Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 2)
SEBERAT APA PUN JANGAN MENGGERUTU

SEBERAT APA PUN JANGAN MENGGERUTU

Senin. SEBERAT APA PUN JANGAN MENGGERUTU
Baca: Kisah Para Rasul 16:6-35

“Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.” Kisah 16:10

Pada suatu malam rasul Paulus mendapat penglihatan, tampaklah seorang Makedonia berseru kepadanya: “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!” (Kisah 16:9). Ia percaya penglihatan itu merupakan panggilan Tuhan untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang di sana. Segeralah Paulus dan Silas merespons panggilan Tuhan ini dan pergi menuju ke daerah penginjilan baru itu.

Begitu sampai di wilayah Makedonia bagaimana reaksi orang-orang? Ketika Paulus dan Silas sampai di Filipi banyak orang menentang keras. Mereka menyeret Paulus dan Silas ke pasar dan menghadapkannya kepada penguasa kota: pakaian mereka dikoyak dan didera berkali-kali, lalu keduanya dimasukkan ke dalam ruang penjara yang paling tengah dengan kaki terbelenggu dalam pasungan. Seandainya Paulus dan Silas berkarakter seperti orang-orang Kristen kebanyakan pastilah mereka mengeluh, bersungut-sungut, menggerutu, marah kepada Tuhan. Mungkin mereka berkata, “Aku sudah taat mengerjakan panggilan-Mu, mengapa seperti ini?” Tapi Paulus dan Silas adalah hamba Tuhan yang patut diteladani. Dalam situasi sulit mereka tetap memuliakan nama Tuhan. “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” (Kisah 16:25).

Paulus dan Silas percaya ada rencana Tuhan yang indah di balik penderitaan yang dialaminya. Seringkali kita juga mengalami penderitaan karena kesetiaan kita dalam melayani Tuhan dan hidup benar. Namun seringkali kita menggerutu dan menyalahkan Tuhan. Kita lupa bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (baca Roma 8:28).

“Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” 1 Petrus 2:21


Selasa. SALING JEGAL: Tidak Hidup Dalam Kasih
Baca: Lukas 9:49-50

“Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Lukas 9:49

Semakin hari dunia semakin ‘panas’ dengan persaingan antar manusia. Karena keadaan ini banyak orang mudah tersulut emosi. Kasih menjadi sesuatu yang langka dan tak mudah ditemukan, karena hubungan antarinsani selalu dilandasi kepentingan tertentu. Saling jegal menjadi sesuatu yang biasa terjadi.

Saling jegal juga terjadi di dunia pelayanan! Para pelayan Tuhan menjegal rekan sepelayanan di ladang Tuhan karena merasa tersaingi. Intinya orang saling jegal karena tidak suka melihat orang lain lebih maju, lebih berhasil, atau lebih dipakai Tuhan dalam pelayanan. Karena itu berbagai cara ditempuh untuk menghambat dan menghalangi langkahnya. Mengapa Yohanes pembaptis berkata kepada Tuhan Yesus, “…kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” (ayat nas)? Mulai ada iri hati dalam diri Yohanes: mengapa ada orang lain yang bukan pengikut Kristus mengusir setan demi nama-Nya dan berhasil. Mungkin timbul pertanyaan di benaknya: “Mengapa harus orang lain yang dapat melakukannya, mengapa bukan aku?”

Seharusnya kita bersyukur jika ada orang lain yang hidupnya dipakai Tuhan secara luar biasa. Itu menjadi pendorong atau motivasi bagi kita untuk belajar lebih lagi dan berusaha untuk meningkatkan kualitas kerohanian kita. Sebagai kawan sekerja di ladang Tuhan seharusnya kita saling menopang dan bahu-membahu dalam melayani Tuhan. Sikap saling jegal adalah tanda bahwa kita tidak memiliki kasih. Orang yang memiliki kasih justru akan belajar untuk menghargai kelebihan orang lain, dan membuat kita bisa bersyukur karena nama Tuhan dipermuliakan melalui orang-orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa, jangan justru kita iri hati dan dengki kepada mereka. Tuhan Yesus berkata, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:34-35).

Memiliki kasih adalah tanda bahwa kita ini adalah anak-anak Tuhan, jangan malah menjegal!


Rabu. JANGAN MENJADI BATU SANDUNGAN
Baca: 2 Timotius 2:14-26

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” 2 Timotius 2:15

Semua orang percaya tanpa terkecuali memiliki tanggung jawab sebagai pekerja-pekerja Tuhan. Yang disebut pekerja Tuhan bukan hanya mereka yang mempunyai jabatan resmi di gereja, semisal pendeta, gembala sidang, diaken, atau yang sudah terlibat dalam pelayanan mimbar, akan tetapi semua orang yang mengaku diri sebagai orang percaya atau pengikut Kristus.

Rasul Paulus mengatakan bahwa tugas utama seorang pekerja Kristus adalah memberitakan kebenaran. Karena kita adalah pemberita kebenaran maka kita pun tidak boleh main-main dengan kekristenan kita. Adalah mutlak bagi seorang pekerja Tuhan untuk memiliki sifat Ilahi, yaitu hidup yang mencerminkan Kristus. “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yohanes 2:6). Rasul Paulus meminta kepada Timotius untuk memperingatkan semua orang percaya: “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.” (2 Timotius 2:19). Tetapi banyak dijumpai orang Kristen yang, justru, bukan teladan baik yang ditunjukkan, sebaliknya malah menjadi batu sandungan bagi orang-orang lain; sering terjadi pertengkaran, percekcokan, perselisihan, fitnah, gosip dan saling menjatuhkan satu sama lain di antara jemaat dalam satu lingkup gereja; dan yang lebih menyedihkan Roh Kudus ialah terjadi persaingan yang tidak sehat antar denominasi gereja sehingga gereja menjadi terpecah-pecah atau membentuk kubu-kubu.

Rasul Paulus mengingatkan bahwa seorang pekerja Tuhan harus mampu mengekang lidahnya, “…agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya… hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.” (2 Timotius 2:14, 16). Kalau hidup kita sendiri tidak mampu menjadi kesaksian yang baik, bagaimana kita bisa melayani jiwa-jiwa dan memberitakan kebenaran kepada orang lain?

Jika seseorang menyucikan diri dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia (baca 2 Timotius 2:21).


Kamis. JANGAN BERSUMPAH PALSU ATAU DUSTA (1)
Baca: Amsal 19:1-9

“Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.” Amsal 19:5

Zaman sekarang ini keadaan makin bertambah jahat, orang lebih suka berbuat kejahatan daripada melakukan hal-hal yang baik. Lebih banyak pembohong daripada orang berkata jujur, bahkan di pengadilan sekalipun banyak sekali terdapat ketidakadilan, ketidakjujuran, banyak saksi-saksi dusta atau sumpah-sumpah palsu sebagai pertanda bahwa manusia tidak lagi takut akan Tuhan. Sering dijumpai banyak orang rela bersumpah palsu atau bersaksi dusta demi rasa solidernya kepada atasan, relasi bisnis, sahabat atau teman dekat. Rasa solider ini seringkali ‘buta’ dan tidak obyektif walaupun tahu benar bahwa atasan, relasi bisnis, sahabat atau teman dekatnya itu melakukan kesalahan atau pelanggaran, mereka tetap saja mau menjadi saksi dusta. Ada pula orang yang rela menyampaikan saksi dusta meski hal itu bertentangan dengan firman karena mereka diiming-imingi uang, jabatan atau materi, sehingga matanya menjadi ‘silau’ dan akhirnya mau melakukan kompromi.

Berhati-hatilah, Tuhan tidak pernah menutup mata terhadap apa yang kita perbuat! Mungkin kita bisa berkilah atau menyembunyikan kebohongan itu di hadapan manusia, tapi di hadapan Tuhan tidak, sebab “…tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Tuhan tidak bisa dipermainkan, Ia tidak akan tinggal diam, apa yang telah difirmankan-Nya pasti akan dilaksanakan. Amatlah penting firman Tuhan mengenai hukuman atas orang yang suka menggemakan kebohongan atau saksi dusta sampai-sampai peringatan ini diulangi: “Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa.” (Amsal 19:9).

Daud dalam mazmurnya juga menegaskan bahwa tidak sembarangan orang boleh naik ke gunung Tuhan atau berdiri di tempat-Nya yang kudus! Hanya “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.” (Mazmur 24:4-5).
(Bersambung)


Jumat. JANGAN BERSUMPAH PALSU ATAU DUSTA (2)
Baca: Matius 5:33-37

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Matius 5:37

Mereka yang suka bersumpah palsu atau berbohong hidupnya pasti akan mengalami masalah demi masalah karena berkat Tuhan pasti terhalang. Orang yang suka bersumpah palsu atau berbohong adalah pertanda bahwa mereka telah meremehkan Tuhan dan menganggap bahwa Tuhan tidak mendengar apa yang diucapkannya. Mereka lupa bahwa ada hukuman atas orang-orang yang tidak takut akan Tuhan dan melecehkan Tuhan. “Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.” (Imamat 19:12).

Pembacaan firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh bersumpah, apalagi bersumpah palsu: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:34-37). Jika kita telah terlanjur melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan ini, telah melakukan suatu kesalahan atau kekhilafan, adalah lebih baik kita mengakui kesalahan itu dan cepat berbalik kepada Tuhan. Segeralah berlutut di bawah kaki Tuhan, mengakui semua pelanggaran yang telah kita lakukan secara terperinci, dan memohon pengampunan serta belas kasihan Tuhan!

Melalui nabi Zakharia Tuhan berfirman, “Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang terhadap yang lain dan janganlah mencintai sumpah palsu. Sebab semuanya itu Kubenci, demikianlah firman TUHAN.” (Zakharia 8:17). Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu (baca 1 Petrus 3:10).

“Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu… Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu.” Mazmur 5:6-7


Sabtu. HIDUP ADALAH SEBUAH KESEMPATAN BERHARGA (1)
Baca: Lukas 13:6-9

“Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!” Lukas 13:7

Dalam perumpamaan tentang pohon ara yang kita baca, dikatakan sudah tiga tahun lamanya si pemilik kebun mencari buah pada pohon ara itu, tetapi tidak mendapatkannya. Lalu si pengurus kebun meminta kepada pemilik kebun untuk memberi kesempatan setahun lagi: “…aku mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (ayat 8-9). Ini berbicara tentang sebuah kesempatan!

Dalam hidup kita menjumpai ada banyak kesempatan. Dengan kata lain hidup ini adalah sebuah kesempatan. Pertanyaannya: bagaimana agar kita dapat melihat kesempatan itu dan menggunakannya dengan baik? Orang-orang yang berhasil dalam bidang apa pun yang ditekuninya adalah mereka yang mampu menangkap setiap kesempatan yang menghampiri hidupnya. Bukan berarti mereka tidak pernah gagal, tapi mereka mampu menjadikan kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar, berbenah dan memperbaiki diri. Sebaliknya ada banyak orang yang hidup dalam kegagalan demi kegagalan oleh karena telah menyia-nyiakan dan membuang kesempatan yang datang dalam hidupnya.

Bicara tentang kesempatan selalu berkaitan dengan waktu. Dalam membicarakan waktu Tuhan ada tiga istilah dalam Alkitab:
1. Waktu kronos. Yang dimaksud kronos adalah waktu yang biasa, yang selalu ada. Kronos menunjukkan jangka waktu tertentu, entah itu waktu yang singkat (sekejap saja) atau waktu yang lama. Kata Yunani kronos dipakai berhubungan dengan jam, hari, bulan dan tahun. Waktu kronos adalah siklus waktu yang biasa.
2. Waktu aion. Kata aion dipakai untuk menunjukkan entah waktu yang lama sekali, atau waktu yang tanpa batas. Oleh sebab itu aion dipakai untuk waktu yang dimulai dengan penciptaan dan berakhir dengan kedatangan Kristus yang kedua kali; atau juga tentang waktu kekekalan, yaitu waktu tanpa batas.
3. Waktu kairos. Kata kairos berbicara tentang periode tertentu. Kalau waktu itu sudah lewat tidak akan kembali lagi. Ini berbicara tentang kesempatan dan momentum yang ada di waktu-waktu tertentu. Kalau tidak dipergunakan sebaik-baiknya maka waktu (kairos) itu akan hilang.
(Bersambung)


Minggu. HIDUP ADALAH SEBUAH KESEMPATAN BERHARGA (2)
Baca: Pengkhotbah 9:1-12

“Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.” Pengkhotbah 9:12

Menyadari betapa berharganya waktu atau kesempatan dalam hidup ini rasul Paulus pun menasihati agar kita benar-benar memperhatikan dengan seksama hal ini: “…bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (Efesus 5:15-16). Kalau kita tidak cermat memperhatikan, maka kita akan kehilangan kesempatan. Karena itu kita harus memperhatikan waktu pintu terbuka dan waktu pintu tertutup. Ada tertulis: “…apabila Ia (Tuhan Yesus) membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” (Wahyu 3:7). Artinya ada waktunya Tuhan membuka pintu masuk bagi kita dalam sebuah kesempatan; bilamana kita tidak masuk, pintu akan tertutup. Pintu itu bisa sebuah kesempatan-kesempatan baik yang kita miliki, yang mungkin cuma sekali saja. Jadi, perhatikan kairos yang Tuhan berikan!

Pengkhotbah menyatakan bahwa nasib semua orang sama, yang membedakan antara yang satu dengan yang lain adalah apakah kita bisa menggunakan kesempatan dalam hidup ini dengan baik, ataukah justru menyia-nyiakannya. Maka dari itu firman Tuhan menasihati: “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tidak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” (Pengkhotbah 9:10). Selagi ada waktu dan kesempatan, selagi kita masih diberi nafas hidup oleh Tuhan, mari kita kerjakan segala sesuatu yang Tuhan sudah percayakan dalam bidang apa pun (pelayanan, pekerjaan, studi dan sebagainya) dengan begitu sungguh-sungguh, sepenuh hati dan setia!

Betapa banyak dari kita yang memiliki kebiasaan klasik suka menunda-nunda waktu dalam mengerjakan sesuatu. Kita berkata: “Ah nanti saja kan bisa… besok atau lusa, pasti akan kukerjakan…!” Padahal manusia tidak mengetahui waktunya (ayat nas), tidak tahu apa yang terjadi hari esok.

Karena itu jadilah peka dan berlakulah bijaksana, atau kita akan menyesalinya!

MEMBANGUN KEHIDUPAN YANG KOKOH

MEMBANGUN KEHIDUPAN YANG KOKOH

PENDAHULUAN

Tuhan Yesus menghendaki setiap orang percaya membangun kehidupan yang kokoh di dalam Dia. Dalam perumpamaan di Matius 7:24-27, Ia mengatakan bahwa orang bijak adalah orang yang membangun hidupnya di atas batu. Ketika masalah, kesulitan, dan penderitaan datang, kehidupannya tidak goyah. Orang bijak memiliki kehidupan yang kokoh karena dibangun di atas ketaatan kepada perintah Tuhan. Ia bukan hanya mendengar firman, tetapi juga melakukannya.

ISI

I. MENDENGAR FIRMAN TUHAN

Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. (Ayub 33:14a).

Allah dapat berfirman dengan cara apa pun. Ia tidak dapat dibatasi oleh pikiran, pengertian, waktu, dan keinginan kita. Pertanyaannya, apakah kita mendengarkan dan memperhatikan ketika Ia berfirman? Bagaimana kita dapat mendengar suara Tuhan?

Mendengar suara Tuhan dimulai dengan membangun hubungan dengan Roh Kudus melalui doa, pujian, penyembahan, dan perenungan firman. Akal budi kita harus mengalami pembaruan melalui firman Tuhan, sehingga kita memiliki panduan untuk membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.

Saat hubungan dengan Roh Kudus terus dijaga dan akal budi terus diperbarui oleh firman Tuhan, hati kita menjadi lebih terbuka untuk menerima suara Tuhan yang disampaikan oleh Roh Kudus melalui berbagai cara, antara lain:
• melalui firman Tuhan yang dibaca dan direnungkan;
• melalui impresi atau kesan yang muncul dalam hati atau pikiran;
• melalui keadaan, teguran, penderitaan, mukjizat, serta pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain;
• melalui doa, mimpi, penglihatan, lagu pujian dan penyembahan, khotbah, renungan harian, artikel, maupun buku;
• melalui orang lain;
• melalui suara yang terdengar secara audibel.

Perlu diperhatikan bahwa suara Tuhan yang kita dengar tidak pernah bertentangan dengan firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Roh Kudus tidak akan pernah membawa kita kepada hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran firman-Nya.
Suara Tuhan juga dapat dikonfirmasi melalui mentor atau pemimpin rohani yang dapat memberikan nasihat dan peneguhan. Suara Tuhan mendatangkan damai sejahtera, menimbulkan iman, menerangi jiwa, dan membuat kita semakin bertumbuh dalam hikmat.

Langkah praktis untuk belajar mendengar suara Tuhan:
• Disiplinkan diri untuk bersaat teduh setiap pagi pada waktu yang sama, sebelum memulai aktivitas. Tempatkan hubungan kita dengan Tuhan sebagai prioritas utama.
• Masuk ke dalam hadirat Tuhan dengan mengucap syukur, memuji, menyembah, dan berdoa.
• Belajar menenangkan diri dan berdiam diri sambil menantikan Tuhan dalam hadirat-Nya. Fokuskan pikiran hanya kepada Tuhan Yesus.
• Baca renungan harian dan renungkan beberapa pasal firman Tuhan, misalnya dua pasal pada pagi hari, dua pasal pada siang hari, dan dua pasal pada malam hari.
• Semakin konsisten kita melatih diri, semakin peka pula kita dalam mendengar suara Tuhan.

II. MELAKUKAN FIRMAN TUHAN

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (Matius 7:24)

Roh Kudus akan mendorong kita untuk menanggapi dan menaati suara Tuhan yang kita dengar. Orang bijak adalah orang yang belajar menaati suara Tuhan, sekalipun ketaatan itu terasa tidak nyaman. Alkitab mengatakan bahwa keinginan Roh memang selalu berlawanan dengan keinginan daging. Oleh sebab itu, hiduplah oleh Roh, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging (Galatia 5:16).

Orang berhikmat yang melakukan firman Tuhan akan hidup dalam berkat:
Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik. Orang yang bijak lebih berwibawa daripada orang kuat, juga orang yang berpengetahuan daripada orang yang tegap kuat (Amsal 24:3–4)

Ketaatan kepada firman Tuhan membawa kita mengalami penggenapan janji-Nya, penyertaan, penyediaan, pemeliharaan, mukjizat, pemulihan, kesembuhan, perlindungan dari yang jahat, dan kemenangan.

III. TETAP TEGUH SAAT MENGHADAPI BADAI KEHIDUPAN

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. (Matius 7:25)

Ketaatan kepada firman Tuhan membuat kita memiliki fondasi kehidupan yang kokoh. Sekalipun badai kehidupan menerpa, iman kita tetap teguh, bahkan semakin kuat. Masalah, kesulitan, dan penderitaan tidak dapat menghancurkan kehidupan orang yang taat kepada firman Tuhan. Mengapa? Karena Allah menopang segala sesuatu dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan (Ibrani 1:3). Tuhan sendiri yang menjamin, meneguhkan, dan membela firman-Nya.

”demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” (Yesaya 55:11).

Firman Tuhan itu hidup, penuh kuasa, kekal, dan tidak pernah berubah di tengah keadaan yang berubah-ubah. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Matius 24:35).

IV. MENINGGALKAN WARISAN IMAN BAGI GENERASI BERIKUTNYA

Meninggalkan warisan iman kepada generasi berikutnya adalah tugas dan tanggung jawab rohani yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Uang bisa habis, harta bisa lapuk, dan ketenaran bisa pudar, tetapi iman adalah warisan terbaik dan kekal yang dapat kita teruskan kepada anak cucu.

Meninggalkan warisan iman bukan hanya berarti memberitakan firman Tuhan secara teoretis kepada anak cucu, tetapi juga menjadi pelaku firman. Keaslian iman yang dibuktikan melalui kehidupan yang benar dan ketaatan kepada perintah Tuhan menjadi teladan nyata yang membawa dampak kekal bagi generasi berikutnya. Mereka dapat melihat dan mengalami secara langsung bagaimana ketaatan kepada firman Tuhan membuat kehidupan orang tua mereka tetap kokoh, sekalipun menghadapi berbagai masalah dan kesulitan.

APLIKASI

Lakukan evaluasi terhadap:
Kehidupan rohani.
Keluarga.
Pekerjaan.
Pelayanan.
Keuangan.
Karakter.

PERTANYAAN DAN DISKUSI

Di atas dasar apa Anda sedang membangun hidup?
Area mana yang perlu lebih taat kepada firman Tuhan?

PENUTUP

Kehidupan yang kokoh bukanlah kehidupan yang dibangun atas dasar kehebatan, kekuatan, kepintaran, harta kekayaan, pencapaian, ataupun kesuksesan. Kehidupan yang kokoh juga bukanlah kehidupan yang nyaman dan bebas dari masalah. Kehidupan yang kokoh adalah kehidupan yang tetap teguh ketika mengalami badai kehidupan, karena dibangun di atas fondasi yang kuat. Fondasi yang kuat itu bukan sekadar pengetahuan akan firman Tuhan, melainkan ketaatan dalam melakukan firman Tuhan.

Jadilah orang bijak yang terus bertumbuh dalam iman dan hikmat, agar kehidupan kita tetap kokoh dan kita dapat meninggalkan warisan iman bagi generasi berikutnya.

PADA TUHANLAH KUASA DAN KEMENANGAN

PADA TUHANLAH KUASA DAN KEMENANGAN

Senin. PADA TUHANLAH KUASA DAN KEMENANGAN
Baca: Ayub 12:1-25

“Pada Dialah kuasa dan kemenangan, Dialah yang menguasai baik orang yang tersesat maupun orang yang menyesatkan.” Ayub 12:16

Dalam kepahitan dan kegetiran hati karena beratnya penderitaan yang dialami, pada akhirnya Ayub tersadar dan mengerti bahwa di dalam Tuhan ada kuasa dan kemenangan. Ayub akhirnya juga ingat akan kuasa Tuhan yang sanggup mengubah keadaan hidupnya. Jika Tuhan turut campur tangan dalam kehidupan seseorang, segala sesuatu yang tak beres pasti dapat diubah-Nya, asal kita memiliki penyerahan diri penuh kepada kekuatan kuasa-Nya. Ada tertulis: “Bila Ia membongkar, tidak ada yang dapat membangun kembali; bila Ia menangkap seseorang, tidak ada yang dapat melepaskannya.” (Ayub 12:14). Kalau Tuhan ingin memperbaiki hidup seseorang yang tak benar, tak seorang pun dapat mencegahnya.

Kita tidak bisa lari dari hadapan Tuhan untuk menghindarkan diri dari proses-Nya ini. Pemazmur berkata, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.” (Mazmur 139:7-10). Ada banyak kesaksian, sebelum seseorang bertobat bisnisnya sangat lancar. Tetapi setelah ia bertobat dan mengikut Tuhan, bisnisnya justru menjadi bangkrut. Dalam keadaan seperti ini banyak di antara mereka yang memilih lari meninggalkan Tuhan. Mengapa bisa terjadi?

Sesungguhnya Tuhan ingin ‘membersihkan’ hidup orang, siapa tahu dahulu bisnis dan kekayaan yang dimilikinya didapatnya dari cara yang tak wajar atau bertentangan dengan firman Tuhan; dan kini Tuhan mau kita memulai segala sesuatu dari nol bersama-Nya dan bertumbuh kembali dalam kelimpahan berkat yang benar, jujur dan berkenan di mata Tuhan. Pada saat dibentuk Tuhan, apabila kita mau merendahkan diri dan berserah, Tuhan yang adalah sumber hikmat dan kekuatan, pasti akan menolong kita sehingga kita dapat bertahan dan mampu melewati masa kritis itu dengan kemenangan.

“Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.” Ayub 12:13


Selasa. HIDUPLAH MENGANDALKAN TUHAN
Baca: Yeremia 17:5-10

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” Yeremia 17:7

Hari ini kita memasuki hari pertama di bulan September. Jika memperhatikan keadaan dunia saat ini, semakin baikkah? Sebaliknya, bukan? Semakin hari semakin banyak goncangan terjadi. Secara naluriah goncangan-goncangan yang ada membuat kita semakin was-was, gelisah dan takut. Kemudian karena terpengaruh oleh keadaan atau situasi yang ada, tidak sedikit orang percaya yang awalnya memiliki roh yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan atau mengerjakan perkara-perkara rohani akhirnya menjadi suam-suam kuku. Mereka mulai kehilangan kasih mula-mula kepada Tuhan, dan klimaksnya mereka mengakhirinya dengan hidup di dalam daging (baca Galatia 3:3).

Hal ini tidak akan terjadi apabila kita hidup mengandalkan Tuhan dan bersandar kepada-Nya. Keadaan orang-orang yang hidup mengandalkan Tuhan pasti berbeda dari orang tidak mengandalkan Tuhan. Orang yang hidup mengandalkan Tuhan “…akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:8). Orang yang hidupnya mengandalkan Tuhan tidak akan terpengaruh oleh situasi atau keadaan, tidak perlu takut pada musim-musim kering, tidak perlu takut menghadapi goncangan. Seperti pohon yang akar-akarnya merambat ke tepi batang air, maka daunnya tidak akan pernah layu, selalu hijau, dan senantiasa menghasilkan buah pada musimnya. Berbuahnya pun tidak sekedar berbuah, tetapi lebat dan manis rasanya.

Sesungguhnya goncangan sudah terjadi sejak dahulu. Ketika Tuhan Yesus dilahirkan, goncangan dan aniaya hebat terjadi, sampai-sampai Ia harus dibawa mengungsi ke Mesir. Meski demikian terang yang dibawa Kristus tidak pernah redup, bahkan terang-Nya mampu mengalahkan kegelapan dunia, sebagaimana tujuan Kristus datang ke bumi adalah untuk menyatakan keberadaan dan kebenaran Bapa, sehingga “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;” (Yohanes 14:9).

Hidup kita akan tetap menunjukkan kualitas berbeda di tengah goncangan asal kita senantiasa mengandalkan Tuhan!


Rabu. CIRI ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN (1)
Baca: Yeremia 17:5-10

“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” Yeremia 17:5

Mengapa kita harus mengandalkan Tuhan Yesus dalam hidup ini? Karena Dia adalah Tuhan yang penuh kuasa dan tidak ada perkara yang mustahil bagi-Nya. Tuhan Yesus berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius 28:18). Karena itu kita tidak perlu takut menghadapi goncangan-goncangan yang ada di dunia ini, sebab kita punya Tuhan yang tak pernah melepaskan tangan-Nya untuk menuntun kita. Ada tertulis: “TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.” (Yesaya 58:11), dan penyertaan-Nya yang sempurna tidak akan berakhir. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20b).

Apa ciri-ciri orang yang hidup mengandalkan Tuhan? Tidak hidup mengandalkan diri sendiri atau kekuatan sendiri. Mengandalkan diri sendiri sama artinya mengandalkan apa yang dimiliki: asal-usul, pendidikan, status, kekayaan, kedudukan, kepintaran dan sebagainya. Pemazmur mengingatkan siapa diri kita di hadapan Tuhan, bahwa kita ini adalah debu (baca Mazmur 103:14). Seharusnya kita sadar bahwa pada akhirnya segala perkara yang melekat pada kita tidak akan berguna, tidak dapat menolong, apalagi menyelamatkan dan meluputkan kita dari goncangan-goncangan dunia. Digambarkan tentang keadaan orang yang hidup mengandalkan diri sendiri dan menjauh daripada Tuhan: “Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.” (Yeremia 17:6).

Betapa banyak orang percaya yang ketika sentosa seperti tidak membutuhkan Tuhan, sehingga teguran dan peringatan Tuhan dianggapnya remeh karena merasa diri mampu. “Aku telah berbicara kepadamu selagi engkau sentosa, tetapi engkau berkata: ‘Aku tidak mau mendengarkan!’ Itulah tingkah langkahmu dari sejak masa mudamu, sebab engkau tidak mau mendengarkan suara-Ku!” (Yeremia 22:21). Kata sentosa (shalvah) diartikan: aman, sukses, makmur dan baik-baik saja.


Kamis. CIRI ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN (2)
Baca: Mazmur 91:1-16

“Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.” Mazmur 91:14

Akar suatu pohon atau tanaman itu pasti mendekat dan melekat pada batang air. Air berbicara tentang firman Tuhan, dan firman Tuhan itu adalah Kristus sendiri. Ini berbicara tentang pentingnya sebuah persekutuan. Kata persekutuan artinya dipersatukan menjadi satu. Jadi, apabila ada persekutuan akan terjadi satu ikatan (batin, roh) antara satu dengan yang lainnya dengan begitu erat, bersatu dan tidak dapat dipisahkan.

Ada lagi ciri orang yang hidup mengandalkan Tuhan: hatinya melekat kepada Tuhan. Melekat kepada Tuhan artinya memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan. Ini adalah tanda ketergantungan kita kepada Tuhan, sama seperti ranting-ranting yang tidak dapat hidup dan berbuah tanpa melekat kepada pokok anggur. Tuhan Yesus berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5). Pemazmur menegaskan bahwa ada berkat yang luar biasa bagi orang yang hidup melekat kepada Tuhan, yaitu hidupnya senantiasa dalam pengawasan Tuhan dan pertolongan-Nya pasti dinyatakan. “Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.” (Mazmur 91:15-16). Tuhan Yesus juga memberikan sebuah jaminan yang pasti bahwa “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7).

Orang yang hatinya melekat kepada Tuhan adalah orang yang suka sekali merenungkan firman Tuhan setiap hari, memperkatakannya dengan iman serta melakukannya, sebab “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” (Roma 10:8). Firman itulah yang akan menuntun, sebab “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105).

Karena hatinya senantiasa melekat kepada Tuhan dan firman-Nya, apa saja yang diperbuatnya menjadi berhasil dan beruntung!


Jumat. JANGAN ANDALKAN APA PUN SELAIN TUHAN
Baca: Amos 6:1-14

“Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang!” Amos 6:1

Melalui nabi Amos Tuhan memperingatkan umat-Nya agar tidak merasa aman di Sion, merasa tenteram di Samaria, serta tidak mengandalkan manusia.

Sion adalah pusat ibadah bangsa Yehuda, di mana mereka melakukan kegiatan keagamaan: ibadah, mempersembahkan korban dan perayaan. Seringkali kita berpikir bahwa ketika kita sudah rajin beribadah, aktif melayani dan memberi persembahan kita sudah menyenangkan hati Tuhan. Ibadah dan pelayanan yang sesungguhnya itu berbicara tentang ketaatan terhadap firman Tuhan. Ibadah kita hanya akan disebut rutinitas agamawi apabila tidak disertai ketaatan. Tertulis: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (1 Samuel 15:22).

Samaria adalah ibukota kerajaan Israel bagian utara, gambaran tentang pusat kekayaan dan kekuasaan. Kata tenteram (batach) berarti percaya atau mengandalkan pada kekuasaan. Banyak orang mengandalkan kekayaan yang dimiliki dan juga membangga-banggakan jabatan, kedudukan atau kekuasaan. Padahal Alkitab menyatakan bahwa kekayaan adalah sesuatu yang tidak pasti. “Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia (kekayaan), karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.” (Amsal 23:5).

Orang terkemuka berbicara tentang orang-orang yang biasa kita andalkan, koneksi, relasi, atau yang kepadanya kita berharap mendapatkan pertolongan. Berharap kepada manusia pasti akan berujung pada kekecewaan, sebab manusia itu mudah sekali berubah. Karena itu “Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2:22). Usia, kekuatan dan kemampuan manusia itu sangatlah terbatas, bersifat fana dan pada akhirnya akan mati. Artinya bahwa di dalam diri kita ini tidak ada yang dapat diandalkan!

Karena itu jangan sekali-kali kita mengandalkan apa pun yang ada di dunia ini!


Sabtu. YABES: Menang Atas Penderitaan
Baca: 1 Tawarikh 4:9-10

“Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: ‘Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan.'” 1 Tawarikh 4:9

Alkitab menyatakan bahwa Yabes disebut sebagai keturunan Yehuda dari cabang lain. Itu artinya ia berasal dari keturunan yang sama sekali tidak diperhitungkan. Begitu juga dengan namanya, bukan merupakan nama yang memiliki arti baik. Nama Yabes berarti sakit, membawa kemalangan dan kesusahan. Namun pada akhirnya hidup Yabes dan namanya pun terdaftar sebagai orang-orang yang dimuliakan.

Inilah rahasia doa Yabes sehingga beroleh jawaban dari Tuhan:
1. Doanya tidak bertele-tele. Dalam hal berdoa Tuhan Yesus mengajarkan, “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” (Matius 6:7-8). Tuhan kita adalah Tuhan yang Mahatahu, Ia tahu apa yang ada di dalam hati, pikiran, dan rencana kita. “TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” (1 Tawarikh 28:9). Karena itu Tuhan menghendaki kita untuk berdoa dengan tidak bertele-tele, melainkan doa yang singkat, jelas, dan tepat pada sasaran. Itulah yang dilakukan oleh Yabes saat berdoa!

2. Tidak mudah putus asa. Sekalipun namanya memiliki arti negatif, buruk dan penuh kemalangan, Yabes tidak larut dalam penyesalan atau mengasihani diri sendiri seperti yang biasa dilakukan oleh banyak orang dengan berkata: “Mengapa hidupku seperti ini… mengapa aku harus menanggung penderitaan ini?” Ia juga tidak menyalahkan keadaan, menyalahkan orangtua yang memberinya nama, apalagi menyalahkan Tuhan. Yabes berjuang untuk mengalahkan penderitaan yang tertulis dalam namanya dengan hidup mengandalkan Tuhan sepenuhnya, karena ia sangat percaya bahwa tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan! “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Lukas 18:7).

“Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?” Amsal 18:14


Minggu. YABES: Menang Atas Penderitaan (2)
Baca: 1 Tawarikh 4:9-10

“Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.” 1 Tawarikh 4:10b

Yabes berdoa, “Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!” (1 Tawarikh 4:10). Ini merupakan cermin iman! Ia berkeyakinan Tuhan sanggup melakukan segala perkara. Permohonannya untuk memberkati, memperluas daerah, menyertai dan melindungi adalah wujud tanggung jawabnya terhadap tugas-tugas yang harus diembannya, yaitu tugas dan tanggung jawab kepuakan.

Puak artinya golongan, kelompok atau kaum (golongan keluarga, suku bangsa). Yabes berdoa bukan untuk kepentingan diri sendiri, tapi untuk banyak orang, dan bertujuan untuk kemuliaan nama Tuhan. Ini berbicara tentang motivasi atau sikap hati!

Betapa banyak orang Kristen yang kecewa karena doa-doanya tidak dijawab Tuhan. Seharusnya kita mengoreksi diri mengapa doa kita tidak dijawab? Karena kita memiliki motivasi yang salah saat berdoa. Jangan sampai terselip sedikitpun untuk mencari kemuliaan diri sendiri, atau ada motivasi terselubung. “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Yakobus 4:3). Ingat! Tuhan menyelidiki hati dan menguji batin kita, Ia tahu motivasi hati kita saat berdoa.

Rahasia ke-3 doa Yabes: Untuk kemuliaan nama Tuhan. Kehendak Tuhan adalah memberkati kita dengan hidup berlimpah dan lebih dari pemenang, dengan tujuan supaya kita menjadi berkat sehingga Tuhan dipermuliakan melalui hidup kita. Yabes mempertanggungjawabkan berkat-berkatnya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan terlebih untuk puaknya. Perluasan kekuasaan berkaitan dengan pemasyhuran nama Tuhan. Yabes sadar bahwa tanpa Tuhan semuanya sia-sia, karena segala sesuatu yang diterimanya itu berasal dari Tuhan dan karena campur tangan-Nya semata. Pengakuan yang sedemikian ini membuat Tuhan berkenan kepadanya. Kesadaran itu sejalan dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5). Segala sesuatu yang kita kerjakan haruslah untuk memuliakan nama Tuhan!

Karena melibatkan Tuhan dan mengandalkan-Nya, hidup dipulihkan dan menjadi berkat!

HIKMAT DALAM RELASI

HIKMAT DALAM RELASI

PENDAHULUAN

Setiap orang memiliki sifat, karakter, kebiasaan, kesukaan, tingkat kedewasaan, latar belakang, dan karunia yang berbeda-beda. Perbedaan ini dapat menjadi tantangan dalam membangun hubungan karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, perselisihan, iri hati, kesombongan, mementingkan diri sendiri, luka hati, dan perpecahan.

Itu sebabnya diperlukan hikmat agar perbedaan tersebut diarahkan menjadi kesempatan untuk belajar saling mengasihi, menghormati, memahami, melengkapi, menajamkan, dan bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus. Hikmat dari Allah menghasilkan hubungan yang sehat, damai, dan penuh kasih.

ISI

Baca Yakobus 3:13–18.
Dalam membangun hubungan, yang kita perlukan adalah hikmat Allah, bukan hikmat dunia. Hikmat Allah berorientasi kepada kebenaran dan kekekalan, hikmat dunia berorientasi kepada ‘diri sendiri’, kedagingan dan perkara-perkara duniawi.

PERBANDINGAN

Hikmat dunia:
– Mementingkan diri sendiri.
– Sombong.
– Iri hati.
– Menimbulkan perpecahan.

Hikmat dari Allah:
– Murni.
– Membawa damai.
– Lemah lembut.
– Penuh belas kasihan.
– Tulus dan tidak munafik.

Orang yang memiliki hikmat dari Allah menyatakan perilakunya dengan:

1. KERENDAHAN HATI

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kolose 3:12).

Kerendahan hati dalam hubungan adalah sikap yang menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.
Contoh sikap kerendahan hati:
– Tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia, menganggap orang lain lebih utama dan melayani kepentingan mereka (Filipi 2:3-4).
– Bisa mengakui kekurangan, kesalahan, dan minta maaf,
– Bisa menerima teguran, koreksi dan diajar,
– Bisa menghargai, mengakui kelebihan, dan keberhasilan orang lain,
– Tidak perlu membuktikan diri dan menganggap diri benar,
– Ada penundukkan diri, bisa bekerja sama dengan orang lain,
– Menyikapi perbedaan dan menyelesaikan konflik dengan prinsip kebenaran dan kasih.

Kerendahan hati menghindarkan kita dari sikap egois, sombong (merasa diri hebat dan menunjukkannya), dan angkuh (merasa diri lebih tinggi dan memandang rendah orang lain). Kerendahan hati melindungi kita dari tipu daya si jahat yang membawa kepada kejatuhan. Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Orang yang rendah hati akan ditinggikan atau dipromosikan oleh Tuhan pada waktunya, sementara orang yang tinggi hati akan direndahkan. Sikap saling merendahkan hati menciptakan keharmonisan, damai sejahtera, dan kesatuan.

2. KELEMAHLEMBUTAN

Kelemahlembutan (meekness) adalah kekuatan yang berada di bawah penguasaan diri. Kelemahlembutan bukan kelemahan, sikap pengecut atau pasif, melainkan pilihan yang disengaja untuk menahan kekuatan, hak, dan reaksi diri yang didasari oleh kerendahan hati dan kelembutan. Kelemahlembutan membuat seseorang tidak mudah terpancing oleh tindakan, ucapan, atau situasi yang dapat menimbulkan amarah atau emosi negatif lainnya. Sebaliknya, ia mampu menguasai diri dan menyerahkan kendali kepada pimpinan Roh Kudus.

Kelemahlembutan:
– mampu meredakan kegeraman dalam sebuah konflik atau perselisihan (Amsal 15:1).
– mencairkan ketegangan dan membuka ruang untuk berdialog.
– mampu bertutur kata dengan santun dan tenang, bahkan berempati terhadap orang yang memiliki pandangan berbeda.
– menghormati perbedaan tanpa harus memaksakan kesamaan pandangan.
– fokusnya menyelesaikan masalah dan mencari solusi, bukan berdebat atau memaksakan kehendak.

3. MENGAMPUNI

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (Kolose 3:13)

Firman Tuhan mengajarkan bahwa respons terbaik dan paling bijak ketika kita disakiti adalah mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Mengampuni orang lain merupakan kewajiban setiap orang percaya. Sebagaimana Tuhan telah mengampuni kita, kita pun wajib mengampuni orang lain. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Matius 6:14–15).

Untuk bisa mengampuni orang lain, kita perlu membereskan hati dengan Tuhan terlebih dahulu. Saat hati kita telah dipulihkan, Roh Kudus memberikan kemampuan untuk mengampuni orang lain. Melepaskan pengampunan mendatangkan berkat dan kebaikan bagi diri kita. Hati dan jiwa kita dilepaskan dari ikatan dan beban emosi negatif sehingga kita mengalami ketenangan, damai sejahtera, sukacita, pemulihan, dan pertumbuhan karakter.

Belajarlah untuk melihat segala sesuatu dari perspektif kedaulatan Tuhan: bahwa perlakuan buruk yang kita alami dapat dipakai Tuhan untuk mendatangkan kebaikan, membentuk karakter, serta membawa kita masuk ke dalam panggilan-Nya. Seperti Yusuf memaknai perlakuan buruk saudara-saudaranya di masa lalu dengan cara pandang Tuhan: Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar (Kejadian 50:20).

4. MENJADI PEMBAWA DAMAI

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh… (Kolose 3:14-15).

Menjadi pembawa damai bukan berarti kita berkompromi dengan dosa dan dunia atau memihak kepada manusia. Menjadi pembawa damai juga tidak berarti menyenangkan semua orang. Menjadi pembawa damai berarti kita berpihak pada kebenaran yang berdasarkan firman Tuhan. Damai yang sejati hanya timbul dari kebenaran, bukan dari perasaan atau keadaan (Yesaya 32:17).
Sebagai pembawa damai, hati kita harus dipenuhi oleh kasih dan damai sejahtera yang diperoleh melalui persekutuan dengan Kristus, Sang Raja Damai.

Dalam mengusahakan perdamaian:
– minta hikmat dari Roh Kudus untuk menyelesaikan konflik dengan bijak;
– kenakan kasih Allah sebagai pengikat yang mempersatukan;
– gunakan perkataan yang santun, membangun, dan mengarahkan kepada kebenaran,
– jangan memperkeruh keadaan dengan menghakimi, menghasut, memecah-belah, atau menyebarkan gosip;
– tanggalkan keakuan, rendahkan hati, dan utamakan kepentingan bersama serta kesatuan.

Belajarlah menjadi pihak yang proaktif dalam mengusahakan perdamaian di tengah sebuah konflik. Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang (Roma 12:18).

APLIKASI
Mintalah Tuhan menunjukkan satu hubungan yang perlu dipulihkan, lalu ambillah langkah pertama untuk berdamai.

PERTANYAAN DAN DISKUSI SINGKAT

Hubungan apa yang perlu dipulihkan?
Bagaimana hikmat Allah dapat mengubah cara Anda merespons orang lain?

PENUTUP

Hubungan pribadi kita dengan Tuhan akan memancarkan kasih, kelemahlembutan, kemurahan, kerendahan hati, dan kedamaian yang dapat kita bagikan kepada orang lain. Jadilah pelaku firman agar hikmat yang kita peroleh menolong kita menata relasi dengan orang lain menjadi sehat, harmonis, damai, dan penuh kasih.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Filipi 2:5).

Hikmat membuat kita mampu melihat dan menyikapi perbedaan dengan cara pandang Tuhan, sehingga kita dapat menjalankan visi-Nya secara sinergis dan dalam kesatuan.

JANGANLAH MENJADI SETERU SALIB

JANGANLAH MENJADI SETERU SALIB

Senin. JANGANLAH MENJADI SETERU SALIB

Baca: Filipi 3:17-21

“Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.” Filipi 3:18

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata seteru memiliki arti: musuh perseorangan (orang dengan seorang); musuh pribadi. Mengenai salib, ada yang menyenangi salib karena menganggap salib tak dapat dipisahkan dari kasih, karena di atas salib itu ada orang yang mau mati bukan karena manusia baik, melainkan demi keselamatan manusia berdosa. Bagi sebagian orang salib segala-galanya, karena salib ia diselamatkan, dosanya diampuni, dan ia dibenarkan. Demikianlah sikap yang benar tentang salib, bahwa karena salib kita diangkat sebagai anak Allah. Pada salib ada pengharapan dan kepastian bahwa yang sakit disembuhkan, yang lemah dikuatkan dan yang susah dihiburkan.

Siapa yang dimaksudkan rasul Paulus sebagai seteru salib itu? Seteru salib bukanlah sekedar orang yang tidak percaya, tapi yang Paulus maksudkan adalah orang yang tidak peduli terhadap kuasa salib, yaitu mereka yang sudah mengenal dan tahu tentang kebenaran, dan mengalami kuasa salib, tapi tidak hidup dalam kebenaran, alias tetap hidup dalam dosa. Itu artinya sama saja menolak dan meremehkan salib Kristus. Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan hendaklah kita menjadi orang-orang yang menghargai salib Kristus, karena kita ada sebagaimana kita saat ini hanya karena darah Kristus yang tercurah di atas kayu salib.

Seteru salib adalah orang yang tidak siap memikul salib. Artinya orang yang hanya mau enaknya saja, mau menerima berkat, mau menerima mujizat, tapi ketika dihadapkan pada ujian dan tantangan, mereka secepat kilat bersungut-sungut kepada Tuhan, menjadi kecewa dan bahkan meninggalkan Tuhan. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24). Seteru salib adalah orang yang tidak menjadikan salib sebagai tujuan hidupnya, tujuan hidupnya semata-mata kepentingan diri sendiri dan berorientasi kepada perkara-perkara duniawi.

“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Galatia 6:14


Selasa. JANGAN SEMBARANGAN MENEGUR
Baca: 1 Tesalonika 5:12-22

“Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.” 1 Tesalonika 5:14

Adalah fakta jika banyak orang suka sekali menegur orang lain, tapi tidak senang ditegur. Kita mudah sekali melihat kesalahan dan kelemahan orang lain, tapi tak mudah melihat kesalahan dan kelemahan diri sendiri. Dan yang tak kalah pentingnya adalah cara menegur pun keliru, tidak sesuai firman Tuhan. Berhati-hatilah! Sebab jika cara kita menegur salah dapat berakibat fatal: orang menjadi tersinggung, marah, kecewa, ngambek, sakit hati atau terluka. Ada juga yang berniat baik menegur, tapi menyuruh orang lain menyampaikannya karena merasa sungkan menegur langsung. Dalam ayat 14 ini setidaknya ada empat hal yang perlu ditegaskan: tegurlah mereka yang hidup tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, dan sabarlah terhadap semua orang.

Siapa yang pantas menegur? Orang yang hidup sungguh-sungguh di dalam Tuhan dan memiliki kasih. Jangan sekali-kali kita menegur orang lain karena iri hati, jengkel atau marah, melainkan karena kita mengasihi mereka. Kita menegur karena ada kasih dalam hati kita. Dalam menegur, kasih saja tidaklah cukup, kita sendiri harus hidup benar. Kalau kita sendiri tidak hidup dalam kebenaran kita tidak pantas menegur orang lain. Itu bisa mendatangkan cela bagi diri sendiri, atau senjata makan tuan.

Bagaimana cara menegur yang tepat? Ketika menegur gunakan kata-kata yang bermuatan kasih, dengan kata-kata yang tepat, dan pada saat yang tepat pula. Dunia saat ini penuh dengan orang-orang yang dengan sembarangan menegur sesamanya dengan tujuan untuk mempermalukan dan merendahkan.

Siapa yang perlu ditegur? Orang yang melakukan kesalahan atau pelanggaran. Janganlah menegur orang hanya karena mereka berbeda prinsip dengan kita, atau tidak menuruti kemauan dan kehendak kita, tapi tegurlah orang yang berbuat salah atau menyimpang dari firman Tuhan, bukan orang yang kita anggap salah.

“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain…” Kolose 3:16


Rabu. ORANG PERCAYA: Berasal dari Kebenaran
Baca: 1 Yohanes 3:19-24

“Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran.” 1 Yohanes 3:19

Meski masih menjalani hidup di dunia ini Alkitab menegaskan bahwa keberadaan orang percaya bukanlah dari dunia ini, sehingga tidak sepatutnya kita memiliki pola hidup seperti dunia. “…kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” (Yohanes 15:19); dan karena kita berasal dari kebenaran (ayat nas), maka Tuhan memberikan Roh Kudus untuk menyertai dan menolong kita. Selain itu Tuhan memberikan sebuah amanat bagi orang percaya yaitu supaya menjadi garam dan terang bagi dunia ini (Matius 5:13-16).

Inilah ciri hidup orang yang berasal dari kebenaran yaitu hidup dalam ketenangan. Kalau kita berasal dari kebenaran dan hidup dalam kebenaran kita pasti akan tenang dalam menjalani hidup. “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.” (Yesaya 32:17). Yang membuat orang tidak hidup tenang adalah ketika ia hidup dikuasai oleh dosa sehingga setiap saat selalu timbul rasa bersalah, karena Iblis terus mendakwanya. Selama kita hidup dalam kebenaran Tuhan pasti akan membela dan memberkati hidup kita. Orang yang berasal dari kebenaran pasti memiliki kerinduan yang besar untuk tinggal dekat Tuhan, sebab ia menyadari bahwa “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.” (Mazmur 62:2). “Karena itu…lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.” (Mazmur 84:11). Di mana pun kita berada dan seberat apa pun tantangan, kita akan mampu melewatinya selama kita dekat dengan-Nya.

Orang yang berasal dari kebenaran pasti taat melakukan perintah Tuhan dan berbuat apa yang berkenan kepada Tuhan, “dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” (1 Yohanes 3:22). Jaminan bagi orang yang taat melakukan perintah Tuhan dan berbuat apa yang berkenan adalah apa yang diminta dan didoakan pasti dijawab oleh Tuhan!

Sudahkah kita benar-benar memenuhi kriteria sebagai orang yang berasal dari kebenaran?


Kamis. DI BALIK LAYAR
Baca: Kisah Para Rasul 9:1-19

“Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: ‘Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.'” Kisah 9:17

Banyak orang terkagum-kagum dengan kebesaran, kehebatan atau prestasi yang diraih seseorang dalam bidang yang ditekuninya. Misalnya adalah Susi Susanti. Siapa yang tidak mengenal sosok Susi Susanti? Salah satu legenda bulutangkis Indonesia. Lucia Fransisca Susi Susanti (nama lengkapnya), lahir 11 Februari 1971 di Tasikmalaya (Jawa Barat). Serentetan prestasi telah diukir Susi Susanti: medali emas Olimpiade, juara dunia 1993, juara piala dunia (6x), juara final Grand Prix (6x), dan masih banyak lagi. Tapi tahukah siapa orang-orang yang berperan besar dalam keberhasilan Susi Susanti? Tak semua orang tahu. Selain kedua orangtua, ada peran pelatih, baik yang melatih Susi mulai dari klub kecil atau yang melatihnya saat berada di pelatnas Cipayung. Meski hanya berada di balik layar mereka memiliki sumbangsih yang cukup berarti bagi karir Susi Susanti.

Begitu pula rasul Paulus, semua orang percaya pasti mengenal namanya! Seorang tokoh besar di dalam Perjanjian Baru yang dipakai Tuhan secara luar biasa dalam pemberitaan Injil. Namun di balik kesuksesan rasul Paulus dalam pelayanan ada orang yang tak boleh dilupakan dan dianggap remeh perannya. Orang itu adalah Ananias, orang Kristen pada abad pertama Masehi di kota Damsyik atau Damaskus. Disebutkan bahwa Ananias diperintahkan Tuhan untuk menyembuhkan kebutaan Paulus, yang waktu itu masih bernama Saulus. “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel” (Kisah Para Rasul 9:15), membaptisnya menjadi seorang pengikut Kristus (Kristen), serta membimbingnya untuk mengenal Tuhan Yesus lebih lagi. Bisa dikatakan Ananias menjadi tokoh di balik layar yang mengantarkan Paulus menjadi hamba Tuhan besar.

Mungkin saat ini Saudara hanya bekerja ‘di balik layar’ dan pelayanan, tidak semua orang mengenal siapa Saudara dan mungkin Saudara dipandang remeh oleh banyak orang. Namun jangan merasa kecil hati, percayalah bahwa Tuhan melihat, memperhatikan dan memperhitungkan setiap jerih lelah Saudara!

Meski manusia tak melihat, Tuhan tidak pernah terlelap dan tertidur!


Jumat. PENGUASAAN DIRI PERLU DILATIH
Baca: Titus 2:1-10

“Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal…” Titus 2:6

Sebagian orang Kristen merasa bangga dan menganggap diri kuat secara rohani jika telah melayani pekerjaan Tuhan atau terlibat secara aktif dalam kegiatan-kegiatan kerohanian gereja. Namun masih sering kita dengar dan lihat dengan mata kepala sendiri banyak di antara mereka yang jatuh dalam dosa, sekalipun melayani di altar, ada yang terlibat dalam pertikaian keluarga karena urusan warisan, saling berselisih dengan sesama hamba Tuhan dan saling menjatuhkan, ada pula yang jatuh dalam dosa meski dilakukan secara sembunyi-sembunyi! Hendaklah kita pahami bahwa percaya pada Tuhan Yesus tidak secara otomatis menjadikan kita kebal terhadap segala macam godaan dari si jahat, sebab “…si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Oleh karena itu kita harus senantiasa berjaga-jaga dalam berdoa supaya kita tidak jatuh!

Keberadaan kita sebagai jemaat awam, terlebih-lebih bagi kita yang sudah masuk dalam dunia pelayanan, mengharuskan kita memiliki kehidupan yang berbeda dengan orang-orang di luar Tuhan. Siapa pun yang mempercayakan hidup kepada Tuhan Yesus harus hidup sama seperti Kristus telah hidup (baca 1 Yohanes 2:6), sehingga keberadaannya mampu menjadi teladan… “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,” (Titus 2:7).

Demikian pula untuk dapat menjadi teladan, kita memerlukan latihan dalam hal penguasaan diri. “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Korintus 9:27). Melatih tubuh dan menguasai seluruhnya berarti berjuang untuk dapat menguasai diri dari belenggu keinginan-keinginan dagingnya yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, supaya ia tidak ditolak oleh Tuhan.

Bagaimana mungkin kita bisa menjadi teladan dan mampu memenangkan jiwa bagi Tuhan, bila kita sendiri masih belum memiliki penguasaan diri terhadap keinginan-keinginan daging?

Ada harga yang harus dibayar untuk menjadi berkat dan teladan yang baik!


Sabtu. TAK PERNAH MEMAKSA
Baca: Yohanes 13:1-20

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” Yohanes 13:13

Dunia saat ini penuh orang-orang yang suka memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Terkadang pemaksaan itu disertai tekanan dan ancaman. Berbeda dengan Tuhan Yesus, Ia tak pernah memaksa orang untuk menyebut Dia sebagai Tuhan. Tuhan Yesus tidak pernah berkata, “Kamu harus sujud di bawah kaki-Ku, kamu harus menyembah Aku, kamu harus…” Tuhan memberikan kehendak bebas kepada setiap manusia. Demikianlah bebasnya sampai ada orang yang “…meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia,” (Matius 26:67). Itulah yang diperbuat orang-orang yang membenci dan memusuhi-Nya, bahkan menghujat, mengumpat, menjadikan Dia bahan tertawaan atau lelucon. Puncaknya mereka membunuh dan menyalibkan Dia di atas Golgota.

Sebagai orang percaya kita menyerahkan hidup sepenuhnya di bawah kekuasaan Tuhan Yesus dan taat kepada-Nya karena kemahakudusan-Nya, karena ke-Ilahian-Nya, bukan karena kita dipaksa dan diintimidasi untuk melakukan hal itu. Tuhan Yesus tak pernah memaksa kita untuk taat kepada-Nya, tetapi karena kita tahu bahwa Dia adalah Tuhan, dan Raja di atas segala raja, maka patutlah kita menghormati, menyanjung dan meninggikan nama-Nya, karena Bapa sendiri sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:9-11).

Adalah kerugian besar jika kita tak mau percaya dan taat kepada Tuhan Yesus, karena “…baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” (Roma 14:8-9).

Inilah keunggulan Tuhan Yesus, lebih dari nabi-nabi yang pernah ada, sebab Dia bukanlah nabi, tapi Dia adalah Tuhan dan Raja di atas segala raja, tapi manusia enggan mengakui-Nya. “Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya… Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.” Yohanes 3:31


Minggu. MEMERHATIKAN YANG KELIHATAN PASTI KECEWA
Baca: 2 Korintus 4:16-18

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” 2 Korintus 4:16

Pada banyak kesempatan Tuhan Yesus sering memperingatkan umat-Nya untuk tidak mudah kecewa, karena pada dasarnya Tuhan tahu bahwa tidak seorang pun manusia kebal terhadap kekecewaan. Inilah yang gencar diperbuat Iblis, yaitu mencari cara untuk melemahkan dan membuat orang percaya mudah kecewa. Di masa-masa seperti ini Iblis ingin sekali membuat kita hanya mengarahkan pandangan atau memerhatikan hal-hal yang sifatnya tampak kasat mata. Karena dengan memerhatikan apa yang kelihatan, pada akhirnya semua itu akan menuntun kepada kekecewaan demi kekecewaan.

Memang kalau kita melihat yang kelihatan di depan mata, siapa pun pastinya pasti kecewa: masalah datang silih berganti, penderitaan dirasa makin hari makin berat, keadaan semakin hari semakin menyulitkan. Namun rasul Paulus mengingatkan, “…penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2 Korintus 4:17). Mengapa dikatakan penderitaan ringan? Bukankah berat? “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13). Kita tidak menghadapi pergumulan itu sendirian, sebab Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya (baca Roma 8:28).

Karena kesemuanya itulah rasul Paulus bertekad untuk “…tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (2 Korintus 4:18). Sesulit apa pun keadaannya, jangan kecewa, sebab semua itu sementara. Marilah belajar melihat apa yang tidak kelihatan, yaitu mengarahkan pandangan kepada Yesus dan janji firman-Nya.

“Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.” Ibrani 10:35

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

SESI 2
HIKMAT DALAM HUBUNGAN DAN KEPUTUSAN

Review SESI 1
Di sesi 1 kita belajar bahwa hikmat memengaruhi cara kita hidup: bagaimana kita menggunakan waktu dan bagaimana kita berkata-kata.

Di sesi 2 kita akan melihat bagaimana hikmat memengaruhi: hubungan yang kita bangun dan keputusan yang kita ambil.

III. HIKMAT UNTUK MEMILIH DAN MEMBANGUN HUBUNGAN YANG SEHAT
Baca Yakobus 3:13

Yakobus mengajarkan bahwa hikmat sejati tidak terutama dibuktikan melalui kata-kata yang hebat, pengetahuan yang luas, atau kemampuan untuk mengalahkan lawan bicara. Hikmat dibuktikan melalui cara hidup yang baik dan perilaku yang lahir dari kelemahlembutan.

Ini sangat penting dalam hubungan. Kita dapat memiliki pengetahuan yang benar, tetapi memiliki sikap yang kasar. Kita dapat memiliki niat yang baik, tetapi kata-kata kita justru melukai.

Kita dapat merasa sedang menolong seseorang, tetapi cara kita memperlakukan orang tersebut justru membuat hubungan menjadi rusak.
Karena itu, hikmat Tuhan menghasilkan kelemahlembutan. Kelemahlembutan bukan berarti lemah. Kelemahlembutan adalah kekuatan yang berada di bawah penguasaan diri.

Orang yang berhikmat belajar:
tidak cepat bereaksi,
tidak mudah tersinggung,
tidak selalu harus menang,
mau mendengar,
menghargai perbedaan,
mampu mengendalikan emosi,
berbicara dengan hormat,
memberikan ruang bagi orang lain untuk bertumbuh.

Dalam memilih dan membangun hubungan, kita juga membutuhkan hikmat untuk mengenali:
Siapa yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita? Hubungan mana yang perlu kita bangun?
Hubungan mana yang perlu kita jaga batasnya? Bagaimana kita dapat menjadi berkat bagi orang lain tanpa kehilangan prinsip kebenaran?

Setiap orang harus kita perlakukan dengan kasih dan hormat, terutama orang-orang terdekat kita.
Namun, kita juga perlu memahami: tidak semua orang harus menjadi orang terdekat kita.
Mengasihi seseorang tidak berarti kita harus memberikan akses yang sama kepada semua orang.
Ada hubungan yang perlu dibangun.
Ada hubungan yang perlu dipulihkan.
Ada hubungan yang perlu dijaga.
Dan ada hubungan yang membutuhkan batas yang sehat.

Hikmat menolong kita mengasihi tanpa kehilangan batas, dan menetapkan batas tanpa kehilangan kasih.

IV. HIKMAT UNTUK MENETAPKAN PRIORITAS YANG BENAR
Baca Amsal 3:5–6

“Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Salah satu bentuk hikmat terbesar adalah kemampuan untuk menentukan:
Apa yang harus didahulukan?
Tidak semua hal memiliki tingkat kepentingan yang sama.
Tidak semua kesempatan harus kita ambil.
Tidak semua masalah harus kita selesaikan sendiri.
Tidak semua permintaan harus kita penuhi.

Belajar berkata “tidak” pada sesuatu yang bukan prioritas bukan berarti egois. Itu dapat menjadi bentuk hikmat. Kita membutuhkan Roh Kudus untuk:
memahami,
menerima pewahyuan,
menilai,
membedakan,
menemukan,
memaknai,
dan mengambil kesimpulan dengan benar.

Hikmat membuat kita mampu melihat bukan hanya apa yang terlihat sekarang, tetapi juga apa akibatnya bagi masa depan.
Setiap keputusan yang kita ambil dapat memengaruhi: diri kita → keluarga kita → orang-orang di sekitar kita → bahkan generasi yang akan datang.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan, tanyakan:
1. Apakah ini memuliakan Tuhan?
2. Apakah ini membawa manfaat?
3. Apakah ini menunjukkan kasih?
4. Apakah ini sesuai dengan prinsip firman Tuhan?
5. Apakah ini bernilai untuk kekekalan?

Kadang-kadang keputusan yang paling bijaksana bukanlah keputusan yang paling menguntungkan saat ini, tetapi keputusan yang paling benar di hadapan Tuhan.

REFLEKSI DAN DISKUSI SESI 2
Adakah hubungan dalam hidup saya yang membutuhkan kelemahlembutan, batas yang sehat, atau pemulihan?

Apakah saya memiliki kecenderungan untuk selalu ingin menang dalam hubungan atau argumentasi?

Apa yang selama ini menjadi prioritas saya? Apakah prioritas tersebut benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan?
Keputusan apa yang sedang saya hadapi saat ini dan membutuhkan hikmat Tuhan?

Apakah ada sesuatu yang perlu saya katakan “tidak” supaya saya dapat mengatakan “ya” kepada
sesuatu yang lebih penting bagi Tuhan?

PENUTUP

Amsal 4:7 berkata: “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kauperoleh, perolehlah pengertian.”

Hikmat dimulai dengan takut akan Tuhan. Kita membaca dan merenungkan firman Tuhan sehingga memperoleh pengertian tentang kebenaran dan kehendak-Nya. Tetapi hikmat tidak berhenti pada pengetahuan. Hikmat adalah ketika kebenaran yang kita ketahui mulai mengubah cara kita hidup.

Kita dapat menyederhanakannya:
Pengetahuan rohani + Pengertian + Penerapan = Hikmat yang menghasilkan kehidupan yang benar.

Hikmat sejati bersumber dari Tuhan dan diberikan melalui Roh Kudus. Karena itu, bangunlah hubungan yang benar dengan Tuhan. Ketika kita berjalan dekat dengan Tuhan, kita belajar melihat kehidupan bukan hanya dari apa yang kita rasakan atau pikirkan, tetapi dari perspektif Tuhan.

Hikmat akan menolong kita:
menggunakan waktu dengan bijaksana, berkata-kata dengan benar, membangun hubungan yang sehat, menetapkan batas yang benar, menentukan prioritas yang benar, dan mengambil keputusan yang membawa kita semakin dekat kepada tujuan Tuhan.

Pada akhirnya, hidup berhikmat bukan sekadar tentang membuat keputusan yang pintar.
Hidup berhikmat adalah:
belajar melihat seperti Tuhan melihat,
memilih seperti Tuhan menghendaki,
dan hidup dengan cara yang memuliakan Tuhan.

Iman membawa kita untuk percaya kepada Tuhan. Hikmat menolong kita berjalan bersama Tuhan.
Dan ketika iman dan hikmat berjalan bersama, kita bukan hanya percaya kepada rencana Tuhan, tetapi juga belajar menjalani rencana Tuhan dengan benar.

MERDEKA: Tidak Lagi Diperbudak

MERDEKA: Tidak Lagi Diperbudak

Senin: MERDEKA: Tidak Lagi Diperbudak
Baca: Galatia 5:1-15

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1)

Haleluyah! Kita sebagai orang percaya yang juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI patut bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan Yesus, karena pada hari ini bangsa kita memperingati Hari Kemerdekaan. Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-81! Di samping bersyukur, perlu sekali kita mengkaji ulang melalui firman Tuhan tentang arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Merdeka berarti secara fisik tidak ada bangsa lain yang menjajah lagi. Berbicara mengenai kemerdekaan juga tidak terlepas dari hal kelepasan, ketenangan, kedamaian, sukacita dan kesejahteraan. Selama 81 tahun bangsa Indonesia mengenyam kemerdekaan, sudahkah kita benar-benar mengalami kemerdekaan yang sejati? Ini yang patut untuk kita renungkan.

Peringatan Hari Kemerdekaan RI di tahun 2026 ini terasa sangat berbeda, karena kita merayakan hari ulang tahun kemerdekaan di tengah situasi bangsa yang sedang karut-marut. Ada banyak sekali ujian dan cobaan menimpa bangsa ini: mulai dari banyaknya bencana alam yang terjadi, semakin meningkatnya tingkat kriminalitas, pemerintah juga diguncang oleh berbagai penyimpangan, bahkan isu SARA yang mengarah kepada perpecahan dan ketidakharmonisan begitu marak terjadi. Sungguh sangat memprihatinkan! Firman Tuhan sudah memperingatkan: “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (Galatia 5:13). Kemerdekaan tidak akan berarti apa-apa jika kemerdekaan yang telah diraih dengan penuh perjuangan oleh para pahlawan bangsa tersebut tidak diisi dengan hal-hal yang baik dan positif.

Pula dalam kekristenan, karena kita telah dimerdekakan oleh Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, maka kita harus memiliki kesadaran tinggi untuk tidak mau diperbudak lagi oleh dosa. Karena itu kita harus mengerjakan keselamatan yang telah dianugerahkan Tuhan itu dengan hati yang takut dan gentar (baca Filipi 2:12).

Jangan sia-siakan kemerdekaan, tapi pergunakan kemerdekaan itu untuk hidup lebih berkenan kepada Tuhan!


Selasa: KEGAGALAN: Ketidaktaatan dan Kekerasan Hati

Baca: Ibrani 3:7-19

“Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun,”” (Ibrani 3:7-8)

Tuhan telah berjanji kepada umat Israel: “Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,” (Keluaran 3:8). Namun tidak semua umat Israel dapat menikmati Kanaan, sebagian dari mereka gagal mencapainya dan harus meninggal di padang gurun. Kegagalan itu bukan berarti Tuhan ingkar terhadap janji-Nya atau berlaku kejam terhadap mereka. Ingat, Tuhan tidak pernah merancang kecelakaan atau hal-hal yang jahat bagi umat-Nya, tapi rancangan-Nya adalah “…rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).
Kalau pada akhirnya ada sebagian bangsa Israel yang gagal mencapai Tanah Perjanjian, penyebabnya adalah keputusan dan pilihan mereka sendiri, sekalipun mereka adalah bangsa pilihan Tuhan, “Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun. Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat,” (1 Korintus 10:5-6). Secara individu ada banyak dari bangsa Israel yang mengeraskan hati dan tidak mau tunduk kepada tuntunan Tuhan, padahal selama menempuh perjalanan di padang gurun hari-hari mereka dipenuhi dengan mujizat dan perbuatan ajaib dari Tuhan. Bahkan Alkitab mencatat: “Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini.” (Ulangan 8:4).
Kegagalan bangsa Israel ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi orang percaya! Tuhan tidak menghendaki kita bernasib sama seperti mereka yang binasa, Ia mau kita bersungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan, setia sampai akhir! Tak ingin menuai kegagalan dan kebinasaan? Perhatikanlah hidupmu mulai dari sekarang!

Sebagian umat Israel harus menelan pil pahit yaitu binasa di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian karena mereka mengeraskan hati dan tidak taat!


Rabu: SAAT TUJUAN HIDUP MULAI BERGESER

Baca: Yohanes 5:30-47
“…sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.” (Yohanes 5:30b)

Setiap orang pasti memiliki tujuan hidup. Karena memiliki tujuan hidup kita terdorong untuk menjalani hari-hari dengan penuh kehati-hatian dengan mata yang tertuju kepada apa yang hendak dicapai. Iblis senang sekali mengaburkan dan merenggut tujuan hidup dari setiap orang percaya dan membawanya kepada suatu keadaan yang dipenuhi dengan kebimbangan dan keragu-raguan. Ketika orang hidup dalam kebimbangan dan keraguan saat itulah ia tidak lagi percaya penuh akan Tuhan dan janji firman-Nya. Itulah permulaan orang mulai kehilangan tujuan hidupnya!

Keberhasilan hidup dinilai oleh dunia dari apa yang dimiliki seseorang, seperti kekayaan, reputasi, kekuasaan, jabatan, popularitas dan sebagainya. Jika orang percaya merasa tidak memiliki semuanya itu mereka menganggap diri sebagai orang yang gagal mencapai tujuan hidup. Tetapi ukuran keberhasilan hidup seseorang di mata Tuhan adalah bagaimana ia memiliki hidup yang berkenan kepada-Nya. Tuhan Yesus memiliki satu tujuan hidup yaitu melakukan kehendak Bapa yang mengutus-Nya (ayat nas). Ini bukanlah merupakan kata-kata belaka, tapi Dia membuktikan dengan tindakan nyata pada waktu Dia menghadapi penyaliban-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Lukas 22:42). Sesungguhnya Tuhan Yesus tidak ingin minum cawan dosa segenap dunia, tetapi Dia menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa-Nya, dan bahkan Ia taat sampai mati di atas kayu salib.

Kita harus mengerti tujuan Bapa mengutus Tuhan Yesus ke dunia yaitu untuk menebus dan menyelamatkan kita dari penghukuman kekal, menyembuhkan segala penyakit kita dan untuk menghapus segala kutuk. Semua perkara itu dapat disimpulkan secara ringkas: “Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” (1 Yohanes 3:8b). Sebagai umat tebusan-Nya seharusnya kita mengerti akan kebenaran ini. Apa respons Saudara?

“Karena bagiku hidup adalah Kristus… jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” (Filipi 1:21-22)


Kamis: ORANG PERCAYA BUKAN ANAK GAMPANG

Baca: Ibrani 12:1-17

“Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” (Ibrani 12:9)

Jangan pernah kita menganggap enteng atau sepele jika kita dihadapkan pada masalah atau penderitaan, dan jangan anggap pula bahwa hal itu sebagai hal yang kebetulan saja. Semua itu bukanlah suatu peristiwa atau kejadian yang tanpa sebab musabab. Kita harus memiliki kepekaan rohani, bahwa hal-hal itu diatur oleh Bapa setiap hari bagi kita demi kebaikan kita juga. Ini adalah cara Bapa untuk mendidik kita agar kita tak tersesat jalan dan beroleh hidup yang kekal. Sebagai Bapa yang baik Dia tak ingin jiwa kita binasa oleh ketidaktaatan kita terhadap perintah-perintah-Nya.

Dengan masalah atau penderitaan yang kita alami Bapa mendidik kita agar kita dapat hidup dengan iman yang benar-benar tertuju kepada Tuhan Yesus. Karena itu beban-beban dan dosa harus ditinggalkan semua seperti tertulis: “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” (Ibrani 12:2-3).

Oleh karena itu “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (Ibrani 12:7-8). Tetaplah mengucap syukur jika kita ditegur Tuhan melalui masalah atau penderitaan, itu artinya Tuhan sangat mengasihi dan memperhatikan kita.

Banyak anak Tuhan yang ngambek dan tidak bisa menerima keadaan ketika menghadapi masalah dan penderitaan. Mereka berpikir Tuhan itu jahat dan tidak mengasihi dirinya. Namun, “… Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula.” (Ayub 5:18).

Teguran Tuhan atas kita adalah bukti bahwa kita ini anak yang dikasihi-Nya!


Jumat: SESUAI DENGAN WAKTU TUHAN

Baca: Kejadian 37:1-11

“Katanya: ‘Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku.'” (Kejadian 37:9b)

Waktu Tuhan berbeda dengan waktu manusia, cara Tuhan bukanlah cara manusia, jalan dan rancangan Tuhan berbeda pula dengan jalan dan rancangan manusia. Tuhan mempunyai rancangan terhadap setiap kehidupan orang percaya. Tetapi adakalanya rencana itu baru terwujud kebenarannya atau tergenapi setelah beberapa waktu kemudian sesuai dengan waktu-Nya. Itulah yang seringkali tidak kita mengerti! Karena ketidakmengertian ini akhirnya kita mengambil jalan pintas sendiri, atau terlalu cepat mengeluarkan pendapat atau komentar terhadap orang lain.
Peristiwa seperti di atas menimpa kehidupan Yusuf. Ia bermimpi tentang masa depannya yang cerah dan gemilang, tapi semua saudaranya dan termasuk orangtuanya tak mempercayainya. Yusuf terlalu dini menceritakan semua mimpinya sehingga hal itu menimbulkan kecemburuan dan kebencian dalam diri saudara-saudaranya. Sebelum mimpi itu terwujud Yusuf harus mengalami proses demi proses, penderitaan demi penderitaan: sempat dimasukkan ke dalam penjara. Semua orang mencemooh, menghina dan mencaci. Mungkin mereka berkata, “Ah, kasihan Yusuf, mimpinya tak terwujud. Pasti ada yang tak beres dengan hidupnya.”

Yusuf tak dapat membantah perkataan dan tudingan miring semua orang yang ditujukan terhadapnya, ia pun tak sanggup membela diri karena fakta saat itu benar adanya. Tapi Yusuf tak putus asa, penderitaan tak membuatnya kecewa kepada Tuhan, ia tetap berkeyakinan bahwa apa yang datangnya dari Tuhan, lambat atau cepat, pasti digenapi-Nya. Rencana Tuhan itu tidak pernah gagal seperti yang Ayub katakan, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” (Ayub 42:2).

Apa yang terlihat saat ini bukanlah merupakan titik akhir rencana Tuhan. Orang yang dewasa rohani pasti sanggup melihat dengan mata iman bahwa di balik semua penderitaan pasti ada berkat yang Tuhan sediakan. Orang yang berada dalam ‘ujian’ adalah orang yang sedang dipersiapkan Tuhan untuk menerima berkat-Nya yang besar.

Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya! (Pengkhotbah 3:11)


Sabtu: MEMEDULIKAN ORANG YANG HINA

Baca: Matius 25:31-46

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Matius 25:45)

Banyak orang Kristen sudah merasa diri sebagai orang yang ‘rohani’ atau memiliki tingkat kerohanian yang mumpuni oleh karena sudah rajin beribadah, terlibat aktif dalam pelayanan, bahkan sudah melayani di atas mimbar, baik itu sebagai pengkhotbah, pemimpin pujian atau singer. Menurut hemat manusia mereka bisa dikatakan sudah cukup teruji, dan tentunya berharap bahwa apa yang dilakukannya akan menyenangkan hati Tuhan dan Tuhan akan memberikan pujian terhadapnya.

Perhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan, “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.” (ayat 41b-43). Mendengar perkataan Tuhan Yesus ini semua orang pasti akan terperanjat dan menyangkal, bahwa selama ini mereka tak pernah melihat Tuhan Yesus dalam keadaan seperti yang disebutkan itu: “Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?” (ayat 44).

Banyak anak Tuhan sudah berbuat baik, namun tidak dinyatakan kepada orang yang paling hina. Memang berbuat baik kepada orang yang dipandang hina, kotor dan rendah tak mendapat pujian manusia. Sedikit orang mau melakukannya. Umumnya kita berbuat baik kepada orang yang juga berbuat baik kepada kita, alias mereka yang memiliki kontribusi bagi kita. Perbuatan baik cenderung didasarkan pada untung-rugi. Atau kita berlomba-lomba untuk berbuat baik kepada orang yang kaya, terpandang, atau orang besar, supaya kita beroleh perhatian. Tuhan memperingatkan kita dengan keras agar kita memiliki kepedulian kepada orang-orang miskin dan hina papa.

Kepedulian kita sangat berarti bagi orang-orang yang miskin papa. Inilah ujian kasih yang sesungguhnya! Semua yang kita lakukan untuk mereka, Tuhan perhitungkan.


Minggu: TETAPLAH KERJAKAN KESELAMATANMU!

Baca: Efesus 2:1-10
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,” (Efesus 2:8)

Keselamatan adalah anugerah dan diberikan secara cuma-cuma bagi orang yang percaya! Ada ayat-ayat lain di Alkitab yang menguatkan pernyataan ini: “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Roma 3:24); “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (2 Timotius 1:9). Timbul pertanyaan: “Kalau keselamatan itu anugerah dan diberikan secara cuma-cuma, mengapa harus dikerjakan?” Seperti yang rasul Paulus nasihatkan, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,” (Filipi 2:12).

Orang-orang dunia mengerjakan berbagai amal demi untuk memperoleh keselamatan. Tetapi bagi orang percaya, melakukan perbuatan baik adalah wujud syukur atas keselamatan yang telah dianugerahkan kepadanya melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Keselamatan itu anugerah, namun kita perlu meresponsnya dengan tindakan iman. Alkitab menyatakan bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia dan bukan hasil usaha sendiri (ayat nas), maka sudah sepatutnya anugerah keselamatan itu ditanggapi dengan tindakan iman.

Keselamatan itu memang anugerah, tapi untuk memperoleh mahkota perlu kerja keras dan perjuangan yang tidak gampang, “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1 Korintus 9:24). Kita yang sudah diselamatkan tetap perlu berjuang seumur hidup kita untuk memperoleh mahkota; dan karena kita telah diselamatkan, maka kita harus terus mengerjakan keselamatan itu sampai tercapai goal yaitu kita semakin diubahkan menjadi serupa seperti Kristus (baca 2 Korintus 3:18).

Mengerjakan keselamatan berarti kita sungguh-sungguh berjuang “…supaya tiada beraib dan tiada bercela…” (Filipi 2:15), ketika Tuhan datang menjemput kita!

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

HIKMAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

SESI 1
HIKMAT DALAM CARA KITA HIDUP

PENDAHULUAN

Untuk hidup dalam tujuan dan rencana Tuhan, kita bukan hanya membutuhkan iman, tetapi juga hikmat. Iman adalah dasar hubungan dan kepercayaan kita kepada Allah.
Hikmat adalah kemampuan untuk menerapkan kebenaran dan pengetahuan rohani dalam kehidupan nyata—sehingga kita mampu membuat pilihan yang benar, menyelesaikan masalah, membangun hubungan yang sehat, dan bertindak dengan tepat.

Dengan kata lain: Iman membuat kita percaya kepada Tuhan. Hikmat menolong kita berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita dapat memiliki iman yang kuat, tetapi tetap membutuhkan hikmat dalam menentukan:
kapan harus berbicara,
kapan harus diam,
apa yang harus dilakukan,
siapa yang harus kita percayai,
bagaimana menggunakan waktu,
dan apa yang harus menjadi prioritas.

Hikmat membuat iman kita terlihat dalam cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.

ISI
I. HIKMAT UNTUK MENGGUNAKAN WAKTU DENGAN BIJAKSANA (baca Efesus 5:15-17)
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif…”

Paulus mengingatkan kita untuk memperhatikan dengan saksama bagaimana kita hidup.
Pertanyaannya bukan hanya: “Apa yang saya lakukan?”
Tetapi:“Untuk apa saya menggunakan hidup dan waktu yang Tuhan berikan kepada saya?”

Kita dapat begitu sibuk memenuhi tuntutan kehidupan—bekerja, mengurus keluarga, mengejar kebutuhan, menikmati keinginan, bahkan melakukan banyak aktivitas—tetapi belum tentu semuanya membawa kita kepada Tuhan. Orang bijaksana melihat waktu bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dilalui atau diisi, tetapi sebagai kesempatan yang Tuhan percayakan.

Jangan hidup seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.
Ciri orang bebal:
Degil dan keras kepala;
Merasa dirinya selalu benar dan sulit bertobat atau berubah.
Tidak mau belajar dan menerima teguran.
Suka menyalahkan orang lain dan sulit mengambil tanggung jawab.
Hidup sesuka hati dan mengikuti hawa nafsu.
Lamban mendengar dan tidak konsisten.
Mendengar firman tetapi tetap hidup dengan mindset yang tidak sesuai firman.
Tidak peka terhadap suara dan teguran Roh Kudus.
Sulit membedakan mana yang benar dan salah, mana yang penting dan mana yang sia-sia.

Ciri orang arif atau bijaksana:
Mau mendengar, belajar, dan menerima teguran.
Belajar dari firman Tuhan, pengalaman, orang lain, bahkan dari masalah yang dihadapi.
Sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan.
Mau menaati Tuhan dan hidup dalam pertobatan.
Melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan.
Membuat keputusan berdasarkan prinsip firman Tuhan.
Berhati-hati dalam berbicara dan bertindak.
Mampu membedakan mana yang penting dan mana yang hanya membuang waktu.

Mazmur 90:12 berkata: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Orang bijaksana tahu menghargai waktunya. Karena itu kita perlu bertanya:
“Apakah ini perlu mendapatkan waktu saya?” Waktu adalah bagian dari hidup yang tidak dapat kita beli kembali. Kita dapat menghasilkan kembali uang yang hilang. Kita dapat mengganti barang yang rusak, tetapi kita tidak dapat mengembalikan waktu yang sudah berlalu.
Waktu kita di dunia terbatas. Karena itu, gunakanlah waktu dengan saksama.

II. HIKMAT UNTUK BERKATA-KATA (baca Kolose 4:5–6)

Perkataan adalah sesuatu yang kelihatannya sederhana, tetapi mempunyai kuasa yang besar.
Perkataan dapat menjadi benih. Benih yang baik dapat menghasilkan:
kebenaran,
kasih,
iman,
pengharapan,
penghiburan,
dan pemulihan.

Sebaliknya, perkataan yang tidak dijaga dapat menghasilkan:
kebingungan,
kekhawatiran,
ketakutan,
kesalahpahaman,
kemarahan,
perpecahan,
kepahitan,
bahkan penyesatan.

Karena itu, orang yang berhikmat belajar bukan hanya: “Apa yang harus saya katakan?”
Tetapi juga:
“Kapan saya harus mengatakannya?”
“Bagaimana saya harus mengatakannya?”
“Apakah memang perlu saya katakan?”

Kita perlu meminta Roh Kudus memimpin perkataan kita supaya perkataan kita:

Menghormati dan meninggikan Tuhan.
Lemah lembut dan meredakan kegeraman, bukan memperbesar konflik.
Mengandung hikmat dan didikan.
Membawa penghiburan dan nasihat.
Memberikan jawaban yang tepat pada waktunya.
Membangkitkan iman, pengharapan, dan kekuatan berdasarkan firman Tuhan.

Kebenaran membutuhkan hikmat dalam penyampaiannya. Orang bijaksana tidak menggunakan perkataan hanya untuk membuktikan bahwa dirinya benar, tetapi untuk membawa orang kepada kebenaran dan kasih.

REFLEKSI DAN DISKUSI

Bagaimana selama ini saya menggunakan waktu yang Tuhan berikan kepada saya?
Apa yang paling banyak menyita waktu saya?
Apakah semuanya membawa saya semakin dekat kepada Tuhan?
Apakah ada perkataan yang perlu saya jaga atau ubah dalam hubungan saya dengan seseorang?

Ketika berbicara dalam situasi konflik, apakah tujuan saya membuktikan bahwa saya benar atau
membawa hubungan kepada kebenaran dan kasih?

Kalimat kunci sesi minggu ini : Orang yang berhikmat tahu bagaimana menggunakan waktunya dan menjaga perkataannya.

Bersambung Sesi 2 minggu depan…

BERLAKULAH ADIL, SETIA DAN RENDAH HATI

BERLAKULAH ADIL, SETIA DAN RENDAH HATI

SENIN. BERLAKULAH ADIL, SETIA DAN RENDAH HATI

Baca: Mikha 6:1-16
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Mikha 6:8

Mikha adalah orang Moresyet, suatu kota yang berada di dekat daerah Gat (baca Mikha 1:14). Arti nama Mikha adalah ‘siapa Tuhan seperti Engkau.’ Mikha hidup dan melayani pada zaman Yotam, Ahas dan Hizkia. Melalui Mikha, hamba-Nya ini, Tuhan mempunyai tuntutan terhadap umat-Nya: berlaku adil, setia dan rendah hati.

Adil berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus dan tulus; suatu sikap yang tidak memihak kecuali kepada kebenaran. Adil berarti juga sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak: keputusan hakim yang berpihak kepada yang benar; berpegang pada kebenaran; sepatutnya; tidak sewenang-wenang. Secara terminologi, adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran; ini berkenaan dengan hal yang patut diterima oleh seseorang (baca Keluaran 23:6) dan mengarah kepada hubungan sesama manusia, antara tuan dengan hamba, atasan dengan bawahan, orangtua dengan anak, suami dengan isteri, pimpinan dengan karyawan, pemerintah dengan rakyatnya.

Dunia dipenuhi ketidakadilan, keadilan diputarbalikkan, keadilan dapat dibeli dengan uang. Meski demikian orang percaya dituntut untuk menjadi teladan dalam hal berlaku adil. Setia adalah berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya); patuh; taat. Kesetiaan yang dimaksud bukan hanya berkaitan dengan hubungan kita dengan Tuhan, tapi juga hubungan kita dengan sesama manusia. Kesetiaan ibarat barang berharga, sangat mahal dan langka untuk ditemukan, sebab
“…telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia.” (Mazmur 12:2). Kesetiaan adalah salah satu karakter yang Tuhan cari dalam diri orang percaya. “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6).

Rendah hati adalah karakter yang Tuhan senangi, dan Ia benci dengan keangkuhan. “Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki;” (Mazmur 147:10). Kegagahan kuda dan kaki laki-laki berbicara tentang manusia yang mengandalkan kekuatan sendiri (sombong). Sudahkah kita mempraktekkan apa yang menjadi tuntutan Tuhan
ini?


SELASA. DEMAS: Tergoda Kemilau Dunia (1)

Baca: 2 Timotius 4:9-18

“karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku.” 2 Timotius 4:10a

Dunia saat ini adalah dunia yang begitu gencar menawarkan segala hal yang menyenangkan daging: kemewahan, kenikmatan, pesta pora dan sebagainya. Jika orang percaya tidak sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, melekat kepada-Nya dan berakar kuat dalam firman-Nya, ia akan mudah terbuai oleh
dunia dan meninggalkan Tuhan. Tidak sedikit orang Kristen memulai hidup kekristenannya dengan sangat baik, menempatkan Kristus di atas segala-galanya dan melayani Tuhan dengan sepenuh hati, tapi seiring berjalannya waktu kasihnya kepada Tuhan mulai memudar, Tuhan tidak lagi menjadi prioritas hidup.

Apa penyebabnya? Karena hati mulai bercabang, mata silau dengan dunia. Ibadah dan pelayanan tak lagi dilakukan dengan sepenuh hati, tak lebih dari sekedar rutinitas agamawi. Rasul Paulus memperingatkan, “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1
Korintus 10:12).

Demas adalah salah satu contoh: seorang yang bukan sebatas jemaat awam, tapi ia adalah orang yang sudah menyandang status sebagai pelayan Tuhan, yang memulai segala sesuatu dengan roh, tapi mengakhiri hidup dalam kedagingan karena terpesona dengan kenikmatan dunia ini. Oleh karena hatinya
terpaut pada dunia Demas pun rela meninggalkan pelayanan, meninggalkan rasul Paulus. Agenda pelayanan sudah tidak ada lagi dalam kamus hidup Demas, yang ada adalah agenda dunia, bagaimana hidup menyenangkan dan memuaskan keinginan dagingnya. Ada tertulis: “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yohanes 2:16).

Mengasihi dunia ada beberapa: 1. Keinginan mata. Ada tertulis: “…demikianlah mata manusia tak akan puas.” (Amsal 27:20). 2. Keinginan daging. Keinginan daging selalu berkaitan erat dengan nafsu, kemabukan dan segala sesuatu yang bertentangan dengan keinginan Roh (baca Galatia 5:17). Rasul
Paulus memperingatkan, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” (Galatia 5:24), “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya,” (Galatia 6:8). 3. Keangkuhan hidup. Karena pengaruh dunia, orang tidak lagi bermegah di dalam Tuhan. (Bersambung)

 

BERTUMBUH DALAM HIKMAT

BERTUMBUH DALAM HIKMAT

PENDAHULUAN

Allah telah memberikan kepada setiap orang kehendak bebas untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan dalam hidup. Setiap keputusan membawa konsekuensi, baik maupun buruk. Karena itu, kita membutuhkan hikmat dari Allah agar dapat menggunakan kehendak bebas kita dengan penuh tanggung jawab dan sesuai dengan kehendak-Nya.

Hikmat bukanlah sesuatu yang diperoleh hanya melalui kecerdasan, pendidikan formal, atau pengalaman hidup. Hikmat sejati adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia. “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”(Amsal 9:10)

I HIKMAT MENURUT ALKITAB

 Apa itu hikmat?

Hikmat lebih daripada sekadar kecerdasan, pendidikan, atau pengetahuan. Seseorang dapat memiliki IQ yang tinggi, gelar akademik yang tinggi, serta pengalaman yang luas, namun tetap tidak memiliki hikmat Allah. Menurut Alkitab, hikmat adalah kemampuan untuk melihat kehidupan dari sudut pandang Allah, memahami kehendak-Nya, dan mengambil keputusan yang selaras dengan Firman-Nya.

Hikmat bukan hanya mengetahui apa yang benar, tetapi hidup sesuai dengan kebenaran itu. Hikmat yang sejati dimulai dengan takut akan Tuhan. Artinya, menghormati Allah, mengasihi-Nya, dan dengan sukarela tunduk kepada otoritas-Nya. Sikap ini bukan sekadar tampilan lahiriah, melainkan mengalir dari hati yang telah diubahkan oleh Roh Kudus.

II TAKUT AKAN TUHAN

 Diskusi

  • Apa arti “takut akan Tuhan” menurut Anda?
  • Dalam bidang kehidupan apa Anda paling membutuhkan hikmat Tuhan saat ini?

Takut akan Tuhan berarti:

  • Menghormati Allah.
  • Taat kepada Firman Tuhan.
  • Mempercayai Tuhan dalam setiap keadaan.

Takut akan Tuhan bukanlah ketakutan yang membuat kita menjauh dari-Nya. Sebaliknya, takut akan Tuhan adalah kesadaran yang mendalam akan hadirat, kekudusan, kebesaran, kemuliaan, kuasa, kasih, dan kebenaran-Nya. Kesadaran ini menghasilkan rasa hormat, kasih, serta kerinduan yang tulus untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan hati-Nya.

Alkitab juga berkata: “…mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”

Mengenal Allah berarti memiliki hubungan yang pribadi dan intim dengan-Nya, bukan sekadar memiliki informasi tentang Dia.

Semakin kita mengenal Allah, semakin kita mampu:

  • memahami Firman-Nya,
  • mengenali kehendak-Nya,
  • membedakan yang benar dan yang salah,
  • mengenali suara Tuhan di tengah berbagai suara dunia,
  • mengambil keputusan yang bijaksana.

Dalam Matius 7:24–27, Yesus mengajarkan bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang mendengar perkataan-Nya dan melakukannya. Hikmat tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dinyatakan melalui ketaatan. Sebaliknya, orang bodoh mendengar Firman Tuhan tetapi tidak menaatinya. Mereka mengetahui kebenaran, tetapi tidak menjadikannya sebagai dasar kehidupan mereka.

III. BERKAT DARI HIDUP DALAM HIKMAT

Orang yang hidup dalam hikmat Allah akan mengalami banyak berkat, di antaranya:

  1. Menerima arah hidup yang jelas

Hikmat memampukan kita memahami kehendak dan tujuan Allah sehingga hidup kita tidak disia-siakan, melainkan dipakai untuk menggenapi panggilan ilahi-Nya.

  1. Terlindung dari bahaya dan kesalahan yang merugikan

Hikmat menjaga kita dari tipu daya musuh, keputusan yang tergesa-gesa, kebodohan, dan kesalahan yang membawa kerugian serta penderitaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

  1. Memiliki kepekaan rohani

Karena hikmat berasal dari Roh Kudus, orang yang memilikinya akan menjadi peka terhadap suara Tuhan, pimpinan-Nya, dan teguran-Nya.

  1. Hidup dalam damai sejahtera

Orang yang berhikmat memilih untuk hidup dalam kebenaran. Ketaatan kepada Allah menghasilkan damai sejahtera yang sejati dan bertahan lama.

PENERAPAN

  1. Mulailah setiap hari dengan mencari Tuhan sebelum memulai pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.
  2. Bacalah dan renungkan satu pasal dari Kitab Amsal setiap hari.
  3. Berdoalah sebelum mengambil setiap keputusan. Jangan bertindak terburu-buru; mintalah tuntunan Tuhan agar setiap langkah yang Anda ambil selaras dengan prinsip-prinsip Firman-Nya.
  4. Mintalah hikmat kepada Tuhan setiap hari agar hidup Anda tetap terarah, efektif, dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya.

 PENUTUP

Hikmat adalah salah satu kebutuhan terbesar dalam kehidupan setiap orang percaya. Melalui hikmat Allah, kita dimampukan untuk mengambil keputusan yang benar, membangun hubungan yang sehat, memimpin dengan bijaksana, menghadapi tantangan hidup dengan iman, serta menjadi saksi Kristus yang setia melalui cara hidup kita.

Kiranya setiap kita terus bertumbuh dalam hikmat Allah sehingga setiap perkataan, sikap, dan keputusan kita memuliakan nama-Nya dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” (Yakobus 1:5)