya, dan tetaplah berharap kepada-Nya. Tuhan tidak pernah gagal menepati janji-Nya; Ia akan menuntun kita kepada kehendak-Nya yang sempurna dan memampukan kita melewati setiap persoalan dengan kemenangan.