Author: EM

Home / Articles posted by EM
KRISTUS : Fondasi Hidup Orang Percaya

KRISTUS : Fondasi Hidup Orang Percaya

Senin. KRISTUS : Fondasi Hidup Orang Percaya

“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Matius 16:18 Fondasi adalah hal terpenting dari suatu bangunan. Mengapa? Sebab kualitas fondasi sebuah bangunan akan menentukan batasan seberapa kokoh dan seberapa tinggi bangunan bisa dibangun di atasnya. Begitu pula dalam kehidupan rohani, hukum yang sama juga berlaku. Kehidupan orang percaya itu diumpamakan seperti sebuah bangunan. Karena itu penting sekali memperhatikan fondasi hidup kita, sebab fondasi akan menentukan kualitas kerohanian kita.

Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25). Alkitab jelas menyatakan bahwa fondasi hidup orang percaya adalah Tuhan Yesus sendiri, bukan yang lain seperti tertulis: “…tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” (1 Korintus 3:11). Jadi, yang menjadi fondasi hidup orang percaya bukanlah sebuah pelayanan, keanggotaan atau jabatan dalam struktur keorganisasian di sebuah gereja dan sebagainya.

“Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” (1 Petrus 2:6).

Nama Petrus dalam bahasa Yunani adalah petros yang memiliki arti batu kecil atau kerikil. Adapun batu karang dalam ba-haasa Yunani adalah petra yang artinya batu besar. Artinya bahwa gereja tidak dibangun di atas pribadi Petrus, yang ada-lah seorang manusia lemah, penuh keterbatasan dan mudah sekali rapuh, seperti batu kecil atau kerikil. Gereja yang dibangun diatas pribadi manusia takkan mampu berdiri kokoh dan mudah sekali diombang-ambingkan. Bukti nyata adalah perjalanan rohani Petrus sendiri yang pernah menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali. Satu-satunya fondasi hidup yang ko-koh bagi orang percaya, tak lain dan tak bukan, hanyalah Tuhan Yesus sendiri. “Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota ben-tengku, aku tidak akan goyah.” Mazmur 62:3 Baca: Matius 16:13-20


Selasa. MEMUNGKIRI KEBESARAN

KUASA TUHAN “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? Tingginya seperti langit – apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati – apa yang dapat kauketahui?” Ayub 11:7-8

Sungguh mengherankan jika sampai hari ini masih ada orang yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Mereka bertanya: “Bagaimana kita dapat meyakini Tuhan itu benar-benar ada?” Padahal setiap hari kita melihat keajaiban-keajaiban alam terjadi di depan mata: keindahan bunga yang bermekaran di padang, pertumbuhan tanaman dan buah-buah yang dihasilkan, siapakah yang berkarya di balik itu? Belum lagi keagungan benda-benda di langit, di angkasa yang begitu menakjubkan. Siapa yang memerintahkan matahari untuk terbit dari ufuk timur dan memancarkan sinarnya secara penuh pada siang hari, serta bintang-bintang dan rembulan menerangi bumi pada malam hari? Mengapa selalu tepat waktu dan tidak pernah tertukar waktunya? Siapakah yang mengatur planet-planet sehingga semuanya berjalan dengan teratur tanpa dikendalikan oleh sua-tu alat yang terlihat oleh mata jasmani? Tuhan-lah tentu yang mengatur (baca Yeremia 33:25).

Kalau mau jujur, pasti kita akan mengakui bahwa semuanya itu ada yang mengatur dan mengendalikan, yaitu Tuhan, “Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya. Utara dan selatan, Engkaulah yang menciptakannya, Tabor dan Hermon bersorak-sorai karena nama-Mu. Punya-Mulah lengan yang perkasa, kuat tangan-Mu dan tinggi tangan kanan-Mu.” (Mazmur 89:12-14). Jelas bah-wa alam semesta dan semua yang ada di bawah langit dan di atas bumi telah memperlihatkan keberadaan Tuhan sebagai Sang Pencipta.

Adalah sebuah kebodohan jika manusia berusaha untuk memungkiri, meragukan dan bahkan menolak Tuhan secara mentah-mentah, serta menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada. Karena itu mereka dengan sengaja tak mau taat kepada firman yang telah ditetapkan di dalam Alkitab. Siapakah kita ini se-hingga merasa gengsi untuk mengakui bahwa sesungguhnya kita ini penuh dengan keterbatasan dan membutuhkan Juruselamat dalam hidup ini? Bapa telah menyediakan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus, tetapi banyak orang dengan sombong tak mau mengakui, apalagi menerima-Nya.

“Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.” (Mazmur 33:9). Masihkah kita tak percaya kepada-Nya? Baca: Ayub 11

SEORANG MURID BELAJAR MENGIKUTI YESUS

SEORANG MURID BELAJAR MENGIKUTI YESUS

“Setiap hari ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
(Lukas 9:23)

PENDAHULUAN

Kita diselamatkan bukan hanya untuk menjadi orang percaya, dibaptis, datang beribadah, menerima berkat, dan memperoleh hidup kekal. Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk menjadi murid-Nya. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…”
Matius 28:19–20. Menjadi murid bukan sekadar mengetahui lebih banyak tentang Alkitab, mengembangkan karunia, atau melakukan pelayanan.

Seorang murid belajar mengikuti Gurunya. Melalui proses pemuridan, kita memahami bahwa menjadi murid Yesus bukan hanya percaya kepada-Nya, tetapi belajar mengikuti Dia setiap hari—menempatkan kehendak Tuhan di atas kehendak pribadi dan memilih jalan-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, pertanyaannya bukan hanya: “Apakah saya percaya kepada Yesus?”
Tetapi: “Apakah saya sungguh-sungguh mengikuti Yesus?”

Bagaimana cara seorang murid mengikut Yesus?

1. MENYANGKAL DIRI

Menyangkal diri bukan berarti membenci diri sendiri atau menganggap diri tidak berharga. Menyangkal diri berarti menempatkan kehendak Allah di atas kehendak pribadi. Artinya, kita belajar berkata: “Bukan kehendakku yang terutama, tetapi kehendak Tuhan.”
Yesus sendiri memberikan teladan ketika berdoa di Taman Getsemani: “Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Lukas 22:42).

Menyangkal diri berarti bahwa ketika keinginan saya bertentangan dengan firman Tuhan, saya memilih firman Tuhan. Bagaimana kita mengetahui kehendak Tuhan?

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2).

Pikiran kita perlu terus diperbarui oleh firman Tuhan dan pekerjaan Roh Kudus. Semakin pikiran kita diperbarui, semakin kita belajar mengenali apa yang berkenan kepada Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, menyangkal diri dapat berarti:

Memilih yang benar meskipun tidak populer.

Mengampuni ketika kita ingin membalas.

Mengatakan “tidak” kepada dosa dan godaan.

Menahan ego ketika kita ingin menang sendiri.

Memilih kehendak Tuhan ketika berbeda dengan keinginan kita.

Menyangkal diri berarti: Tuhan menjadi yang terutama.

2. MEMIKUL SALIB

Yesus berkata: “…memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23).

Memikul salib berarti bersedia membayar harga untuk tetap taat kepada Kristus. Mengikuti Yesus tidak selalu berarti memilih jalan yang paling nyaman.

Kadang-kadang kita harus memilih:

Ketaatan daripada kenyamanan.

Kebenaran daripada penerimaan manusia.

Pengampunan daripada kepahitan.

Kehendak Tuhan daripada keinginan pribadi.

Dipimpin Roh Kudus daripada mengikuti keinginan daging.

Berkenan kepada Tuhan daripada berusaha menyenangkan semua orang.

Yesus sendiri menunjukkan teladan ketaatan kepada Bapa. Ia tetap taat sekalipun jalan yang dihadapi-Nya sangat berat. “Aku telah disalibkan dengan Kristus…” (Galatia 2:19).
Memikul salib bukan berarti mencari penderitaan. Memikul salib berarti tetap memilih Kristus ketika ketaatan kepada-Nya membutuhkan pengorbanan.

3. MENGIKUTI YESUS SETIAP HARI

Perhatikan satu kata penting dalam Lukas 9:23: SETIAP HARI.
Menjadi murid bukan keputusan satu kali yang kemudian selesai. Mengikuti Yesus adalah komitmen yang terus dijalani setiap hari.

Setiap hari kita menghadapi pilihan:

Mengikuti firman atau mengikuti perasaan.

Mengikuti kebenaran atau mengikuti tekanan lingkungan.

Mengampuni atau menyimpan kepahitan.

Berjalan dalam iman atau hanya berdasarkan apa yang kita lihat.

Mengikuti kehendak Tuhan atau kehendak diri sendiri.

Karena itu, menjadi murid berarti setiap hari kita berkata: “Yesus, hari ini saya memilih mengikuti Engkau.” Bukan hanya pada hari Minggu. Bukan hanya ketika berada di gereja.
Tetapi di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dalam keluarga, dalam hubungan, dalam penggunaan uang, dalam perkataan, dan bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

PERTANYAAN DISKUSI COOL

  1. Apa perbedaan antara percaya kepada Yesus dan mengikuti Yesus?
  2. Dalam area kehidupan apa yang paling sulit bagi kita untuk berkata:
    “Bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu”?
  3. Menurut Roma 12:2, mengapa pembaruan pikiran penting untuk mengetahui kehendak Allah?
  4. Apa contoh “memikul salib” dalam kehidupan kita sehari-hari?
  5. Pernahkah kita mengetahui apa yang benar menurut firman Tuhan, tetapi tetap memilih apa yang kita inginkan? Mengapa?
  6. Apa satu hal yang Tuhan sedang minta kita tinggalkan, ubah, atau taati?

KESIMPULAN

Menjadi murid berarti belajar mengikuti Yesus.

MENYANGKAL DIRI → Menempatkan kehendak Tuhan di atas kehendak pribadi.

MEMIKUL SALIB → Tetap taat meskipun membutuhkan pengorbanan.

MENGIKUTI YESUS SETIAP HARI → menjadikan Kristus sebagai Tuhan atas seluruh kehidupan kita.

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.”
(Lukas 9:24)

ONE THING TO REMEMBER

A disciple does not only believe in Jesus. A disciple follows Jesus.

Seorang murid bukan hanya percaya kepada Yesus. Seorang murid belajar mengikuti Yesus.
Tutup dan berdoa, supaya 1 minggu ke depan ada langkah nyata yang dapat saya lakukan minggu ini untuk mengikuti Yesus.

MENJADI BERKAT: Punya Beban Ilahi

MENJADI BERKAT: Punya Beban Ilahi

Senin. MENJADI BERKAT: Punya Beban Ilahi (1)
Baca: Kisah Para Rasul 4:32-37

“Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa…” Kisah 4:34

Hidup yang menjadi berkat adalah panggilan Tuhan bagi setiap orang percaya. “…Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.” (Kisah 4:36), adalah salah satu contoh orang yang hidupnya menjadi berkat atau kesaksian bagi orang lain. Orang yang menjadi berkat adalah orang yang menerima beban Ilahi, sehingga ia memiliki empati ketika melihat satu kebutuhan yang dirasakan oleh orang lain atau lingkungan, dan kemudian mengabdikan diri dalam pelayanan.

Ketika gereja mulai bertumbuh banyak sekali petobat baru, di mana kebanyakan adalah orang-orang yang berasal dari keluarga sederhana, secara materi pas-pasan dan bisa dikatakan hidup dalam kekurangan. Untuk dapat melayani mereka diperlukan orang yang memiliki hati yang terbeban. Muncullah Yusuf (para rasul lebih suka menyebutnya Barnabas), anak penghiburan, yang ketika melihat kebutuhan jemaat hatinya terbeban sehingga ia rela menjual ladang miliknya dan kemudian uang hasil penjualan tersebut diserahkan kepada para rasul untuk membantu jemaat yang hidup berkekurangan. “Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.” (2 Korintus 8:13-14).

Orang yang menyadari betapa besar kasih Tuhan dalam hidupnya pasti tidak akan berdiam diri, melainkan berusaha melakukan sesuatu untuk membalas kasih-Nya. Dan bukti kasihnya kepada Tuhan adalah kerelaannya untuk berkorban seperti yang dilakukan oleh Yusuf Barnabas, yang rela menjual tanahnya. Tanah atau ladang adalah sesuatu yang sangat berharga. Artinya Yusuf rela mempersembahkan sesuatu yang berharga yang dimilikinya untuk melayani jiwa-jiwa. Hal itu menunjukkan bahwa ia menempatkan pekerjaan Tuhan dan kepentingan sesama lebih dari kepentingan diri sendiri. Yusuf sadar benar bahwa Tuhan Yesus adalah Raja di atas segala raja, Tuhan segala tuan, yang berhak dan layak untuk menerima segala yang terbaik dari hidup kita.


Selasa. MENJADI BERKAT: Punya Beban Ilahi (2)
Baca: Kisah Para Rasul 4:32-37

“Ia menjual ladang miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.” Kisah 4:37

Untuk memberi yang terbaik diperlukan sebuah pengorbanan, bukan hanya korban materi saja tapi juga korban tenaga, waktu dan pikiran. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Ada banyak orang Kristen tampak menggebu-gebu melayani pekerjaan Tuhan ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan. Begitu dihadapkan pada masalah, gesekan dan benturan, semangat mereka melayani Tuhan pun mengendur, apalagi bila dituntut untuk berkorban, tanpa basa-basi mereka langsung mundur secara teratur.

Tuhan Yesus adalah teladan utama dalam hal melayani. Ia bukan sekedar melayani orang-orang dengan pengajaran-Nya, tapi Ia rela mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib. Bagaimana dengan kita? Maukah kedagingan kita disalibkan setiap hari? Maukah kita menyangkal diri dan memikul salib? Yesus berkata, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Matius 10:38). Pelayanan sejati menuntut pengorbanan! Melayani pekerjaan Tuhan dan melayani jiwa-jiwa harus dilakukan sepenuh hati dan butuh kerelaan hati untuk berkorban. Tidak ada alasan orang percaya tidak melayani karena Tuhan telah memberi kita karunia-karunia. “Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu…” (2 Timotius 1:6).

Melayani bisa dimulai dari hal yang sederhana atau sesuatu yang kecil. Dinyatakan bahwa orang yang setia dalam perkara kecil akan diberikan tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar oleh Tuhan (baca Lukas 16:10). Setialah mengerjakan apa pun yang Tuhan percayakan dan jangan menganggap remeh. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (Kolose 3:23-24).

Ingin menjadi berkat? Berilah yang terbaik dan lakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati!


Rabu. ORANG PERCAYA: Hamba-Hamba Tuhan

Baca: Roma 6:15-23

“Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Roma 6:18

Setiap orang percaya, yaitu orang-orang yang telah diselamatkan di dalam Kristus, menyandang status sebagai hamba Tuhan. Seringkali ketika mendengar istilah ‘hamba’ Tuhan pikiran kita langsung tertuju kepada pendeta atau gembala sidang sebuah gereja.

Alkitab menyatakan pada dasarnya ada kekuatan yang luar biasa yang dapat memperhamba hidup manusia. Iblis dengan kuasanya menawarkan pertolongan, kesembuhan, kekayaan dan semua hal yang sifatnya hanya semu, karena itu hanyalah sebuah trik untuk menjerat dan membelenggu hidup manusia. Ketika manusia sudah masuk perangkapnya mereka akan diperhamba oleh Iblis, diperhamba oleh dosa. Alkitab memperingatkan: “Lawanlah dia dengan iman yang teguh…” (1 Petrus 5:9).

Sebagai hamba Tuhan kita mutlak menghambakan diri kepada-Nya, menjadikan Kristus sebagai Tuan atas hidup kita sepenuhnya. Jadi setiap manusia hanya dihadapkan pada dua pilihan: menjadi hamba Tuhan (hamba kebenaran) atau hamba Iblis (hamba dosa). Waktu kita menyerahkan hidup kita kepada Kristus, kita menjadi hamba kebenaran. Menjadi hamba kebenaran artinya harus melakukan apa yang berkenan kepada Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan. “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:20). Setelah seseorang dibeli dan kemudian menjadi hamba kebenaran berarti kita tidak lagi
menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata, tetapi menjadi senjata kebenaran (baca
Roma 6:13).

Karena kita adalah hamba, kita harus selalu siap bekerja keras melaksanakan tanggung jawab, tanpa menuntut hak. Namun seringkali kita hanya mengedepankan hak atau menuntut hak saja, tapi mengabaikan kewajiban. Sebagai hamba tidak seharusnya kita berkata bahwa kita sudah berbuat banyak bagi Tuhan.

“Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba
yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Lukas 17:10).

Kalau kita menjadi hamba yang setia Tuhan tidak akan pernah lalai menepati janji-Nya. “…hakku terjamin pada TUHAN dan
upahku pada Allahku.” Yesaya 49:4


Kamis. PANDANGLAH KE ATAS, JANGAN MENUNDUK!
Baca: Ibrani 12:1-4

“Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” Ibrani 12:3

Lemah, tawar hati dan tak berdaya seringkali menyusupi hidup kita pada saat kita sedang berada dalam masalah, tekanan atau situasi-situasi sulit. Hal ini bisa terjadi ketika arah pandang kita hanya tertuju pada situasi atau keadaan yang ada. Akibatnya hati dan pikiran kita terus dihujani tanpa henti dengan hal-hal yang negatif. Kalau pikiran sudah penuh hal-hal negatif, sadar atau tidak, kita sedang berjalan menuju kegagalan dan kehancuran.

Jika kita tidak segera menyadari dan tetap memandang ke bawah bukan ke atas, tidak membuat perubahan arah pandang, manusia rohani kita akan kehilangan kuasanya, karena firman Tuhan tidak dapat bekerja sepenuhnya di dalam kita, terhalang oleh rasa takut, kuatir, cemas dan sebagainya. Tertulis: “Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.” (Matius 13:22). Karena iman kita adalah hasil dari firman (baca Roma 10:17), maka itu berarti iman kita akan menjadi layu. Yang harus kita lakukan untuk menghentikan reaksi kelemahan yang ada adalah mengarahkan mata kepada Tuhan Yesus, “…yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,” (Ibrani 12:2).

Seorang pelari yang berlari di atas lintasan dengan membiarkan kepalanya tetap tertunduk pasti akan dengan mudah dilewati oleh lawan-lawannya, tertinggal, dan menuai kekalahan. Ingin berkemenangan? Tegakkanlah kepala Saudara dan pandang terus Tuhan Yesus. Ingatlah selalu akan Tuhan dan firman-Nya. Biarlah pemikiran-Nya menjadi pemikiran kita. Inilah yang dilakukan oleh rasul Paulus: “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,” (2 Korintus 10:5b). Palingkan pandangan dari semua situasi atau keadaan di sekitar, dan arahkan mata kepada Sumber Sorgawi. Tuhan dapat memelihara hidup kita di segala situasi. Tuhan ada di atas, tapi Iblis ada di bawah, tepat di bawah kaki Saudara.

“Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” Mazmur 16:8


Jumat. PERABOT MULIA ATAU PERABOT BIASA
Baca: 2 Timotius 2:20-26

“Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah, yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.” 2 Timotius 2:20

Sesungguhnya Tuhan memiliki rencana besar bagi setiap orang percaya, karena itu kita perlu diproses, dibentuk dan dipersiapkan Tuhan terlebih dahulu supaya kita benar-benar layak untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik, yang telah dipersiapkan-Nya. Namun banyak orang Kristen yang berkilah: “Tak mungkin aku dapat menjadi alat-Nya Tuhan untuk tujuan yang mulia, karena aku orang biasa dan tak punya kemampuan apa-apa.”

Alkitab menyatakan bahwa di dalam rumah yang besar, terdapat dua jenis perabot: 1. Perabot dari emas dan perak untuk maksud yang mulia. 2. Perabot dari kayu dan tanah untuk maksud yang kurang mulia. Apakah kita masuk dalam jenis perabot yang mulia atau yang biasa saja bukan ditentukan oleh latar belakang pendidikan, status sosial, warna kulit atau embel-embel lainnya, tapi sangat ditentukan oleh keputusan dan pilihan hidup kita. “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (2 Timotius 2:21). Untuk menjadi perabot Tuhan untuk maksud yang mulia, dikuduskan, dan dipandang layak mengerjakan pekerjaan mulia, ada harga yang harus dibayar yaitu kita harus mau menyalibkan kedagingan kita, mau memisahkan diri dari hal-hal yang jahat, cemar dan najis.

Mana yang Saudara pilih? Tidak sedikit orang Kristen memilih untuk melakukan pekerjaan ‘biasa’ bagi Tuhan dan merasa puas menjadi perabot untuk maksud yang kurang mulia. Alasan utamanya adalah mereka tidak mau membayar harga! Hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai tekad yang kuat untuk memisahkan diri dari ‘dunia’ dan lebih menuruti keinginan dagingnya. Mereka enggan keluar dari comfort zone dan tidak bersedia berpaling dari jalan duniawi untuk berjalan terus dengan Tuhan. Sampai kapan kita seperti itu? Ingat! Hari kedatangan Tuhan sudah sangat dekat! Mari kita pergunakan waktu-waktu yang sisa ini untuk bersungguh-sungguh di dalam Tuhan, memaksimalkan setiap potensi dan karunia yang ada dan melakukan yang terbaik bagi-Nya.

Tanpa mau membayar harga, kita tidak akan pernah menjadi perabot yang mulia!


Sabtu. MENABUR GANDUM: Menuai Semak Duri (1)
Baca: Yeremia 12:7-13

“Mereka telah menabur gandum, tetapi yang dituai adalah semak duri; mereka telah bersusah payah, tetapi usaha mereka tidak berguna; mereka malu karena hasil yang diperoleh mereka, akibat dari murka TUHAN yang menyala-nyala.” Yeremia 12:13

Di dalam kehidupan ini, ada hukum rohani sekaligus hukum alami yaitu hukum tabur-tuai. Ada tertulis: “Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” (Kejadian 8:22). Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Tuhan adalah Tuhan dari tuaian, dan tuaian itu dipanen pada waktu-Nya, bukan waktu kita. Kalau kita menabur kebaikan, maka yang akan kita tuai adalah kebaikan. Sebaliknya kalau kita menabur hal-hal yang jahat, dampaknya pun akan kembali ke diri sendiri, kita akan menuai hal-hal yang jahat pula. “Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga.” (Ayub 4:8). Karena itu perhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang kita tabur selama kita hidup di dunia ini.

Secara teori, orang yang menabur gandum tentunya akan menuai gandum juga. Tetapi ayat nas menyatakan bahwa ada orang yang menabur gandum namun yang dituai adalah semak duri. Ini suatu keadaan yang sangat menyakitkan. Mengapa bisa terjadi? Karena Tuhan memperhatikan motivasi seseorang dalam melakukan segala sesuatu, “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” (Amsal 16:2) dan “Ia mengetahui rahasia hati!” (Mazmur 44:22). Ketika kita memiliki motivasi yang tidak benar, jahat atau terselubung, Tuhan tahu secara persis, karena itu Ia tidak akan berkenan dengan apa pun yang kita perbuat. Ia berkata, “Banyak gembala telah merusakkan kebun anggur-Ku, memijak-mijak tanah-Ku, dan membuat tanah kedambaan-Ku menjadi padang gurun yang sunyi sepi.” (Yeremia 12:10).

Motivasi atau sikap hati menentukan tuaian! Banyak orang bersikap egois dan mau hidup seenak sendiri dengan menabur semak duri, tapi berharap menuai gandum. Ada pula orang yang menabur gandum tapi disertai motivasi yang salah, maka semak durilah yang mereka tuai. Yang harus diperhatikan saat menabur antara lain: milikilah hati yang bersih. Menabur dalam hal apa pun, untuk sesama atau untuk Tuhan dan pekerjaan-Nya, harus didasari dengan sikap hati yang bersih.


Minggu. MENABUR GANDUM: Menuai Semak Duri (2)
Baca: Matius 13:1-8

“Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” Matius 13:8

Seluruh cara dan motivasi orang menabur pasti akan menentukan tuaian. Perhatikan sikap hati saat menabur, jangan sampai ada motif terselubung atau tendensi yang tidak benar. Ini yang dimaksudkan dengan menabur gandum, tetapi hati penuh semak duri. “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:7-8).

Apakah lagi yang harus diperhatikan saat menabur? Tekun dan sabar. Petani yang sedang menabur tidak seketika menuai, ia harus menunggu sampai benih itu tumbuh. Butuh proses dan waktu! Terkadang petani harus menghadapi panas terik matahari, hujan, angin atau badai. Kalau ia tidak tekun dan sabar ia pasti akan menyerah dan berputus asa. Yakobus menasihati, “Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.” (Yakobus 5:7). Pada saatnya pasti akan menghasilkan sesuatu yang indah. “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.” (2 Timotius 2:6).

Saat berada dalam ‘proses’ tak perlu kita menjadi panik, kecewa, mengeluh atau bersungut-sungut, sebab proses itu sifatnya hanya sementara waktu. Belajarlah untuk sabar dan berserah penuh kepada Tuhan. Lakukan yang terbaik. Ada tertulis: “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga,” (Pengkhotbah 9:10). Artinya apa pun yang kita kerjakan dalam hidup ini lakukanlah itu dengan segenap hati, jangan setengah-setengah. Tuhan telah memperlengkapi kita dengan segala potensi, namun jika kita mengerjakan segala sesuatu yang dipercayakan-Nya dengan setengah-setengah, berarti kita telah menyia-nyiakan potensi yang Tuhan beri.

“Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” Pengkhotbah 11:6


Minggu (Tambahan). KRISTUS: Fondasi Hidup Orang Percaya
Baca: Matius 16:13-20

“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Matius 16:18

Fondasi adalah hal terpenting dari suatu bangunan. Mengapa? Sebab kualitas fondasi sebuah bangunan akan menentukan batasan seberapa kokoh dan seberapa tinggi bangunan bisa dibangun di atasnya. Begitu pula dalam kehidupan rohani, hukum yang sama juga berlaku. Kehidupan orang percaya itu diumpamakan seperti sebuah bangunan. Karena itu penting sekali memperhatikan fondasi hidup kita, sebab fondasi akan menentukan kualitas kerohanian kita.

Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25). Alkitab jelas menyatakan bahwa fondasi hidup orang percaya adalah Tuhan Yesus sendiri, bukan yang lain seperti tertulis: “…tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” (1 Korintus 3:11). Jadi, yang menjadi fondasi hidup orang percaya bukanlah sebuah pelayanan, keanggotaan atau jabatan dalam struktur keorganisasian di sebuah gereja dan sebagainya. “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” (1 Petrus 2:6).

Nama Petrus dalam bahasa Yunani adalah petros yang memiliki arti batu kecil atau kerikil. Adapun batu karang dalam bahasa Yunani adalah petra yang artinya batu besar. Artinya bahwa gereja tidak dibangun di atas pribadi Petrus, yang adalah seorang manusia lemah, penuh keterbatasan dan mudah sekali rapuh, seperti batu kecil atau kerikil. Gereja yang dibangun di atas pribadi manusia takkan mampu berdiri kokoh dan mudah sekali diombang-ambingkan. Bukti nyata adalah perjalanan rohani Petrus sendiri yang pernah menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali. Satu-satunya fondasi hidup yang kokoh bagi orang percaya, tak lain dan tak bukan, hanyalah Tuhan Yesus sendiri.

“Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” Mazmur 62:3

KEDEWASAAN ROHANI TERLIHAT DARI KARAKTER

KEDEWASAAN ROHANI TERLIHAT DARI KARAKTER

sambungan minggu lalu…

IV TUHAN MEMBENTUK KARAKTER MELALUI PROSES

Karakter biasanya tidak dibentuk di zona nyaman. Tuhan sering menggunakan keadaan yang tidak kita inginkan—masalah, tekanan, penderitaan, kegagalan, penolakan, kelemahan, bahkan pujian dan keberhasilan—untuk membentuk karakter kita.

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin…”  

Yeremia 17:10a

“Setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.”  

Yohanes 15:2b

Melalui proses, Tuhan menyingkapkan apa yang ada di dalam hati kita, meluruskan motivasi, memperbaiki cara pandang, menanggalkan hal-hal yang tidak berkenan kepada-Nya, memperkuat iman, memperbesar kapasitas hati, dan mempersiapkan kita untuk tanggung jawab yang lebih besar.

Karena itu, ketika menghadapi proses, jangan hanya bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi?” Belajarlah bertanya, “Tuhan, apa yang sedang Engkau bentuk di dalam saya melalui proses ini?”

V. KEDEWASAAN ROHANI TERLIHAT DARI CARA KITA MERESPONI

Kita tidak selalu dapat mengontrol apa yang terjadi kepada kita, tetapi kita dapat belajar mengontrol bagaimana kita meresponsnya.

Ketika disakiti, kita belajar mengampuni. Ketika dikritik, kita belajar mendengar. Ketika kecewa, kita belajar tetap percaya. Ketika marah, kita belajar menguasai diri. Ketika berhasil, kita belajar tetap rendah hati. Ketika gagal, kita belajar bangkit dan bertumbuh.

Dewasa bukan berarti tidak pernah marah, kecewa, atau terluka. Dewasa berarti kita tidak membiarkan emosi menentukan arah hidup kita. Kita membawa emosi, pikiran, dan keinginan kepada Tuhan dan belajar merespons sesuai dengan Firman-Nya.

VI. PENGUASAAN DIRI ADALAH TANDA KEKUATAN ROHANI

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan; orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota.” Amsal 16:32

Dunia sering mengukur kekuatan dari kemampuan mengalahkan atau mengendalikan orang lain. Alkitab memberikan perspektif yang berbeda: kekuatan terbesar adalah kemampuan menguasai diri sendiri.

Medan perang terbesar sering kali bukan di luar diri kita, tetapi di dalam hati, pikiran, emosi, ego, dan keinginan daging.

Orang yang belum dewasa secara rohani mudah dikuasai emosi, tersinggung, menyalahkan orang lain, membalas ketika disakiti, ingin selalu membuktikan dirinya benar, sulit mendengarkan, mengikuti keinginan sesaat, atau mengambil keputusan secara impulsif.

Sebaliknya, orang yang dewasa secara rohani belajar tetap tenang di bawah tekanan, mendengarkan, menerima koreksi, mengakui kesalahan, mengampuni, menjaga perkataan, tidak gegabah mengambil keputusan, dan tetap setia sekalipun prosesnya sulit.

Pahlawan sejati bukan hanya orang yang mampu menaklukkan sesuatu di luar dirinya, tetapi orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri.

VII. BAGAIMANA MEMBANGUN PENGUASAAN DIRI?

1. Hidup dipimpin oleh Roh Kudus.

Serahkan pikiran, perasaan, keinginan, dan keputusan kepada tuntunan-Nya.

“Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”

Galatia 5:16

2. Belajar berkata “tidak” kepada diri sendiri.

Tidak semua yang kita inginkan harus dilakukan. Tidak semua yang kita rasakan harus dikatakan. Tidak semua pikiran harus dipercayai, dan tidak semua kesempatan harus diambil.

3. Melatih diri melalui disiplin.

Puasa, menjaga perkataan, mengatur waktu, membatasi media sosial dan hiburan, mengendalikan pengeluaran, serta menyelesaikan tanggung jawab sebelum mencari kesenangan adalah latihan penguasaan diri.

4. Menaklukkan pikiran dengan Firman Tuhan.

Tidak semua pikiran yang muncul adalah kebenaran. Pikiran yang salah dan negatif harus ditolak dan digantikan dengan kebenaran Firman Tuhan.

Kedewasaan rohani berarti belajar membawa pikiran, perasaan, keinginan, perkataan, dan tindakan semakin tunduk kepada Kristus.

VIII. KASIH ADALAH BUKTI KARAKTER YANG DEWASA

Kita tidak dapat berbicara tentang karakter Kristus tanpa berbicara tentang kasih.

1 Korintus 13:4–7 menggambarkan kasih sebagai sesuatu yang sabar, murah hati, tidak sombong, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak mudah marah, dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya mengasihi Tuhan?” tetapi juga, “Apakah orang-orang di sekitar saya dapat merasakan kasih Tuhan melalui karakter saya?”

Karakter Kristus bukan hanya sesuatu yang kita katakan. Karakter Kristus harus terlihat dan dirasakan melalui kehidupan kita. Ketika kita hidup dalam keintiman dengan Roh Kudus, Dia membentuk kita semakin serupa dengan Kristus.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”  

Galatia 5:22–23

Buah tidak muncul dalam satu malam. Demikian juga karakter Kristus dibentuk melalui proses, ketaatan, dan perjalanan kita bersama Tuhan.

PENUTUP

Dunia tidak kekurangan orang pintar, berbakat, berpengetahuan, atau memiliki kemampuan luar biasa. Namun, dunia membutuhkan orang-orang yang memiliki karakter seperti Kristus: berintegritas, jujur, rendah hati, setia, dapat dipercaya, mampu menguasai diri, dan melayani dengan kasih.

Karunia diberikan untuk melayani, membangun tubuh Kristus, dan memuliakan Tuhan. Namun, karakter menentukan bagaimana kita menggunakan karunia tersebut. Karunia perlu disertai karakter yang dewasa agar pelayanan kita menjadi berkat dan memuliakan Tuhan.

Karunia menunjukkan apa yang dapat kita lakukan.

Karakter menunjukkan siapa kita.

Kedewasaan rohani terlihat ketika karakter Kristus semakin nyata dalam kehidupan kita.

Karena itu, jangan hanya berdoa, “Tuhan, pakai saya.” Berdoalah juga, “Tuhan, bentuk saya.”

Jangan hanya meminta Tuhan memperbesar pelayanan kita. Mintalah Tuhan membentuk karakter kita. Sebab Tuhan bukan hanya mempersiapkan kita untuk melakukan sesuatu yang besar bagi-Nya; Tuhan sedang membentuk kita menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus.

“…sampai Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”  

Galatia 4:19

Itulah kedewasaan rohani: bukan sekadar semakin banyak tahu, semakin banyak melayani, atau semakin banyak memiliki karunia, tetapi semakin banyak Kristus terlihat dalam diri kita.

KEDEWASAAN ROHANI TERLIHAT DARI KARAKTER.

DUNIA YANG SEMAKIN GENTING

DUNIA YANG SEMAKIN GENTING

Senin. DUNIA YANG SEMAKIN GENTING
Baca: Lukas 21:25-33

“Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.” Lukas 21:26

Stres adalah satu kata yang menggambarkan keadaan manusia di zaman sekarang ini. Secara umum arti kata stres adalah gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar; ketegangan. Banyak orang mengalami tekanan dan ketakutan karena terjadinya hal-hal di bumi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Alkitab sudah menyatakan bahwa menjelang kedatangan Kristus yang kedua kalinya manusia akan mengalami berbagai masalah hidup yang seolah-olah tak ada jalan keluarnya. Bukankah hal itu sudah dan sedang terjadi? Setiap hari kita disuguhi dengan berita-berita yang mengejutkan, bukan hanya tentang kejadian-kejadian yang ada di luar negeri, tapi juga berita-berita di dalam negeri sendiri. Hal-hal yang aneh terjadi di mana-mana!

Sesungguhnya yang terutama harus diperhatikan adalah kata Tuhan Yesus: “…dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” (Matius 24:10-12). Karena tekanan-tekanan hidup inilah sering dijumpai orang mudah sekali tersinggung, tersulut emosi, marah dan akhirnya melakukan tindakan-tindakan yang di luar batas kewajaran. Saat ini beban pekerjaan para psikolog semakin bertambah karena harus melayani pasien yang semakin hari semakin banyak jumlahnya. Tak terkecuali para pengacara juga kebanjiran order karena semakin hari semakin banyak kasus, dan semakin banyak pula orang yang ingin dibela perkaranya, menuntut keadilan ditegakkan.

Mari, yang manusia butuhkan sekarang adalah Tabib Agung, penyembuh segala jenis penyakit dan luka-luka batin. Perhatikan undangan Kristus ini: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Kristus bukan sekedar memberi kelegaan, tapi Dia juga sanggup melepaskan kita dari semua beban fisik maupun mental.

Dalam kegentingan dunia ini kita harus makin melekat kepada Tuhan, sebab “…orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Matius 24:13


Selasa. ANGKATLAH MUKAMU: Penyelamatan Sudah Dekat
Baca: Lukas 21:25-33

“Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.” Lukas 21:28

Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, cepat atau lambat, langit dan bumi pasti akan berlalu. Semua yang ada di bawah langit dan di atas bumi akan hancur lebur. Masihkah kita disibukkan dengan perkara-perkara yang ada di dunia ini? Masihkah kita berlomba sedemikian rupa mengumpulkan harta dunia? Masihkah kita memiliki cara hidup yang duniawi? Sampai kapan kita berubah? Ada tertulis: “Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.” (Pengkhotbah 9:12).

Tuhan selalu berkenan kepada orang-orang yang senantiasa mengarahkan pandangannya kepada-Nya dan memalingkan mukanya dari segala sesuatu yang ada di dunia ini. Memalingkan muka dari segala sesuatu termasuk dari cara berpikir duniawi dan hanya memandang akan kebesaran dan kekuatan Tuhan saja yang sanggup mengubah segala perkara. Memandang Tuhan sebagai tempat perlindungan dan penyelamatan. Seperti Nuh yang tetap fokus membuat bahtera dan memalingkan mukanya terhadap orang-orang yang mencemoohnya. Ketaatan yang Nuh bayar dalam hidupnya mendatangkan upah yang besar: ia dan seisi keluarganya selamat karena ketaatannya membuat bahtera yang diperintahkan Tuhan. Bahtera adalah lambang dari Yesus Kristus, yang merupakan Gunung Batu Keselamatan, tempat pelarian dan perlindungan bagi mereka yang senantiasa berharap kepada-Nya.

Dewasa ini pikiran manusia telah dirusak, disesatkan dan dicemari oleh berbagai kekacauan dan kabar-kabar yang menggetarkan. Sebagai orang percaya kita tak perlu gentar menghadapinya, karena dari semula Tuhan Yesus telah memberitahukan dan memperingatkan kita bahwa segalanya pasti terjadi, yaitu peperangan, pemberontakan, gempa bumi, kelaparan dan bermacam-macam musibah lainnya. Yang teramat penting untuk direnungkan adalah: “Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.” (ayat nas).

Setiap orang yang tetap dalam ‘bahtera’ Kristus akan beroleh keselamatan kekal!


Rabu. TETAP DALAM KEADAAN SUCI
Baca: 1 Yohanes 3:1-10

“Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.” 1 Yohanes 3:3

Ketika tugas Tuhan Yesus di bumi selesai Ia kembali kepada Bapa di sorga. Sebelum pergi Ia meninggalkan pesan yang menguatkan: “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14:3). Karena itu kita tak perlu gelisah. Alkitab menyatakan bahwa “…Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” (Matius 16:27).

Dalam menantikan kedatangan Kristus yang harus kita lakukan adalah tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya, agar kita tetap dalam keadaan suci dan tak bernoda. Rasul Yohanes menasihati: “Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya.” (1 Yohanes 2:28). Kita takkan malu di hadapan Tuhan jika kita dalam keadaan suci bersih. Jangan sampai ketika Kristus datang Ia berkata kepada kita demikian: “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.” (Wahyu 3:16-18).

Oleh karena itu “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (Yohanes 9:4) dan terus menyucikan diri, sebab Tuhan memanggil kita bukan untuk melakukan yang cemar, melainkan apa yang kudus! (1 Tesalonika 4:7).

Orang-orang yang hidup dalam kebenaran dan dalam keadaan sucilah yang layak tinggal bersama Kristus di Sorga!


Kamis. JANGAN LUPAKAN KARYA KESELAMATAN TUHAN (1)
Baca: Yosua 24:1-28

“Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu.” Yosua 24:27

Setelah empat puluh tahun mengembara di padang gurun akhirnya umat Israel memasuki tanah Kanaan. Semua bukan karena kekuatan dan kemampuan mereka, tapi semata-mata karena kasih, pemeliharaan dan penyertaan Tuhan sehingga mereka dapat menduduki tanah perjanjian itu. Kedua belas suku Israel pun telah mendapatkan tanah yang menjadi milik pusaka mereka. Bukan hanya itu, Tuhan juga menganugerahkan keamanan di seluruh Kanaan. Hal itu menunjukkan bahwa janji Tuhan untuk memberikan seluruh negeri kepada umat Israel telah digenapi-Nya.

Seiring berjalannya waktu usia Yosua makin bertambah tua, dan bisa dikatakan sedang berada di puncak karir dan punya pengaruh besar karena telah berhasil mengantarkan umat Israel kepada kehidupan baru. Dapat dikatakan bahwa Yosua adalah pemimpin yang berhasil dan berjasa besar. Dalam posisi ini kebanyakan pemimpin akan jumawa dan membusungkan dada. Sikap Yosua tidaklah demikian! Ia tidak pernah merasa diri berjasa dan berharap umat Israel menghormati atau menyanjungnya! Tidak ada niat sedikit pun untuk menyondongkan hati umat Israel kepada dirinya. Inilah pernyataan Yosua, “Aku telah tua dan sangat lanjut umur, dan kamu ini telah melihat segala yang dilakukan TUHAN, Allahmu, kepada semua bangsa di sini demi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang telah berperang bagi kamu.” (Yosua 23:2-3).

Yosua berupaya mengarahkan pandangan umat Israel hanya kepada Tuhan, dan mengingatkan bahwa keberhasilan memasuki tanah Kanaan bukan karena keahliannya dalam berperang, tapi karena ada tangan Tuhan yang berkuasa melindungi, menuntun, menolong dan menyelamatkan mereka. Tuhanlah yang telah berperang bagi mereka, sebagaimana yang Musa pernah sampaikan pula: “TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” (Keluaran 14:14), sehingga mereka dapat memperoleh kemenangan. Untuk itulah Yosua mengumpulkan semua suku yang ada di Israel, para tua-tua, para kepala, para hakim dan juga pengatur pasukan umat Israel di Sikhem.

Tanpa campur tangan Tuhan umat Israel takkan bisa mencapai tanah Kanaan!

Jumat. JANGAN LUPAKAN KARYA KESELAMATAN TUHAN (2)
Baca: Mazmur 77:1-21

“Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala.” Mazmur 77:12

Tindakan mengingat-ingat apa yang telah Tuhan perbuat di waktu lalu, jika tanpa dilandasi oleh sikap iman, hanya akan menghasilkan nostalgia belaka. Namun jika tindakan mengingat-ingat karya Tuhan ini dilandasi dengan sikap iman atau respons hati yang benar, hal itu akan menjadi suatu kekuatan atau peneguhan untuk lebih berkomitmen makin setia kepada Tuhan. Pemazmur menulis: “Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu.” (Mazmur 77:13).

Mengingat-ingat perbuatan-perbuatan Tuhan dan keajaiban kuasa-Nya adalah hal yang harus kita lakukan, terlebih-lebih ketika sedang dalam masalah atau penderitaan, karena pada situasi itu seringkali kita mudah sekali menjadi lemah, putus asa, dan kehilangan pengharapan. Yosua berusaha mengingatkan umat Israel untuk tidak melupakan begitu saja karya keselamatan Tuhan dan mengajak mereka untuk membuat pilihan hidup yang benar. Ia mau bahwa keputusan yang mereka ambil bukan karena keterpaksaan, tapi benar-benar atas kesadaran dan kerelaan hati. “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini.” (Yosua 24:15). Tindakan Yosua ini mencerminkan sikap seorang pemimpin yang arif dan bijak. Yosua menambahkan, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15b). Keteladanan yang ditunjukkan Yosua berdampak, umat Israel pun membuat pilihan hidup yang benar dengan berkata: “Jauhlah dari pada kami untuk beribadah kepada allah lain!” (Yosua 24:16).

Pula karya keselamatan yang Kristus kerjakan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib hendaknya semakin menguatkan dan meneguhkan kita untuk bersungguh-sungguh lagi dalam mengiring Tuhan. “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:20).

Karena anugerah Tuhan semata kita diselamatkan, karena itu beribadahlah kepada-Nya dengan hati yang takut dan gentar!


Sabtu. JANGAN LARI DARI PANGGILAN KUDUS (1)
Baca: Keluaran 32:1-14

“Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya.'” Keluaran 32:7

Kalau diperhatikan secara teliti, kisah penyembahan berhala yang dilakukan oleh umat Israel ini sangatlah unik dan luar biasa. Umumnya penyembahan berhala hanya dilakukan oleh sekelompok orang saja, namun di sini dinyatakan bahwa sebagian besar umat Israel serempak dan sepakat untuk meninggalkan Tuhan dan menyembah kepada patung anak lembu emas. Bagaimana mungkin suatu bangsa dapat berubah sikap dalam waktu sekejap meninggalkan Tuhan yang telah membuktikan kasih, kuasa, penyertaan dan pemeliharaan-Nya yang ajaib, lalu meminta Harun untuk membuat sebuah patung emas tuangan dalam bentuk seekor lembu?

Mengapa umat Israel tidak mampu mempertahankan kesetiaan iman dan kekudusan hidup sebagai umat pilihan Tuhan? Mereka berdalih bahwa Musa terlalu lama berada di gunung Sinai, dan mengulur-ulur waktu untuk turun dari gunung itu. “Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: ‘Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami, sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir – kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.'” (Keluaran 32:1). Padahal Musa hanya meninggalkan mereka selama empat puluh hari dan empat puluh malam saja, tidak sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun (baca Keluaran 24:18), dan ia juga telah mendelegasikan tugas kepemimpinan kepada Harun dan Hur: “…siapa yang ada perkaranya datanglah kepada mereka.” (Keluaran 24:14).

Mengapa mereka tidak tahan tanpa kehadiran Musa dan begitu cepat berbalik meninggalkan Tuhan? Tampaknya Harun dan Hur tidak mampu menjalankan tugas kepemimpinan yang dipercayakan Musa kepadanya. Terbukti keduanya tak bisa berbuat banyak ketika umat Israel mendesaknya untuk dibuatkan patung, bahkan Harun memberi solusi dengan meminta mereka untuk mengumpulkan emas yang dimiliki untuk dijadikan patung tuangan dalam bentuk anak lembu emas (baca Keluaran 32:2-4), dan juga membuatkan mezbah di depan anak lembu emas tersebut (baca Keluaran 32:5).

Tanpa kehadiran Musa umat Israel begitu cepat berbalik meninggalkan Tuhan!


Minggu. JANGAN LARI DARI PANGGILAN KUDUS (2)
Baca: Keluaran 32:15-35

“Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap TUHAN, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu.” Keluaran 32:30

Ketika Musa berkata kepada Harun, “Apakah yang dilakukan bangsa ini kepadamu, sehingga engkau mendatangkan dosa sebesar itu kepada mereka?” Tetapi jawab Harun: “Janganlah bangkit amarah tuanku; engkau sendiri tahu, bahwa bangsa ini jahat semata-mata.” (Keluaran 32:21-22). Apakah kedurhakaan yang dilakukan oleh umat Israel sepenuhnya merupakan kesalahan Harun? Tidak. Sesungguhnya tindakan untuk meninggalkan Tuhan dan mencondongkan diri kepada penyembahan berhala adalah berasal dari keinginan umat Israel sendiri, karena mereka ingin hidup sesuka hati. Terlihat dari apa yang mereka perbuat setelah menyembah patung anak lembu emas, yaitu “…duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.” (Keluaran 32:6).

Sikap bangsa Israel yang meninggalkan Tuhan ini pada hakekatnya merupakan upaya untuk membebaskan diri dari panggilan hidup kudus supaya dapat menuruti keinginan daging dan hidup dalam hawa nafsu duniawi, seperti yang pernah dialami selama tinggal di Mesir. Tidak tahan karena ditinggalkan Musa bukanlah alasan utama! Mereka beranggapan bahwa hidup menurut pola dunia adalah hal yang sangat menyenangkan. Sebagai bangsa pilihan Tuhan bangsa Israel dipanggil dengan identitas yang baru, yang berarti harus menjalani hidup yang berbeda dari bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan. Artinya mereka harus hidup dalam pertobatan setiap hari, menjauhkan diri dari segala kecemaran atau penyangkalan diri terhadap hawa nafsu.

Melihat kedurhakaan umat Israel itu Tuhan berencana untuk membinasakan mereka, namun Musa tampil sebagai jurusyafaat memohon agar Tuhan tidak membinasakan umat-Nya. “Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu.” (Keluaran 32:12b). Musa percaya bahwa Tuhan itu berlimpah kasih setia. “Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati;” (Mazmur 30:6). Itulah sebabnya Tuhan tidak sampai membinasakan semua umat Israel, termasuk Harun dan Hur.

Kedurhakaan bangsa Israel adalah bukti mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk!

DEWASA ROHANI TERLIHAT DARI KARAKTER

DEWASA ROHANI TERLIHAT DARI KARAKTER

PENDAHULUAN

Karakter adalah salah satu tanda kedewasaan rohani.  Karakter mencerminkan nilai, watak, dan keadaan batin seseorang yang diwujudkan secara nyata dalam bentuk perilaku, sikap, serta kebiasaan sehari-hari.

Kedewasaan karakter merupakan proses pertumbuhan rohani yang berlangsung secara terus-menerus. Melalui proses yang panjang, Tuhan membentuk cara berpikir/cara pandang, perasaan, sikap, perilaku, perkataan, serta gaya hidup kita agar semakin sesuai dengan kepenuhan Kristus. Efesus 4:13–15, “…sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”

ISI
Tujuan pertumbuhan rohani bukan sekadar supaya kita tahu lebih banyak tentang Tuhan, tetapi supaya hidup kita semakin menyerupai Kristus.

1. KARUNIA DAN PENGETAHUAN TIDAK OTOMATIS MENJADIKAN SESEORANG DEWASA

Pengetahuan akan Firman Tuhan dan karunia yang kita miliki adalah hal yang sangat penting. Namun, keduanya tidak secara otomatis menjamin kedewasaan karakter.

Seseorang dapat: mengajar, berkhotbah, memiliki karisma & talenta, atau pandai berbicara,
bahkan aktif melayani, atau disiplin berdoa, tidak otomatis menunjukkan bahwa karakter orang tersebut sudah dewasa.

Karakter justru paling terlihat ketika kita menghadapi tekanan.

Ketika dikritik. Ketika ditolak.

Ketika disalahpahami.

Ketika mengalami konflik.

Ketika kecewa.

Ketika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan.

Ketika orang lain tidak menghargai kita.

Saat itulah karakter kita diuji.

Karunia menunjukkan apa yang dapat kita lakukan, tetapi karakter menunjukkan siapa kita.
Karunia dapat diperoleh dari lahir tetapi karakter dibentuk melalui proses yang panjang dan berbagai ujian.

Tuhan menggunakan proses tersebut untuk mengajar kita merendahkan hati, terus belajar, hidup dalam pertobatan, meninggalkan manusia lama, dan semakin taat kepada Firman serta kehendak-Nya.

2. KARUNIA HARUS DISERTAI KARAKTER

Karunia diberikan Tuhan untuk melayani, membangun tubuh Kristus, dan memuliakan Tuhan. Tetapi karakter menentukan bagaimana kita menggunakan karunia tersebut.

Seseorang dapat memiliki karunia yang luar biasa tetapi menggunakannya dengan motivasi yang salah. Sebaliknya, seseorang yang memiliki karakter yang benar akan menggunakan karunianya dengan: rendah hati, kasih, integritas, kesetiaan, tanggung jawab, dan takut akan Tuhan.

Karena itu, kita tidak hanya perlu bertanya:“Apa karunia saya?” tetapi Kita juga harus bertanya:“Apakah karakter saya sudah siap menopang karunia tersebut?”

Karunia dapat membuka pintu, tetapi karakter menentukan bagaimana kita berjalan setelah pintu itu terbuka. Karunia dapat membuat orang melihat kita. Karakter membuat orang dapat melihat Kristus melalui kita.

3. KARAKTER ADALAH HASIL PEKERJAAN ROH KUDUS

Ketika kita hidup dalam keintiman dengan Roh Kudus, Dia terus bekerja membentuk karakter Kristus dalam diri kita. Galatia 5:22–23 berkata:
“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.”

Perhatikan bahwa Firman Tuhan berbicara tentang buah Roh. Buah tidak muncul dalam satu malam. Buah membutuhkan: waktu, proses, pertumbuhan, pemeliharaan, dan ketekunan.

Demikian juga karakter. Kedewasaan karakter merupakan hasil karya pengudusan Roh Kudus yang terus bekerja dalam kehidupan kita. Karakter yang dewasa terlihat ketika buah buah roh mulai menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

PENUTUP

Pertanyaan untuk direnungkan : Apa yang sedang Tuhan bentuk dalam karakter saya melalui proses yang sedang saya alami sekarang?

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” (Efesus 5:15-17)

KEMENANGAN SEOLAH DI PIHAK MUSUH

KEMENANGAN SEOLAH DI PIHAK MUSUH

Senin. KEMENANGAN SEOLAH DI PIHAK MUSUH (1)
Baca: Daniel 3:1-30

“Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu.” Daniel 3:20

Pemazmur menyatakan, “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu; Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah.” (Mazmur 34:20-21). Ketika orang percaya hidup mengandalkan Tuhan dan melekat kepada-Nya, ada jaminan perlindungan dan pemeliharaan dari Tuhan meski dihadapkan pada banyak tantangan, tekanan, penderitaan atau aniaya sekalipun. Terkadang kemenangan gemilang yang terjadi atas orang percaya berawal dari peristiwa-peristiwa yang seakan-akan merupakan suatu kekalahan. Orang beriman yang memegang teguh janji firman Tuhan dapat saja menghadapi suatu situasi yang teramat gelap dan mengerikan, seolah-olah Iblis sedang berada di atas angin dan mengalahkan mereka.

Walaupun jiwanya terancam atau nyawa menjadi taruhannya, Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap tak mau menukarkan Tuhan mereka dengan patung buatan raja Nebukadnezar. Inilah bukti iman yang hidup, yaitu iman yang didukung dengan suatu komitmen kepada Tuhan. Raja mengancam akan mencampakkan ketiga pemuda itu ke dalam perapian yang menyala-nyala bila mereka tak mau menyembah kepada patung emas itu. Ancaman itu tak menggoyahkan iman mereka! “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:16-18).

Inilah ketaatan yang tanpa syarat! Ketiga pemuda ini menaati Tuhan, tidak peduli apakah Dia mau melepaskan mereka atau tidak. Tentu saja Tuhan sanggup melepaskan, namun ketaatan kita tidak boleh berdasarkan pada hal ini atau pada syarat apa pun. Berbeda dengan kebanyakan orang Kristen masa sekarang yang umumnya mau taat tapi dengan syarat-syarat tertentu: asal Tuhan mau melepaskan mereka dari masalah, asal Tuhan menyembuhkan sakit-penyakit yang dideritanya, asal… asal… asal…
(Bersambung)


Selasa. KEMENANGAN SEOLAH DI PIHAK MUSUH (2)
Baca: Daniel 3:1-30

“Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.” Daniel 3:29

Sekalipun Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadapi kemustahilan, karena Iblis telah mengikat dan menjerumuskan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala, iman mereka tak melemah. Jika kita mempercayai Tuhan dan berpegang teguh pada janji firman-Nya, Roh Kudus akan berkarya dan melepaskan ikatan-ikatan kita. Tuhan berfirman, “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.” (Yesaya 43:1-2).

Betapa banyak orang Kristen ketika dalam api ujian tak yakin bahwa Tuhan menyertainya. Pengalaman 3 pemuda itu adalah bukti nyata bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang benar. Raja terheran-heran melihat ada sesosok orang yang berjalan bersama ketiga pemuda itu, yang rupanya seperti anak dewa. “Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu, berkatalah ia: ‘Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!’ Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.” (Daniel 3:26).

Dalam situasi berat sekalipun percayalah bahwa kita tidak berjuang sendiri, ada Tuhan yang siap memberikan pertolongan. Milikilah iman seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego, iman yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi! Ketiga pemuda itu pun menjadi berkat bagi orang lain, bahkan raja pun mengeluarkan perintah baru agar semua orang menghormati Tuhan-nya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Tuhan sanggup membalikkan keadaan.

“Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.” Mazmur 20:7


Rabu. MENANG KARENA MENGANDALKAN TUHAN (1)
Baca: 1 Samuel 17:1-39

“Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?” 1 Samuel 17:26b

Suatu saat hendak berperanglah orang Filistin dengan orang-orang Israel. Pemimpin orang Filistin bernama Goliat, orang yang memiliki postur tubuh yang tinggi besar bagaikan raksasa. “Tingginya enam hasta sejengkal.” (1 Samuel 17:4). Satu hasta kira-kira 45 cm atau sama dengan dua jengkal. Dengan perlengkapan senjata yang lengkap (1 Samuel 17:5-7) Goliat menantang, mengejek dan mengintimidasi orang-orang Israel, sehingga seluruh bangsa Israel yang pada waktu itu dipimpin oleh Saul menjadi sangat ketakutan dan tawar hati. Tidak ada satu pun orang Israel yang berani maju melawan Goliat. Daud, yang waktu itu masih sangat muda, kemerah-merahan dan elok parasnya, ketika melihat kejadian itu dan mendengar Goliat menantang bangsanya segera berkata kepada Saul, “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu. Tetapi Saul berkata kepada Daud: ‘Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.'” (1 Samuel 17:32-33).

Fakta memang menunjukkan bahwa di atas kertas dan ditinjau dari sudut mana pun kekuatan Goliat jauh di atas kekuatan prajurit yang ada di pihak bangsa Israel, dan dapat dipastikan orang yang akan melawan Goliat akan dihabisinya. Itulah sebabnya bangsa Israel menjadi tawar hati karena merasa mustahil bisa mengalahkan raksasa Filistin itu. Jadi ketika Daud berkata bahwa ia akan pergi melawan Goliat, mungkin orang akan menertawakan dan merendahkan Daud dengan berkata: “Impossible mission!” Meski demikian Daud tidak dikalahkan oleh situasi yang ada dan tidak gentar sekalipun terhadap Goliat, bahkan ia menguatkan bangsa Israel untuk tidak tawar hati.

Ketika menghadapi masalah teramat berat kita pun merasa bahwa masalah itu begitu besar seperti raksasa yang tak mungkin untuk dikalahkan. Respons kita pun sama seperti bangsa Israel yaitu cemas, takut dan tawar hati. Namun seberat apa pun masalah yang kita hadapi, belajarlah untuk tidak tawar hati seperti Daud, sebab ada tertulis: “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10). Kalau kita tawar hati saat dalam masalah, kita akan semakin tak berdaya!
(Bersambung)


Kamis. MENANG KARENA MENGANDALKAN TUHAN (2)
Baca: 1 Samuel 17:40-58

“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” 1 Samuel 17:45

Saul sangat meragukan kemampuan Daud berhadapan dengan Goliat, karena itu ia mengenakan kepada Daud baju perang, lengkap dengan ketopong tembaga di kepala dan dikenakannya pula baju zirah. Atas saran Saul Daud pun mengenakan baju perang itu dan mencoba berjalan, namun berkatalah ia, “Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya. Kemudian ia menanggalkannya.” (1 Samuel 17:39b). Hal ini memberikan suatu hikmat kepada kita bahwa ‘pakaian kebesaran’, pangkat, kehormatan dan sebagainya seringkali membawa kita tak dapat bergerak dan berjalan sesuai pimpinan Roh Kudus. Karena itu kita harus menanggalkan segala perlengkapan duniawi yang membebani hidup kita agar kuasa Tuhan dinyatakan bagi kita.

Keberanian Daud menghadapi Goliat bukan karena nekat, tapi ia memiliki keyakinan bahwa Tuhan akan menyertainya. “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” (1 Samuel 17:37). Bersama Tuhan Daud sanggup melawan dan mengalahkan binatang-binatang buas, bersama-Nya pula ia pasti mampu mengalahkan Goliat, “Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.” (1 Samuel 17:36b).

Jika Goliat sangat mengandalkan kekuatan dan kemampuannya secara fisik untuk berperang, berbeda dengan Daud yang menyadari bahwa kemampuan fisik dan kecanggihan peralatan tempur bukanlah segala-galanya, tetapi kuasa Tuhanlah yang memegang peranan penting dalam pertempuran yang dihadapinya. Apa yang terjadi kemudian? Daud dengan penuh iman mengambil sebuah batu dari dalam kantongnya, lalu diumbannya Goliat tepat di dahinya, dan ia pun jatuh tersungkur… “Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.” (1 Samuel 17:50).

Untuk dapat mengalahkan ‘Goliat’ dalam hidup ini kita harus mengandalkan Tuhan dan Roh Kudus, bukan dengan kekuatan manusia.


Jumat. JANGAN MENCARI PERTOLONGAN KEPADA DUNIA
Baca: Kejadian 12:10-20

“Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu.” Kejadian 12:10

Pada suatu ketika Tuhan memanggil Abram dan menyuruhnya keluar dari negerinya dan dari sanak saudaranya. “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;” (Kejadian 12:1). Lalu pergilah Abram bersama Sarai (isterinya) dan Lot dengan beberapa orang dan segala harta benda mereka. Abram berjalan terus dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb, suatu wilayah padang pasir di Israel selatan. Setelah sampai di tempat itu terjadilah kelaparan yang hebat. Mungkin timbul pertanyaan dalam diri Abram: “Tuhan, aku sudah taat, aku sudah melayani Engkau, tapi mengapa hal-hal yang tak menyenangkan terjadi? Mengapa aku harus dihadapkan pada situasi yang teramat sulit seperti ini?”

Kemudian karena kelaparan timbul di negeri itu pergilah Abram ke Mesir (ayat nas). Dengan kata lain, ketika mengalami masalah yang berat Abram meminta pertolongan ke Mesir. Mesir adalah lambang dunia. Abram pergi ke Mesir bukan atas petunjuk dari Tuhan, tetapi atas kehendaknya sendiri. Pada waktu itu iman Abram belum bertumbuh sehebat yang dikisahkan dalam Alkitab, di mana ia di kemudian hari disebut bapa orang percaya. Dalam situasi-situasi sulit Abram lebih berharap kepada Mesir daripada berharap kepada Tuhan. Abram mencoba mencari jalan keluar untuk masalahnya dengan mengandalkan jalan pikirannya sendiri yang terbatas. Karena keadaannya sangat mendesak dan demi mendapatkan pertolongan secara instan, Abram bahkan berani berbohong kepada Firaun dengan mengatakan bahwa Sarai adalah adiknya, sehingga Sarai pun diambil isteri oleh Firaun! Namun oleh karena anugerah dan campur tangan Tuhan semata akhirnya rumah tangga Abram dipulihkan, Sarai kembali kepadanya…

Berbagai persoalan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup ini adalah bagian dari proses pendewasaan iman kita. Karena itu Tuhan mengajar kita untuk berseru kepada-Nya dan berharap hanya kepada-Nya saja, bukan kepada yang lain, seperti tertulis: “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.” (Mazmur 34:18).

Berharaplah hanya kepada Tuhan, karena pertolongan-Nya itu cukup bagi kita!


Sabtu. KEKUATAN ITU BERASAL DARI TUHAN
Baca: 2 Korintus 4:1-15

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” 2 Korintus 4:7

Bukan hal yang mengejutkan lagi jika seseorang berhasil seringkali ia lupa diri. Ia merasa bahwa keberhasilan yang diraihnya itu adalah hasil usahanya sendiri, karena kekuatan dan kehebatannya. Bukan hanya mereka yang berhasil di bidang pekerjaan konvensional, hamba-hamba Tuhan pun merasa bahwa keberhasilannya dalam pelayanan adalah buah dari kerja kerasnya sendiri, bukan karena campur tangan Tuhan. Mereka lupa dengan ayat ini: “…di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5b).

Alangkah baiknya memiliki pola pikir seperti rasul Paulus yang menyadari bahwa dalam keadaan apa pun ia dapat berhasil karena kasih karunia Tuhan. “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (1 Korintus 15:10). Pengakuan Paulus ini merupakan suatu kebenaran, bahwa setiap keberhasilan yang diraihnya bukan karena kesanggupan, kekuatan dan kemampuan yang ia miliki, tapi karena kasih karunia Tuhan yang menyertainya. Karena itu tidak ada alasan bagi siapa pun untuk bermegah dan menyombongkan diri apabila saat ini berhasil dalam apa saja yang dikerjakan. Roh Tuhanlah yang berperan besar dalam hidup manusia sebagaimana tertulis: “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.” (Zakharia 4:6). Tidak ada yang patut dibanggakan dalam diri manusia, kita ini “…tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2:22).

Jangan pernah membanggakan diri karena merasa kuat, pintar, gagah, kaya atau hebat! Yang Tuhan kehendaki dalam diri umat-Nya adalah hati yang penuh kerendahan di hadapan pencipta-Nya. Kita harus ingat bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja dan apa saja demi kepentingan-Nya. Salah satu contoh di Alkitab adalah Tuhan memakai keledai untuk berbicara kepada Bileam (baca Bilangan 22:28-30).

Jika kita berhasil, itu bukan karena siapa kita, tapi karena Tuhan berkenan memakai kita… Karena itu bersyukurlah!


Minggu. AWAL SAMA, AKHIR BERBEDA
Baca: 1 Samuel 10:1-16

“Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: ‘Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel?'” 1 Samuel 10:1

Dalam menempuh perjalanan hidup tidak selamanya kita berhadapan dengan jalan yang lurus, ada banyak sekali persimpangan, yang apabila kita salah memilih di persimpangan tersebut haluan hidup kita pun dapat berubah. Salah dalam memilih jalan akibatnya pasti akan mengarah kepada hal-hal yang buruk. Pertanyaannya: apakah kita sedang berjalan dengan Pemimpin dan Pemandu sejati kita? Orang yang memiliki penyerahan penuh kepada Tuhan pasti akan berkata: “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku,” (Mazmur 25:4-5a).

Saul dan Daud tak berbeda pada awalnya, Alkitab mencatat bahwa Saul diurapi Tuhan dan Daud pun demikian (1 Samuel 16:13). Kedua pemuda ini juga sama-sama memiliki paras elok: Saul “…seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorangpun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.” (1 Samuel 9:2). Pula tentang Daud: “…Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok.” (1 Samuel 16:12). Apakah Tuhan memilih kedua pemuda ini karena memiliki paras elok? Tidak. Ada tertulis: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7b). Baik Saul maupun Daud memulai karirnya dengan penuh kerendahan hati, karena itu tangan Tuhan juga berada atas kedua pemuda ini. Keduanya dimahkotai menjadi raja pada usia yang hampir bersamaan.

Namun dalam perjalanan selanjutnya, ketika dihadapkan pada persimpangan-persimpangan, jalan yang mereka pilih berbeda. Daud memilih untuk tetap taat mengikuti jalan Tuhan, dan ketaatannya ini membawa hidup Daud semakin naik dan mengalami peninggian demi peninggian dari Tuhan. Sedangkan Saul di tengah perjalanan hidupnya memilih untuk tidak taat, dan karena ketidaktaatannya ini Tuhan menolaknya sebagai raja atas Israel (1 Samuel 15:26), dan akhir hidupnya pun sangat tragis.

Ketaatan mendatangkan berkat, ketidaktaatan menuntun kepada kehancuran!

KEDEWASAAN ROHANI DIUJI SAAT BADAI DATANG

KEDEWASAAN ROHANI DIUJI SAAT BADAI DATANG

PENDAHULUAN

Akar memiliki fungsi untuk menyerap nutrisi dari dalam tanah yang dibutuhkan bagi pertumbuhan serta menopang pohon agar dapat berdiri tegak dan tidak mudah tumbang. Dengan sistem perakaran yang baik, sebuah pohon dapat tumbuh secara optimal. Akar yang kuat membuat pohon tetap berdiri kokoh saat diterpa badai dan hujan deras. Sebaliknya, pohon yang memiliki akar dangkal akan lebih mudah goyah dan tumbang karena tidak memiliki pijakan yang kuat di dalam tanah.

ISI

Dalam kehidupan orang percaya, akar menggambarkan hal-hal yang ada di dalam hati dan batin  yang tidak tampak dari luar. Akar kehidupan orang percaya adalah hati yang percaya kepada Tuhan Yesus. Seperti halnya akar menopang sebuah pohon, demikian pula iman kepada Kristus menopang seluruh kehidupan kita. Akar yang kuat membuat kita tetap kokoh ketika menghadapi masalah dan penderitaan. Selama kita tetap berakar di dalam Kristus, kita akan terus bertumbuh menuju kedewasaan rohani.

CARA MEMPERKUAT AKAR

1. Tinggal di dalam Kristus dan berakar dalam kasih-Nya.

  • Berakar berarti tetap tinggal di dalam Kristus sekalipun situasi yang kita hadapi tidak selalu mudah. Agar menjadi kuat, akar harus senantiasa terhubung dengan sumber Air Hidup, yaitu firman Tuhan dan hadirat Roh Kudus melalui doa, pujian, dan penyembahan. Persekutuan dengan Tuhan membuat kita semakin mengenal Pribadi-Nya, kehendak-Nya, dan cara kerja-Nya, terlebih ketika kita mengalami masalah. Persekutuan dengan Tuhan membuat hati kita dipenuhi kasih-Nya sehingga kita dapat melihat segala sesuatu dari perspektif Tuhan.
  • Saat berada dalam pergumulan, Roh Kudus mengingatkan kita untuk tetap percaya dan mengandalkan Tuhan, bukan bersandar pada kekuatan dan pengertian kita sendiri. Batin kita dikuatkan dan diteguhkan untuk tetap tinggal di dalam Kristus dan kasih-Nya. Kita dimampukan untuk merespons setiap masalah sesuai dengan firman Tuhan, sekalipun itu terasa sulit dan tidak enak.

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah (Yeremia 17:7-8).

  • Orang yang hatinya percaya kepada Tuhan diibaratkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Dalam keadaan apa pun, ia tetap terhubung dengan Sumber Air Hidup. Ia tidak takut menghadapi panas terik dan tidak khawatir ketika tahun kering tiba, sebab imannya berakar kuat di dalam Tuhan. Akar yang kuat menghasilkan pertumbuhan dan buah.
  • Badai masalah tidak membuat jiwanya menjadi kering, letih lesu, berbeban berat, cemas, gelisah, khawatir, putus asa, mengasihani diri sendiri, atau kecewa, hingga akhirnya menyalahkan Tuhan atau orang lain. Di tengah masa sulit dan tekanan sekalipun, ia tetap menghasilkan buah karena akarnya terus bertumbuh semakin dalam hingga mencapai sumber Air Hidup. Badai tidak selalu dapat kita hindari, tetapi akar yang kuat membuat kita tidak mudah tumbang ketika badai datang, bahkan tetap menghasilkan buah.

Firman → Akar → Iman Kuat → Tetap Teguh → Menghasilkan Buah.

  • Hal lain yang perlu dipahami tentang perlunya memiliki akar yang kuat:

Semakin kita bertumbuh dan semakin besar tanggung jawab yang Tuhan percayakan, semakin penting kita memiliki akar yang dalam. Agar tidak tumbang, akar iman kita harus kuat. Jika tidak, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam kesombongan dan dosa. Itulah sebabnya Tuhan perlu memproses kita melalui berbagai masalah dan ujian iman agar akar iman kita semakin dalam dan kuat.

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih (Efesus 3:16-17).

2 Persekutuan dengan orang percaya.

  • Di dalam persekutuan dengan orang percaya,  kita belajar saling menguatkan, menolong, menopang, dan mendoakan supaya tetap kuat di dalam Tuhan, terutama saat menghadapi masalah. Jika kita memilih menyendiri, kita bisa menjadi lemah, rawan jatuh, dan mudah dikalahkan oleh masalah.

Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan. (Pengkhotbah 4:12)

  • Gereja lokal menjadi tempat kita bertumbuh bukan hanya melalui pengajaran firman, tetapi juga dengan belajar saling mengasihi, menerima satu dengan yang lain, melayani, saling mengampuni, saling menajamkan, dan lain sebagainya.

Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya (Amsal 27:17).

PENUTUP

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.  Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur (Kolose 2:6–7)

Kristus bukan hanya tempat kita mulai; Kristus adalah tempat kita terus tinggal sampai garis akhir.

Kita telah menerima Kristus. Karena itu, kita harus terus hidup di dalam Dia.

Kita berakar di dalam Dia. Kita dibangun di atas Dia. Kita diteguhkan dalam iman.Dan akhirnya, hidup kita melimpah dengan syukur. Itulah kedewasaan rohani.

KESEMPATAN UNTUK MENGHASILKAN BUAH

KESEMPATAN UNTUK MENGHASILKAN BUAH

SENIN. KESEMPATAN UNTUK MENGHASILKAN BUAH
Baca: Matius 3:1-12

“Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” Matius 3:10

Rancangan Tuhan bagi kehidupan anak-anak-Nya adalah rancangan yang baik dan bermasa depan cerah (baca Yeremia 29:11). Karena itu Tuhan memberikan segala sesuatu untuk kita, bahkan Ia rela mengorbankan nyawa-Nya supaya kita beroleh penebusan dosa, dibebaskan dari kutuk, “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.'” (Matius 8:17). Bukan hanya itu, Tuhan juga memberikan Roh Kudus-Nya sebagai Penolong supaya kita memiliki kesempatan untuk berbuah. Ini adalah target Tuhan dalam hidup setiap orang percaya! “Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya.” (Lukas 6:44a).

Buah pertama yang harus dihasilkan orang percaya adalah buah pertobatan. “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3:8). Buah pertobatan dalam diri seseorang akan terlihat jelas melalui perubahan hidup yang semakin baik, yaitu meninggalkan kehidupan lama dan menjalani hidup sebagai manusia baru (baca 2 Korintus 5:17). Manusia baru adalah proyek besar Bapa sendiri yang dikerjakan-Nya secara sempurna melalui Kristus. “…yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:22-24).

Selanjutnya buah yang harus dihasilkan adalah buah Roh. Orang yang sudah mengalami pertobatan sejati pasti ada buah Roh di dalam kehidupannya, yaitu “…kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Galatia 5:22-23). Ketika buah pertobatan dan buah Roh berjalan secara seimbang, saat itulah kehidupan seseorang melangkah ke taraf yang lebih lagi, yaitu hidup yang menjadi berkat atau kesaksian bagi orang lain. Inilah yang disebut buah jiwa. Melalui kesaksian hidup secara nyata kita dapat membawa orang lain datang kepada Kristus.

Kunci agar kehidupan kita berbuah adalah tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya!


SELASA. SUPAYA TAK ADA YANG BINASA
Baca: Yehezkiel 33:1-20

“Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu!” Yehezkiel 33:11

Banyak orang bertanya, “Kapan Tuhan datang kali yang kedua? Dari dulu digembar-gemborkan bahwa kedatangan Tuhan sudah sangat dekat, tapi mana buktinya? Bohong!” Rasul Petrus menyatakan, “…pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: ‘Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.'” (2 Petrus 3:3-4). Apakah firman Tuhan itu bohong? Firman Tuhan adalah ya dan amin, dan semua yang difirmankan Tuhan pasti akan digenapi-Nya.

Ketahuilah bahwa Tuhan memberi kita banyak kesempatan dengan tujuan supaya tidak ada orang yang mengalami kebinasaan kekal. “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9). Itulah maksud dari kesabaran Tuhan! Sesungguhnya Tuhan tidak ingin menghukum manusia, tapi Tuhan menghukum karena menegakkan keadilan-Nya. Neraka diciptakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya, bukan untuk manusia, tetapi manusia tetap ditipu oleh Iblis sehingga manusia masuk dalam jerat dan perangkap Iblis. Sayangnya kesempatan yang Tuhan beri justru disalahgunakan oleh manusia untuk memuaskan keinginan dagingnya. “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Galatia 6:7-8).

Tuhan yang memberi kesempatan kepada kita adalah Tuhan yang menginginkan kita menghargai kesempatan itu dan merespons setiap kesempatan itu dengan meninggalkan dosa dan hidup dalam pertobatan yang sungguh!

Bertobatlah dan jangan mengeraskan hati sebelum hari Tuhan itu tiba!


RABU. TUHAN TIDAK PERNAH MEMBATASI IMAN
Baca: Lukas 17:1-6

“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” Lukas 17:6

Alkitab menyatakan: “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,” (Efesus 3:20). Artinya bersama Tuhan, asal ada iman walaupun hanya sekecil biji sesawi, kita pasti dapat melakukan perkara-perkara yang besar. Tuhan Yesus tidak berkata bahwa kita harus mempunyai iman sebesar pohon sesawi. Tumbuhan sesawi (mustard – English, Red) adalah suatu pohon yang dapat tumbuh setinggi 3 meter (9 kaki), tetapi tumbuh dari biji yang sangat kecil. Iman yang hanya sebesar biji sesawi jika ditanam akan tumbuh pohon yang jauh lebih besar daripada bijinya.

Mungkin kita merasa tak memiliki iman sebesar nabi Elia, yang doanya seperti ini: “…supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.” (Yakobus 5:17-18). Lalu kita berkata, “Mustahil sakitku bisa sembuh, mustahil ekonomi keluarga dipulihkan… mustahil!” Kita selalu melihat pada ketidakmampuan kita dan juga pada keterbatasan iman kita sehingga kita menjadi bimbang, benarkah Tuhan itu sanggup melakukan mujizat? Selama kita masih bimbang dan tak percaya, maka kuasa Tuhan tidak akan bekerja di dalam kita. Tuhan berkata, “Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?” (Yeremia 32:27). Bukankah Tuhan menegaskan, “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23b). Tuhan Yesus tidak berkata bahwa ada perbedaan antara iman untuk hal kecil dan hal yang besar. Yang menjadi masalah ialah iman yang kita miliki itu harus ditanam dan dipraktekkan agar dapat menghasilkan.

Bagaimana kita menanam benih iman itu? Yaitu dengan melakukan apa yang firman Tuhan katakan. Kita tak memerlukan iman lebih besar untuk hal-hal yang besar. Yang perlu kita lakukan ialah mempraktekkan iman yang kita miliki dengan berpegang pada firman Tuhan sepenuhnya!

Jika iman itu tidak disertai perbuatan maka pada hakekatnya adalah mati!


KAMIS. MEMBAWA ORANG KEPADA SEBUAH KEPUTUSAN
Baca: Wahyu 3:14-22

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Wahyu 3:20

Dalam menjalani kehidupan ini seringkali kita dihadapkan pada keputusan-keputusan. Pengambilan keputusan amat penting, sebab itulah yang akan menentukan langkah berikutnya. Keputusan bukanlah sebuah pertobatan, melainkan suatu tindakan kemauan manusia. Tuhan tidak dapat mengubah kerohanian seseorang sebelum ia mengambil keputusan ini. Tuhan menginginkan manusia mengambil keputusan untuk menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, namun tanpa suatu paksaan atau tekanan dari pihak mana pun. Tuhan hanya mengetuk pintu hati orang. Jika ada yang mendengarkan suara-Nya dan membuka pintu hatinya, Tuhan akan masuk dan tinggal bersama dengan dia.

Tuhan sangat menghargai kebebasan manusia dalam membuat keputusan atau pilihan hidup. Keputusan atau pilihan yang salah akan membawa seseorang kepada jalan yang salah pula. Bila saat ini kita mempunyai kesempatan yang luas untuk memberitakan siapa Yesus Kristus itu, mari kita pergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, sebab kesempatan itu hanya sekali saja datangnya. Kesempatan tak akan datang kembali apabila ia telah berlalu. Jangan sampai orang berkata terhadap kita pada hari penghakiman nanti: “Ia tak pernah memperkenalkan aku kepada Yesus Kristus!”

“Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Roma 10:14-15).

Adalah kewajiban bagi orang percaya untuk memperkenalkan dan memberitakan Kristus kepada orang lain. Inilah kebenaran yang harus diberitakan: “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yohanes 5:24).

Keputusan tetap ada pada mereka, yang terpenting kita sudah mengerjakan apa yang menjadi bagian kita.


JUMAT. JIKA TUHAN MAU…
Baca: Lukas 5:12-16

“Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: ‘Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.'” Lukas 5:12b

Ketika masih berada di bumi Tuhan Yesus membuat banyak mujizat dan perkara-perkara besar, dan banyak orang menjadi percaya ketika melihat mujizat-mujizat yang Dia kerjakan. Tak banyak pertanyaan apakah Tuhan Yesus diurapi oleh Bapa sehingga Ia mempunyai kuasa yang luar biasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Tetapi ketika Tuhan Yesus tak lagi berada di bumi banyak orang menjadi ragu apakah Dia masih memiliki kuasa dan mampu melakukan mujizat seperti dahulu kala. Perlu ditegaskan kembali bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang tidak pernah berubah, Ia tetap sama baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (baca Ibrani 13:8); kuasa-Nya, kasih-Nya, kebaikan-Nya, takkan berubah.

Apabila dahulu Tuhan Yesus selalu berbelas kasih dan menginginkan kesembuhan pada orang yang sakit dan menolong mereka yang menderita, maka sekarang Dia juga masih tetap sama dan Dia tetap mau menyembuhkan dengan belas kasih-Nya seperti yang dilakukan terhadap orang yang sakit kusta itu: “Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: ‘Aku mau, jadilah engkau tahir.’ Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.” (Lukas 5:13). Orang kusta ini sangat percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang penuh kuasa. Yang menjadi masalah baginya adalah apakah Tuhan Yesus mau menyembuhkan dia atau tidak. Oleh sebab itu ia berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (ayat nas).

Walaupun sudah mendengar firman Tuhan ribuan kali banyaknya, tapi jika kita tak mengerti kehendak Tuhan, maka firman itu tidak menimbulkan iman. Kehendak Tuhan bagi kita ialah agar kita semua berada dalam keadaan sehat jasmani dan juga sehat secara rohani. Kita harus mengerti kehendak Tuhan yang dituliskan dalam Alkitab: “Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan…” (Mazmur 103:3-5a).

Kalau orang lain ditolong, kita juga pasti akan ditolong-Nya! Jangan pernah meragukan kuasa dan kasih Tuhan, karena Dia tidak berubah! Tuhan mau kita sembuh.


SABTU. HIDUP BERKECUKUPAN DALAM KRISTUS
Baca: 2 Korintus 9:6-15

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” 2 Korintus 9:8

Banyak janji Tuhan tertulis dalam Alkitab, terutama tentang keselamatan kekal, kemenangan, pertolongan dan juga kelimpahan hidup. Sebelum memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan terlebih dahulu kita harus memiliki ‘sumber’ yang mempunyai segalanya itu. Sumber itu adalah Yesus dan melalui Dia kita dapat memperoleh segalanya.

Ada tertulis: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah 4:12). Tuhan Yesus berkata, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput… Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:9, 10b); “…Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6).

Untuk mengalami penggenapan janji Tuhan ini selain percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita harus mendahulukan Tuhan dalam segala hal. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Apa yang kita peroleh dari Bapa itu pun tergantung dari ketaatan kita juga seperti tertulis: “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” (2 Korintus 9:6). “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Memberi atau mempersembahkan sesuatu bagi Tuhan dan juga bagi sesama jangan menunggu sampai kita berkelebihan atau kelimpahan terlebih dahulu; itu bukan iman namanya. Berilah atau persembahkanlah serela dan semampu apa yang dapat kita berikan.

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Yohanes 15:7


MINGGU. JANGAN MENCURI KEMULIAAN TUHAN
Baca: Kisah Para Rasul 14:1-20

“Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.” Kisah 14:15b

Ketika rasul Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di beberapa kota, “Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan. Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan.” (ayat 8-9). Segeralah Paulus menyuruh orang yang lumpuh itu berdiri, maka ia pun melonjak berdiri, lalu berjalan ke sana ke mari (ayat 10). Mujizat terjadi!

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu mengira bahwa Paulus dan Barnabas adalah dewa-dewa yang turun dari langit dalam wujud manusia, sehingga mereka pun menyanjung dan menghormati keduanya sebagaimana yang mereka perbuat terhadap dewa-dewa mereka. Bagaimana reaksi Paulus dan Barnabas? Apakah keduanya merasa bangga dan semakin besar kepala? Justru keduanya mengoyakkan pakaian sambil berseru: “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu.” (ayat 15a). Karakter seperti yang dimiliki Paulus dan Barnabas pada zaman seperti sekarang ini sangatlah langka ditemukan. Orang-orang di zaman sekarang haus akan sanjungan dan pujian dari sesama. Bukan hanya orang di luar Tuhan, tidak sedikit orang Kristen dan hamba-hamba Tuhan yang memiliki motivasi salah dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Mereka suka sekali namanya dikenal, dipuji atau dielu-elukkan oleh banyak orang. Kita lupa bahwa orang dapat disembuhkan atau bertobat bukan karena kehebatan kita, tapi karena kuasa Tuhan yang turut bekerja di dalamnya dan juga oleh karena iman dari orang yang didoakan itu sendiri.

Tanpa Roh Tuhan bekerja kita ini bukan siapa-siapa! Kita ini hanyalah alatnya Tuhan, tidak lebih. Tidak sepatutnya kita mencuri kemuliaan Tuhan untuk kepentingan diri sendiri. Pujian, hormat dan kemuliaan itu hanya patut diberikan hanya kepada Kristus saja, karena “…punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi!” (1 Tawarikh 29:11).

Mencari pujian dari manusia adalah sia-sia belaka! Ini adalah kebencian Tuhan.

BERTUMBUH MENJADI DEWASA ROHANI

BERTUMBUH MENJADI DEWASA ROHANI

PENDAHULUAN

Allah tidak memanggil kita hanya untuk percaya kepada-Nya, tetapi juga untuk bertumbuh menjadi dewasa secara rohani. Pertumbuhan rohani bukan sekadar mengetahui lebih banyak tentang Tuhan, melainkan juga menjadi semakin serupa dengan Kristus. Melalui bahan Cool bulan ini, kita akan belajar untuk bertumbuh dalam karakter Kristus, menjadi pribadi yang tidak mudah dipengaruhi oleh keadaan, memiliki akar iman yang kuat, menghasilkan buah Roh, bertanggung jawab atas kehidupan rohani kita, serta menjadi teladan bagi orang lain.

ISI

Tidak ada yang mengharapkan seorang bayi tetap menjadi bayi selamanya. Demikian pula dalam kehidupan rohani. Ketika mengalami kelahiran baru, kita adalah bayi-bayi rohani yang lahir dari benih ilahi (1 Petrus 1:23; 1 Yohanes 3:9). Namun, Tuhan tidak menghendaki kita tetap menjadi bayi rohani. Ia ingin kita terus bertumbuh menuju kedewasaan rohani dan pada akhirnya menghasilkan buah.

Bertumbuh menjadi dewasa secara rohani membutuhkan proses yang panjang. Kedewasaan rohani tidak terjadi secara instan atau otomatis hanya karena usia kita bertambah. Dibutuhkan ketetapan hati, kesabaran, dan ketekunan untuk menjalani setiap proses hingga mencapai kedewasaan rohani.

Seperti halnya seorang bayi yang sangat membutuhkan air susu yang murni untuk bertumbuh, demikian pula manusia roh kita membutuhkan makanan rohani untuk mendukung pertumbuhannya.

1 Petrus 2:2 “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan”

Ini bukanlah ajakan untuk kita tetap menjadi bayi rohani yang hanya mau minum susu dan tidak mau menerima makanan yang keras. Ayat ini merupakan seruan bagi kita untuk memiliki rasa haus dan lapar akan makanan rohani yang murni.

Asupan rohani yang murni dan sangat kita butuhkan setiap hari adalah firman Tuhan dan hadirat Roh Kudus. Firman Tuhan adalah kebenaran yang murni dan sejati, yang tidak tercemar oleh hikmat dunia, dosa, kepalsuan, penyesatan, keinginan manusia yang berpusat pada diri sendiri, hawa nafsu, maupun tipu daya Iblis. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).

Firman Tuhan bukan saja mengenyangkan roh dan jiwa kita, tetapi juga membuat kita bertumbuh, menghasilkan buah, dan memperoleh keselamatan. Roh Kudus adalah sumber air hidup yang memuaskan dahaga jiwa, mengingatkan kita akan firman Tuhan, mengajar, dan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran.

Supaya terus memiliki rasa haus dan lapar akan makanan rohani yang murni, kita perlu mendisiplinkan diri untuk masuk hadirat Tuhan melalui doa, pujian, penyembahan, serta menerapkan firman Tuhan yang kita tahu dan renungkan.

Keadaan orang yang terus memenuhi dirinya dengan Firman Tuhan dan hadirat Roh Kudus:

  • Iman jadi kuat dan semakin berakar dalam,
  • Tidak mudah diombang-ambingkan oleh perasaan, keadaan, dan rupa-rupa angin pengajaran,
  • Arah hidupnya benar karena berjalan dalam ketaatan kepada perintah Tuhan,
  • Menanggalkan manusia lama dan senantiasa hidup dalam pertobatan,
  • Masalah, tantangan, dan penderitaan tidak membuatnya menyerah, melainkan mendorongnya untuk terus bertumbuh dan menghasilkan buah yang matang.

Sebaliknya, apa saja yang menyebabkan seseorang kehilangan rasa haus akan Tuhan sehingga tidak lagi bertumbuh (stagnasi)?

  • Hidup dalam dosa yang disembunyikan dan berkompromi dengan dosa,
  • Fokus mengejar perkara-perkara duniawi dan ambisi pribadi, serta hidup dalam hawa nafsu kedagingan,
  • Menjalani rutinitas agamawi tanpa membangun relasi pribadi dengan Tuhan melalui doa, pujian, penyembahan, perenungan firman, dan ketaatan kepada firman Tuhan,
  • Menyimpan kepahitan dan kekecewaan terhadap manusia ataupun Tuhan,
  • Kenyamanan hidup yang membuatnya merasa tidak memerlukan Tuhan,
  • Menjauhkan diri dari kasih karunia, dari pertemuan ibadah, dan dari komunitas orang percaya.

ALUR PROSES PERTUMBUHAN ROHANI

Bayi rohani yang lahir dari benih ilahi → setia dan bertekun dalam proses pembentukan Tuhan melalui masalah, tantangan, penderitaan, dan ujian iman → merespons dengan benar meski di bawah tekanan dengan tetap menaati perintah Tuhan → iman berakar semakin kuat dalam kasih Kristus → bertumbuh menuju kedewasaan iman, hikmat, dan karakter → menghasilkan buah nyata yang dapat dinikmati oleh keluarga, gereja, dan sesama.

REFLEKSI DIRI

Dari alur pertumbuhan di atas, renungkanlah pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Saudara sedang berada di fase yang mana?
  • Apakah Saudara masih bertekun untuk bertumbuh menuju kedewasaan rohani, atau sudah berhenti bertumbuh?
  • Jika Saudara berhenti bertumbuh, apa yang menjadi penyebabnya?
  • Langkah apa yang harus Saudara ambil untuk mengatasi pertumbuhan rohani yang terhenti?

PENUTUP

DEWASA ROHANI BUKAN TENTANG BERAPA LAMA KITA MENJADI ORANG KRISTEN, TETAPI SEBERAPA JAUH HIDUP KITA BERUBAH MENJADI SERUPA KRISTUS.

sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, (Efesus 4:13)

Orang yang dewasa secara rohani bukan berarti tidak pernah lemah, jatuh, atau berbuat salah. Namun, ia memiliki kemauan untuk bangkit kembali dan tidak menyerah, mengasihani diri, atau menjauh dari Tuhan dan saudara seiman. Selama kita mau hidup dalam pertobatan dan ketaatan, kasih karunia Tuhan yang berlimpah akan menopang kita sepanjang proses pertumbuhan rohani.