Devotional Blog

Home / Archive by category "Devotional Blog" (Page 2)
BERLAKULAH ADIL, SETIA DAN RENDAH HATI

BERLAKULAH ADIL, SETIA DAN RENDAH HATI

SENIN. BERLAKULAH ADIL, SETIA DAN RENDAH HATI

Baca: Mikha 6:1-16
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Mikha 6:8

Mikha adalah orang Moresyet, suatu kota yang berada di dekat daerah Gat (baca Mikha 1:14). Arti nama Mikha adalah ‘siapa Tuhan seperti Engkau.’ Mikha hidup dan melayani pada zaman Yotam, Ahas dan Hizkia. Melalui Mikha, hamba-Nya ini, Tuhan mempunyai tuntutan terhadap umat-Nya: berlaku adil, setia dan rendah hati.

Adil berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus dan tulus; suatu sikap yang tidak memihak kecuali kepada kebenaran. Adil berarti juga sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak: keputusan hakim yang berpihak kepada yang benar; berpegang pada kebenaran; sepatutnya; tidak sewenang-wenang. Secara terminologi, adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran; ini berkenaan dengan hal yang patut diterima oleh seseorang (baca Keluaran 23:6) dan mengarah kepada hubungan sesama manusia, antara tuan dengan hamba, atasan dengan bawahan, orangtua dengan anak, suami dengan isteri, pimpinan dengan karyawan, pemerintah dengan rakyatnya.

Dunia dipenuhi ketidakadilan, keadilan diputarbalikkan, keadilan dapat dibeli dengan uang. Meski demikian orang percaya dituntut untuk menjadi teladan dalam hal berlaku adil. Setia adalah berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya); patuh; taat. Kesetiaan yang dimaksud bukan hanya berkaitan dengan hubungan kita dengan Tuhan, tapi juga hubungan kita dengan sesama manusia. Kesetiaan ibarat barang berharga, sangat mahal dan langka untuk ditemukan, sebab
“…telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia.” (Mazmur 12:2). Kesetiaan adalah salah satu karakter yang Tuhan cari dalam diri orang percaya. “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6).

Rendah hati adalah karakter yang Tuhan senangi, dan Ia benci dengan keangkuhan. “Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki;” (Mazmur 147:10). Kegagahan kuda dan kaki laki-laki berbicara tentang manusia yang mengandalkan kekuatan sendiri (sombong). Sudahkah kita mempraktekkan apa yang menjadi tuntutan Tuhan
ini?


SELASA. DEMAS: Tergoda Kemilau Dunia (1)

Baca: 2 Timotius 4:9-18

“karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku.” 2 Timotius 4:10a

Dunia saat ini adalah dunia yang begitu gencar menawarkan segala hal yang menyenangkan daging: kemewahan, kenikmatan, pesta pora dan sebagainya. Jika orang percaya tidak sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, melekat kepada-Nya dan berakar kuat dalam firman-Nya, ia akan mudah terbuai oleh
dunia dan meninggalkan Tuhan. Tidak sedikit orang Kristen memulai hidup kekristenannya dengan sangat baik, menempatkan Kristus di atas segala-galanya dan melayani Tuhan dengan sepenuh hati, tapi seiring berjalannya waktu kasihnya kepada Tuhan mulai memudar, Tuhan tidak lagi menjadi prioritas hidup.

Apa penyebabnya? Karena hati mulai bercabang, mata silau dengan dunia. Ibadah dan pelayanan tak lagi dilakukan dengan sepenuh hati, tak lebih dari sekedar rutinitas agamawi. Rasul Paulus memperingatkan, “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1
Korintus 10:12).

Demas adalah salah satu contoh: seorang yang bukan sebatas jemaat awam, tapi ia adalah orang yang sudah menyandang status sebagai pelayan Tuhan, yang memulai segala sesuatu dengan roh, tapi mengakhiri hidup dalam kedagingan karena terpesona dengan kenikmatan dunia ini. Oleh karena hatinya
terpaut pada dunia Demas pun rela meninggalkan pelayanan, meninggalkan rasul Paulus. Agenda pelayanan sudah tidak ada lagi dalam kamus hidup Demas, yang ada adalah agenda dunia, bagaimana hidup menyenangkan dan memuaskan keinginan dagingnya. Ada tertulis: “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yohanes 2:16).

Mengasihi dunia ada beberapa: 1. Keinginan mata. Ada tertulis: “…demikianlah mata manusia tak akan puas.” (Amsal 27:20). 2. Keinginan daging. Keinginan daging selalu berkaitan erat dengan nafsu, kemabukan dan segala sesuatu yang bertentangan dengan keinginan Roh (baca Galatia 5:17). Rasul
Paulus memperingatkan, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” (Galatia 5:24), “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya,” (Galatia 6:8). 3. Keangkuhan hidup. Karena pengaruh dunia, orang tidak lagi bermegah di dalam Tuhan. (Bersambung)

 

ORANG PERCAYA: Memiliki Benih Ilahi

ORANG PERCAYA: Memiliki Benih Ilahi

ORANG PERCAYA: Memiliki Benih Ilahi

Baca: 1 Yohanes 3:7-10

“Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” 1 Yohanes 3:9

Seseorang disebut Kristen bukan semata karena ia lahir dari rahim seorang ibu yang beragama Kristen, tetapi orang disebut Kristen ketika ia membuat keputusan untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan bertobat, yaitu meninggalkan kehidupan lamanya dan mengikut Kristus. Demikianlah ia mengalami kelahiran baru, manusia lamanya mati digantikan oleh manusia baru. Ia dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana yaitu firman Tuhan.

Di dalam diri kita ada benih Ilahi, maka seharusnya orang Kristen tidak mudah untuk disesatkan dan diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran sesat dari semua perkara yang ada di dunia ini. Mengapa? Sebab orang yang lahir dari Tuhan atau memiliki benih Ilahi hatinya senantiasa melekat kepada Kristus dan berakar kuat di dalam firman. Karena memiliki benih Ilahi jugalah orang Kristen mutlak hidup dalam kebenaran. “Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya.” (ayat 7b-8a). Patut dipertanyakan status kekristenannya jika ada orang Kristen yang masih terus hidup dalam dosa, hidup tak be-da jauh dengan orang-orang di luar Tuhan, sebab jelas dikatakan barangsiapa berbuat dosa berasal dari Iblis. Bahkan hidup Kristiani yang sejati itu bukan sekedar tidak lagi berbuat dosa, tapi harus benci dosa.

Orang Kristen yang menyadari bahwa di dalam dirinya ada benih Ilahi akan senantiasa hidup dalam kasih karena Bapa adalah kasih. Oleh sebab itu orang yang lahir dari Bapa pasti mewarisi sifat-sifat Bapa-Nya. Ada tertulis: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8). Kemudian ia akan menjadikan kasih sebagai gaya hidup sehari-hari, kasih yang bukan sekedar kata-kata, melainkan dimulai dari hati yang menyadari bahwa kita mengasihi karena Bapa lebih dahulu mengasihi kita, lalu diteruskan dengan mengekespresikan kasih itu dalam tindakan nyata, sehingga keberadaannya menjadi berkat bagi dunia ini!

Seorang Kristen sejati tercermin dari kehidupan nyata, yaitu hidup benar dan penuh kasih!


SELASA. ROH YANG LEBIH BESAR DARI APA PUN
Baca: 1 Yohanes 4:1-6

“…sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” 1 Yohanes 4:4

Alkitab menyatakan bahwa dunia sekarang ini sedang lenyap dengan segala keinginannya: keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (baca 1 Yohanes 2:16). Artinya semua keinginan duniawi dapat melenyapkan hidup seseorang: semakin menjauh dari Tuhan dan membawanya kepada jurang kebinasaan, tetapi “…orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yohanes 2:17).

Setiap orang percaya pasti punya kerinduan untuk hidup seturut dengan firman Tuhan, namun yang seringkali menjadi persoalan adalah: “…roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41), ditambah lagi dengan kuatnya arus dunia ini sehingga kita pun gagal dan gagal lagi untuk hidup dalam kebenaran. Bagi orang percaya yang hidup bergantung penuh kepada Tuhan, bukan saja akan diberi kerinduan untuk melakukan kehendak-Nya, tapi juga diberi kekuatan untuk melakukan kehendak Tuhan. Kekuatan itu datangnya dari Roh Kudus, Ia yang akan memampukan dan menguatkan kita untuk melawan arus duniawi sehingga kita dapat melawan arus dunia ini dan hidup menurut kehendak Tuhan, sebab “…Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” (ayat nas). Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk berkata: aku tidak sanggup, aku lemah, aku tak mampu melakukan ini dan itu, karena Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (baca Yohanes 16:13). Di tengah badai, masalah, dan pergumulan yang berat Tuhan tidak pernah membiarkan kita bergumul sendirian, Ia memberikan Roh-Nya untuk menguatkan kita. “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7). Bahkan Roh Kudus akan menyertai kita dalam menjalani hidup sampai kepada akhir zaman (baca Matius 28:20b).

Ada banyak perkara yang terjadi di dunia ini yang tidak kita mengerti, namun Roh Kudus hadir untuk mengajar kita dan memberi pengertian kepada kita (baca Yohanes 14:26), sehingga kita dapat mengambil sisi positif di setiap peristiwa.

Bersama Roh Kudus kita mampu menjalani hidup dengan kepala tegak berdiri!


RABU. MENJADI ANAK YANG TERHILANG

Baca: Lukas 15:11-32

“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Lukas 15:18-19

Perumpamaan tentang anak yang hilang menggambarkan seorang anak yang tidak menyukai hidup dalam dominasi orang tua. Ia berkeinginan hidup bebas dari pengawasan dan bebas menggunakan harta milik yang diklamin sebagai miliknya. “Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia mem-boroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.” (ayat 13). Model anak seperti ini banyak dijumpai, tak terkecuali pada mereka yang berstatus ‘Kristen’.

Ada banyak orang Kristen tidak merasa dirinya masuk kategori ‘anak yang hilang’, sebab menurut mereka anak yang hilang adalah mereka yang meninggalkan gereja dan hidup dalam hingar bingar duniawi. Selama masih pergi ke gereja, terlibat dalam pelayanan dan tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum, kita berpikir kita hidup dalam pertobatan dan tidak masuk kategori anak yang hilang. Benarkah? Sesungguhnya pertobatan yang Tuhan kehendaki lebih dari itu, yaitu kita sungguh-sungguh memberi diri hidup dalam penguasaan Tuhan dan kendali Roh Kudus sepenuhnya. Selama masih hidup menurut kehendak diri sendiri kita tergolong sebagai anak yang terhilang, meski secara lahiriah tampak beribadah. “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,” (Galatia 5:25).

Ciri nyata anak yang terhilang adalah hidup dalam kendali diri sendiri. Mereka menggunakan waktu, tenaga, uang, dan apa yang dimiliki sesuka hati untuk kepentingan diri sendiri dan menurut selera sendiri, bukan menurut kehendak Tuhan. Pertobatan adalah kesediaan datang kepada Bapa dan bersedia hidup dalam kekuasaan atau dominasi Bapa. Si bungsu yang bertobat berkata, “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” (Lukas 15:18-19). Kesediaannya untuk tidak menggunakan haknya sebagai anak dan rela diperlakukan sebagai hamba oleh bapa adalah bukti kesungguhannya bertobat.

Sudahkah kita bertobat setiap hari dan tunduk kepada kehendak Bapa?


KAMIS. ADA SUKACITA BESAR DI SORGA
Baca: Lukas 15:11-32

“Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” Lukas 15:32

Ketika anak bungsunya pulang (setelah lama terhilang) kembali ke rumah, orangtuanya mengadakan pesta untuk menyambut kepulangannya. Ini menggambarkan ada sukacita di sorga kalau ada satu orang bertobat. “…akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Lukas 15:7).

Pertobatan yang bagaimanakah yang membuat Tuhan bersukacita? Kalau hanya mengaku bertobat karena ada altar call di gereja belumlah membuat sorga bersukacita. Pertobatan yang dapat membuat sorga bersukacita adalah pertobatan yang benar menurut ukuran Tuhan. Pertobatan yang benar adalah pertobatan seperti si anak bungsu, yaitu dari kehidupan yang dikuasai oleh keinginan diri sendiri berbalik kepada kehidupan yang mau tunduk sepenuhnya kepada otoritas bapanya. Penundukan diri adalah ciri dari orang yang bersedia hidup dalam otoritas Tuhan, yaitu orang-orang yang pasti diperkenankan masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Sorga. Pertobatan yang benar yang membuat orang mengalami kelahiran baru bukanlah satu kali pertobatan, tetapi sebuah proses pertobatan terus menerus dan seumur hidup. Untuk pertobatan seperti ini dibutuhkan pencerahan oleh kebenaran firman Tuhan setiap hari, sebab “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16).

Kebenaran firman Tuhan yang mencerahi pikiran ditindaklanjuti oleh perubahan berpikir (“metanoia”). Metanoia mengekspresikan perubahan intelektual dan spiritual yang terjadi ketika seorang pendosa berbalik kepada Tuhan. Arti kata metanoia adalah memiliki pikiran lain atau mengubah pikiran orang dalam sikap dan tujuan perihal dosa. Atau, berpikir tentang sesuatu secara berbeda dari sebelumnya. “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20).

“Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” Matius 3:8


JUMAT. ORANG PERCAYA SEBAGAI AHLI WARIS (1)
Baca: Galatia 4:1-11

“Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.” Galatia 4:7
Satu perkara yang acapkali menjadi biang permasalahan atau sumber konflik, perpecahan, sengketa di dalam sebuah keluarga adalah persoalan warisan. Bahkan ada orang yang sampai tega membunuh saudara kandungnya hanya karena mengincar warisan. Warisan adalah harta peninggalan yang ditinggalkan pewaris kepada ahli waris. Sesungguhnya warisan adalah sesuatu yang baik, karena apa yang orangtua miliki diturunkan kepada anak-anaknya, sehingga anak-anaknya mendapatkan berkat dari orangtuanya. Namun ada banyak orang yang hidupnya hanya menanti dan mengandalkan warisan orangtua, sehingga warisan yang sebenarnya adalah sesuatu yang baik akhirnya menjadi sumber petaka di dalam keluarga. Letak persoalannya bukan pada warisan itu, tetapi pada pola pikir yang hanya memikirkan warisan, bahkan sampai menimbulkan sifat serakah.

Warisan yang sejati bukanlah hanya harta yang berhubungan dengan kebendaan, warisan yang sejati adalah bagaimana orangtua mewariskan iman kepada anak-anaknya. “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya,” (Amsal 13:22). Warisan yang sejati adalah bagaimana orangtua menanamkan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang takut akan Tuhan, sebagaimana yang disampaikan Musa: “Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun…supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi.” (Ulangan 11:19, 21).

Di dalam bacaan hari ini dijelaskan bahwa hidup orang Kristen adalah hidup yang terbebas dari perhambaan. Ini terjadi karena Kristus telah mengorbankan nyawa-Nya di atas kayu salib bagi kita. “Ia (Kristus – Red) diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” (Galatia 4:5). Jadi karena status kita bukan lagi hamba, melainkan diangkat sebagai anak, maka kita adalah orang-orang yang berhak menerima warisan dari Bapa karena kita adalah ahli-ahli waris (ayat nas). (Bersambung)


SABTU. ORANG PERCAYA SEBAGAI AHLI WARIS (2)
Baca: Roma 8:12-17

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8:17

Kalau bapa yang ada di dunia saja berpikir tentang warisan yang hendak diberikan bagi anak-anaknya, apalagi Bapa kita yang di sorga. Inilah warisan yang Bapa sediakan bagi kita orang percaya: 1. Kerajaan Sorga. Ada orang yang suka mengatakan janji-janji, tapi sulit sekali untuk menepatinya. Harus diakui bahwa dunia ini penuh dengan janji palsu, janji yang tidak pernah digenapi. Namun Tuhan kita adalah Tuhan yang berjanji dan memberikan kepastian dalam janji-Nya. Janji Tuhan adalah ya dan amin. Tuhan Yesus berkata, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14:2-3).

Sorga adalah sebuah kepastian bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. 2. Kemenangan. Di dunia ini ada banyak sekali tantangan, bahkan Iblis tidak pernah berhenti mencari cara untuk menghancurkan hidup orang percaya. Kita tidak perlu takut karena di dalam kita ada Roh Kudus, Dialah yang akan membawa kita kepada kemenangan: menang atas persoalan dan menang atas Iblis. “…syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya.” (2 Korintus 2:14). 3. Berkat. “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10b). Tak perlu kita hidup dalam kekuatiran. Selama kita mencari dahulu kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya maka semua akan ditambahkan di dalam hidup kita. Pegang teguh kebenaran firman ini! “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19).

Karena kita adalah ahli waris, “…Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Efesus 1:3


MINGGU. HIDUP ORANG PERCAYA PENUH MUJIZAT
Baca: Kisah Para Rasul 5:12-16

“Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.” Kisah 5:12

Semua orang pasti excited mendengar kata mujizat. Mujizat adalah salah satu faktor pendorong dan penyemangat orang datang ke gereja. Mereka mencari Tuhan dengan harapan ingin mendapatkan mujizat: sakit disembuhkan, masalah terselesaikan, ekonomi keluarga dipulihkan. Namun di sisi lain ada juga orang-orang skeptis mendengar kata mujizat. Skeptis adalah kurang percaya, ragu-ragu (terhadap keberhasilan ajaran dan lain-lain). Mereka menganggap mujizat adalah cerita masa lalu di zaman Alkitab. Benarkah demikian? Ketahuilah, mujizat sampai hari ini dan untuk selamanya tetap ada! Karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak berubah. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8).

Namun yang harus menjadi fokus utama kita dalam mengikut Tuhan adalah Pribadi-Nya, bukan semata-mata karena kita mengingini mujizat-Nya. Kita tidak perlu memikirkan mujizat, karena selama kita mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh dan hidup taat melakukan kehendak-Nya, hari-hari yang kita jalani pasti akan dipenuhi dengan mujizat. Mujizat dan tanda-tanda ajaib adalah bagian dari paket keselamatan yang Tuhan sediakan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Namun ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah melakukan mujizat seperti yang kita mau dan harapkan, tapi Tuhan membuat mujizat sesuai dengan kehendak-Nya. Mungkin kita bertanya, “Mengapa aku tidak pernah mengalami mujizat?” Bukannya Tuhan tidak sanggup atau tidak mau membuat mujizat, tapi kita sendiri yang seringkali mengharapkan melakukan mujizat menurut kehendak kita. Kita mendikte Tuhan untuk mengikuti kemauan dan keinginan kita!
Alkitab menyatakan bahwa tanda-tanda ajaib dan mujizat senantiasa menyertai perjalanan hidup orang percaya yang berlaku benar di hadapan Tuhan. “Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17:20).

Taat melakukan firman Tuhan dan memiliki iman adalah kunci mengalami mujizat!

TUHAN ADALAH TEMPAT PENGUNGSIAN KITA

TUHAN ADALAH TEMPAT PENGUNGSIAN KITA

Senin. TUHAN ADALAH TEMPAT PENGUNGSIAN KITA

Baca: Yesaya 31:1-9

“Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.” Yesaya 31:1

Sekarang ini tingkat kegelisahan dan stres manusia meningkat secara drastis. Salah satu faktor penyebabnya adalah keadaan yang sukar: perekonomian semakin tidak stabil, harga-harga kebutuhan hidup melangit, tingkat pengangguran tinggi; ditambah lagi dengan keadaan negeri ini yang dipenuhi goncangan-goncangan: bencana alam terjadi di mana-mana, banjir bandang, angin puting beliung, dan juga tanah longsor; belum lagi goncangan politik belakangan ini. Masalah, musibah atau bencana acapkali datang tiba-tiba dan tak seorang pun tahu apa yang terjadi di kemudian hari! Karena itu “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” (Amsal 27:1).

Adakah yang bisa kita banggakan dari dunia ini? Uang, harta benda, pangkat dan semua yang bersumber dari dunia tak bisa diandalkan dan tak bisa dijadikan tempat pengungsian yang aman. Bersyukur kita memiliki Tuhan sebagai satu-satunya Penolong yang bisa kita harapkan. Meminta pertolongan ke Mesir (gambaran dunia) mengandalkan kuda-kuda, kereta atau pasukan berkuda adalah sia-sia belaka. Tetapi orang yang menyandarkan harapannya kepada Tuhan pasti akan beroleh pertolongan dan bahkan terberkati: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7). Walaupun dunia dipenuhi dengan krisis dan goncangan, orang yang senantiasa mengandalkan Tuhan akan tetap terpelihara dan terjaga hidupnya, karena Tuhan adalah sumber berkat dan benteng perlindungan.

Di tengah kelaparan hebat melanda, janda Sarfat hanya punya segenggam tepung dan sedikit minyak dalam buli-buli. Secara logika ia tidak memiliki harapan, tetapi ketika taat kepada perintah Tuhan tiada perkara yang mustahil. Tuhan sanggup memberkati dan memulihkan keadaannya dengan berlipat kali ganda!

“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.” Mazmur 91:7


Selasa. SETIALAH MULAI DARI PERKARA KECIL
Baca: Lukas 16:10-18

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga da-lam perkara-perkara besar.” Lukas 16:10a

Banyak orang seringkali memusatkan perhatian atau hanya ter-fokus kepada hal-hal yang besar, sampai-sampai ia melupakan, meremehkan dan menyepelekan hal-hal yang kecil atau sederhana. Padahal untuk bisa sampai kepada perkara-perkara yang besar kita harus mulai dari hal-hal yang kecil. Untuk bisa men-capai puncak gunung kita harus mulai pendakian dari bawah atau melewati lembah dan lereng terlebih dahulu. Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa perjalanan seribu mil selalu dimulai dari langkah pertama.

Coba tanyakan kepada orang-orang yang berhasil, baik itu berhasil dalam pekerjaan ataupun pelayanan, mereka juga memulai segala sesuatunya dari nol, tidak langsung berada di top level. Di zaman sekarang ini orang maunya berhasil secara instan, terkenal secara instan, atau kaya secara instan, tak peduli meski harus menempuh cara yang tidak halal. Ketika melamar pekerjaan, orang maunya diposisikan di tempat teratas, tidak mau merintis dari bawah; kalau pekerjaan tidak sesuai dengan ijazah, mereka tidak mau. Begitu pula dalam hal melayani pekerjaan Tuhan, tidak sedikit orang Kristen yang pilih-pilih pelayanan. Baru mau melayani jika ditempatkan di posisi depan, dilihat banyak orang, di posisi strategis. Kalau hanya sebagai pendoa syafaat, pembesuk, apalagi hanya jadi tukang sapu lantai gereja, pelayanan itu pasti akan ditolak secara mentah-mentah, takut pamornya turun.

Sebelum kita layak untuk menerima sebuah kepercayaan yang lebih, mau tidak mau, kita harus terlebih dahulu melewati proses dari bawah. Kita tidak secara tiba-tiba berada di puncak. Ada ujian kesetiaan, ujian ketekunan dan ujian kesabaran dalam melakukan perkara-perkara kecil. Bahkan, adakalanya kita harus melewati pengalaman pahit atau situasi sulit yang sangat menyakitkan secara daging, namun kita tidak boleh menyerah begitu saja, kita harus terus melangkah dan tetap mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, tanpa ada sungut-sungut. Ini adalah modal untuk beroleh kepercayaan lebih!

“Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,” Mazmur 18:26


Rabu. MENJADI YANG TERBAIK DI BIDANGNYA

Baca: Pengkhotbah 9:1-12

“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” Pengkhotbah 9:10

Ayat nas ini merupakan pernyataan raja Salomo, seorang raja yang secara lahiriah memiliki apa saja yang menjadi dambaan semua manusia: hikmah, kedudukan, kekayaan, kemashyuran. Berdasarkan pengalaman hidupnya terungkap sudah bahwa kunci untuk meraih keberhasilan adalah menjadi yang terbaik dalam apa pun yang dikerjakannya.

Menjadi yang terbaik adalah kerinduan Tuhan bagi setiap orang percaya. Ini terwakili melalui pekerjaan tukang periuk dan tanah liat. “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” (Yeremia 18:4). Juga melalui perumpamaan tentang talenta, di mana si tuan menghendaki setiap hamba, yang beroleh masing-masing lima, dua dan satu talenta, melakukan yang terbaik supaya talentanya itu mengalami pelipatgandaan (baca Matius 25:14-30).

Sesungguhnya nasib semua orang adalah sama (baca Pengkhotbah 9:2-3), karena Tuhan tidak pernah membeda-bedakan manusia. Apa yang akhirnya membedakan dari masing-masing orang? Yang membedakan adalah kecakapannya dalam mengerjakan sesuatu dan iman yang dimiliki. Inilah yang kurang disadari semua orang! “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29). Hidup ini adalah kesempatan untuk menjadi yang terbaik, karena itu jangan pernah kita menyia-nyiakan kesempatan yang ada, “…karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” (ayat nas)

Tidak ada alasan bagi orang percaya untuk tidak menjadi yang terbaik, karena Tuhan dan kuasa-Nya senantiasa menyertainya. Sehebat apa pun manusia jika tanpa penyertaan Tuhan ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan,” (Efesus 3:20).

Ingin menjadi yang terbaik? “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23


Kamis. MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (1)

Baca: Lukas 21:34-38

“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supa-ya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” Lukas 21:36

Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati, yang bisa diartikan melakukan pencegahan atau berjaga-jaga terlebih dahulu untuk mengantisipasi atau menghindari kemungkinan yang lebih buruk terjadi. Prinsip ini bisa diterapkan di segala bidang kehidupan, bukan hanya berkenaan dengan sakit-penyakit yang datangnya tidak terduga dan sewaktu-waktu bisa menyerang semua manusia. Solusinya adalah melakukan pencegahan. Jangan sampai ketika ‘musuh’ datang kita baru sibuk mencari senjata untuk melawan. Terlambat sedikit, fatal akibatnya!

Dalam hidup ini pun adalah lebih baik berjaga-jaga atau mempersiapkan segala sesuatu sebaik mungkin daripada harus melakukan perbaikan atas kegagalan-kegagalan yang telah terjadi, yang tentunya akan lebih sulit. Tuhan Yesus pun telah memperingatkan kita untuk selalu berjaga-jaga sambil berdoa agar kita tidak jatuh ke dalam pencobaan (baca Matius 26:41). Mengapa kita harus berjaga-jaga? Karena “…Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Iblis selalu mencari celah dan memanfaatkan kelengahan kita. Jika kita tidak berjaga-jaga sambil berdoa, kita akan menjadi sasaran empuknya! Dunia ini penuh dengan godaan dan pencobaan (keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup – 1 Yohanes 2:16). Jika iman tidak teguh kita akan mudah terbawa arus yang ada. “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut diba-wa arus.” (Ibrani 2:1).

Rasul Paulus menasihati, “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.” (Roma 13:13). Mengapa? Karena “…kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.” (1 Tesalonika 5:5-6). Sebagai anak-anak terang kita harus menjaga diri supaya tidak larut dalam pesta pora dan kemabukan! (Bersambung)


Jumat. MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (2)

Baca: 1 Tesalonika 5:1-11

“karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.” 1 Tesalonika 5:2

Semua orang tahu bahwa orang yang mabuk adalah orang yang dalam keadaan tidak sadar. Biasanya orang yang hidupnya suka bermabuk-mabukan memiliki kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang semata-mata bertujuan memuaskan hawa nafsu kedagingan: melakukan seks sebelum menikah, selingkuh, mengkonsumsi obat-obat terlarang atau perbuatan-perbuatan jahat lainnya. Sekarang ini banyak orang secara tidak sadar sedang hanyut dalam ‘kemabukan’: tanpa sadar menyimpan kebencian, sakit hati, dendam, iri hati, dengki dan sebagainya. Inilah hidup dalam kemabukan, yang sesungguhnya hanya mengantarkan seseorang kepada kehancuran.

Jadi kita harus senantiasa menjaga jalan hidup kita. “Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jal-anmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.” (Amsal 4:26-27). Jalan hidup kita perlu dijaga supaya arah yang hendak dituju tidak salah, sebab “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12). Dalam dunia ini banyak jalan yang sedang dirancang oleh Iblis untuk menjatuhkan kita sebagai anak-anak terang. Ada pun jalan yang dirancang Iblis itu terasa sangat mudah untuk dilalui, menyenangkan daging dan tanpa ada harga yang harus dibayar, namun jalan itu penuh dengan jebakan yang sangat mematikan, “…karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;” (Matius 7:13).

Hal penting lain adalah kita harus menjaga mata dan lidah kita. “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.” (Matius 6:22-23). Mata kita tercipta bukan untuk memandang hal-hal negatif dan yang bersifat duniawi yang membawa kepada kehancuran, tetapi dicipta untuk memandang hal-hal yang positif dan bertujuan memuliakan Tuhan. Kita juga harus bijak dalam memfungsikan lidah kita, sebab “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21).

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,” Efesus 5:15


Sabtu. TANAH KANAAN SEBAGAI KASIH KARUNIA TUHAN
Baca: Bilangan 33:50-56

“Haruslah kamu menduduki negeri itu dan diam di sana, sebab kepadamulah Kuberikan negeri itu untuk diduduki.” Bilangan 33:53

Ketika itu orang-orang Israel sudah berada di dataran Moab, di tepi sungai Yordan dekat Yerikho, itu artinya tinggal sedikit waktu lagi mereka akan memasuki tanah Kanaan. Kanaan adalah tempat atau lokasi yang dijanjikan Tuhan untuk diberikan kepada Abraham dan keturunannya, atau disebut Tanah Perjanjian. “Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.” (Kejadian 17:8); suatu negeri yang baik dan luas, serta berlimpah-limpah susu dan madunya (baca Keluaran 3:8). Mungkin ini adalah sukacita terbesar yang dirasakan oleh umat Israel, setelah kurang lebih 40 tahun lamanya mereka harus menempuh perjalanan berputar-putar di padang gurun.

Sebelum memasuki Kanaan ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dan dipersiapkan, sebab ada bangsa lain yang menempati Kanaan, yang penduduknya adalah penyembah berhala. Karena itu Tuhan memerintahkan untuk menghalau semua penduduk, membinasakan segala patung tuangan dan memusnahkan bukit-bukit penyembahan berhala (Bilangan 33:52). Mengapa? Karena “…mereka akan menjadi seperti selumbar di matamu dan seperti duri yang menusuk lambung-mu, dan mereka akan menyesatkan kamu di negeri yang kamu diami itu.” (Bilangan 33:55); artinya bangsa yang ada di Kanaan kalau tidak ditumpas, cepat atau lambat, akan membawa pengaruh negatif dan menjadi jerat bagi bangsa Israel sendiri, terutama dalam hal ibadah, sebab orang-orang di Kanaan menyembah kepada dewa-dewa (berhala). Ini sangat berbahaya! “…karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” (Keluaran 34:14).

Kunci untuk mengalami berkat-berkat Tuhan adalah harus membuang semua dosa dan segala hal yang menghalangi kita untuk beribadah kepada-Nya. Setelah itu barulah bangsa Israel bisa menduduki negeri itu dan diam di sana. Menduduki berarti bukan sekedar menempati, tetapi juga mengelola, mengupayakan, mengembangkan potensi yang ada, serta mempertahankan sedemikian rupa.

Janji Tuhan pasti akan digenapi, asalkan kita hidup taat melakukan kehendak-Nya!


Minggu. HATI YANG BENAR: Menunjang Keberhasilan

Baca: Mazmur 127:1-5

“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” Mazmur 127:1

Keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup ini sangat ditentukan oleh berbagai faktor yang mendukung. Diawali dari sebuah impian atau cita-cita, ketekunan, kesungguhan, kerja keras, kecakapan khusus, sikap yang tidak mudah putus asa, orang-orang di sekitarnya dan masih banyak lagi. Namun semua ini tidak akan berarti apa-apa tanpa campur tangan Tuhan.

Salomo, yang adalah anak Daud dan juga raja, mengakui hal ini (ayat nas). Karena itu dibutuhkan sebuah hati yang penuh penyerahan diri kepada Tuhan, hati yang senantiasa melekat kepada-Nya, dan hati yang senantiasa selaras dengan kehendak Tuhan, itulah yang akan menuntun seseorang kepada sebuah pencapaian cita-cita, impian dan harapan. Jika Tuhan menyelidiki bumi untuk mencari
pemimpin, Ia tidak mencari orang dengan kriteria-kriteria jasmaniah sebagaimana manusia biasa memilih dan menilai sesamanya, “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” (2 Tawarikh 16:9a). Kalau kita memilih dan menilai seseorang dari apa yang terlihat secara kasat mata kita pasti akan kecewa, karena apa yang tampak dari luar bisa mengelabui dan menipu. Saat Tuhan mencari pemimpin Ia hanya mencari orang-orang yang memenuhi kriteria-Nya, yang memiliki kualitas tertentu, seperti Ia temukan dalam diri Daud, raja Israel. “Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” (Kisah 13:22).

Kualitas pertama yang Tuhan lihat dalam diri Daud adalah hatinya. Hati Daud senantiasa melekat kepada Tuhan, artinya hidupnya berkenan kepada Tuhan dan senantiasa taat melakukan kehendak-Nya. Tuhan mencari orang-orang yang hatinya senantiasa berpaut kepada-Nya, hati yang terbebas dari segala bentuk kejahatan.

“…sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” 1 Tawarikh 28:9

 

ROH KUDUS MEMBERI KEKUATAN DAN KARUNIA

ROH KUDUS MEMBERI KEKUATAN DAN KARUNIA

Senin. ROH KUDUS MEMBERI KEKUATAN DAN KARUNIA
Baca: 1 Korintus 12:4-11

“Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.” 1 Korintus 12:11

Ketika kita tunduk dalam pimpinan Roh Kudus maka Ia akan melimpahkan kekuatan kepada kita sehingga kita dimampukan untuk menghadapi segala sesuatunya. Walau harus dihadapkan pada tantangan, ujian, masalah dan penderitaan, rasul Paulus mampu melewatinya, bukan karena ia kuat, tapi “…kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” (2 Korintus 4:7-9). Inilah peranan Roh Kudus sebagai penolong dalam kehidupan orang percaya sebagaimana yang dikatakan Tuhan Yesus sebelum ia naik ke sorga. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,” (Yohanes 14:16). Selama kita hidup dalam pimpinan Roh kudus berarti ada satu kuasa yang menyertai, menjaga dan melindungi kita.

Bukan hanya itu, semakin kita tunduk dalam pimpinan Roh Kudus semakin Ia akan memberikan kepada kita karunia-karunia rohani sebagai bekal untuk kita melayani pekerjaan Tuhan. Dengan demikian pekerjaan Tuhan itu berada di atas bahu semua orang percaya yang telah menerima karunia Roh Kudus: satu, dua atau lima talenta (baca: Matius 25:15). Artinya ada ‘kadar’ atau ‘ukuran’ anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita menurut ketentuan Tuhan sendiri. “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.” (Roma 12:6). Dan karunia apa yang diberikan kepada kita, itu juga tergantung dari kehendak Tuhan (ayat nas).

Rasul Paulus menasihati agar kita senantiasa mengobarkan karunia yang Tuhan beri (2 Timotius 1:6) dan memiliki roh yang menyala dalam melayani Tuhan (Roma 12:11). Alkitab menyatakan barangsiapa setia melayani Tuhan dengan kasih, mahkota kemuliaan telah disediakan Tuhan baginya (baca 1 Petrus 5:4).

Tanpa kekuatan dan kemampuan yang Roh Kudus beri, kita ini nothing!


Selasa. JIWA-JIWA: Berharga Di Mata Tuhan (1)

Baca: Lukas 15:1-7

“Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” Lukas 15:4

Perumpamaan tentang domba yang hilang yang kita baca ini juga memiliki kesamaan makna dengan perumpamaan-perumpamaan lain di pasal ini: tentang dirham yang hilang (Lukas 15:8-10), dan juga anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Kesemuanya ini menunjukkan betapa pentingnya ‘jiwa-jiwa’ bagi Tuhan!

Tuhan sangat mengasihi jiwa-jiwa, dan di pemandangan mata-Nya jiwa-jiwa itu sangat berharga: “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.” (Yesaya 43:4). Tuhan tidak menghendaki satu jiwa pun terhilang dan mengalami kebinasaan kekal. “…Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9). Karena kasih-Nya Bapa mengutus Putera-Nya datang ke dunia dengan sebuah misi: “…Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Lukas 19:10). Jika ada satu jiwa saja yang bertobat, “…ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Lukas 15:7).

Dunia saat ini adalah dunia yang sangat ‘duniawi’, artinya dunia sedang dipenuhi segala hal yang bersifat kedagingan. Uang, harta, kekayaan, kemewahan, pangkat/kedudukan, popularitas, kepuasan seks dan sebagainya sedang dicari dan dikejar oleh banyak orang, karena semua itu dianggapnya sebagai sesuatu yang paling penting dan terutama dalam hidup ini. Perselingkuhan, seks bebas, narkoba, melakukan berbagai tindak kejahatan kini tidak lagi menjadi hal yang ditakutkan. Bahkan banyak orang sudah tidak lagi merasa sungkan atau malu untuk melakukannya. Bagi mereka yang penting adalah keinginan dagingnya terpuaskan! Mereka tidak lagi memikirkan keselamatan jiwanya. Apa gunanya orang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya atau jiwanya terhilang? (Bersambung)


Rabu. JIWA-JIWA: Berharga Di Mata Tuhan (2)

Baca: 1 Korintus 9:15-23

“Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.” 1 Korintus 9:23

Dengan segala tipu dayanya Iblis terus berjalan keliling seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (baca 1 Petrus 5:8), dengan menawarkan segala kenikmatan dan kemewahan dunia ini supaya manusia kian ter-lena dengan hal-hal yang duniawi, sehingga tujuannya untuk me-nyesatkan jiwa-jiwa tercapai. Melihat jiwa-jiwa yang terhilang dan sedang berjalan menuju kepada kebinasaan, akankah kita bersikap masa bodoh? Jika Tuhan begitu mengasihi dan mem-perdulikan jiwa-jiwa yang terhilang (orang berdosa), masakan kita tidak punya hati yang terbeban bagi mereka?

Kebanyakan orang tidak mengerti betapa pentingnya jiwa-jiwa bagi Tuhan, sehingga mereka bersikap seperti orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang bersungut-sungut ketika melihat Tuhan Ye-sus makan bersama-sama dengan orang berdosa (baca Lukas 15:2). Ketika ada jemaat Tuhan yang mulai undur dari persekutu-an, ketika melihat orang-orang di sekitar hidup dalam dosa, ban-yak dari kita termasuk para pelayan Tuhan justru bersikap acuh, dan tidak sedikit yang menghakimi. Kita tidak berbuat sesuatu agar mereka dapat kembali kepada Tuhan dan diselamatkan. Se-bagai orang-orang yang telah diselamatkan kita dipanggil untuk melakukan sebuah tugas yang mulia yaitu menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang.

Untuk bisa mengerjakan panggilan Tuhan ini kuncinya adalah ‘hati hamba’. Tanpa memiliki hati hamba tak mudah bagi orang untuk mengasihi jiwa-jiwa! Rasul Paulus merespons panggilan Tuhan untuk melayani jiwa-jiwa! Rasul Paulus merespons panggian Tuhan untuk melayani jiwa-jiwa dan menjadi hamba dari semua orang. “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.” (1 Korintus 9:19), dan bertekad “…jika aku harus hidup di dunia ini, itu be-rarti bagiku bekerja memberi buah.” (Filipi 1:22a). Salah satu buah yang dihasilkan adalah buah jiwa-jiwa! “…sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk me-layani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28), kita pun dipanggil untuk melaya-ni jiwa-jiwa!

Gembalakanlah kawanan domba, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela!


Kamis. DENDAM MEMBARA DI HATI (1)
Baca: Kejadian 27:41-46

“Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: ‘Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh.'” Kejadian 27:41

Esau adalah anak sulung dari Ishak dan Ribka, yang ketika lahir seluruh tubuhnya berbulu seperti jubah dan berwarna merah (baca Kejadian 25:25). Ia pandai berburu dan kesenangannya tinggal di padang. Ishak sangat mengasihi Esau karena Ishak su-ka makan daging buruannya.

Keputusan Esau untuk menjual hak kesulungannya kepada Yakub (adiknya) adalah awal petaka baginya sebab ia harus ke-hilangan berkat sebagai anak sulung; peristiwa ini sekaligus menguatkan legitimasi Yakub sebagai tuan atas Esau. Karena telah menganggap remeh hal berharga yang seharusnya menjadi bagiannya, Esau harus menanggung akibatnya. Penyesalan pun tiada guna! Sejak saat itu “Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadan-ya,” (ayat nas). Kata dendam memiliki arti: berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan dan sebagainya). Benih dendam Esau ini akhirnya mengakar sampai kepada keturunannya yang lebih dikenal sebagai orang-orang Edom. Begitu hebatnya dampak negatif dari sebuah akar pahit yang bahkan menurun sampai pada keturunan-keturunan berikutnya. Akhirnya Tu-han pun menjatuhkan hukuman atas mereka karena den-damnya yang kesumat dan perlakuan jahat mereka terhadap umat Israel. “Oleh karena Edom membalaskan dendam kesumat terhadap kaum Yehuda dan membuat kesalahan besar dengan melakukan pembalasan terhadap mereka, oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH, Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan Edom dan melenyapkan dari padanya manusia dan binatang dan Aku membuatnya menjadi reruntuhan; dari Teman sampai Dedan mereka akan mati rebah oleh pedang.” (Yehezkiel 25:12-13).

Melalui kisah Esau dan keturunannya ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa dendam itu sangat berbahaya dan berdampak sangat buruk! Dendam hanya menimbulkan akar pahit dan dapat menghasilkan tindakan-tindakan jahat. Tuhan sangat membenci orang-orang yang memiliki dendam kesumat terhadap sesamanya! (Bersambung)


Jumat. DENDAM MEMBARA DI HATI (2)
Baca: Imamat 19:17-18

“Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasi-hilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TU-HAN.” Imamat 19:18

Ketika disakiti, dijahati atau diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain naluriah kita cenderung untuk melakukan pembalasan atau menyimpan dendam di hati, yang sewaktu-waktu -ketika timing sudah tepat- akan dilampiaskan.

Sebagai orang percaya layakkah kita ‘memelihara’ den-dam? Mendendam adalah pelanggaran terhadap firman Tu-han. Dendam berarti menyimpan akar pahit, sakit hati dan juga kebencian terhadap orang lain! “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.” (Imamat 19:17). Orang yang mendendam pasti mem-iliki hati yang tidak bersih, biasanya pikirannya akan dipenuhi dengan rencana-rencana jahat. Semakin kita mendendam semakin kita dibawa kepada tindakan jahat lainnya. Ini sep-erti mata rantai yang saling terhubung antara perilaku buruk yang satu kepada perilaku buruk lainnya.

Memiliki dendam terhadap orang lain sama artinya belum bisa mengampuni kesalahan orang lain. Alkitab menegaskan bahwa jika kita tidak mau mengampuni orang lain, maka Bapa di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan kita (baca Matius 6:14-15); artinya dendam hanya akan menghalangi hubungan kita dengan Tuhan, termasuk menghalangi doa-doa kita. Daud berkata, “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar.” (Mazmur 66:18). Dendam tidak pernah mem-bawa kepada kebaikan, sebaliknya hanya akan membuat hidup menderita. Rasul Paulus menasihati, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13).

“…janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, fir-man Tuhan.” Roma 12:19


Sabtu. DUNIA PENUH DENGAN KEKERASAN (1)
Baca: Matius 26:47-56

“Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab ba-rangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” Matius 26:52

Kalau kita perhatikan hari-hari ini dunia semakin hari semakin dipenuhi dengan kekerasan. Moral manusia semakin mengala-mi kemerosotan! Surat kabar dan juga televisi selalu memunculkan berita baru tentang tindak kejahatan atau berita-berita tentang kriminalitas setiap hari, mulai dari pembunuhan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, pelecehan dan se-bagainya. Ada ibu tega menganiaya dan bahkan membunuh bayinya sendiri; karena rebutan warisan saudara kandung bisa saling membunuh; ayah tega memperkosa anak kandungnya; ada pula anak tega menjebloskan orangtuanya sendiri ke da-lam penjara karena silau dengan harta. Kekerasan telah men-jadi warna kelam kehidupan ini, dan tanpa terasa dunia telah berubah menjadi hutan rimba yang sangat menakutkan!

Di tengah dunia yang keras ini, di mana krisis kasih melan-da semua orang dan terjadi di mana-mana, orang percaya justru dituntut untuk memiliki kehidupan yang berbeda yaitu menyatakan kasih kepada sesama. Mengapa? Karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita. “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1 Yohanes 4:10). “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yo-hanes 4:8). Jika dunia berprinsip bahwa kekerasan adalah so-lusi terbaik untuk setiap permasalahan, Alkitab justru mengajarkan prinsip yang berbeda. (Bersambung)


Minggu. DUNIA PENUH DENGAN KEKERASAN (2)
Baca: Yohanes 18:1-11

“Kata Yesus kepada Petrus: ‘Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?'” Yohanes 18:11

Untuk menang orang-orang dunia akan menggunakan segala cara, jika perlu dengan kekerasan disertai ancaman, men-jegal, menindas, bahkan ‘memangsa’ sesamanya, seperti istilah homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya) yang telah ada sejak tahun 195 SM, dice-tuskan oleh Plautus dalam karyanya berjudul “Asanaria”. Mereka juga berprinsip setiap kejahatan harus di balas dengan kejahatan yang setimpal, atau malah lebih kejam.

Tetapi firman Tuhan mengajarkan: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum!… Janganlah kamu kalah terhadap keja-hatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan ke-baikan!” (Roma 12:17, 18, 20, 21). Karena itulah Yesus dengan tegas berkata kepada Petrus, “Sarungkan pedangmu itu;” (ayat nas). Teguran ini mungkin membuat Petrus kecewa. Ingin membela Tuhan Yesus tetapi justru ia dimarahi-Nya dan diperintahkan menyarungkan pedangnya; bermaksud membela Guru namun ia justru disalahkan, dan serasa dipermalukan di depan orang banyak. Pernyataan Tuhan Yesus ini menunjukkan bahwa Dia sangat anti kekera-san. Sampai kapan pun kekerasan tidak pernah me-nyelesaikan masalah, sebaliknya justru semakin memper-buruk masalah, berakibat hal-hal negatif, menciptakan pem-berontakan yang berujung malapetaka. “Orang yang menggunakan kekerasan menyesatkan sesamanya, dan mem-bawa dia di jalan yang tidak baik.” (Amsal 16:29). Tuhan Yesus sangat anti kekerasan, tetapi Dia adalah Tuhan yang sangat tegas tanpa kompromi.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kekerasan harus dihadapi dengan kasih. Meski dunia dipenuhi kejahatan dan kekerasan, orang percaya dituntut tetap mempraktekkan kasih, karena Tuhan tidak pernah mengajarkan kita melakukan pembalasan. Pembalasan adalah hak Tuhan (Roma 12:19).

“TUHAN menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia mem-benci orang yang mencintai kekerasan.” Mazmur 11:5

KESEMPATAN MEMBERI YANG TERBAIK (1)

KESEMPATAN MEMBERI YANG TERBAIK (1)

Senin. KESEMPATAN MEMBERI YANG TERBAIK (1)
Baca: Kejadian 18:1-15

“‘Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!'” Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya.” Kejadian 18:6-7

Memberi itu tidak selalu berbicara tentang nominal atau seberapa besar nilainya, tetapi memberi selalu berhubungan dengan seberapa tulus hati kita terlihat dalam pemberian itu. Jadi rahasia memberi adalah kasih. Jika kita mengasihi seseorang kita tak mungkin memberi dia sesuatu yang buruk, barang bekas, atau yang sisa-sisa, bukan? Pastilah kita akan memberi dia sesuatu yang pantas dan baik. Ingat! Suatu pemberian merupakan cerminan kasih kita kepada Tuhan, sebab Tuhan adalah teladan utama dalam hal memberi yang tak tertandingi. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).

Ketika sedang duduk di dalam kemahnya ketika cuaca di luar sangat panas, Abraham melihat ada tiga orang sedang datang menuju kemahnya. Alkitab menyatakan bahwa tamu itu adalah Tuhan sendiri. Segeralah “…ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah,” (Kejadian 18:2). Abraham memiliki sikap hati yang tulus dan menyembah. Selanjutnya ia berkata, “Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini.” (Kejadian 18:3). Artinya Abraham tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, yaitu kesempatan untuk diberkati. Inilah kairos, waktu yang diberikan Tuhan dan yang di dalamnya terdapat kesempatan; waktunya Tuhan bertindak untuk mendatangkan kebaikan bagi manusia (baca Pengkhotbah 3:11); suatu periode tertentu, yang kalau sudah lewat tidak akan kembali lagi, alias tidak datang kedua kali.

Pergunakanlah setiap kesempatan yang Tuhan beri dengan sebaik mungkin! Adalah tidak mudah bagi seseorang untuk menangkap kairos dari Tuhan, butuh kepekaan rohani untuk dapat memahami kapan saatnya Tuhan membuka dan menutup pintu (kesempatan), sebab “…apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” (Wahyu 3:7). (Bersambung)


Selasa. KESEMPATAN MEMBERI YANG TERBAIK (2)

Baca: Kejadian 18:1-15

“Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Kejadian 18:10

Sebelum mengalami berkat dari Tuhan Abraham terlebih dahulu berinisiatif memberikan sesuatu kepada tamunya itu; dan yang diberikan oleh Abraham adalah persembahan yang terbaik! (ayat 6-8). Mungkin kita tidak mempunyai cukup harta atau kekayaan untuk diberikan, sama seperti yang diperbuat oleh Abraham, tapi yakinlah bahwa apabila kita memberi dengan hati tulus kepada Tuhan, apa pun itu dan seberapa pun nilainya, itu-lah yang terbaik untuk Tuhan. Ketika hendak memberi jangan pernah menunda-nunda dan jangan bergantung pada keadaan. “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menu-ai.” (Pengkhotbah 11:4).

Kata segeralah dan berlarilah (Kejadian 18:6, 7) menunjuk-kan bahwa Abraham tidak menunda-nunda waktu untuk mem-beri atau berlambat-lambat dalam berbuat baik pada sesama, apalagi untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” (Pengkhotbah 11:6). Rasul Paulus juga menasihati, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, kare-na apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:9). Bagian kita hanyalah sep-erti petani yang selalu giat dan tidak pernah lelah untuk mena-bur, karena kita tidak tahu taburan mana yang akan menda-tangkan hasil yang luar biasa. Bagi Abraham, ia menuai berkat yang berkelimpahan karena memberi yang terbaik bagi Tuhan dengan tidak hitung-hitungan.

Apa persembahan yang terbaik bagi Tuhan? “…supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Yang Tuhan kehendaki adalah kita mempersembahkan seluruh keberadaan hidup kita kepada Tuhan. Kalau kita memberi yang terbaik bagi Tuhan: waktu, tenaga, pikiran, atau bahkan materi, maka kita pun layak untuk menerima juga yang terbaik dari Tuhan sebagai upah kita.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:33


Rabu. MEMPERSEMBAHKAN HASIL PERTAMA

Baca: Amsal 3:1-10 “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,” Amsal 3:9

Kita sering mendengar banyak orang Kristen yang berkomitmen kepada Tuhan: jika Tuhan memberkati usahaku, memberkati sewa-ladangku, memberi aku keturunan, atau memberi peker-jaan baru, aku mau memuliakan Tuhan dengan beribadah dan melayani pekerjaan Tuhan dengan sungguh. Tetapi jika ditantang untuk memuliakan Tuhan dengan harta atau kekayaan yang dimiliki? Kita pasti akan berpikir 1000 kali untuk melakukannya, apalagi bila diminta untuk mempersembahkan hasil pertama dari segala penghasilan: gaji pertama, hasil kebun pertama, atau keuntungan pertama usahanya.

Bangsa Israel mempersembahkan hasil panen pertama kepada Tuhan. “…haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu,” (Ulangan 26:2), sebagai wujud pengakuan bahwa Tuhanlah Sang Pemilik tanah itu dan yang memberkati tanah itu sehingga benih yang ditabur bisa tumbuh dan menghasilkan tuaian. Karena itu Salomo meng-ingatkan supaya kita memuliakan Tuhan secara khusus melalui persembahan hasil pertama kita kepada Tuhan secara khusus melalui persembahan hasil pertama kita kepada Tuhan sebagai bentuk penghormatan kita kepada-Nya, sebab Tuhan adalah Pemilik segala-galanya, sedangkan kita ini hanyalah dipercaya sebagai pengelola. Kalau kita mau memprioritaskan Tuhan lebih dari apa pun, maka Tuhan akan membuka jalan untuk mencu-rahkan berkat-berkat-Nya, “maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.” (Amsal 3:10). Artinya bahwa Tuhan akan mencurahkan berkat-berkat-Nya secara berlimpah, “…suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk men-gukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Inilah janji Tuhan kepada setiap orang yang menghormati Tuhan dan tidak hitung-hitungan dengan Tuhan.

Siapkah Saudara menerima berkat Tuhan yang melimpah? Belajarlah taat untuk mempersembahkan hasil pertama dari se-tiap penghasilan kita.

“Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah.” Kejadian 27:28


Kamis. ADA RENCANA TUHAN DI SETIAP PERKARA

Baca: Lukas 1:5-25

“Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.”Lukas 1:25

Pada zaman dahulu kemandulan dianggap sebagai aib. Masyarakat menganggap bahwa wanita yang tidak memiliki ke-turunan alias mandul pastilah mempunyai hal yang tidak beres dalam dirinya. Karena itu kemandulan menjadi masalah terbesar bagi semua wanita, sebab hal ini menyangkut harga diri dan tanda ketidaksempurnaan. Akibatnya wanita yang mandul pasti akan merasa rendah diri, tidak berharga, mengalami penolakan di mana-mana, dan bahkan dikucilkan; dan lebih menyakitkan lagi kemandulan seringkali dijadikan alasan oleh para suami un-tuk berbuat semena-mena terhadap isteri, selingkuh, atau bahkan menikah lagi dengan wanita lain.

Elisabet adalah salah satu wanita yang tercatat di Alkitab yang mengalami masalah ini, tapi kemandulannya bukan karena ada sesuatu yang tidak beres, ada aib atau dosa yang diper-buatnya… Bukan! Sebab Elisabet, isteri dari seorang imam yang bernama Zakharia, “Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.” (ayat 6). Melihat fakta ini tidak selayak-nya orang tergesa-gesa untuk menghakimi, mencari-cari kesala-han, memojokkan, atau mencela. Sudah menjadi rahasia umum, ketika orang sedang tertimpa musibah atau masalah, banyak orang langsung berpikir bahwa orang itu telah berbuat dosa.

Tidak selalu demikian! Adakalanya Tuhan mengijinkan hal itu terjadi karena Tuhan punya rencana di balik masalah yang ada. Kemandulan yang dialami Elisabet adalah bagian dari rencana Tuhan atas hidupnya. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk menda-tangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Al-lah.” (Roma 8:28).

Dari sisi Elisabet, kita bisa belajar tentang ketegaran hati, tidak mudah kecewa dan berputus asa, serta tidak berubah sikap hati, meski dihadapkan pada situasi sulit. Bahkan ia tetap mampu menjaga kualitas hidupnya dengan berlaku benar di hadapan Tuhan tanpa cacat cela. Ketaatan Elisabet mendatangkan upah: ia mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki (Lukas 1:57), dan anak itu adalah Yo-hanes Pembaptis.

Adakah yang mustahil bagi Tuhan? Tidak ada rencana-Nya yang gagal


Jumat. TUNDUK DALAM PIMPINAN ROH KUDUS (1) Baca: Galatia 5:16-26

Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,” Galatia 5:25

Menjadi orang Kristen tidaklah cukup hanya percaya kepada Tuhan Yesus, beribadah ke gereja, atau turut terlibat dalam pelayanan… tapi kita harus mau hidup dipimpin Roh Kudus. Kalau tidak, kita akan berjalan dengan mengandalkan ke-mampuan dan kekuatan sendiri, dan selama kita mengandal-kan kekuatan sendiri kita pasti akan gagal dalam menjalani hidup kekristenan kita. Penting sekali kita memberi diri un-tuk dipimpin Roh Kudus, artinya dengan sadar kita menun-dukkan diri pada kehendak Tuhan.

Bagaimana kita tahu bahwa kita sedang dipimpin Roh Kudus? Yaitu ketika kita memulai hari dengan doa dan men-erapkan firman Tuhan dalam hidup sehari-hari, sebab salah satu pekerjaan Roh Kudus adalah “…mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 14:26). Hidup dalam pimpinan Roh Kudus berarti kita bersedia dikoreksi, ditegur dan diarahkan apabila langkah kita mulai menyimpang dari firman Tuhan. Setiap orang pasti punya banyak kelemahan, tapi ketika kita memberi diri untuk dipim-pin Roh Kudus maka Ia akan berkarya di dalam kita dan memberi kita kekuatan untuk menghadapi segala sesuatu. Ada saat-saat di mana kita merasa sudah kehilangan akal dalam menghadapi masalah, bahkan mengalami jalan buntu, tetapi kalau kita selalu berada dalam pimpinan Roh Kudus, maka kita akan dapat mengerti jalan mana yang harus kita tempuh atau keputusan apa yang harus diambil, karena Roh Kudus adalah Counselor, Penasihat Ajaib, yang dengan suara lembut berbicara kepada kita dan memberi jalan keluar untuk masalah yang kita hadapi. Tuhan berfirman, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9).

Semakin hidup dipimpin Roh Kudus semakin kita memiliki kepekaan rohani, “…pancaindera yang terlatih untuk mem-bedakan yang baik dari pada yang jahat.” (Ibrani 5:14). Inilah yang membawa kedewasaan rohani! Artinya kehidupan rohani kita akan terus mengalami pertumbuhan apabila kita tunduk dalam pimpinan Roh Kudus. Karena itu berikanlah keleluasaan gerak kepada Roh Kudus untuk memimpin hidup kita!

“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,” Galatia 5:25


Sabtu. TUNDUK DALAM PIMPINAN ROH KUDUS (2)

Baca: Yehezkiel 47:1-12

“Sekali lagi ia mengukur seribu hasta lagi, sekarang air itu su-dah menjadi sungai, di mana aku tidak dapat berjalan lagi, sebab air itu sudah meninggi sehingga orang dapat berenang, suatu sungai yang tidak dapat diseberangi lagi.” Yehezkiel 47:5

Pembacaan firman hari ini mengisahkan tentang aliran sungai. Ada sungai yang mengalir dengan ketinggian mulai dari sepergelangan kaki, lutut, pinggang, dan sampai menjadi sungai. Pada waktu hanya sampai sepergelangan kaki, lutut ataupun pinggang, orang masih bisa melawan arusnya. Tetapi ketika air sudah semakin meninggi orang tidak dapat berjalan lagi, apalagi sampai melawan arus, melainkan harus mengikuti aliran sungai itu.

Ini adalah gambaran perjalanan hidup orang percaya! Ada pun sasaran hidup orang percaya adalah “…mencapai kesatu-an iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:13-15). Kalau kita ingin sampai ke level itu (sesuai sasaran), mau tidak mau kita harus mengikuti aliran kuasa Roh Ku-dus. Namun masih banyak orang Kristen yang tak mau masuk ke dalam aliran ‘sungai’ Tuhan ini. Mereka memilih menjalani hidup sekehendak hati. Selama kita masih mengeraskan hati, tidak mau tunduk kepada pimpinan Roh Kudus, kerohanian kita takkan bisa bertumbuh, sebaliknya akan mengalami kemunduran.

Ketika kita mengikuti pimpinan Roh Kudus terkadang kita dibawa kepada suatu keadaan yang tidak mengenakkan secara daging, bertentangan dengan logika, dan tantangan serasa semakin berat, namun bila kita taat seperti Abraham meski tidak tahu kemana Roh Tuhan akan menuntunnya (baca Ibrani 11:8) maka kita akan dibawa kepada rencana-Nya yang indah. Seberat apa pun tantangannya kita pasti mampu melewatinya, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7).

Dalam pimpinan Roh Kudus kita dibawa kepada rencana-Nya yang indah! Karena itu jangan berontak.


Minggu. ROH KUDUS MENGAJAR KITA BERDOA

Baca: Roma 8:26-30

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8:26

Semua orang pasti akan menyanggah dengan keras jika dikatakan tidak bisa berdoa, karena kita menganggap bahwa berdoa adalah suatu perkara yang mudah. Benarkah demikian? Berdoa adalah hal yang sulit dilakukan bagi ban-yak orang Kristen yang tidak memiliki persekutuan yang karib dengan Roh Kudus. Doa itu bukan sekedar menghafal-kan atau membaca tulisan, tetapi doa yang benar harus lahir dari kedalaman hati kita. Jiwa, roh dan perasaan kita berada dalam satu aliran yang sama jika Roh Kudus menggerakkan dan memimpin kita dalam doa.

Alkitab menyatakan bahwa kita dapat berdoa dengan akal dan juga berdoa dengan roh. Hal itu dimungkinkan jika kita mau dipimpin Roh Kudus, sebab kedua cara berdoa ini adalah pekerjaan Roh Kudus. Rasul Paulus berkata, “Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” (1 Korintus 14:14-15). Roh Kudus itulah yang membawa kita kontak dengan Bapa di sorga, sebab Ia adalah Roh doa. Sesudah ada kontak barulah kita berdoa dan menyatakan isi hati kita kepada Tuhan. Berdoa itu berbicara dengan Tuhan dari hati ke hati, memandang Tuhan dengan mata iman dan menyam-paikan segala permintaan kita. Inilah kunci kehidupan doa orang percaya!

Tuhan Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Matius 5:8). Hati memiliki peranan sangat penting dalam hidup seseorang, sebab “…dari hati timbul segala pikiran jahat,” (Matius 15:19). Hati yang suci berarti hati yang terbebas dari segala kejahatan. Inilah modal bagi seseorang untuk dapat ‘melihat’ Bapa, dan orang yang dapat melihat Bapa berarti ia berkesempatan untuk berkata-kata atau berbicara dengan-Nya. Namun “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar.” (Mazmur 66:18).

Hanya oleh pertolongan Roh Kudus kita dapat berdoa dengan tiada berkeputusan!

MENCARI KEHENDAK TUHAN? BERLUTUTLAH!

MENCARI KEHENDAK TUHAN? BERLUTUTLAH!

Senin. MENCARI KEHENDAK TUHAN? BERLUTUTLAH!

Baca: Mazmur 143:1-12

“Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!” Mazmur 143:10

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita dihadapkan pada masalah atau situasi sulit di mana kita harus membuat sebuah keputusan atau pilihan.  Timbullah pertanyaan bagaimana caranya mengerti apakah ini kehendak Tuhan atau bukan.  Mungkin ada yang berkata,  “Aku seorang yang ber-IQ tinggi, bahkan jenius, jadi mencari kehendak Tuhan adalah hal mudah.  Aku berpengalaman, sudah makan asam garam kehidupan, karena itu tidak perlu mengajariku untuk mencari kehendak Tuhan!”  Jawaban semacam ini wajar apabila segala hal orang lebih mengandalkan kekuatan sendiri, mengandalkan akal atau logika, mengandalkan pengalaman dalam menganalisa suatu masalah.

Untuk mencari kehendak Tuhan kita tidak bisa mengandalkan nalar, logika atau isi otak, tetapi butuh kepekaan rohani.  Bagaimana caranya?  Melatih lutut Saudara untuk berdoa dan melatih pendengaran Saudara untuk mendengar firman Tuhan setiap hari adalah cara jitu untuk melatih kepekaan rohani kita.  Inilah harga yang harus dibayar!  Yesaya berkata,  “Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.”  (Yesaya 50:4b).  Kalau kita berusaha dengan sungguh mencari kehendak Tuhan maka Tuhan pun tidak pernah kehilangan cara untuk menyatakan kehendak-Nya dalam kehidupan kita, sebab keinginan Tuhan untuk menyatakan kehendak-Nya itu jauh lebih besar daripada keinginan kita untuk mencari kehendak-Nya.  “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.”  (2 Tawarikh 16:9a).

Inilah janji Tuhan kepada setiap orang yang bersungguh hati mencari Dia.  “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”  (Matius 7:7-8).

Terhadap orang yang karib, perjanjian dan kehendak-Nya diberitahukan kepada mereka  (baca  Mazmur 25:14).


Selasa. BUTA ROHANI: Tidak Melihat Kebenaran

Baca: Matius 15:1-20

“Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.” Matius 15:14b

Apa yang terbayang di benak Saudara jika melihat ada 2 orang buta yang hendak menyeberangi jalan umum, sementara jalan tersebut penuh dengan kendaraan yang sedang lalu lalang?  Tentu itu sangat berbahaya!  Kita pasti akan berpikir bahwa kecil kemungkinan kedua orang buta tersebut dapat menyeberangi jalan dengan selamat, atau kemungkinan terburuknya adalah mereka akan tertabrak oleh kendaraan.

Pernyataan keras pada ayat nas disampaikan Yesus untuk menyindir keberadaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang secara lahiriah memiliki mata normal alias dapat melihat, tetapi sesungguhnya mereka mengalami kebutaan rohani, sehingga tidak dapat melihat kebenaran.  “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”  (ayat 8-9).  Mereka tahu tentang kebenaran secara detil, memiliki ilmu teologia sangat tinggi, bahkan cakap mengajar orang lain, namun tragisnya mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran…  apalah arti semuanya itu?  Jika mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran bagaimana mungkin membawa orang lain kepada kebenaran?  Bagaimana mungkin menjadi berkat atau kesaksian bagi orang lain?  Menjadi batu sandungan, iya.  “Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”  (Matius 23:3).

Alkitab menyatakan bahwa setiap orang yang belum mengenal Kristus disebut sebagai orang-orang yang masih buta rohaninya karena mereka belum melihat terang, sebab Kristus adalah terang itu sendiri  (baca  Yohanes 8:12).  Tetapi ada pula orang-orang yang sudah tahu kebenaran, mendengar berita Injil, tapi tidak mau percaya, karena  “…pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.”  (2 Korintus 4:4).

Sebagai orang percaya, yang telah menerima terang Kristus dan firman-Nya, seharusnya kita memiliki kehidupan yang memancarkan terang bagi orang lain, sehingga orang lain dapat  ‘melihat’  kebenaran itu melalui kita.


Rabu. JANGAN BERLAKU SEPERTI KUDA ATAU BAGAL (1)

Baca: Mazmur 32:1-11

“Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.” Mazmur 32:9

Seringkali timbul pertanyaan di benak kita:  “Mengapa masalah masih dialami oleh orang yang percaya kepada Kristus?  Mengapa Tuhan seolah-olah membiarkan umat-Nya berjuang sendirian menghadapi pergumulan hidup?”  Tuhan tidak pernah berjanji bahwa setiap orang percaya kepada-Nya pasti terbebas dari masalah, namun yang pasti bahwa masalah yang dialami  “…tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”  (1 Korintus 10:13).  Pemazmur juga menyatakan,  “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;”  (Mazmur 34:20).

Jika Tuhan mengijinkan masalah berarti Ia pasti punya suatu rencana di balik masalah tersebut.  Adakalanya Tuhan menggunakan masalah sebagai salah satu cara untuk mengajar kita.  “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”  (Mazmur 32:8).  Tuhan perlu mengajar kita karena Ia hendak memperbaiki kualitas hidup kita.  Dalam mazmur ini Tuhan tidak menghendaki umat-Nya berlaku seperti kuda atau bagal!  Ada beberapa sifat dasar dari kuda, antara lain tidak bisa mengenal siapa pemiliknya meski ia dirawat setiap hari olehnya;  secara refleks kuda akan menyepak siapa saja yang mendekatinya dari belakang, atau akan mengangkat kedua kaki depannya dan menendang siapa saja yang mencoba untuk mendekatinya dari depan, sekalipun itu adalah pemiliknya sendiri.

Bukankah kita tanpa sadar seringkali berlaku seperti kuda atau bagal?  Padahal Tuhan telah menyelamatkan hidup kita, menebus dosa-dosa kita melalui pengorban-Nya di atas kayu salib;  ketika sakit-penyakit menimpa, Tuhanlah yang menyembuhkan;  ketika mengalami jalan buntu, Tuhanlah yang membuka jalan bagi kita;  ketika berada dalam krisis, Tuhan selalu hadir untuk menolong dan memulihkan keadaan kita.  Meski demikian, kita tetap saja tidak memiliki pengenalan yang benar akan Dia.


Kamis. JANGAN BERLAKU SEPERTI KUDA ATAU BAGAL (2)

Baca: Mazmur 105:1-11

“Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” Mazmur 105:4

Jika sampai saat ini kita mampu menjalani hari-hari, karena apa?  Jika kita masih dapat bernafas dan menghirup udara segar, karena apa?  Semua itu bukan karena kuat dan gagah kita, tapi semata-mata karena anugerah, sebab  “…di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”  (Yohanes 15:5b).  Jika menyadari betapa besar kasih Tuhan dalam hidup ini seharusnya kita semakin terdorong untuk mendekat kepada-Nya dan membangkitkan kerinduan kita untuk mengenal Dia lebih dalam lagi.  Tuhan berkata,  “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”  (Hosea 6:6).  Tanpa sadar selama ini yang kita ingini dari Tuhan hanyalah berkat-Nya, mujizat-Nya, dan pertolongan-Nya, tapi kita tidak merindukan Pribadi-Nya dan tidak mau mencari wajah-Nya!

Masih mengenai kuda, kuda juga memiliki kecenderungan untuk lari menjauh.  Ini menunjukkan betapa susahnya menjinakkan kuda.  Meski telah dirawat dengan baik, begitu ada kesempatan atau celah sedikit saja kuda akan berusaha lari dari tuannya.  Itulah sebabnya pemazmur menyebut kuda atau bagal sebagai binatang yang tidak berakal.  Seringkali hanya karena terbentur masalah, kesulitan atau menghadapi pergumulan hidup yang berat, kita gampang sekali memberontak kepada Tuhan, mengeluh, bersungut-sungut, dan mengomel.  Bahkan bukannya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, tapi malah semakin menjauh dan meninggalkan Dia, karena merasa kecewa.  Kita pun menjadi orang Kristen yang bebal!  Nasihat dan teguran firman Tuhan kita abaikan.  “Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.”  (Amsal 15:31-32).

Dalam situasi seperti ini Tuhan tahu persis bagaimana cara mengajar kita, yaitu menggunakan tali les dan kekang!  Tuhan akan mengijinkan hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi yang secara daging mungkin sakit, dengan tujuan untuk menarik kita mendekat kepada-Nya dan supaya kita menyadari kesalahan kita.

“Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar,”  Amsal 15:10


Jumat. TIDAK SUKA MEMBACA ALKITAB
Baca: Mazmur 119:1-16

“Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firmanMu tidak akan kulupakan.” Mazmur 119:16

Sudahkah Saudara membaca Alkitab sampai tuntas, mulai dari kitab Kejadian sampai Wahyu? Jawabannya mungkin belum. Meski sudah menjadi pengikut Kristus bertahun-tahun, sedikit orang Kristen yang mampu menyelesaikan pembacaan Alkitab secara tuntas. Sementara kita sering mendengar banyak orang dari kepercayaan lain justru sudah membaca kitab suci mereka sampai khatam (tamat) berkali-kali. Kesibukan menjadi alasan klise bagi orang Kristen sehingga tidak sempat membaca Alkitab atau bahkan tidak pernah membaca Alkitab, kecuali ketika di tempat ibadah. Mereka berpikir bahwa datang ke gereja setiap Minggu itu sudah lebih dari cukup, baca Alkitab tidak terlalu penting.

Pesan Tuhan kepada Yosua, “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yosua 1:8). Untuk dapat bertindak hati-hati sesuai kehendak Tuhan hanya dimungkinkan jika kita membaca dan merenungkan Kitab Suci itu siang dan malam, bukan hanya sesekali atau kalau sempat. Ini adalah keharusan! Kegiatan membaca Kitab Suci tidak bisa digantikan dengan kegiatan-kegiatan rohani apa pun. Yang dimaksud membaca adalah menunjuk kepada keseluruhan proses belajar: menyimak, meneliti, merenungkan, dan menyimpannya dalam hati (Mazmur 1:1-3), seperti Ezra yang “…bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.” (Ezra 7:10).

Iblis tidak takut orang Kristen tampak rajin ke gereja dan terlibat aktif dalam pelayanan, yang ia takutkan adalah jika orang Kristen tekun membaca, mempelajari dan merenungkan firman Tuhan. Karena itu Iblis terus menghembuskan roh kemalasan dan kantuk supaya orang Kristen enggan membaca Alkitab, tujuannya adalah supaya mereka tidak punya pondasi iman yang kuat, tidak tahu tentang kebenaran firman, sehingga mereka akan mudah untuk disesatkan dan diombang-ambingkan!

“Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” Mazmur 119:97


Sabtu. JANGANLAH TAKUT… TUHAN SELALU BESERTAMU (1)

Baca: Matius 14:22-33

“Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.” Matius 14:24

Hari-hari ini banyak orang mengalami ketakutan karena dunia dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang mengejutkan yang datangnya tanpa bisa diprediksi, mulai dari perubahan iklim yang tidak menentu dan ekstrem, bencana alam  (banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung), kecelakaan, tindak kejahatan yang semakin menjadi-jadi, wabah sakit penyakit dan sebagainya.  Rasa takut yang mencekam dapat membuat seorang kehilangan keseimbangan, kehilangan pegangan dan kehilangan pengharapan.  Orang percaya yang awalnya sudah memulai segala sesuatu dengan roh, bisa jadi mengakhirnya dengan daging,  “Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!”  (Galatia 3:3-4).

Ketika kapal mereka sedang diombang-ambingkan oleh gelombang besar, murid-murid Tuhan Yesus mengalami ketakutan yang luar biasa.  Mengapa?  Karena mereka merasa berjuang sendirian melawan gelombang besar yang membuat kapal nyaris tenggelam.  Ketika peristiwa itu terjadi Tuhan Yesus sedang tidak bersama-sama dengan mereka, Ia masih berdoa seorang diri di atas bukit.  Saat gelombang besar menyerang, perahu mereka sudah beberapa mil jauhnya dari pantai.  Dalam teks aslinya, ukuran yang digunakan bukanlah mil, tetapi stadia  (1 stadia = kurang lebih 185-200 meter), artinya perahu mereka berada jauh di tengah danau.  Secara logika mustahil bagi mereka untuk bisa merapat kembali ke daratan untuk meminta pertolongan kepada Tuhan Yesus.  Ketakutan mereka semakin menjadi-jadi karena ada mitos bahwa laut atau perairan luas adalah tempat bermukimnya roh-roh jahat, terdapat makhluk jahat yang merupakan simbol kuasa jahat  (Iblis), yang disebut Lewiatan.  Lewiatan juga merupakan simbol naga.

“Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.”  (Matius 14:25).  Begitu melihat ada sesosok manusia sedang berjalan di atas air dan mendekat, berteriaklah mereka karena takut:  “Itu hantu!”  (Matius 14:26).  Karena dibayangi oleh rasa takut yang berlebihan, murid-murid tidak menyadari akan kehadiran Tuhan Yesus!  (Bersambung)


Minggu. JANGANLAH TAKUT… TUHAN SELALU BESERTAMU (2)

Baca: Matius 14:22-33

“Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ‘Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?'” Matius 14:31

Melihat murid-murid-Nya sedang dalam ketakutan hebat Tuhan Yesus pun menenangkan mereka dengan berkata,  “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”  (Matius 14:27).  Yang menarik untuk diperhatikan adalah cara Tuhan Yesus menenangkan murid-murid-Nya, Ia tidak hanya memerintahkan mereka untuk tidak takut, tetapi mengawalinya dengan ucapan  ‘Aku ini’  (egoo eimi)  adalah merujuk pada atribut-atribut yang dimiliki Bapa, atau menunjuk pada hakikat diri Bapa, di mana Tuhan Yesus adalah manifestasi dari kehadiran Bapa.  Ini sebagai penegasan bahwa hanya Dialah yang mampu dan sanggup menundukkan kuasa-kuasa gelap yang bermukim di perairan laut lepas.  “Engkaulah yang membelah laut dengan kekuatan-Mu, yang memecahkan kepala ular-ular naga di atas muka air. Engkaulah yang meremukkan kepala-kepala Lewiatan, yang memberikannya menjadi makanan penghuni-penghuni padang belantara.”  (Mazmur 74:13-14).

Meski demikian murid-murid tidak seratus persen percaya kepada Tuhan alias ragu-ragu, sehingga mereka pun minta bukti.  Ini terwakili oleh pernyataan Petrus,  “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”  (Matius 14:28).  Petrus meminta bukti apakah Dia benar-benar Tuhan dengan membolehkannya mendekat kepada-Nya dengan berjalan di atas air,  “Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ‘Tuhan, tolonglah aku!'”  (Matius 14:30).  Kita percaya Tuhan Yesus adalah Juruselamat, Dia adalah jalan dan kebenaran hidup;  Dia Tuhan yang penuh kuasa;  namun begitu menghadapi situasi sulit, krisis, atau terpaan badai dan gelombang kehidupan, kita pun mulai terpengaruh, iman menjadi goyah, dan bahkan kita mulai meragukan kuasa Tuhan!

Tidak seharusnya kita merasa sendiri dan takut menghadapi gelombang kehidupan karena Tuhan itu dekat dan memperdulikan kita, bahkan  “‘Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.’ Itulah firman iman, yang kami beritakan.”  (Roma 10:8).  Karena itu berserulah kepada Tuhan dan perkatakan firman-Nya!  “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.”  (Roma 10:13).

TAK ADA YANG SANGGUP MENOLONG SELAIN TUHAN

TAK ADA YANG SANGGUP MENOLONG SELAIN TUHAN

Senin: LIDAH KITA: Pena Pewarna Hidup

Baca:  Mazmur 45:1-6
“Hatiku meluap dengan kata-kata indah, aku hendak menyampaikan sajakku kepada raja; lidahku ialah pena seorang jurutulis yang mahir.”  Mazmur 45:2

Yakobus dalam suratnya menulis:  “…kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.”  (Yakobus 3:4).  Begitu juga kehidupan manusia, betapa pun besarnya perkara yang harus dihadapi, sesungguhnya hidup manusia itu dikendalikan oleh lidahnya sendiri:  “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar.”  (Yakobus 3:5).

Di zaman sekarang ini banyak kasus terjadi:  perselisihan, permusuhan, tindak pidana, sebagai akibat dari kesalahan orang dalam memfungsikan lidah atau kecerobohannya dalam berkata-kata.  Alkitab sudah mengingatkan:  “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”  (Amsal 18:21).  Karena itu kita harus berhati-hati, sebab dengan lidah kita dapat memberkati orang lain, tetapi dengan lidah yang sama kita juga bisa mengutukinya.  Dengan lidah kita dapat membuat orang lain bersukacita, tetapi dengan lidah itu pula kita dapat membuat orang lain berdukacita.  Melalui lidah kita dapat membangun, tapi juga dapat menghancurkan orang lain.  Jika lidah kita senantiasa memperkatakan hal yang negatif, itu sama artinya kita sedang mempersulit langkah hidup kita sendiri menuju masa depan.  Sebaliknya jika lidah kita senantiasa memperkatakan hal-hal yang positif maka perjalanan hidup kita pun akan mengarah kepada hal-hal yang positif pula.

Pemazmur menyatakan bahwa lidah kita itu laksana pena yang sedang melukis dan mewarnai hidup seseorang:  berwarna putih, biru, cerah, buram, atau hitam pekat.  Sesungguhnya Tuhan telah merancang masa depan yang baik bagi kehidupan anak-anak-Nya  (baca  Yeremia 29:11), namun tanpa sadar rancangan Tuhan itu kita rusak dengan perkataan kita sendiri.  Rasul Petrus menulis:  “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”  (1 Petrus 3:10).

“Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.”  Yakobus 1:26


Selasa. TAK ADA YANG SANGGUP MENOLONG SELAIN TUHAN (1)
Baca: Mazmur 121:1-8
Hari-hari yang sedang kita jalani adalah hari-hari yang sangat berat dan jahat.  Wajarlah bila semua orang mengeluhkan hal ini.  Terus mengeluh takkan memberi solusi, karena selama kita masih bernafas kita takkan pernah bisa menghindar dari masalah, kesukaran, kesulitan atau penderitaan yang bisa datang silih berganti tanpa permisi, tanpa memandang usia atau status sosial.  Belum lagi marabahaya, ancaman, bencana, yang juga sewaktu-waktu dapat terjadi tanpa bisa diduga dan diprediksi.  Di tengah hantaman badai persoalan banyak sekali orang berusaha mencari cara agar dapat terlepas dari masalah, mencari pertolongan ke sana ke mari, dan tidak sedikit yang tergiur dengan tawaran-tawaran yang dunia sodorkan.  Bukannya jalan keluar yang didapatkan, tapi justru mereka terjebak dalam lubang yang semakin dalam.

Sebagai orang percaya kita patut berhati-hati dan selektif dalam hal ini, jangan karena kondisi terdesak lalu kita menempuh jalan pintas dan menghalalkan segala cara, tidak peduli cara dan jalan itu menyimpang jauh dari firman Tuhan, di mana tujuannya satu, yaitu mendapatkan pertolongan secara instan.  Ada tertulis:  “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.”  (Yesaya 31:1).  Alkitab menyatakan bahwa celaka orang yang mencari pertolongan di luar Tuhan, dan bahkan dikatakan terkutuk orang yang mengandalkan manusia  (baca  Yeremia 17:5).

Tuhan mau kita senantiasa mengandalkan-Nya dan menati-nanti pertolongan-Nya.  Seringkali masa menunggu jawaban Tuhan adalah masa yang rawan terhadap berbagai jalan keluar yang ditawarkan dunia.  Apa pun keadaannya kita harus tetap berharap kepada pertolongan dari Tuhan saja,  “…apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.”  (Habakuk 2:3).

“TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.”  Ratapan 3:25


Rabu. TAK ADA YANG SANGGUP MENOLONG SELAIN TUHAN (2)
Baca: Mazmur 121:1-8

“Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”  Mazmur 121:2

Ada banyak orang Kristen yang gampang sekali putus asa ketika diperhadapkan pada pergumulan hidup yang berat, karena mereka berpikir Tuhan tidak memperdulikan hidupnya.  Itu salah besar!  Tidak sekalipun Tuhan meninggalkan dan membiarkan umat-Nya bergumul sendirian.  Tuhan berkata,  “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”  (Yesaya 46:4), bahkan pemazmur menegaskan bahwa Penjaga Israel tidak terlelap dan tidak tertidur  (Mazmur 121:4).  Jika Tuhan mengijinkan kita melewati masa-masa sulit itu artinya Dia sedang melatih kita untuk bergantung penuh kepada-Nya.

Jangan pernah lari dari prosesnya Tuhan.  Mungkin terasa sakit tapi mendatangkan kebaikan bagi kita, sebab proses butuh waktu dan ketekunan.  “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”  (Ibrani 10:36).  Berbeda sekali dengan dunia yang selalu menawarkan segala sesuatu yang serba instan:  pertolongan, uang/kekayaan, jabatan atau popularitas.  Tergiur iming-iming bisa melipatgandakan uang atau investasi dengan bunga yang sangat tinggi, tanpa berpikir panjang banyak orang datang berbondong-bondong menyerahkan uangnya.  Hasilnya?  Bukannya beruntung tapi malah buntung.  Jadi Saudaraku, sesulit apa pun keadaan tetap arahkan pandangan kepada Tuhan.  Kalau sepertinya Tuhan begitu jauh, kita harus tetap mengimani kebenaran ini:  “Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.”  (Mazmur 121:5).

Di ujung dunia mana pun kita takkan pernah menemukan pertolongan dan perlindungan yang sempurna.  Dapatkah kita menjaga dan melindungi keluarga kita selama 24 jam penuh?  Takkan bisa.  Perhatikan janji firman-Nya:  “Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.”  (Mazmur 121:6-8).

Pertolongan dan perlindungan yang sempurna hanya kita dapatkan di dalam Tuhan, karena Dia Tuhan yang tidak pernah terlelap!


Kamis. TAK BERSEMANGAT MENJALANI HIDUP (1)

Baca: 1 Raja-Raja 19:1-8

“Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.”  1 Raja-Raja 19:3

Siapa di antara kita kebal masalah?  Tak ada!  Tak terkecuali mereka yang berstatus hamba Tuhan atau pendeta sekali pun.  Ya…  Musa juga mengakui bahwa masalah, kesesakan, penderitaan adalah bagian hidup sehari-hari dan itulah kebanggaan hidup manusia  (baca  Mazmur 90:10).  Namun orang percaya tak boleh menyerah dan putus asa, karena  “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”  (1 Korintus 10:13).

Bukan perihal besar-kecil, berat-ringan masalah yang dihadapi, yang terpenting adalah bagaimana sikap kita saat berhadapan dengan masalah itu sendiri.  Putus asa, patah semangat, menyerah di tengah jalan adalah sikap yang justru akan semakin menenggelamkan kita ke jurang permasalahan yang dalam.  Untuk menang terhadap masalah dibutuhkan sikap yang pantang menyerah dan semangat yang tiada kunjung pudar.  Elia, meskipun berstatus nabi Tuhan, juga pernah mengalami masalah yang membuatnya tidak lagi bersemangat dalam menjalani hidup.  Padahal sebelum itu Elia meraih kemenangan besar di gunung Karmel yaitu berhasil membunuh 450 nabi baal.  Ketika berita itu sampai ke Izebel,  “maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: ‘Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.'”  (1 Raja-Raja 19:2).

Karena ancaman Izebel ini Elia pun menjadi sangat takut dan larilah ia untuk menyelamatkan diri ke gunung Horeb.  Keadaan Elia benar-benar drop:  selain lelah jasmani -setelah menempuh perjalanan panjang 40 hari 40 malam-, ia juga mengalami kelelahan rohani yang membuatnya putus asa dan hilang semangat.

“Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”  Amsal 18:14


Jumat. TAK BERSEMANGAT MENJALANI HIDUP (2)

Baca:  Yesaya 40:27-31

“Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.”  Yesaya 40:29

Keadaan sangat kontradiktif dialami Elia saat berada di gunung Horeb:  ia yang sebelumnya memiliki semangat yang berapi-api, perlahan mulai padam;  yang sebelumnya penuh keyakinan, kini hilang pengharapan, sampai-sampai tidak memiliki gairah hidup.  “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”  (1 Raja-Raja 19:4b).

Orang yang bersemangat tidak mudah menyerah dan tidak terpengaruh oleh situasi apa pun.  Artinya tindakan atau perbuatannya tidak ditentukan atau dipengaruhi oleh keadaan, karena ia memiliki target dan tujuan yang ingin dicapai.  Oleh sebab itu orang yang bersemangat pasti memiliki sikap yang optimis karena tahu bahwa  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:13).  Melihat keterpurukan Elia ini Tuhan tidak tinggal diam, lalu memberikan perhatian kepadanya.  Tuhan membiarkan Elia istirahat dan tertidur, lalu Ia mengirim malaikat-Nya untuk memberinya makan  (1 Raja-Raja 19:6-7).  Tuhan membangkitkan semangat Elia yang mulai pudar dan mengingatkan kembali visinya semula:  “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram.”  (1 Raja-Raja 19:15).

Pengalaman hidup Elia ini menjadi pelajaran berharga bagi kita.  Apa pun kondisi yang sedang terjadi tetaplah memiliki semangat!  Tanpa semangat kita tidak pernah mencapai goal, karena dengan bersemangat kita akan tetap mengarahkan pandangan kita kepada tujuan dan berusaha sedemikian rupa untuk mencapainya.  Satu hal yang menguatkan:  dalam keadaan terpuruk sekali pun, ketika orang-orang terdekat meninggalkan kita, percayalah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, Dia akan terus meng-support kita.  “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”  (Yesaya 46:4).

Oleh karena itu  “…kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!”  2 Tawarikh 15:7


Sabtu. BERDOALAH MENURUT KEHENDAK TUHAN

Baca: 1 Yohanes 5:13-21

“Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.” 1 Yohanes 5:15

Setiap orang percaya mempunyai hak istimewa untuk berdoa kepada Tuhan, di mana kita semua berharap doa-doa yang kita panjatkan didengar dan dijawab oleh-Nya sebagaimana yang Ia janjikan melalui firman-Nya:  “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”  (Matius 7:8).  Namun ternyata tidak semua doa kita didengar dan dijawab Tuhan.  Inilah yang seringkali menimbulkan kekecewaan.  Agar doa kita efektif kita perlu mengoreksi diri dan belajar meminta menurut kehendak Tuhan, bukan kehendak kita.

Suatu ketika Filipus berkata kepada Tuhan Yesus,  “‘Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?'”  (Yohanes 14:8-10).  Meskipun telah bersama-sama dengan Tuhan Yesus sekian lama, makan sehidangan dengan-Nya, dan melakukan tour pelayanan bersama, Filipus masih belum juga memahami siapa sesungguhnya Tuhan Yesus sehingga ia meminta agar Tuhan Yesus menunjukkan Bapa kepadanya, ia rindu untuk melihat secara nyata.  Mungkin Filipus berharap agar Tuhan Yesus mewujudkan sosok mulia Sang Bapa, sama seperti yang dilihat oleh para nabi yang hidup di zaman Perjanjian Lama.

Seringkali kita memiliki iman seperti Filipus, iman yang didasarkan pada hal-hal yang terlihat kasat mata.  Iman kita bangkit ketika kita melihat mujizat dinyatakan secara langsung atau melihat cahaya menyinari kita saat sedang berdoa di kamar.  Kita selalu ingin melihat sesuatu yang spektakuler untuk menguatkan iman kita.  Namun Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan sikap doa yang demikian, sebab jika doa dan iman bergantung pada hal-hal yang terlihat mata jasmani, kita pasti akan kecewa.

Apakah doa-doa kita sekarang ini sering terpusat pada memaksa Tuhan untuk memperlihatkan sesuatu yang bisa terlihat?


Minggu. BERHASIL KARENA BERANI BAYAR HARGA (1)
Baca: Ulangan 28:1-14

“Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:” Ulangan 28:2

Hidup yang berhasil adalah harapan, cita-cita dan impian setiap orang. Namun harus diingat bahwa tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, tidak ada keberhasilan tanpa ada harga yang harga dibayar. Dengan kata lain keberhasilan tidak datang begitu saja, keberhasilan adalah akibat dari sebab yang dilakukan, “…TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya;” (Kejadian 39:2). Yusuf menjadi orang yang berhasil karena ia mau membayar harga, menjalani proses dalam hidupnya dengan setia sehingga Tuhan menyertainya. Juga, “Daud berhasil di segala perjalanannya, sebab TUHAN menyertai dia.” (1 Samuel 18:14). Tuhan menyertai Daud karena ia terlebih dahulu setia dalam perkara-perkara kecil sampai akhirnya ia beroleh kepercayaan dari Tuhan untuk mengerjakan perkara yang jauh lebih besar.

Tuhan Yesus sendiri harus membayar harga untuk ketaatan-Nya kepada Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:5-8). Sebelum disalibkan, saat berada di taman Getsemani, Tuhan yesus berdoa sungguh-sungguh sampai-sampai “Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” (Lukas 22:44) karena sangat ketakutan. Meski demikian dia memilih untuk taat kepada Bapa: “…bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Lukas 22:42). Tuhan Yesus harus membayar harga yaitu mati di kayu salib untuk menyelamatkan dan menebus dosa-dosa kita. “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,” (Filipi 2:9). Tidak ada kemuliaan tanpa salib!

Setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya kita menjadi orang yang berhasil, ada harga yang harus dibayar: 1. Mau memperhatikan nasihat. Pertanyaan: nasihat siapa yang harus kita dengar dan perhatikan? Apakah kita menuruti nasihat orang fasik, ataukah kita mengikuti nasihat dari Tuhan yang tertulis di Alkitab? Pemazmur menulis: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Mazmur 1:1-2). Nasihat firman Tuhan adalah yang terbaik! (Bersambung)

PERISAI IMAN: Menangkal Serangan Musuh

PERISAI IMAN: Menangkal Serangan Musuh

Senin. PERISAI IMAN: Menangkal Serangan Musuh

Baca: Efesus 6:10-20

“dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,” Efesus 6:16

Perisai adalah alat untuk melindungi diri pada masa peperangan dari serangan musuh;  salah satu perlengkapan perang yang berfungsi untuk mempertahankan diri dan melindungi tubuh si prajurit.  Pada zaman dahulu perisai seringkali dibuat atau disalut dengan emas atau tembaga.  Biasanya alat ini digunakan pada tangan dan didampingkan dengan senjata lain seperti pedang, tombak atau gada.  Permukaan perisai biasanya dijaga supaya tetap berkilau dengan minyak, yang merefleksikan matahari, dengan tujuan untuk membutakan musuh.  Perisai adalah menggambarkan perlindungan dan keamanan.

Setiap hari dalam hidup ini adalah sebuah peperangan.  Terutama sekali kita berperang melawan Iblis dengan segala tipu muslihatnya yang tak pernah berhenti untuk melepaskan panah api kepada orang percaya:  panah api ketakutan, keraguan, kebimbangan dan ketidakpercayaan, dengan tujuan supaya orang percaya tidak lagi percaya kepada Tuhan dan janji firman-Nya.  Belum lagi kita juga harus berperang melawan diri sendiri, berperang melawan keinginan daging seperti Yakobus tulis:  “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.”  (Yakobus 1:14-15).  Jadi, ini bukanlah perkara yang mudah!  Rasul Paulus memiliki pengalaman:  “Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.”  (Roma 7:15, 19).

Kalau kita berjuang dengan kekuatan sendiri kita takkan mampu, kita akan tertatih-tatih, jatuh bangun dan bahkan kalah dalam peperangan.  Karena itu kita perlu campur tangan Tuhan dan pertolongan Roh Kudus.  Dalam hal ini dibutuhkan penyerahan diri secara total kepada Tuhan.  Dengan iman kita dapat melihat dengan pandangan rohani bahwa Tuhan bekerja di dalam kita untuk menyatakan kuasa-Nya.

Tuhan berkata,  “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”  Korintus 12:9


Selasa. PERISAI IMAN: Ada Jaminan Kemenangan
Baca: Mazmur 3:1-9

“Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.”
Mazmur 3:4

Di tengah-tengah dunia yang penuh gejolak ini rasul Paulus mengingatkan agar dalam segala keadaan kita menggunakan perisai iman!  Dengan perisai iman kita dapat menangkal setiap serangan musuh.  Ketika berada dalam keadaan terjepit karena tekanan dan serangan musuh, dan ketika orang-orang mengatakan bahwa tidak ada pertolongan, Daud justru menemukan kekuatan di dalam Tuhan, karena ia sangat percaya bahwa Tuhan adalah perisai yang melindunginya.  “Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku.”  (ayat 7).  Sungguh… Tuhan telah menjadi perisai hidup Daud!

Sebagai perisai artinya Tuhan yang melindungi kita dan memadamkan segala serangan musuh.  Bukan berarti peperangan telah usai atau serangan musuh berhenti, karena Iblis selalu mencari cara dan celah untuk menyerang,  “…menunggu waktu yang baik.”  (Lukas 4:13).  Alkitab menasihatkan agar kita selalu berjaga-jaga dan berdoa, dan  “…dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman,”  (Efesus 6:16).  Karena Tuhan menjadi perisai kita, maka kita tetap terlindungi dan tak mudah untuk ditaklukkan.  Untuk mendapatkan perlindungan dari Tuhan kita harus memiliki iman yang tertuju hanya kepada Tuhan, yaitu iman yang tidak tergantung pada keadaan atau situasi.

Orang yang memiliki iman di dalam Tuhan akan tetap percaya, walaupun apa yang terlihat tidak sesuai dengan kenyataan.  Sehebat apa pun serangan yang dilancarkan oleh pihak musuh, sedahsyat apa pun goncangan, kita tetap tenang karena Tuhan di pihak kita,  “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.”  (1 Yohanes 5:4).  Karena ada perlindungan yang pasti dari Tuhan kita menjadi tenang, dan dalam keadaan tenang kita pun dapat berpikir bagaimana mengalahkan dan menghancurkan musuh.  Ada tertulis:  “…dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”  (Yesaya 30:15).  Bila Tuhan yang menjadi perisai ada jaminan kemenangan bagi yang percaya kepada-Nya.

“Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.”  Mazmur 20:7


Rabu. TIDAK LAGI MEMEGANG KOMITMEN
Baca: 1 Samuel 13:1-22

“Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.”  1 Samuel 13:13

Di zaman sekarang ini tidaklah mudah menemukan orang yang benar-benar memiliki komitmen terhadap suatu hal.  Umumnya orang mau melakukan sesuatu yang penuh komitmen apabila diiming-imingi bonus atau hadiah yang menggiurkan.  Orang juga akan bersemangat melakukan sesuatu ketika mood-nya lagi dapat.  Begitu mood-nya gak dapat, semangatnya untuk melakukan sesuatu pun meredup.  Seseorang yang punya komitmen pasti tidak mempunyai alasan apa pun untuk berhenti di tengah jalan meski ada rintangan yang menghadang di depan, apalagi sampai ingkar.

Komitmen adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam meraih kesuksesan atau keberhasilan.  Orang bisa saja dengan mudah mengucapkan komitmen, tapi tindakanlah yang akan membuktikan sebuah komitmen.  Saul adalah raja pertama Israel yang pada awalnya tampak hebat dan berkomitmen untuk hidup taat, tetapi apa yang menjadi komitmennya ketika diurapi menjadi raja tidak lagi mampu dipertahankannya, justru pelanggaran demi pelanggaran dilakukan oleh Saul;  dan ketika ditegur oleh Samuel, bukannya menyesali kesalahannya, malah ia selalu berkilah.  Perbuatan Saul ini sangat menyakiti hati Tuhan.  Oleh karena gagal memegang komitmennya akhirnya Saul harus menelan pil pahit, ia ditolak sebagai raja, dan bahkan Tuhan menyatakan penyesalan-Nya:  “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.”  (1 Samuel 15:11).

Komitmen adalah hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang yang sudah mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan Yesus, yaitu komitmen untuk taat kepada perintah-perintah-Nya dan setia mengikuti-Nya sampai garis akhir hidup.  Tuhan Yesus berkata,  “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”  (Roma 14:8).  Milikilah komitmen seperti rasul Paulus,  “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”  (Roma 14:8).

Orang yang punya komitmen takkan berubah sikap, apa pun keadaannya!


Kamis. HIDUP ADALAH SUATU PILIHAN

Baca: Lukas 13:22-30

“Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.”  Lukas 13:24

Hidup ini adalah sebuah pilihan, kita harus memilih mana yang baik dan benar, mana yang berguna dan bermanfaat.  Tidak ada istilah kompromi dalam menjalani hidup ini, sebab kita semua tahu bahwa tidak ada orang yang dapat berdiri di atas dua perahu dengan kedua kakinya sekaligus.  Kita tidak bisa terus-menerus berada di persimpangan jalan, mau tidak mau kita harus membuat ketegasan dalam memilih!  Keputusan yang kita ambil itulah yang akan menentukan apakah kita akan berhasil atau gagal dalam hidup ini.

Demikian dalam hidup kerohanian, kita juga dihadapkan pada pilihan hidup:  taat atau tidak taat, berjalan menurut kehendak sendiri atau menurut kehendak Tuhan, berkat atau kutuk.  Tuhan menegur jemaat di Laodikia oleh karena mereka  ‘tidak dingin dan tidak panas’  alias suam-suam kuku.  “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”  (Wahyu 3:16).  Hidup di zaman ini seringkali kita diombang-ambingkan antara memilih kenikmatan dan kesenangan dunia yang sifatnya hanya sementara, ataukah tetap berjuang melawan keinginan daging, yang meski sakit tapi mendatangkan upah yaitu kehidupan kekal.

Pergumulan berat juga di alami oleh orang-orang yang hidup di zaman Perjanjian Lama, di mana Tuhan menghadapkan mereka pada pilihan hidup:  “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN,…”  (Ulangan 30:15-16).  Jangan pernah terbuai dengan apa yang tampak indah menurut mata jasmaniah, tetapi pastikan bahwa yang kita pilih adalah pilihan yang benar dan sesuai kehendak Tuhan,  “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”  (Matius 7:13-14).

Pilihan hidup harus tegas!  Jangan sekali-kali melakukan tindakan berkompromi!


Jumat. HAL MUSTAHIL ADALAH BAGIAN TUHAN
Baca: Mazmur 114:1-8

“Gemetarlah, hai bumi, di hadapan TUHAN, di hadapan Allah Yakub, yang mengubah gunung batu menjadi kolam air, dan batu yang keras menjadi mata air!”  Mazmur 114:7-8

Ada satu kata yang seringkali menjadi momok bagi semua orang yaitu kata mustahil.  Ketika sakit parah dan banyak orang bilang kalau sakitnya mustahil untuk disembuhkan, orang pasti mengalami kesedihan yang mendalam, stress dan putus asa;  ketika krisis keuangan melanda dalam rumah tangga, dan sepertinya tidak ada jalan keluar, ditambah lagi dengan pernyataan orang lain yang mengatakan bahwa keadaannya mustahil untuk dipulihkan, orang pasti langsung drop.  Ya…  Iblis memang tidak pernah berhenti untuk melepaskan panah  ‘kemustahilan’  ini kepada semua orang agar mereka hidup dalam ketakutan, kekuatiran, dan keputusasaan.

Dalam hidup ini seringkali kita dibawa kepada suatu masalah, situasi atau keadaan yang secara manusia memang mustahil untuk mendapatkan pertolongan, jawaban atau jalan keluar.  Namun pemazmur kembali menegaskan dan menguatkan bahwa manusia boleh saja berkata bahwa segala sesuatu itu tidak mungkin alias mustahil, tapi bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil, dan bahkan Alkitab menyatakan bahwa  “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”  (Markus 9:23).  Artinya jika kita senantiasa mengandalkan Tuhan dan percaya terhadap janji firman-Nya maka semuanya tidak ada yang mustahil.  Ada tertulis:  “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”  (1 Korintus 2:9).

Jangan pernah takut menghadapi apa pun, karena Tuhan kita adalah ahli dalam mengerjakan hal-hal yang mustahil!  “Bukankah Engkau yang mengeringkan laut, air samudera raya yang hebat? yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang?”  (Yesaya 51:10);  Tuhan yang sanggup mengubah air menjadi anggur;  Tuhan yang sanggup membangkitkan Lazarus yang sudah mati selama 4 hari.  Karena itu jangan pernah kita membatasi kuasa Tuhan dengan logika kita yang terbatas, sebab  “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  (Yesaya 55:9).

Tidak ada yang terlalu sukar bagi Tuhan, karena Dia Tuhan yang Mahakuasa!


Sabtu. PERCAYAKAH BAHWA TUHAN DAPAT MELAKUKAN?
Baca: Matius 9:27-31

“‘Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?’ Mereka menjawab: ‘Ya Tuhan, kami percaya.'”  Matius 9:28

Kisah tentang Tuhan Yesus menyembuhkan mata dua orang buta ini adalah kisah yang hanya ditulis di Injil Matius.  Ketika bertemu dengan dua orang buta ada sebuah pertanyaan yang tak biasa Tuhan sampaikan.  Tuhan Yesus terlebih dahulu bertanya kepada kedua orang buta itu,  “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?”  (ayat nas).  Dan kedua orang buta itu pun dengan penuh keyakinan menjawab,  “Ya Tuhan, kami percaya.”  (ayat nas).  Meskipun kedua orang itu tidak dapat melihat secara mata jasmaniah, tapi mata rohani mereka dapat melihat Tuhan dengan kebesaran kuasa-Nya, sehingga mereka percaya bahwa Dia pasti sanggup melakukan mujizat kesembuhan.  Karena memiliki respons hati yang benar Tuhan Yesus pun bertindak untuk menjamah mereka,  “Jadilah kepadamu menurut imanmu…  Maka meleklah mata mereka.”  (ayat 29-30).

Ada banyak orang Kristen secara fisik tidak mengalami kebutaan, mata jasmani mereka dapat melihat apa pun, tetapi mata rohaninya  ‘buta’  seperti pelayan Elisa yang tak mampu melihat kebesaran kuasa Tuhan.  Sedikit saja dihadapkan pada masalah atau kesulitan, mereka sudah diliputi oleh ketakutan, mereka lupa dengan pertolongan Tuhan dalam hidupnya di waktu-waktu lalu.  Pemazmur menasihati,  “…dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!”  (Mazmur 103:2).  Pada situasi-situasi seperti itu yang diperlukan adalah iman.  Iman dan ketakutan adalah dua hal yang sangat kontradiktif.  Ketakutan hanya akan membawa kita untuk mempercayai hal-hal yang buruk terjadi, seperti yang Ayub katakan,  “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.”  (Ayub 3:25).

Iman membawa kita untuk percaya bahwa hal-hal yang baik dan dahsyat pasti akan terjadi.  Iman membuka mata rohani kita sehingga kita dapat mempercayai bahwa Tuhan sanggup melakukan perkara-perkara yang dahsyat…  alhasil kita tidak menyerah dengan keadaan yang ada.  Iman menuntun kita untuk melewati kemustahilan, sedangkan ketakutan hanya akan memunculkan kata mustahil dalam hidup ini.

“Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga. Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu…”  Mazmur 145:3-4


Minggu. BERAWAL DARI MATA MELIHAT

Baca: Amsal 23:29-35

“Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya, dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat,”  Amsal 23:31

Alkitab menyatakan bahwa  “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.”  (Matius 6:22-23).  Sebelum Adam dan Hawa memakan buah yang dilarang Tuhan, Iblis terlebih dahulu memprovokasi Hawa tentang buah kehidupan itu, lalu  “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.”  (Kejadian 3:6).  Kejatuhan dosa manusia pertama dimulai dari mata!

Mengapa kita harus menjaga penglihatan kita?  1.  Apa yang kita lihat akan mempengaruhi keputusan kita.  Kita bisa belajar dari pengalaman hidup Lot.  “Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. –Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. — Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah.”  (Kejadian 13:10-11).  Namun Lot harus menelan pil pahit kehidupan karena ia salah dalam membuat keputusan;  bukannya berdoa atau meminta petunjuk dari Tuhan terlebih dahulu, tapi keputusannya didasarkan pada apa yang terlihat secara mata jasmani.

2.  Apa yang kita lihat akan mempengaruhi iman kita.  Tak bisa dipungkiri apa yang kita imani seringkali berbeda dengan kenyataan, itulah sebabnya banyak orang Kristen kecewa dan akhirnya berhenti berharap kepada Tuhan.  “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.”  (Habakuk 2:3).  Milikilah prinsip hidup rasul Paulus,  “kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”  (2 Korintus 4:18).

Yang terlihat oleh mata seringkali menipu, oleh karena itu arahkan pandangan hanya kepada Tuhan Yesus!

TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA

TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA

Senin. TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA (1)

Baca: Mazmur 46:1-12
“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan,” Mazmur 46:12

Di zaman dahulu setiap kota selalu memiliki benteng, pintu gerbang kota dan juga tembok yang mengelilingi kota itu, dengan tujuan supaya kota itu terjaga aman dan terlindungi dari serangan musuh. Namun bagaimanapun juga perlindungan dan penjagaan yang dibangun oleh manusia adalah terbatas adanya, tidak seratus persen dapat memberikan jaminan keamanan dan keselamatan yang sempurna. “…jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mazmur 127:1b).

Bani Korah dalam nyanyiannya menyatakan bahwa kota benteng orang percaya adalah Tuhan, Dialah bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan. Artinya ketika kita masuk ke kota benteng perlindungan itu kita akan beroleh jaminan keamanan, ketenangan dan perlindungan, karena “Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang;” (Mazmur 46:6). Adakah tempat di dunia ini yang dapat menjamin keamanan dan perlindungan bagi manusia? Tidak ada. Di masa sekarang ini banyak orang mengalami ketakutan yang luar biasa karena goncangan terjadi di mana-mana, “Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang…” (Mazmur 46:7), namun sebagai orang percaya kita tidak perlu kuatir dan takut, “…karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan,” (Ibrani 12:28). Sekalipun musuh menyerang, sekalipun setiap hari kita disuguhi berita-berita menggemparkan, perlindungan yang Tuhan sediakan sudah lebih dari cukup untuk membuat kita aman, tenteram dan merasakan damai sejahtera yang luar biasa.

Tuhan sebagai kota benteng berarti Ia adalah sebagai tempat perlindungan dan kekuatan bagi kita. Ada banyak orang mengeluh, berputus asa atau frustasi karena merasa sudah tidak kuat, tidak sanggup dan tidak mampu menanggung beban hidup yang teramat berat. Dalam kondisi seperti itu mereka bukannya mencari Tuhan, tetapi menempuh cara-cara instan dengan melakukan tindakan kompromi dengan dosa alias berbuat nekat. Solusi atau jalan keluar tidak mereka dapatkan, mereka justru semakin terjerumus ke lubang yang semakin dalam. “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12).

Adalah sia-sia belaka jika kita mencari pertolongan di luar Tuhan!


Selasa. TUHAN ADALAH KOTA BENTENG ORANG PERCAYA (2)

Baca: Mazmur 27:1-14
“TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” Mazmur 27:1b

Pertolongan, perlindungan dan kekuatan yang sejati hanya kita dapatkan di dalam Tuhan, karena Dia adalah benteng hidup kita.  Ada tertulis:  “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.”  (Yesaya 31:1).  Seberat apa pun masalah dan tantangan yang kita hadapi, jika kita mau bersandar dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan, kita pasti beroleh kekuatan untuk menanggungnya,  “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”  (2 Timotius 1:7).  Saat itulah kita pun dapat berkata,  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:13).

Setiap kita pasti punya pengalaman dalam hidup ini.  Ada saat-saat di mana kita berada dalam posisi terjepit, mengalami jalan buntu, tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tak seorang pun dapat menolong kita.  Kita seakan-akan berada di dalam jurang yang teramat dalam.  Namun, ketika  “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN!”  (Mazmur 130:1), berserah berseru-seru memohon pertolongan-Nya, pada saat yang tepat Ia akan bertindak dan memberi pertolongan kepada kita.  Saat itulah kita baru menyadari bahwa Tuhan benar-benar menjadi kota benteng kita,  “…sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.”  (Mazmur 46:2).

Hidup adalah sebuah peperangan!  Setiap hari kita dihadapkan pada peperangan:  menghadapi masalah dan keinginan daging, terlebih lagi berperang melawan penghulu-penghulu di udara  (roh-roh jahat)  atau Iblis dengan bala tentaranya.  Asal kita tetap tinggal dekat Tuhan, berada di kota benteng-Nya, kita pasti akan menang, sebab Tuhan ada di pihak kita,  “…pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi, yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!”  (Mazmur 46:9-10).

Di dalam Tuhan ada jaminan keamanan dan perlindungan yang sempurna!


Rabu. APA YANG MENJADI FONDASI HIDUPMU?
Baca: 1 Korintus 3:10-23

“Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.”  1 Korintus 2:10b

Semakin tinggi suatu bangunan atau gedung, semakin dalam dan semakin kokoh fondasi yang harus ditanam.  Jika tidak, saat badai atau goncangan datang menyerang, bangunan tersebut pasti tidak akan mampu berdiri tegak alias bakalan roboh.  Begitu pula tak seorang pun dapat menduga dan mengira kapan datangnya angin, badai atau goncangan dalam kehidupan ini.  Oleh karena itu penting sekali memiliki fondasi hidup yang kuat dan kokoh, supaya ketika angin, badai, gelombang atau goncangan melanda kehidupan ini kita tetap mampu berdiri tegak dan tak tergoyahkan!

Dengan apakah kita membangun fondasi hidup ini?  “Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak.”  (1 Korintus 3:10b-13a).  Tuhan Yesus berkata,  “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”  (Matius 7:24-25).  Jika kita membangun fondasi hidup kita di atas Batu Karang yang teguh yaitu Tuhan Yesus dan firman-Nya, kita akan menjadi kuat, sekalipun harus melewati angin, badai, goncangan dan gelombang kehidupan.  Rasul Paulus menasihati,  “…hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”  (Efesus 6:10).

Saat ini banyak orang tak berdaya dan akhirnya tenggelam dalam badai dan gelombang kehidupan karena mereka membangun fondasi hidupnya di atas perkara-perkara yang ada di dunia ini atau hal-hal yang sifatnya jasmaniah, sedangkan hatinya menjauh dari Tuhan.  Sayangnya apa yang selama ini mereka andalkan, harapkan dan bangga-banggakan, tak mampu menolongnya…

Tuhan Yesus sudah mengingatkan:  “…di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”  Yohanes 15:5b


Kamis. KUAT BERDIRI DI ATAS BADAI HIDUP (1)
Baca: Kisah Para Rasul 27:14-44

“Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin ‘Timur Laut’. Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan.” Kisah 27:14-15a

“Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin ‘Timur Laut’. Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan.”  Kisah 27:14-15a

Dikisahkan terdapat 276 jiwa berada dalam satu kapal yang sedang mengalami pencobaan yang sangat berat saat menempuh perjalanan menuju Roma.  Kapal tersebut terkena angin sakal sehingga terombang-ambing di tengah lautan.  Lebih mengerikan lagi, saat kejadian berlangsung langit dalam keadaan gelap gulita sampai-sampai mereka tidak melihat matahari selama hampir 14 hari.  Begitu dahsyatnya angin sakal dan gelombang laut yang menghantam kapal, orang-orang menjadi tawar hati dan hilang pengharapan.  “Setelah beberapa hari lamanya baik matahari maupun bintang-bintang tidak kelihatan, dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami.”  (ayat 20).  Alkitab menyatakan,  “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”  (Amsal 24:10).

Ketika orang-orang sudah sangat pesimistis dan merasa sudah tidak memiliki harapan untuk selamat, rasul Paulus  -yang kebetulan menjadi salah satu penumpang di kapal itu-, memiliki sikap hati yang berbeda.  Di tengah kepanikan yang hebat rasul Paulus mampu menguatkan orang banyak itu:  “Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini.”  (Kisah 27:22).  Dengan penuh iman ia berkata,  “Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelaipun dari rambut kepalanya.”  (Kisah 27:34b).  Kemudian untuk mengantisipasi supaya kapal tidak kandas di salah satu batu karang mereka pun sepakat membuang sauh, bahkan empat sauh sekaligus  (Kisah 27:29).  Sauh/jangkar adalah alat berkait dan berat, dibuat dari besi, yang dilabuhkan dari kapal ke dasar laut supaya kapal dapat berhenti dan tidak terbawa oleh arus.  Dengan sauh sebuah kapal akan tetap kokoh menghadapi hantaman ombak!

Hati kita ibarat kapal yang sedang mengarungi lautan kehidupan sedangkan  ‘sauh’  berbicara tentang pengharapan.  Hati kita akan tetap kuat di tengah badai atau hantaman ombak sebesar apa pun, apabila kita memiliki pengharapan.  Pertanyaannya:  ke arah manakah sauh atau pengharapan itu akan kita labuhkan?  (Berlanjut)


Jumat. KUAT BERDIRI DI ATAS BADAI HIDUP (2)

Baca: Kisah Rasul Paulus 27:14-44
“Demikianlah mereka semua selamat naik ke darat.” Kisah 27:44b

Kemana kita mengarahkan pengharapan hidup ini?  Ada tertulis:  “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.”  (Ibrani 6:19-20).  Badai sebesar apa pun boleh saja menyerang dalam kehidupan ini, baik itu dalam pekerjaan, keluarga, kesehatan, keuangan dan sebagainya.  Namun saat kita mmeiliki pengharapan di dalam Tuhan, kita tidak akan binasa.  Pengharapan berbicara tentang iman….

Selama empat belas hari, 276 orang lebih tidak melihat terang maupun bintang, mereka juga tidak makan, kelaparan, kacau balau, terkatung-katung di tengah laut.  Tetapi pada akhirnya mereka bisa selamat…  Karena ada 1 orang yang memiliki iman yaitu rasul Paulus.  “Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku.”  (Kisah 27:25).  Rasul Paulus sangat percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.  Ia bisa berkata demikian karena pandangannya tertuju kepada Tuhan, bukan kepada situasi atau keadaan yang ada.  “-sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-“  (2 Korintus 5:7).  Iman adalah output ketika seseorang memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan.  “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”  (Roma 10:17).

“Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku,”  (Kisah 27:23).  Di tengah kesesakan hebat rasul Paulus masih dapat bersekutu dengan Tuhan melalui doa dan penyembahan.  Saat berada di tengah badai, masihkah kita memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan?  ataukah kita justru larut lari meninggalkan Tuhan dan mencari pertolongan kepada sumber yang lain?  Walaupun berada di tengah badai jangan pernah tawar hati, sebab Tuhan telah berjanji,  “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  (Ibrani 13:5).

Kunci agar kuat di tengah hantaman badai adalah tetap mengarahkan pandangan hanya kepada Tuhan dan memelihara persekutuan yang karib dengan-Nya!


Sabtu. ORANG PERCAYA HARUS PUNYA VISI (1)
Baca: 2 Raja-Raja 6:8-23

“‘Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.’ Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.”  2 Raja-Raja 6:17

Dalam kehidupan rohani, orang percaya perlu punya visi.  Jika tidak, perjalanan hidup kekristenannya akan tersendat-sendat, sulit alami pertumbuhan rohani yang maksimal.

Visi merupakan penglihatan akan apa yang terjadi, baik itu peristiwa, perbuatan atau tindakan, karya, maupun situasi atau keadaan lingkungan.  Di dalam Alkitab istilah visi bersifat nabiah atau pewahyuan, di mana Tuhan menyatakan kehendak dan rencana-Nya, baik itu kepada individu atau pun kelompok, khususnya kepada bangsa Israel.  Dan Tuhan menyatakan visi-Nya bisa melalui mimpi, penglihatan atau juga melalui perantaraan nabi-nabi-Nya.  Visi juga bisa diartikan pandangan rohani.  Apa yang tidak dilihat orang lain itulah yang diwahyukan Tuhan kepada kita.  Dengan kata lain kita melihat apa yang orang lain tidak lihat.

Karena memiliki pandangan rohani, nabi Elisa dapat melihat bala tentara sorgawi dengan kuda dan kereta berapi yang jumlahnya lebih banyak dari tentara raja Aram.  Berbeda dengan pelayan Elisa yang tidak memiliki pandangan rohani  (tidak mempunyai visi yang sama), sehingga ia sangat ketakutan ketika melihat tentara Aram telah mengepung kota Dotan.  Karena itu Elisa berdoa supaya Tuhan membuka mata rohani bujangnya itu dan Tuhan pun mengabulkan doanya.  Akhirnya pelayan Elisa itu pun dapat melihat bahwa gunung itu penuh dengan tentara sorga, berkuda dengan kereta berapi mengelilingi Elisa  (ayat nas).

Begitu pula Musa, karena memiliki visi dari Tuhan,  “…Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.”  (Ibrani 11:24-26).  Musa mampu melihat apa yang orang lain tidak mampu lihat, ia tahu bahwa  “…yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”  (2 Korintus 4:18).

Milikilah kepekaan rohani supaya kita mampu menangkap visi yang Tuhan beri!


Minggu ORANG PERCAYA HARUS PUNYA VISI (2)
Baca: Amsal 29:18-27
 Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.”  Amsal 29:18

Dalam hidup Kristen, antara visi dan keinginan/cita-cita itu jelas sangat berbeda.  Visi itu berbicara  tentang sesuatu yang Tuhan taruh dalam hidup kita, karena Tuhan tahu apa yang terbaik bagi hidup kita.  Kalau keinginan dan cita-cita itu datang dan timbul dari diri sendri, sedangkan visi diperoleh dari doa kita kepada Tuhan dan jawaban Tuhan atas ketaatan kita melakukan kehendak-Nya.  Maka kita harus lebih bersungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan, melatih kepekaan untuk mendengar suara Tuhan melalui persekutuan yang karib dengan-Nya, sebab  “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”  (Mazmur 25:14).

Visi mendorong kita untuk memiliki prioritas-prioritas dan membuat pilihan-pilihan hidup yang benar;  visi mendorong kita untuk memiliki semangat dan motivasi yang lebih lagi dalam melakukan segala sesuatu.  Bisa dikatakan bahwa visi sangat menentukan arah hidup seseorang.  Karena mengerti dan memahami visi yang Tuhan taruh dalam hidupnya, rasul Paulus berkomitmen:  “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”  (Filipi 3:13-14).

Ada banyak orang Kristen tak mampu melihat visi Tuhan dalam hidupnya.  Terlihat dari cara hidup mereka dalam mengerjakan perkara-perkara yang tidak ada greget sama sekali!  Tidaklah mengherankan jika kehidupan rohaninya tidak mengalami kemajuan yang berarti,  “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.”  (Ibrani 5:12).  Tuhan Yesus telah berfirman,  “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.”  (Yohanes 14:12).  Kuasa Tuhan akan dinyatakan dengan luar biasa kepada setiap orang percaya yang mau melangkah untuk mengerjakan panggilan Tuhan.

Jangan sia-siakan visi yang Tuhan taruh dalam hidup ini, melainkan kerjakan itu dengan roh yang menyala-nyala!

MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (1)

MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (1)

Senin. MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (1)

Baca: Mazmur 35:1-28

“Ya, TUHAN, siapakah yang seperti Engkau, yang melepaskan orang sengsara dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya, orang sengsara dan miskin dari tangan orang yang merampasi dia?” Mazmur 35:10

Dalam hidup ini ada sesuatu yang tidak pernah bisa dihindari oleh semua orang tanpa terkecuali, ialah masalah. Senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap kita pasti menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Oleh karena itu jangan pernah lari dari masalah, karena yang menjadi persoalan adalah bukan bagaimana caranya kita dapat menghindarkan diri dari masalah, namun yang paling utama adalah bagaimana respons hati kita terhadap masalah yang terjadi.

Kita seringkali lupa bahwa perjalanan hidup kekristenan itu tidak hanya sekedar berbicara tentang berkat, mujizat, kemenangan, pemulihan dan sebagainya, tetapi juga proses; berkat, mujizat, kemenangan, pemulihan adalah output atau hasil dari sebuah proses. Masalah adalah satu bentuk dari proses itu sendiri! Berkat, mujizat, kemenangan dan pemulihan adalah hal yang pasti Tuhan sediakan, karena Dia adalah Tuhan yang selalu memegang setiap janji-Nya. “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” (Bilangan 23:19). Seringkali kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan berkat Tuhan, tapi ketika dihadapkan pada masalah sebagai bagian dari proses, kita memiliki repons yang tidak benar: mengomel, bersungut-sungut, marah, berontak, mengambinghitamkan orang lain atau keadaan, dan bahkan berani menyalahkan Tuhan.

Adalah hal mudah bagi Tuhan untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir karena Firaun dan bala tentaranya bukanlah suatu halangan berarti, tapi untuk membentuk dan memproses bangsa Israel Tuhan membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu 40 tahun di padang gurun, karena bangsa Israel dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk (baca Keluaran 32:9). Pertanyaan: apakah kita mau taat atau tidak, punya penyerahan diri atau tidak, ketika sedang berada dalam ‘proses’nya Tuhan? Yang pasti, setiap proses yang Tuhan ijinkan terjadi dan kita alami semuanya mendatangkan kebaikan bagi kita, karena Tuhan tidak pernah merancang hal-hal yang jahat terhadap kita. (Bersambung)


Selasa. MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (2)
Baca: Mazmur 38:1-23

“TUHAN, janganlah menghukum aku dalam geram-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan murka-Mu;”  Mazmur 38:2

Perjalanan hidup kekristenan adalah sebuah perjalanan yang tidak mudah, tidak selalu melewati jalan yang rata, tapi penuh dengan tantangan, seperti perjalanan bangsa Israel sebelum mencapai Tanah Perjanjian:  harus menaklukkan musuh-musuh.  “Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit; suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.”  (Ulangan 11:11-12).  Kalimat  ‘bergunung-gunung dan berlembah-lembah’  adalah gambaran bahwa perjalanan yang harus kita tempuh adalah perjalanan yang penuh liku-liku, masalah bisa datang secara tiba-tiba tapi yang menyertai kita  (Tuhan)  jauh lebih besar dari semua masalah yang ada, dan Ia tidak akan melepaskan pandangan-Nya, tetapi mengawasi kita dari awal sampai akhir!

Apa tujuan Tuhan memproses kita?  “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”  (Yeremia 18:4).  Tuhan perlu proses kita supaya kita memiliki kualitas hidup yang lebih baik lagi.  Semakin kita memiliki kehidupan yang berkualitas, semakin kita menjadi perabot untuk maksud yang mulia  (baca  2 Timotius 2:21).  Tuhan menggunakan masalah untuk mengembangkan karakter kita, menjadikan masalah sebagai latihan rohani yang bertujuan untuk menguatkan iman kita.  Jangan jadikan masalah sebagai beban yang justru akan membuat kita semakin stress, tapi anggaplah sebagai kesempatan untuk lebih mendekat kepada Tuhan, mencari wajah-Nya lebih sungguh dan bergantung penuh kepada-Nya.

Berdasarkan pengalaman, penyembahan yang mendalam dan doa yang tulus dan murni biasanya terjadi ketika seseorang berada dalam masalah yang berat.  “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”  (Mazmur 34:18-19).  (Bersambung)


Rabu. MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (3)
Baca: Ayub 23:1-17

“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”  Ayub 23:10

Saat mengalami masalah kita menyadari betapa kita sangat membutuhkan Tuhan, dan menyadari bahwa Tuhan satu-satunya sumber pertolongan.  Ada berkat yang baru yang Tuhan sediakan di balik masalah.  “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”  (Ratapan 3:22-23), sehingga Tuhan mempersiapkan kita dulu melalui proses, supaya kita layak untuk menerima berkat-Nya yang baru itu.  “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”  (Yesaya 43:19).

Berkat yang baru harus ditaruh di  ‘wadah’  yang baru,  “Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Markus 2:22);  anggur yang baru harus disimpan di kirbat yang baru.  Sudahkah kita benar-benar hidup sebagai  ‘manusia baru’?  Selama kita masih mengenakan  ‘manusia lama’  Tuhan akan terus memproses kita,  “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah,…Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”  (Roma 8:7, 8).  Tuhan memproses kita melalui masalah supaya kehidupan kita menjadi kesaksian bagi orang lain.  Setiap masalah takkan melebihi kekuatan kita,  “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”  (1 Korintus 10:13).

Ketika melihat orang yang buta sejak lahir murid-murid bertanya,  “‘Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?’ Jawab Yesus: ‘Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.'”  (Yohanes 9:2-3).

Masalah dipakai Tuhan sebagai proses untuk membentuk, mempersiapkan dan menjadikan kita sesuai rencana-Nya!


Kamis. JANGAN MAIN-MAIN DENGAN IBADAH (1)
Baca: Nehemia 8:1-19

“maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel.”  Nehemia 8:2

Ada banyak orang Kristen yang menganggap bahwa menghadiri sebuah kebaktian tak ada bedanya dengan menghadiri sebuah pertunjukan musik.  Yang menjadi pusat perhatian mereka adalah si pemimpin pujian dan tim musiknya.  Apabila mereka tampil kurang maksimal dalam melayani, kita selaku penonton merasa kecewa, tidak puas, tidak terhibur, serta mengkritiknya habis-habisnya.  Sikap kita dalam beribadah pun berubah:  tidak lagi antusias, ogah-obahan dalam memuji Tuhan, mendengarkan firman pun sambil lalu.  Inikah sikap ibadah yang benar?  Ingatlah bahwa fokus utama dalam beribadah adalah Tuhan, bukan manusia.  Jika kita menyadari bahwa yang menjadi pusat ibadah adalah Tuhan kita pasti tidak akan main-main lagi dalam beribadah.

Hal-hal yang harus diperhatikan ketika beribadah:  1.  Miliki kerinduan untuk bertemu Tuhan.  Sudah lama orang-orang Israel  (dalam bacaan)  tidak melakukan ibadah secara bersama-sama  (ibadah raya)  karena mereka berada di pembuangan di Babel.  Setelah kembali dari pembuangan mereka memiliki kerinduan yang besar untuk bertemu dengan Tuhan.  Alkitab menyatakan ketika bulan yang ketujuh tiba serentak berkumpullah umat untuk beribadah kepada Tuhan  (ayat nas).  Kata serentak menunjukkan bahwa rakyat secara kompak dan sangat antusias berkumpul bersama-sama untuk melakukan ibadah raya tanpa ada paksaan dari pihak lain, atau harus didorong-dorong terlebih dahulu, tapi kerinduan untuk bertemu Tuhan benar-benar timbul dari hati.  Umat Israel secara serempak berkumpul untuk beribadah bukan karena sedang menggelar sebuah perayaan atau memperingati hari raya tertentu, tapi karena kerinduan yang besar untuk bertemu dengan Tuhan yang mendorong mereka untuk berkumpul secara serempak.

Bagaimana dengan kita?  Apakah kita beribadah karena dilandasi kerinduan untuk bertemu Tuhan, atau kita melakukan hanya sebatas rutinitas, atau bahkan karena terpaksa?  Daud berkata,  “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?”  (Mazmur 42:2-3).  (Berlanjut)


Jumat. JANGAN MAIN-MAIN DENGAN IBADAH (2)
Baca: Nehemia 8:1-9

“Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.”  Nehemia 8:4b

Adalah menyedihkan sekali jika orang Kristen tidak lagi tertarik beribadah ke gereja, merasa rugi telah membuang waktu percuma.  Bagi mereka waktu adalah uang!  Mereka berpikir adalah lebih baik mengerjakan pekerjaan yang menghasilkan atau mendatangkan keuntungan materi:  tetap buka toko atau kerja lembur di kantor, daripada menghabiskan waktu beberapa jam di tempat ibadah.  Ada orang yang datang ke gereja hanya mengisi waktu senggang, daripada menganggur di rumah.  Sebagian lagi ada orang Kristen yang begitu sibuk melayani pekerjaan Tuhan, tapi disertai motivasi yang tidak benar yaitu semata-mata memamerkan kehebatan atau talentanya supaya beroleh pujian.  Berhati-hatilah!

2.  Fokus dan memperhatikan sungguh-sungguh.  Ketika Ezra, ahli kitab, membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaat, ia  “…membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.”  (ayat 4).  Meski ibadah berlangsung cukup lama yaitu dari pagi hingga tengah hari, dan berada di area outdoor  (terkena terik matahari), umat Israel tetap fokus dan memberikan perhatian penuh.  Alkitab mencatat bahwa umat yang berkumpul,  “…ada empat puluh dua ribu tiga ratus enam puluh orang, selain dari budak mereka laki-laki dan perempuan yang berjumlah tujuh ribu tiga ratus tiga puluh tujuh orang. Pada mereka ada dua ratus empat puluh lima penyanyi laki-laki dan perempuan.”  (Nehemia 7:66-67).

Sering dijumpai banyak anak Tuhan yang tidak fokus beribadah.  Tubuh memang ada di gereja, namun hati dan pikiran melayang kemana-mana.  Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan  (baca  Roma 12:1).  Sebuah ibadah tanpa disertai rasa takut akan Tuhan dan menghormati hadirat-Nya adalah sia-sia dan tidak berkenan di hadapan Tuhan.

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala.”  Mazmur 2:11-12


Sabtu. YOSUA: Pemegang Tongkat Estafet (1)
Baca: Ulangan 31:1-8

“Yosua, dialah yang akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.”  Ulangan 31:3

Pada suatu kesempatan Musa berdiri di hadapan seluruh umat Israel untuk menyampaikan pesan yang sangat penting.  Musa menyadari ia telah berusia sangat lanjut dan tidak lama lagi akan meninggal.  Karena itu umat Israel sewaktu-waktu harus siap menghadapi sebuah perubahan.  Salah satu perubahan itu adalah soal kepemimpinan.  Umat Israel tidak perlu takut dan kuatir jika nantinya Musa tidak lagi ada bersama-sama dengan mereka.  Musa mengingatkan agar umat Israel tetap mengarahkan pandangan hanya kepada Tuhan yang adalah pemimpin utama mereka, bukan kepada manusia.  “TUHAN, Allahmu, Dialah yang akan menyeberang di depanmu; Dialah yang akan memunahkan bangsa-bangsa itu dari hadapanmu, sehingga engkau dapat memiliki negeri mereka; Yosua, dialah yang akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.”  (ayat 3).  Kini Tuhan telah menunjuk dan memilih Yosua untuk melanjutkan kepemimpinan menggantikan Musa.

Siapakah Yosua?  Yosua adalah keturunan Efraim, anak dari Nun, yang masa mudanya banyak dihabiskan di padang gurun dalam pengembaraan menuju Kanaan.  Ia adalah abdi atau pelayan Musa yang setia.  Sebagai abdi ia pun mengalami masa-masa yang sulit, penuh ujian dan tantangan bersama Musa.  Nama sebenarnya adalah Hosea, yang artinya Keselamatan.  Tetapi Musa memanggilnya Yosua  (baca  Bilangan 13:16), yang artinya Ia akan menyelamatkan atau keselamatan dari Yehovah.  Yosua tidak pernah membayangkan suatu saat akan dipilih dan dipercaya Tuhan untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan menggantikan Musa.  Adalah tidak mudah untuk beroleh sebuah kepercayaan!  Yosua dipercaya oleh karena ia setia menjalani proses:  “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;”  (Amsal 19:22).  Alkitab menyatakan bahwa orang-orang yang setialah yang dipakai Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya.

Di masa-masa seperti sekarang ini sulit sekali menemukan orang yang memiliki kesetiaan seperti Yosua ini.  Umumnya orang setia kalau ada embel-embel di belakangnya.  Sungguh benar apa yang dikatakan pemazmur:  “…orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia.”  (Mazmur 12:2).

Karena kesetiaannya sangat teruji Yosua dipercaya menggantikan Musa!


Minggu. YOSUA: Pemegang Tongkat Estafet (2)
Baca: Ulangan 31:1-8

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”  Ulangan 31:6

Ketika dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa, kemungkinan besar respons Yosua adalah terkejut, gelisah, dan tidak tenang, kemungkinan juga ada keraguan dan kekuatiran berkecamuk dibenaknya:  dapatkah ia memimpin suatu bangsa yang besar ini, bagaimana reaksi umat Israel jika ternyata kemampuannya dalam memimpin tidak sebanding dengan pemimpin sebelumnya  (Musa).  Itu sebabnya, Musa memberikan nasihat yang menguatkan dan meneguhkan,  “…janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”  (ayat nas).

Menjadi pemimpin adalah sebuah kepercayaan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya!  Yosua harus menangkap ini sebagai kesempatan untuk memaksimalkan semua potensi yang sudah Tuhan taruh dalam hidupnya.  Memang untuk mengerjakan visi besar dari Tuhan yaitu menuntun bangsa Israel menuju Tanah perjanjian, bukanlah perkara mudah, karena ada banyak sekali tantangan dan juga musuh-musuh yang harus ditaklukkan.  Jadi, seorang pemimpin haruslah bermental baja, berani dan tidak mudah menyerah.  Yang perlu ditegaskan lagi kepada Yosua bahwa ia tidak sendirian,  “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.”  (ayat 8).  Karena itu Yosua harus terus maju dengan berpegang teguh kepada janji firman Tuhan.  “Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.”  (Yosua 1:3).

Tuhan memberikan kunci rahasia untuk mencapai keberhasilan:  “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”  (Yosua 1:8).

Kunci kepemimpinan yang berhasil adalah berjalan bersama Tuhan, senantiasa mengandalkan-Nya, dan berpegang teguh pada janji firman-Nya!