Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 5)
MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (1)

MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (1)

Senin. MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (1)

Baca: Mazmur 35:1-28

“Ya, TUHAN, siapakah yang seperti Engkau, yang melepaskan orang sengsara dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya, orang sengsara dan miskin dari tangan orang yang merampasi dia?” Mazmur 35:10

Dalam hidup ini ada sesuatu yang tidak pernah bisa dihindari oleh semua orang tanpa terkecuali, ialah masalah. Senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap kita pasti menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini. Oleh karena itu jangan pernah lari dari masalah, karena yang menjadi persoalan adalah bukan bagaimana caranya kita dapat menghindarkan diri dari masalah, namun yang paling utama adalah bagaimana respons hati kita terhadap masalah yang terjadi.

Kita seringkali lupa bahwa perjalanan hidup kekristenan itu tidak hanya sekedar berbicara tentang berkat, mujizat, kemenangan, pemulihan dan sebagainya, tetapi juga proses; berkat, mujizat, kemenangan, pemulihan adalah output atau hasil dari sebuah proses. Masalah adalah satu bentuk dari proses itu sendiri! Berkat, mujizat, kemenangan dan pemulihan adalah hal yang pasti Tuhan sediakan, karena Dia adalah Tuhan yang selalu memegang setiap janji-Nya. “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” (Bilangan 23:19). Seringkali kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan berkat Tuhan, tapi ketika dihadapkan pada masalah sebagai bagian dari proses, kita memiliki repons yang tidak benar: mengomel, bersungut-sungut, marah, berontak, mengambinghitamkan orang lain atau keadaan, dan bahkan berani menyalahkan Tuhan.

Adalah hal mudah bagi Tuhan untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir karena Firaun dan bala tentaranya bukanlah suatu halangan berarti, tapi untuk membentuk dan memproses bangsa Israel Tuhan membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu 40 tahun di padang gurun, karena bangsa Israel dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk (baca Keluaran 32:9). Pertanyaan: apakah kita mau taat atau tidak, punya penyerahan diri atau tidak, ketika sedang berada dalam ‘proses’nya Tuhan? Yang pasti, setiap proses yang Tuhan ijinkan terjadi dan kita alami semuanya mendatangkan kebaikan bagi kita, karena Tuhan tidak pernah merancang hal-hal yang jahat terhadap kita. (Bersambung)


Selasa. MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (2)
Baca: Mazmur 38:1-23

“TUHAN, janganlah menghukum aku dalam geram-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan murka-Mu;”  Mazmur 38:2

Perjalanan hidup kekristenan adalah sebuah perjalanan yang tidak mudah, tidak selalu melewati jalan yang rata, tapi penuh dengan tantangan, seperti perjalanan bangsa Israel sebelum mencapai Tanah Perjanjian:  harus menaklukkan musuh-musuh.  “Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit; suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.”  (Ulangan 11:11-12).  Kalimat  ‘bergunung-gunung dan berlembah-lembah’  adalah gambaran bahwa perjalanan yang harus kita tempuh adalah perjalanan yang penuh liku-liku, masalah bisa datang secara tiba-tiba tapi yang menyertai kita  (Tuhan)  jauh lebih besar dari semua masalah yang ada, dan Ia tidak akan melepaskan pandangan-Nya, tetapi mengawasi kita dari awal sampai akhir!

Apa tujuan Tuhan memproses kita?  “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”  (Yeremia 18:4).  Tuhan perlu proses kita supaya kita memiliki kualitas hidup yang lebih baik lagi.  Semakin kita memiliki kehidupan yang berkualitas, semakin kita menjadi perabot untuk maksud yang mulia  (baca  2 Timotius 2:21).  Tuhan menggunakan masalah untuk mengembangkan karakter kita, menjadikan masalah sebagai latihan rohani yang bertujuan untuk menguatkan iman kita.  Jangan jadikan masalah sebagai beban yang justru akan membuat kita semakin stress, tapi anggaplah sebagai kesempatan untuk lebih mendekat kepada Tuhan, mencari wajah-Nya lebih sungguh dan bergantung penuh kepada-Nya.

Berdasarkan pengalaman, penyembahan yang mendalam dan doa yang tulus dan murni biasanya terjadi ketika seseorang berada dalam masalah yang berat.  “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”  (Mazmur 34:18-19).  (Bersambung)


Rabu. MASALAH ADALAH BAGIAN DARI PROSES (3)
Baca: Ayub 23:1-17

“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”  Ayub 23:10

Saat mengalami masalah kita menyadari betapa kita sangat membutuhkan Tuhan, dan menyadari bahwa Tuhan satu-satunya sumber pertolongan.  Ada berkat yang baru yang Tuhan sediakan di balik masalah.  “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”  (Ratapan 3:22-23), sehingga Tuhan mempersiapkan kita dulu melalui proses, supaya kita layak untuk menerima berkat-Nya yang baru itu.  “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”  (Yesaya 43:19).

Berkat yang baru harus ditaruh di  ‘wadah’  yang baru,  “Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Markus 2:22);  anggur yang baru harus disimpan di kirbat yang baru.  Sudahkah kita benar-benar hidup sebagai  ‘manusia baru’?  Selama kita masih mengenakan  ‘manusia lama’  Tuhan akan terus memproses kita,  “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah,…Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”  (Roma 8:7, 8).  Tuhan memproses kita melalui masalah supaya kehidupan kita menjadi kesaksian bagi orang lain.  Setiap masalah takkan melebihi kekuatan kita,  “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”  (1 Korintus 10:13).

Ketika melihat orang yang buta sejak lahir murid-murid bertanya,  “‘Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?’ Jawab Yesus: ‘Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.'”  (Yohanes 9:2-3).

Masalah dipakai Tuhan sebagai proses untuk membentuk, mempersiapkan dan menjadikan kita sesuai rencana-Nya!


Kamis. JANGAN MAIN-MAIN DENGAN IBADAH (1)
Baca: Nehemia 8:1-19

“maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel.”  Nehemia 8:2

Ada banyak orang Kristen yang menganggap bahwa menghadiri sebuah kebaktian tak ada bedanya dengan menghadiri sebuah pertunjukan musik.  Yang menjadi pusat perhatian mereka adalah si pemimpin pujian dan tim musiknya.  Apabila mereka tampil kurang maksimal dalam melayani, kita selaku penonton merasa kecewa, tidak puas, tidak terhibur, serta mengkritiknya habis-habisnya.  Sikap kita dalam beribadah pun berubah:  tidak lagi antusias, ogah-obahan dalam memuji Tuhan, mendengarkan firman pun sambil lalu.  Inikah sikap ibadah yang benar?  Ingatlah bahwa fokus utama dalam beribadah adalah Tuhan, bukan manusia.  Jika kita menyadari bahwa yang menjadi pusat ibadah adalah Tuhan kita pasti tidak akan main-main lagi dalam beribadah.

Hal-hal yang harus diperhatikan ketika beribadah:  1.  Miliki kerinduan untuk bertemu Tuhan.  Sudah lama orang-orang Israel  (dalam bacaan)  tidak melakukan ibadah secara bersama-sama  (ibadah raya)  karena mereka berada di pembuangan di Babel.  Setelah kembali dari pembuangan mereka memiliki kerinduan yang besar untuk bertemu dengan Tuhan.  Alkitab menyatakan ketika bulan yang ketujuh tiba serentak berkumpullah umat untuk beribadah kepada Tuhan  (ayat nas).  Kata serentak menunjukkan bahwa rakyat secara kompak dan sangat antusias berkumpul bersama-sama untuk melakukan ibadah raya tanpa ada paksaan dari pihak lain, atau harus didorong-dorong terlebih dahulu, tapi kerinduan untuk bertemu Tuhan benar-benar timbul dari hati.  Umat Israel secara serempak berkumpul untuk beribadah bukan karena sedang menggelar sebuah perayaan atau memperingati hari raya tertentu, tapi karena kerinduan yang besar untuk bertemu dengan Tuhan yang mendorong mereka untuk berkumpul secara serempak.

Bagaimana dengan kita?  Apakah kita beribadah karena dilandasi kerinduan untuk bertemu Tuhan, atau kita melakukan hanya sebatas rutinitas, atau bahkan karena terpaksa?  Daud berkata,  “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?”  (Mazmur 42:2-3).  (Berlanjut)


Jumat. JANGAN MAIN-MAIN DENGAN IBADAH (2)
Baca: Nehemia 8:1-9

“Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.”  Nehemia 8:4b

Adalah menyedihkan sekali jika orang Kristen tidak lagi tertarik beribadah ke gereja, merasa rugi telah membuang waktu percuma.  Bagi mereka waktu adalah uang!  Mereka berpikir adalah lebih baik mengerjakan pekerjaan yang menghasilkan atau mendatangkan keuntungan materi:  tetap buka toko atau kerja lembur di kantor, daripada menghabiskan waktu beberapa jam di tempat ibadah.  Ada orang yang datang ke gereja hanya mengisi waktu senggang, daripada menganggur di rumah.  Sebagian lagi ada orang Kristen yang begitu sibuk melayani pekerjaan Tuhan, tapi disertai motivasi yang tidak benar yaitu semata-mata memamerkan kehebatan atau talentanya supaya beroleh pujian.  Berhati-hatilah!

2.  Fokus dan memperhatikan sungguh-sungguh.  Ketika Ezra, ahli kitab, membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaat, ia  “…membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.”  (ayat 4).  Meski ibadah berlangsung cukup lama yaitu dari pagi hingga tengah hari, dan berada di area outdoor  (terkena terik matahari), umat Israel tetap fokus dan memberikan perhatian penuh.  Alkitab mencatat bahwa umat yang berkumpul,  “…ada empat puluh dua ribu tiga ratus enam puluh orang, selain dari budak mereka laki-laki dan perempuan yang berjumlah tujuh ribu tiga ratus tiga puluh tujuh orang. Pada mereka ada dua ratus empat puluh lima penyanyi laki-laki dan perempuan.”  (Nehemia 7:66-67).

Sering dijumpai banyak anak Tuhan yang tidak fokus beribadah.  Tubuh memang ada di gereja, namun hati dan pikiran melayang kemana-mana.  Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan  (baca  Roma 12:1).  Sebuah ibadah tanpa disertai rasa takut akan Tuhan dan menghormati hadirat-Nya adalah sia-sia dan tidak berkenan di hadapan Tuhan.

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala.”  Mazmur 2:11-12


Sabtu. YOSUA: Pemegang Tongkat Estafet (1)
Baca: Ulangan 31:1-8

“Yosua, dialah yang akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.”  Ulangan 31:3

Pada suatu kesempatan Musa berdiri di hadapan seluruh umat Israel untuk menyampaikan pesan yang sangat penting.  Musa menyadari ia telah berusia sangat lanjut dan tidak lama lagi akan meninggal.  Karena itu umat Israel sewaktu-waktu harus siap menghadapi sebuah perubahan.  Salah satu perubahan itu adalah soal kepemimpinan.  Umat Israel tidak perlu takut dan kuatir jika nantinya Musa tidak lagi ada bersama-sama dengan mereka.  Musa mengingatkan agar umat Israel tetap mengarahkan pandangan hanya kepada Tuhan yang adalah pemimpin utama mereka, bukan kepada manusia.  “TUHAN, Allahmu, Dialah yang akan menyeberang di depanmu; Dialah yang akan memunahkan bangsa-bangsa itu dari hadapanmu, sehingga engkau dapat memiliki negeri mereka; Yosua, dialah yang akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.”  (ayat 3).  Kini Tuhan telah menunjuk dan memilih Yosua untuk melanjutkan kepemimpinan menggantikan Musa.

Siapakah Yosua?  Yosua adalah keturunan Efraim, anak dari Nun, yang masa mudanya banyak dihabiskan di padang gurun dalam pengembaraan menuju Kanaan.  Ia adalah abdi atau pelayan Musa yang setia.  Sebagai abdi ia pun mengalami masa-masa yang sulit, penuh ujian dan tantangan bersama Musa.  Nama sebenarnya adalah Hosea, yang artinya Keselamatan.  Tetapi Musa memanggilnya Yosua  (baca  Bilangan 13:16), yang artinya Ia akan menyelamatkan atau keselamatan dari Yehovah.  Yosua tidak pernah membayangkan suatu saat akan dipilih dan dipercaya Tuhan untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan menggantikan Musa.  Adalah tidak mudah untuk beroleh sebuah kepercayaan!  Yosua dipercaya oleh karena ia setia menjalani proses:  “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;”  (Amsal 19:22).  Alkitab menyatakan bahwa orang-orang yang setialah yang dipakai Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya.

Di masa-masa seperti sekarang ini sulit sekali menemukan orang yang memiliki kesetiaan seperti Yosua ini.  Umumnya orang setia kalau ada embel-embel di belakangnya.  Sungguh benar apa yang dikatakan pemazmur:  “…orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia.”  (Mazmur 12:2).

Karena kesetiaannya sangat teruji Yosua dipercaya menggantikan Musa!


Minggu. YOSUA: Pemegang Tongkat Estafet (2)
Baca: Ulangan 31:1-8

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”  Ulangan 31:6

Ketika dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa, kemungkinan besar respons Yosua adalah terkejut, gelisah, dan tidak tenang, kemungkinan juga ada keraguan dan kekuatiran berkecamuk dibenaknya:  dapatkah ia memimpin suatu bangsa yang besar ini, bagaimana reaksi umat Israel jika ternyata kemampuannya dalam memimpin tidak sebanding dengan pemimpin sebelumnya  (Musa).  Itu sebabnya, Musa memberikan nasihat yang menguatkan dan meneguhkan,  “…janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”  (ayat nas).

Menjadi pemimpin adalah sebuah kepercayaan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya!  Yosua harus menangkap ini sebagai kesempatan untuk memaksimalkan semua potensi yang sudah Tuhan taruh dalam hidupnya.  Memang untuk mengerjakan visi besar dari Tuhan yaitu menuntun bangsa Israel menuju Tanah perjanjian, bukanlah perkara mudah, karena ada banyak sekali tantangan dan juga musuh-musuh yang harus ditaklukkan.  Jadi, seorang pemimpin haruslah bermental baja, berani dan tidak mudah menyerah.  Yang perlu ditegaskan lagi kepada Yosua bahwa ia tidak sendirian,  “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.”  (ayat 8).  Karena itu Yosua harus terus maju dengan berpegang teguh kepada janji firman Tuhan.  “Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.”  (Yosua 1:3).

Tuhan memberikan kunci rahasia untuk mencapai keberhasilan:  “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”  (Yosua 1:8).

Kunci kepemimpinan yang berhasil adalah berjalan bersama Tuhan, senantiasa mengandalkan-Nya, dan berpegang teguh pada janji firman-Nya!

HIDUPMU MENGIKUTI PIKIRANMU

HIDUPMU MENGIKUTI PIKIRANMU

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2)

PENDAHULUAN

Pikiran sangat berperan dalam menentukan arah hidup seseorang. Pikiran/akal budi yang diperbarui dengan benih firman Tuhan secara kontinu akan membuahkan cara pandang, nilai, perkataan, perilaku, gaya hidup, karakter, etos kerja, keputusan, dan tujuan yang sesuai dengan kehendak Allah.

ISI

  • Allah adalah Roh, barangsiapa yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Menyembah Allah harus dengan segenap hati dan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) yang ditundukkan kepada kebenaran-Nya. Untuk dapat menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, hati dan pikiran kita harus lebih dulu diperbarui.
  • Orang percaya telah menerima hati dan roh yang baru oleh Roh Kudus yang berdiam dalam batin. Allah telah menjauhkan kita dari hati yang keras/degil dan memberikan hati yang taat kepada hukum-Nya (Yehezkiel 35:26-27). Hati yang baru ini harus disertai dengan pikiran yang baru. Kita tidak bisa menyembah Allah dengan pikiran yang lama, yaitu pikiran karnal (pola pikir/akal budi yang dikuasai oleh keinginan daging, bersifat duniawi, berasal dari benih dosa dalam diri manusia). Pikiran karnal tidak takluk kepada hukum Allah sehingga tidak mungkin berkenan kepada-Nya.
  • Hati yang baru + transformasi pikiran secara kontinu + hidup dalam pertobatan = transformasi hidup/berbuah banyak dan matang. Perlu dipahami bahwa firman Tuhan yang berupa informasi atau pengetahuan memang penting, tapi itu belum cukup untuk mengubah hidup kita. Firman Tuhan yang berubah menjadi pewahyuan itulah yang berpotensi membawa kita bertumbuh secara rohani, mengubahkan hidup serta menghasilkan buah.

Catatan: pewahyuan adalah karya Allah melalui Roh Kudus yang membuka, menyingkapkan, atau menyatakan diri, kehendak, jalan dan kebenaran-Nya kepada kita secara pribadi. Hati dan pikiran kita menjadi terang karena Roh Kudus memberikan hikmat dan wahyu untuk mengenal Allah dengan benar (Efesus 1:17).

  • Pewahyuan bisa didapat melalui:
  • Firman Tuhan yang kita renungkan dan dihidupkan oleh Roh Kudus (firman Rhema),
  • Peristiwa/kesaksian hidup yang kita atau orang lain alami (mis. dalam kehidupan sehari-hari: di keluarga, pelayanan, pekerjaan, usaha, dlsb),
  • Firman Tuhan yang menjadi nyata/digenapi dalam hidup kita,
  • pergumulan hidup (masalah, godaan, kesulitan, penderitaan),
  • perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus (mis. lewat mimpi dan penglihatan).

 

Hal-hal yang terjadi akibat pikiran yang belum diperbarui oleh Firman Tuhan:

  • Hidup jadi serupa dengan dunia : pikiran yang sia-sia, pengertian yang gelap (tidak ada terang kebenaran Allah), hidup dalam dusta iblis yang membangkitkan rupa-rupa hawa nafsu kedagingan, kompromi dengan hikmat dunia, mengandalkan diri sendiri, hidup dalam dosa/ketidaktaatan, ketidakpercayaan (hidup karena melihat, bukan karena percaya), kekuatiran, ketakutan, kecewa, kehilangan damai sejahtera, dan kehilangan pengharapan.
  • Tidak dapat mengerti dan membedakan kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2). Ketidakmengertian akan kehendak Allah membuat kita : tidak hidup dalam kebenaran dan kekudusan (Efesus 4:23-24), salah berdoa (Yakobus 4:2-3), dan salah bertindak/mengambil keputusan. Si pendusta memanfaatkan ketidaktahuan, kebodohan/kedegilan, kemalasan, kenyamanan, kesombongan dan kedagingan untuk menghancurkan hidup kita sendiri.
  • Menghalangi kita untuk menikmati hidup yang Tuhan Yesus berikan melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, yaitu hidup yang berkelimpahan seperti dalam Yohanes 10:10. Pikiran yang belum diperbarui menjadi pintu bagi Iblis untuk menipu orang Kristen guna melaksanakan agenda jahatnya.
  • Seseorang yang suka mengasihani diri sendiri dan memiliki victim mentality memberi akses bagi iblis untuk memperdaya hidupnya melalui pikiran negatif yang toxic’ meracuni diri sendiri dan orang lain (melalui hubungan yang tidak sehat). Kesombongan seperti ini membutakan mata hati yang membuatnya berjalan dalam kegelapan (Matius 6:22-23).
  • Kebohongan iblis membuat orang percaya tidak memahami identitasnya dalam Kristus, tidak memahami segala berkat rohani yang telah Allah karuniakan (Efesus 1:3), tidak menggunakan kuasa otoritasnya sebagai anak-anak Allah (Yohanes 1:12), serta tidak mengerti haknya sebagai ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah (Roma 8:17). Akibatnya, orang tersebut tetap tinggal dalam ikatan, dalam kekurangan/ kemiskinan (secara rohani, jiwani dan jasmani), tidak mengalami pemulihan, terobosan, dan kemenangan.
  • Menghalangi kita untuk hidup dalam tujuan Allah: menjadi garam serta terang di kegelapan dunia, dan melakukan Amanat Agung (dimuridkan untuk memuridkan orang lain).

 

Solusi untuk mengalami pembaruan hidup yang diawali melalui pembaruan pikiran:

  • Manusia hidup bukan dari roti saja, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Roh-lah yang memberi hidup yang sebenarnya, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan yang Tuhan Yesus katakan adalah roh dan hidup (Yohanes 6:63). Satu-satunya yang bisa mengubah seluruh hidup kita hanyalah firman Tuhan. Pikiran yang secara kontinu diperbarui oleh pewahyuan firman membuat kita ‘hidup’ (bukan sekadar eksis/bertahan hidup) serta menghasilkan buah yang matang dan tetap.
  • Minta Roh Kudus memberikan pewahyuan/rhema dari firman yang kita baca, yang didengar di Cool/Ibadah Raya, dari kelas pengajaran yang kita ikuti, dari kesaksian orang lain, yang kita dapat saat memuji dan menyembah, dsb.
  • Kalau Roh Kudus menyingkapkan sesuatu kepada roh kita, jangan anggap angin lalu. Bawa dalam doa ke hadapan Tuhan, minta Roh Kudus menuntun: bagaimana respons/sikap hati yang benar, bagaimana melihat sesuatu dari cara pandang Allah, area mana yang perlu kita perbaiki/bertobat,  apa yang harus kita lakukan dan doakan, hal apa yang harus kita buang/jauhi, dlsb. Kalau perlu, catat dalam jurnal supaya bisa kita renungkan, pelajari dan perbaiki.
  • Amsal 4:23 menyatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Kalau ada benih asing yang bukan kebenaran firman Tuhan dalam hati dan pikiran, segera tolak dalam Nama Yesus, jangan direnungkan. Itu bukan sekadar pemikiran acak/menyeleneh, melainkan panah api si jahat yang berpotensi mencuri, membunuh, dan membinasakan hidup kita jika tidak lekas dibuang selagi masih dalam keadaan benih.

 

PENUTUP

Pikiran kita adalah sebuah senjata, dan kehidupan kita menyingkapkan siapa yang memegang senjata itu: apakah Tuhan, ataukah si jahat. Saring apa yang kita lihat, dengar, baca, dan renungkan, pilihlah dengan bijak. Ganti kegelapan/dusta iblis dalam pikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan. Hendaklah kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus (Filipi 2:5), supaya orang lain dapat melihat buah kehidupan kita dan memuliakan Bapa di sorga.

DIBALIK TANTANGAN BESAR: Ada Berkat Besar (2)

DIBALIK TANTANGAN BESAR: Ada Berkat Besar (2)

Senin DIBALIK TANTANGAN BESAR: Ada Berkat Besar (2)

Baca: Keluaran 15:22-27

“Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka,” Keluaran 15:25

Ketika menghadapi tantangan air pahit di Mara orang-orang Israel langsung bereaksi secara negatif, “…bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: ‘Apakah yang akan kami minum?'” (ayat 24). Pahit adalah rasa yang tidak enak seperti empedu, yaitu gambaran tentang penderitaan, kesulitan atau kesusahan. Ketika dihadapkan pada hal-hal pahit kebanyakan orang akan bersungut-sungut, mengomel dan berkeluh kesah. Perhatikan reaksi Musa… Musa tidak terpengaruh oleh sungut-sungut umat Israel dan tidak menyerah pada keadaan yang ada, tapi ia membuat keputusan yang tepat yaitu berseru-seru kepada Tuhan. Ada tertulis: “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.” (Yeremia 33:3).

Tuhan menggenapi janji firman-Nya kepada setiap orang yang sungguh-sungguh berseru kepada-Nya, Ia memberikan jalan keluar yaitu menunjukkan sepotong kayu. “Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis.” (ayat nas). Mujizat terjadi! Air pahit itu menjadi manis sehingga orang-orang Israel dapat meminumnya. Manis adalah sesuatu yang berasa seperti gula, madu, menyenangkan dan indah. Kayu yang dipakai Musa untuk mengubah air yang pahit menjadi manis melambangkan tentang salib Kristus, yang sekitar lebih 2000 tahun lampau tegak berdiri di Golgota. Salib Kristus adalah solusi untuk semua permasalahan yang dihadapi oleh manusia, termasuk masalah terbesarnya yaitu dosa!

Sesungguhnya Tuhan tahu persis kalau air di Mara itu pahit rasanya, tetapi Ia hendak menguji iman dan respons mereka ketika menghadapi tantangan: apakah mereka tetap percaya kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya, sebab di balik tantangan yang besar ada berkat besar pula yang telah Tuhan sediakan: “Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma,” (Keluaran 15:27).

Selalu ada rencana Tuhan yang indah di balik tantangan besar yang kita hadapi!


Selasa. BAYARLAH NAZARMU, JANGAN DITUNDA!

Baca: Pengkhotbah 5:1-6

“Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu.”  Pengkhotbah 5:3

Ketika perjalanan hidup terasa begitu mulus tanpa aral melintang kita mudah sekali melupakan Tuhan, doa dan ibadah kita anggap sepele, tidak terlalu penting dan tak berpengaruh.  Namun begitu badai persoalan datang mendera yang membuat terjepit, barulah kita menjerit, meratap dan berseru-seru kepada Tuhan, memohon belas kasihan-Nya.  Kemudian kita pun bernazar kepada Tuhan.  “Kalau sakitku sudah sembuh aku mau melayani Tuhan dengan sungguh;  kalau ekonomi keluargaku dipulihkan aku akan memberikan persembahan untuk mendukung pekerjaan Tuhan.”  Dan sebagainya.

Kata nazar yang tertulis di Alkitab berkaitan dengan janji seseorang kepada Tuhan untuk melakukan suatu tindakan, atau janji untuk menjauhkan diri dari sebuah tindakan.  Karena nazar merupakan sebuah janji atau komitmen kepada Tuhan maka kita tidak boleh main-main, kita harus bersungguh-sungguh untuk menepatinya.  Berpikirlah masak-masak sebelum kita bernazar!  Bernazar atau tidak bernazar itu bukanlah dosa, yang berdosa adalah ketika kita bernazar tetapi kita tidak memenuhinya!  “Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu.”  (Ulangan 23:21-22).  Ketika berada di perut ikan Yunus mengarahkan imannya kepada Tuhan.  “Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.”  (Yunus 2:7).  Jalan terbaik ketika dalam lembah kekelaman adalah mengetuk pintu hati-Nya dengan seruan yang keluar dari dalam jiwa yang sudah letih lesu.

Yunus seharusnya sudah mati dalam perut ikan, namun Tuhan sanggup mengeluarkan dia hidup-hidup.  Yunus pun bersyukur kepada Tuhan dan berkata,  “…apa yang kunazarkan akan kubayar.”  (Yunus 2:9).  Pergilah Yunus ke Niniwe menyerukan pertobatan sesuai yang diperintahkan Tuhan kepadanya!  (baca  Yunus 3:3).

“Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu.”  Mazmur 56:13


Rabu. MANUSIA BARU: Putus Hubungan Dengan Dunia

Baca: Galatia 6:11-18

“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.”  Galatia 6:14

Berkali-kali kita diingatkan bahwa sebagai pengikut Kristus kita  “…wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”  (1 Yohanes 2:6), artinya kita harus mengikuti jejak-Nya dan menjadi penurut-penurut Allah  (baca  Efesus 5:1).  Sebagaimana Kristus rela mengorbankan segala sesuatu mati tersalib untuk menebus dosa-dosa kita, maka kita pun harus rela meyalibkan manusia lama  (kedagingan)  kita,  “…supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.”  (Roma 6:6).

Kita harus menyalibkan kedagingan kita, karena  “…siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”  (2 Korintus 5:17).  Inilah yang dimaksudkan oleh rasul Paulus bahwa  ‘dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia’  (ayat nas).  Disalibkan bagi dunia berarti kita mematikan segala keinginan yang tidak sesuai dengan keinginan Roh Kudus sebagaimana yang Paulus nasihatkan,  “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,”  (Kolose 3:5).  Mengapa kita harus mematikan semua hal yang sifatnya duniawi?  “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.”  (1 Yohanes 2:16).  Demikian seharusnya setiap orang percaya benar-benar meninggalkan segala kesenangan dunia dan tidak menjadikan dunia sebagai comfort zone-nya.  Semakin kita merasa nyaman dengan perkara-perkara  dunia semakin kita terikat dengan dunia dan semakin sulit kita melepaskan diri.  Tuhan Yesus telah memperingatkan,  “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”  (Lukas 14:33).

Ketika percaya kepada Tuhan Yesus kita diangkat sebagai umat pilihan-Nya dan menyandang status  ‘bukan dari dunia ini’, seperti Kristus yang juga bukan berasal dari dunia ini  (baca  Yohanes 15:19), oleh sebab itu  “Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan,”  (2 Korintus 6:17).

Selama masih enggan meninggalkan  ‘dunia’, kita tidak layak disebut murid Kristus!


Kamis. KETAATAN SELALU MENDATANGKAN BERKAT

Baca: Kejadian 26:1-35

“Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.”  Kejadian 26:12

Berbicara tentang ketaatan adalah hal yang mudah, tapi untuk melakukan ketaatan adalah perkara yang sulit, apalagi taat ketika berada di situasi yang sulit atau tidak mendukung.  Sesungguhnya setiap ketaatan selalu mendatangkan berkat, sebab Tuhan membalas setiap orang sesuai dengan perbuatannya.  “Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.”  (Mazmur 18:26-27).

Ishak adalah salah satu contoh tokoh yang mengalami berkat Tuhan secara luar biasa karena taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan meski dalam situasi yang tidak mendukung sekalipun.  Ketika terjadi kelaparan hebat Tuhan melarang Ishak untuk pergi ke Mesir, melainkan tinggal di Gerar, suatu tempat di Filistin,  “Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.”  (Kejadian 26:3).  Perintah Tuhan seringkali tidak masuk akal, karena itu banyak orang tidak mau taat;  padahal Tuhan punya rencana yang indah bagi setiap orang yang mau taat kepada-Nya!  “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  (Yesaya 55:8-9).

Bukan perkara mudah untuk tinggal sebagai orang asing, namun Ishak memilih taat kepada kehendak Tuhan.  Ia datang menghadap Abimalekh, raja orang Filistin di Gerar dan minta izin untuk tinggal di sana.  Alkitab mencatat bahwa ayah Ishak  (Abraham)  juga pernah tinggal di Gerar dan menggali sejumlah sumur di sana, tapi sudah ditutup oleh orang-orang Filistin;  dan ketika berada di Gerar Ishak pun menggali kembali sumur-sumur yang telah ditutup itu dan menamainya menurut nama-nama yang telah diberikan oleh Abraham:  Esek, Sitna, Rehobot dan Syeba.

Inilah berkat bagi orang yang taat kepada Tuhan:  Ishak  “…menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.”  (Kejadian 26:13).


Jumat. MERESPONS KASIH TUHAN YANG HEBAT

Baca: Mazmur 117:1-2

“Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya.”  Mazmur 117:2

Bila kita ingat tentang kasih Tuhan dalam hidup ini, sampai kapan pun kita takkan sanggup menghitung dan mengukurnya.  Kebaikan, kemurahan, kesetiaan, pemeliharaan dan perlindungan Tuhan atas kita sungguh tiada terbilang…  “…betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,”  (Efesus 3:18).  Namun seringkali kita kurang menyadarinya, yang kita ingat-ingat hanyalah besarnya masalah dan kesulitan-kesulitan yang kita alami.  Masalah dan kesulitan yang ada laksana tembok tebal yang menghalangi dan menutupi pandangan mata kita untuk melihat kebesaran kasih Tuhan.

Manakah yang lebih besar:  masalah atau kasih Tuhan yang telah kita terima?  Jika mau jujur, kasih Tuhan itu jauh lebih besar dari masalah apa pun.  Daud adalah orang yang merespons apa yang Tuhan sudah kerjakan di sepanjang hidupnya dengan sikap hati yang benar.  “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku,”  (Mazmur 9:2).  Hati Daud berlimpah dengan ucapan syukur, bukan bersyukur dengan perkataan saja, tetapi bersyukurlah dengan segenap hatinya.  Rasa syukur yang hanya diucapkan lewat bibir saja, tentunya sangat berbeda dengan ucapan syukur yang keluar dari lubuk hati terdalam.  Jika rasa syukur itu keluar dari hati, maka perkataan, perbuatan dan seluruh aspek hidup akan diubahkan karena ucapan syukur tersebut.  Daud juga  “…menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib;”  (Mazmur 9:2).  Artinya Daud tidak berhenti sebatas mengucap syukur, ia juga rindu untuk menyaksikan kasih Tuhan kepada orang lain, menceritakan segala kebaikan yang telah ia terima dari Tuhan, menceritakan apa yang sudah dialaminya bersama Tuhan.

Bagaimana dengan Saudara?  Bukankah kasih Tuhan sangat luar biasa dalam hidup kita, karena Dia rela mengorbankan nyawa-Nya menebus dosa-dosa kita, mengampuni kesalahan kita, membebaskan kita dari segala kutuk, dan karena kasih-Nya kita diangkat sebagai anak-anak-Nya?  Sadar betapa hebatnya kasih Tuhan mendorong Daud semakin mendekat kepada Tuhan, semakin mengenal-Nya dan mencari Dia lebih sungguh!

“Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan….Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah!”  Mazmur 36:6, 8


 

BUAH ROH TIDAK BISA DIPALSUKAN

BUAH ROH TIDAK BISA DIPALSUKAN

PENDAHULUAN

Keaslian iman Kristen dapat dilihat dari buah Roh yang dihasilkan.  Orang yang terlibat dalam pelayanan, punya pengetahuan firman yang banyak, atau memiliki karunia rohani yang luar biasa belum tentu menghasilkan buah yang baik (buah Roh/karakter Kristus).

ISI

  • Tuhan Yesus mengatakan bahwa seseorang dikenal dari buahnya. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, demikian sebaliknya. Tidak ada yang bisa MEMALSUKAN buah yang baik. BACA MATIUS 7:16-20.
  • Mari kita bercermin pada firman Tuhan, untuk melihat apakah pohon kehidupan kita asli atau palsu:

Keadaan Pohon Asli

1. Berasal dari benih ilahi, yaitu Firman Tuhan. Benih firman Tuhan akan menghasilkan buah Roh (karakter Kristus) dan buah kebenaran (firman yang digenapi menjadi kenyataan).

Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal. (1 Petrus 1:23).

2. Ditanam di tepi aliran air (melekat kepada Pokok Anggur yang benar dan menerima pertumbuhannya dari aliran air hidup, yaitu Roh Kudus yang memimpin serta mengingatkan akan perkataan Kristus).

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah (Yeremia 17:8).

3. Keadaan tanah hatinya baik (menyambut firman dengan iman dan hati yang lemah lembut/mudah dibentuk).

Dan Sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang 30 kali lipat, ada yang 60 kali lipat, ada yang 100 kali lipat. (Markus 4:8)

4. Berakar dalam kasih Kristus (walau menghadapi tantangan/godaan, memilih tetap tinggal dalam persekutuan dengan Roh Kudus dan firman Tuhan; hidup oleh iman, bukan karena melihat). Masalah, godaan, tantangan dan penderitaan membuat imannya semakin kuat dan tahan banting.

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. (Efesus 3:16-17).

5. Semakin berbuah matang dan tetap melalui tantangan, masalah, godaan dan penderitaan. Ujian iman membuat karakternya semakin menyerupai  Kristus dan dewasa secara rohani. Walaupun menghadapi berbagai masalah dan tantangan, hidupnya terus berdampak bagi orang lain.

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun (Yakobus 1:2-4).

…Setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah (Yohanes 15:2b)

Keadaan Pohon Palsu

1. Tidak melekat dengan Pokok Anggur yang benar. Tidak mau secara konsisten membangun mezbah pribadi dengan Tuhan dan mendisiplinkan diri secara rohani.

2. Benihnya bukan berasal dari firman Tuhan, tapi benih lain yaitu: pikiran, pendapat, cara pandang atau perasaan sendiri; hikmat dunia; hati yang pahit/kecewa; kebencian; kesombongan, iri hati, cinta akan uang, dlsb.

3. Keadaan tanah hatinya berbatu atau semak duri yang menghalangi benih firman bertumbuh (Markus 4:5-7). Berhenti bertumbuh/cepat menyerah kalau mengalami tantangan, godaan, gesekan, atau penderitaan karena tidak berakar.

4. Bisa tampak melakukan banyak kegiatan dalam pelayanan (hanya berdaun), tapi tidak berbuah. Tahu banyak firman, tapi karakternya tidak mengalami perubahan oleh kuasa firman Tuhan. Being busy is not the same as being fruitful.

5. Hidup dalam zona nyaman; punya motivasi hati yang keliru: hanya tertarik dengan berkat/mukjizat/karunia, tapi tidak bersedia/berkomitmen untuk dimuridkan.

Proyek ketaatan

  • Jangan lari dari pemrosesan Tuhan lewat tantangan, masalah, gesekan, dan penderitaan. Minta Roh Kudus menyingkapkan keadaan manusia roh kita yang sebenarnya. Kehidupan yang dipimpin Roh Kudus membuat kita menyadari keadaan diri, mengakui kesalahan/kelemahan, serta menolong kita untuk taat dan mau berubah. Jika Roh Kudus menyingkapkan hal itu kepada kita, rendahkan hati, akui, jangan cari pembenaran diri, bertobat dan taati pimpinan-Nya.
  • Latih diri kita di area yang perlu diubah, misalnya: kita memiliki pikiran/belief system/cara pandang yang keliru -> ubah dengan cara pandang kebenaran/firman Tuhan. Buang pikiran yang keliru, sia-sia, kotor, jahat, dan negatif. Jangan sepakat dengan dusta iblis yang menipu lewat pikiran dan apa yang terlihat, tolak tipu dayanya dengan firman Tuhan. Tunduklah kepada Allah, lawan iblis dengan iman yang teguh, maka ia akan lari daripadamu. Kenakan perisai iman untuk memadamkan panah api si jahat. Hidup karena percaya, bukan karena melihat. Hiduplah dipimpin Roh, bukan dipimpin pikiran atau perasaan yang toksik.
  • Katakan kepada jiwamu: Saya adalah ciptaan baru dalam Kristus; manusia lama saya sudah turut disalibkan bersama dengan kematian Kristus. Saya dipanggil untuk hidup dalam kekudusan, bukan kecemaran. Saya pakai anggota tubuh saya sebagai senjata kebenaran, bukan senjata kelaliman.  Roh Kudus adalah Penolong yang memampukan saya untuk berubah, berbuah dan hidup dalam identitas sebagai anak-anak Allah.
  • Katakan Galatia 2:20 dengan iman: …aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku, Amen!

PENUTUP

Berdasarkan Yakobus 1:2-4 serta Yohanes 15:2b, kita dapat mempelajari bahwa buah yang matang dan banyak tidak dihasilkan dari zona nyaman, atau dari kelebihan, kesalehan serta kekuatan kita, tetapi dari pemrosesan Tuhan dalam hidup kita (pruning). Buah yang teruji kualitasnya justru dihasilkan lewat masalah, penderitaan, kelemahan dan ujian iman.

Buah Roh adalah sesuatu yang tidak bisa DIPALSUKAN, karena tidak dihasilkan dari kemampuan natural manusia, melainkan karya Roh Kudus. Jadilah pohon yang menghasilkan buah yang asli, yang baik dan berkualitas. Jangan terkecoh dengan tampilan luar (karunia, kegiatan pelayanan, atau pengetahuan firman yang banyak), tapi dengan jujur minta Roh Kudus singkapkan keadaan manusia roh kita yang sebenarnya, supaya Ia dapat menolong serta memulihkan kita.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku:Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 7:21)

KEFASIKAN MENDATANGKAN HUKUMAN

KEFASIKAN MENDATANGKAN HUKUMAN

Senin: KEFASIKAN MENDATANGKAN HUKUMAN

Baca:  Roma 2:1-16

“Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,…murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.”  Roma 2:6, 8

Tuhan tidak pernah menutup mata untuk setiap perbuatan manusia, tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya,  “…sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.”  (Ibrani 4:13).  Orang-orang fasik mungkin bisa tertawa lebar, tapi tidak akan berlangsung lama.  “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya,”  (Galatia 6:7-8a).  Sesungguhnya sudah disediakan hukuman bagi orang fasik atau mereka yang berlaku jahat.

Menurut penglihatan mata jasmani, orang-orang fasik mungkin berkelimpahan materi, dan semua yang dikerjakannya tampak berjalan lancar tanpa aral.  Bukan hanya Asaf menghadapi pergumulan ini, nabi Yeremia pun sempat mengalaminya:  “Engkau memang benar, ya TUHAN, bilamana aku berbantah dengan Engkau! Tetapi aku mau berbicara dengan Engkau tentang keadilan: Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia? Engkau membuat mereka tumbuh, dan merekapun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah juga. Memang selalu Engkau di mulut mereka, tetapi jauh dari hati mereka.”  (Yeremia 12:1-2).

Mengapa seolah-olah Tuhan bermurah hati kepada orang fasik?  “Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?”  (Roma 2:4b).  Kemurahan hati Tuhan itu bertujuan memberi kesempatan kepada mereka agar berbalik dari jalan-jalannya yang jahat.  Namun banyak orang fasik yang tidak menyadari akan perbuatannya, bahkan kejahatan mereka semakin menjadi-jadi, padahal  “…oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan.”  (Roma 2:5).

“Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu.”  Mazmur 5:5


Selasa: KELEDAI: Lambang Kerendahan Hati
Baca: Matius 21:1-11

“Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: ‘Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!'” Matius 21:9

Keledai memiliki nama latin Equus africanus asinus dan termasuk keluarga Equidae atau kuda, tubuhnya lebih kecil, serta bertelinga agak panjang. Meski kecil keledai memiliki tenaga yang cukup kuat dengan pergerakan kaki yang cukup lincah, tapi berperangai agak bengal. Hal ini mungkin disebabkan oleh instingnya untuk melindungi diri yang sangat kuat; namun begitu manusia sudah berhasil menaklukkannya maka si keledai akan gampang menurut. Ukuran tubuh keledai sangat bervariasi tergantung jenisnya, dengan tinggi berkisar antara 79 cm hingga 160 cm. Usia harapan hidup keledai pekerja di negara berkembang sekitar 12 hingga 15 tahun, namun keledai yang hidup di negara maju dapat hidup hingga usia 30 bahkan 50 tahun.

Penggunaan keledai sebagai hewan tunggangan atau pengangkut beban sudah lazim di kalangan bangsa Israel, di mana para penggembara miskinlah yang lebih lazim menunggang keledai. Karena itu keledai terkesan sebagai sarana angkutan bagi rakyat kalangan bawah. Namun nabi Zakharia telah menubuatkan bahwa kedatangan Sang Mesias justru dengan mengendarai seekor keledai: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” (Zakharia 9:9). Ini sangat kontras sekali dengan pemimpin-pemimpin atau raja-raja dunia yang kebanyakan menunggang kuda perang sehingga menimbulkan kesan mewah, megah, gagah dan berkuasa. Tatkala memasuki kota Yerusalem Tuhan Yesus justru datang dengan mengendarai seekor keledai betina yang muda, jauh dari kesan megah dan mewah. Ini semakin menegaskan tentang prinsip kerendahan hati dan wujud kepedulian Kristus terhadap umat kalangan bawah.

Yesus Kristus rela meninggalkan kemuliaan sorgawi untuk datang ke dunia dengan satu misi yaitu membawa damai dan menyelamatkan orang-orang berdosa.


Rabu. KERAJAAN SORGA: Harta Yang Tak Ternilai (1)

Baca: Matius 13:44-46

“Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” Matius 13:46

Semua orang pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai dalam hidupnya: ada yang ingin menjadi kaya atau hidup berkecukupan, berhasil dalam studi, bisnis lancar, atau menempati jabatan atau posisi penting di sebuah instansi, dan masih banyak lagi. Untuk mencapai tujuan itu orang berjuang dan berusaha sedemikian rupa karena tahu bahwa hasil yang akan diperoleh ditentukan oleh usaha dan kerja keras yang dilakukan. Semakin giat orang berusaha semakin dekat kepada tujuan!

Sibuk mengejar perkara-perkara jasmani atau duniawi adalah sah-sah saja asalkan kita tidak melupakan perkara-perkara rohani yang tentunya jauh lebih berharga dan mulia. Karena itu harus ada keseimbangan di antara keduanya! Jangan sampai kita hanya bersemangat untuk mencari harta kekayaan duniawi yang hanya berlaku untuk kelangsungan hidup di dunia yang sifatnya sementara saja, sedangkan upaya untuk mencari harta terpendam (perkara rohani) kita tak punya gairah untuk melakukannya. Firman Tuhan sudah memperingatkan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Kerajaan Allah dan kebenarannya merupakan harta yang tak ternilai harganya yang patut diingini melebihi segala sesuatu yang ada di dunia ini. Kerajaan Allah dan kebenarannya hanya dapat kita peroleh jika kita mau membayar harga yaitu mengorbankan segala sesuatu yang dapat menghalangi kita untuk memilikinya, sepertinya dalam perumpamaan ini: “Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.” (Matius 13:44b). Kata menjual seluruh miliknya berarti mengalihkan perhatian dengan segenap hati dari segala perkara yang lain, fokus dan memusatkan seluruh hidup kepada “…perkara yang di atas, di mana Kristus ada,” (Kolose 3:1).

Apa yang menjadi fokus hidup Saudara saat ini? Harta yang terpendam atau mutiara yang berharga atau hal Kerajaan Allah dan kebenarannya adalah berbicara tentang takut akan Tuhan dan hikmat dari Tuhan untuk mengenal Dia lebih lagi.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Efesus 1:3


Kamis. KERAJAAN SORGA: Harta Yang Tak Ternilai (2)

Baca: Amsal 2:1-22

“jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.” Amsal 2:4-5

Untuk memperoleh harta kekayaan yang sifatnya fana kita rela bekerja membanting tulang siang dan malam. Demikian juga seharusnya kita lakukan untuk memperoleh ‘harta rohani’ yang jauh lebih bernilai dan berharga daripada harta yang ada di dunia ini. Karena itu “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (1 Tawarikh 16:11). Selagi kita masih sehat dan keadaan baik-baik jangan pernah sia-siakan waktu dan kesempatan yang ada. Sebagaimana kedisiplinan dibutuhkan dalam menunjang keberhasilan untuk mendapatkan hal-hal duniawi, maka kedisiplinan juga berlaku untuk perkara-perkara rohani.

Perlambang ‘Kerajaan Sorga dan kebenarannya seperti harta yang terpendam’ bermakna bahwa tidak semua orang menyadari akan keberadaan Kerajaan Sorga tersebut. Hanya orang yang mau berusaha, mau menggali atau mau mencari tahulah yang menyadari keberadannya. Orang ini digambarkan akan menjual segala miliknya, yaitu harta benda duniawinya yang dianggapnya tidak lagi berharga atau tidak sepadan nilainya bila dibanding dengan ‘harta rohani’ yang baru ditemukannya. Orang-orang yang berjerih lelah mencari perkara-perkara rohani atau mengutamakan Kerajaan Allah dan kebenarannya akan mendapatkan berkat yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak sungguh-sungguh atau lalai melakukannya, sebab “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,” (Amsal 14:23). Karena itu bangunlah kedisiplinan untuk mencari Tuhan dan membangun persekutuan dengan-Nya, “Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58b).

Harta rohani yang terpendam juga harus dicari dengan penuh ketekunan karena tidak ada istilah ‘instan’ di dalam Tuhan! Banyak orang awalnya begitu bersemangat mengejar ‘harta rohani’ tapi lama-kelamaan semangatnya menjadi pudar dan akhirnya tidak lagi bersungguh-sungguh. Itu artinya mereka tidak bertekun!

“Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.” 2 Timotius 1:14


Jumat. ORANG BENAR BERMASA DEPAN CERAH (1)
Baca: Yeremia 29:1-14

“Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan!” Yeremia 29:8

Punya masa depan yang cerah adalah harapan semua orang. Banyak orang merasa penasaran dan berusaha untuk mencari tahu bagaimana dan akan seperti apa masa depannya. Berbagai cara pun mereka lakukan: ada yang pergi ke toko buku mencari buku-buku yang mengupas tentang kiat-kiat meraih masa depan, ada yang nekat pergi ke dukun-dukun atau peramal, ada yang percaya pada tanda-tanda di tubuh seperti garis tangan atau tahi lalat, dan ada juga yang percaya pada ramalan bintang dan shio. Situasi yang demikian menjadi kesempatan emas bagi para nabi palsu, tukang-tukang tenung, dukun dan juru ramal untuk melancarkan aksinya. Berdasarkan pengalaman yang ada, ramalan tetaplah ramalan, tidak ada kebenarannya, “Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku. Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN.” (ayat 9).

Secara garis besar perjalanan hidup setiap orang melewati 3 fase waktu, yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang (masa depan). Setiap orang tentunya memiliki masa lalu yang berbeda-beda: manis, indah, suka, duka, pahit, getir, kelam, dihiasi keberhasilan atau mungkin penuh dengan kegagalan. Tak bisa dipungkiri bahwa masa lalu seseorang dapat mempengaruhi kehidupannya di masa sekarang, namun kehidupannya di masa depan sesungguhnya tidak ditentukan oleh masa lalu, tapi sangat ditentukan oleh kehidupannya di masa sekarang. Ada orang yang punya masa lalu sangat buruk (kelam), namun ketika ia membuat keputusan untuk hidup berubah, mengikuti jalan Tuhan dan senantiasa mengandalkan-Nya, hidupnya pun dipulihkan dan beroleh masa depan yang baik. Namun sebaliknya, ada orang-orang yang punya masa lalu yang begitu baik, tapi begitu ia mulai hidup sembrono, tidak takut akan Tuhan, hidup menyimpang dari kebenaran firman-Nya, perlahan tapi pasti grafik kehidupannya bukan semakin naik tapi malah semakin merosot dan akhirnya menuju kepada kehancuran.

Jangan pernah membangga-banggakan masa lalu, yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani hidup di masa sekarang! (Bersambung)


Sabtu. ORANG BENAR BERMASA DEPAN CERAH (2)

Baca: Amsal 23:9-18

“…tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 23:17-18

Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak perlu risau dan kuatir memikirkan masa depan kita karena ada janji Tuhan kepada umat-Nya, yaitu kepastian akan masa depan yang cerah seperti tertulis: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Pernyataan sungguh ada dan tidak hilang di ayat nas di atas adalah sebagai penegasan bahwa masa depan itu adalah sesuatu yang pasti, bukan pernyataan meninabobokan, sekedar hiburan atau basa basi.

Untuk menjadikan masa depan cerah sebagai milik yang pasti kita harus memperhatikan bagaimana hidup kita di masa sekarang ini, bukan terpaku atau berorientasi pada masa lalu. Jadikan masa lalu hanya sebagai pembelajaran, bahan evaluasi, atau guru yang terbaik, ambil yang positifnya saja. Kita patut meneladani rasul Paulus yang berkata, “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14). Dengan kata lain apa yang kita lakukan di masa sekarang inilah yang menentukan akan seperti apa masa depan kita nanti. Janji masa depan yang cerah adalah pasti bagi orang yang takut akan Tuhan atau hidup dalam kesalehan. Hidup takut akan Tuhan menunjuk kepada rasa hormat kepada Tuhan. Wujud rasa hormat itu adalah melalui ketaatan kita melakukan firman Tuhan. “TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya; TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;” (Mazmur 37:18, 23).

Karena itu jangan hanya bermimpi tentang masa depan cerah, tapi kita harus mengupayakannya! Kita harus percaya dan mengimani bahwa masa depan itu sungguh ada, dan kita pun harus merealisasikan masa depan itu menjadi kenyataan. Kita harus ingat bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati! (baca Yakobus 2:17).

Takut akan Tuhan adalah kunci utama meraih masa depan cerah!


Minggu. DI BALIK TANTANGAN BESAR: Ada Berkat Besar (1)

“…tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amsal 23:17-18

Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak perlu risau dan kuatir memikirkan masa depan kita karena ada janji Tuhan kepada umat-Nya, yaitu kepastian akan masa depan yang cerah seperti tertulis: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Pernyataan sungguh ada dan tidak hilang di ayat nas di atas adalah sebagai penegasan bahwa masa depan itu adalah sesuatu yang pasti, bukan pernyataan meninabobokan, sekedar hiburan atau basa basi.

Untuk menjadikan masa depan cerah sebagai milik yang pasti kita harus memperhatikan bagaimana hidup kita di masa sekarang ini, bukan terpaku atau berorientasi pada masa lalu. Jadikan masa lalu hanya sebagai pembelajaran, bahan evaluasi, atau guru yang terbaik, ambil yang positifnya saja. Kita patut meneladani rasul Paulus yang berkata, “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14). Dengan kata lain apa yang kita lakukan di masa sekarang inilah yang menentukan akan seperti apa masa depan kita nanti. Janji masa depan yang cerah adalah pasti bagi orang yang takut akan Tuhan atau hidup dalam kesalehan. Hidup takut akan Tuhan menunjuk kepada rasa hormat kepada Tuhan. Wujud rasa hormat itu adalah melalui ketaatan kita melakukan firman Tuhan. “TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya; TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;” (Mazmur 37:18, 23).

Karena itu jangan hanya bermimpi tentang masa depan cerah, tapi kita harus mengupayakannya! Kita harus percaya dan mengimani bahwa masa depan itu sungguh ada, dan kita pun harus merealisasikan masa depan itu menjadi kenyataan. Kita harus ingat bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati! (baca Yakobus 2:17).

Takut akan Tuhan adalah kunci utama meraih masa depan cerah!

JADIKAN MURID – bagian 2

JADIKAN MURID – bagian 2

(Kehidupan yang diperbarui Roh Kudus akan menghasilkan BUAH ROH/Transforming Life)

Sekilas review:
Hidup yang berbuah merupakan suatu ketetapan Tuhan buat setiap orang percaya (Yohanes 15:16). Buah adalah hasil hidup kita yang bisa dinikmati orang lain. Ukurannya bukan apa yang kita kira/pikir/rasa, tapi apa yang orang lain alami dari kita.

Sambungan minggu ini:

• Buah Roh TUMBUH DARI KEINTIMAN dengan Roh Kudus, TIDAK DIPAKSAKAN.
…Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil (Maz. 1:3).

• Cara satu-satunya untuk menghasilkan buah Roh adalah TERHUBUNG dengan POKOK ANGGUR YANG BENAR, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:4–5)

Terhubung artinya DENGAN SENGAJA mengkhususkan WAKTU di hadirat Tuhan (saat teduh, berdoa,memuji menyembah, merenungkan Firman) secara konsisten – sebagai lifestyle termasuk hari kerja/hari libur/weekend/sedang vacation:

– Memuji menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran: dengan segenap hati dan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) yang ditundukkan kepada kebenaran Allah.
– Berdoa: bukan hanya menyampaikan sederet permohonan, tapi belajar memberi ruang/waktu untuk Tuhan bicara: menegur akan sesuatu yang salah; menyingkapkan adanya ketidakbenaran dalam hati; mengingatkan firman, mengarahkan atau menyampaikan sesuatu bagi kita secara pribadi (ingat: doa = berkomunikasi dua arah).
– Merenungkan firman Tuhan, mencatat firman rhema (firman yang dihidupkan) serta hikmat/pewahyuan yang diberikan oleh Roh Kudus.

• Namun tidak hanya sebatas itu, disela-sela kesibukan/aktivitas kita sehari-hari (mis. sewaktu mengemudi mobil, sedang membereskan rumah, sedang menunggu bus, sedang dalam train, dlsb.) — hati yang haus dan lapar akan terus melekat pada Tuhan merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan dan FirmanNya senan

MASALAH: Saya sudah berdoa, tahu firman, tetapi mengapa sering gagal/masih jatuh di area yang sama dan belum berubah?
Ada 2 kelompok penyebab kegagalan:

1. Benih yang jatuh di tanah berbatu: mendengar firman dan menerimanya dengan sukacita, akan tetapi gagal untuk tetap tinggal dalam firman jika mengalami tantangan karena tidak berakar.

– Contoh yang paling sering terjadi: Secara teori sudah tahu bahwa kita wajib mengampuni; jangan menyimpan kepahitan; masalah besar dikecilkan, masalah kecil ditiadakan. Tahu bahwa kepahitan adalah dosa yang meracuni seluruh aspek kehidupan, dan harus dibuang. Kita tahu dan menerima kebenaran tersebut dengan sukacita.

– Akan tetapi, pada praktiknya, ketika ada seseorang melakukan kesalahan, iblis menyerang pikiran dengan pikiran negatif yang membangkitkan amarah, prasangka buruk, merasa jadi korban, dsb. Bukannya menolak panah api/pikiran tersebut, kita malah memikirkan/merenungkannya! Inilah yang dinamakan gagal untuk tetap tinggal/konsisten dalam firman jika mengalami tantangan. Mudah menyerah karena tidak berakar.

– Akibatnya, jadi kehilangan damai sejahtera/sukacita, kehilangan kasih dan belas kasihan, sakit hati, self-pity, tidak bisa/salah berdoa, ingin balas dendam dan melukai orang lain dengan hal yang sama, menghasut dan mencemarkan banyak orang dengan kepahitan kita, mengadu domba, dlsb. BACA YAKOBUS 4:1-3.

2. Benih yang jatuh di semak duri: mendengar firman, lalu kekuatiran dunia, tipu daya kekayaan, dan keinginan duniawi menghimpit firman sehingga tidak berbuah.

– Contoh: Tahu firman carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan (Mat. 6:33). Namun, saat ada tawaran kerja yang menggiurkan di waktu yang bersamaan dengan waktu ibadah hari Minggu, lebih memilih bekerja dan meninggalkan ibadah. Pikirnya Tuhan pasti mengerti, sebab bulan ini pengeluaran sedang banyak, jadi butuh pemasukan ekstra. Ini namanya kekuatiran dan tipu daya kekayaan menghimpit firman (Mat. 6:33). Lebih setia kepada pekerjaan daripada kepada Tuhan.

Refleksi diri sendiri: apa yang HILANG dalam hidup kita? …Kasih? Belas kasihan? Damai sejahtera? Kesetiaan? Penguasaan diri?

SOLUSI:
• Berakar dalam kasih Kristus (Kolose 2:6-8). Jadi bukan hanya terhubung dengan Pokok Anggur, tapi berakar ke bawah: punya kualitas hubungan yang dalam dan kuat dengan Yesus Kristus sebagai fondasi hidup. Ini bicara tentang ketergantungan penuh kepada pimpinan Roh Kudus yang memampukan kita untuk konsisten/berkomitmen/mendisiplinkan diri, taat dan hidup dalam pertobatan. Ini semua membuat iman kita makin kuat, tidak mudah goyah oleh tantangan/masalah/rupa-rupa angin pengajaran, dan menghasilkan buah.
• Jangan mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya (1 Yoh. 2:15-17). Hiduplah oleh Roh, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup.

PENUTUP
Murid Kristus harus berketetapan hati untuk punya komitmen, kedisiplinan rohani, dan bersikap konsisten untuk tetap terhubung dengan Pokok Anggur Yang Benar. Murid yang terhubung pasti (tidak dipaksakan) akan berakar, bertumbuh dan menghasilkan buah yang banyak bagi kemuliaan Bapa.

MANUSIA JATUH KE DALAM DOSA

MANUSIA JATUH KE DALAM DOSA

Senin. MANUSIA JATUH KE DALAM DOSA

Baca: Kejadian 3:1-24
“Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil.” Kejadian 3:23

Berfirmanlah Allah kepada manusia, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16-17). Allah melarang manusia memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat, sebab jika mereka memakannya seketika itu juga mereka akan mati.

Yang dimaksudkan ‘mati’ di sini bukan mati secara jasmaniah tapi mati secara roh. Iblis mengetahui kebenaran ini, sehingga dengan segala tipu muslihatnya, ia masuk ke taman Eden dalam bentuk ular, “Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat…” (Kejadian 3:1). Dengan sedikit memelintir firman Iblis berkata kepada Hawa, “‘Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.'” (Kejadian 3:4-5). Hawa termakan oleh tipuan Iblis sehingga hatinya menjadi ragu dan bimbang terhadap firman. “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” (Kejadian 3:6). Firman Allah itu bukan untuk diragukan, dipertanyakan, atau diperdebatkan, melainkan hanya untuk ditaati sepenuhnya. Adam dan Hawa telah melanggar apa yang difirmankan Allah dan membiarkan dirinya dalam jerat Iblis. Jatuhlah manusia pertama itu dalam dosa!

Karena pemberontakkannya ini (berdosa) manusia harus menanggung akibatnya: “TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden…” (Kejadian 3:23) dan harus mengalami berbagai penderitaan dan pada akhirnya mati. “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Roma 5:12).

Karena satu orang telah berbuat dosa maka semua orang hidup di bawah hukum dosa dan terpisah dari Allah!


Selasa. KEMATIAN KRISTUS: Menggantikan Kita

Baca:  Roma 6:1-14

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.”  Roma 6:6

Jumat Agung merupakan momen agung di dalam sejarah, di mana Tuhan yang menjadi manusia rela disalibkan dan mati demi menebus dosa semua manusia.  Di dalam salib ada penebusan Kristus yang memperdamaikan dan meredakan murka Allah.  “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”  (Roma 6:23).

Maut berbicara tentang kematian kekal yaitu penderitaan tiada akhir.  Maut tidak bisa ditukar atau digantikan dengan ibadah, perbuatan baik, amal dan sebagainya.  Maut hanya bisa dibayar dengan nyawa!  Sesungguhnya kematian adalah bagian kita sebagai orang berdosa,  “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,”  (Roma 3:23).  Namun Yesus berkata,  “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”  (Lukas 19:10).  Untuk menyelamatkan manusia yang terhilang  (berdosa)  Yesus harus mati untuk itu.  Penderitaan dan kematian yang seharusnya kita tanggung ditanggung-Nya di atas kayu salib.  “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”  (2 Korintus 5:21).  Tanpa melalui pengorbanan Kristus kita tak beroleh jalan masuk menuju kehidupan kekal, semua karena kasih karunia Allah semata yang rela memberikan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, mati bagi kita, Dialah jalan keselamatan dan pengantara kita.  “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,”  (1 Timotius 2:5).

Bagi kebanyakan orang berita penebusan Kristus di kayu salib adalah suatu kebodohan  (baca  1 Korintus 1:18), bagaimana mungkin Tuhan disalibkan oleh manusia ciptaan-Nya.  Kalau Kristus itu Tuhan seharusnya Ia bisa membuktikan kuasa-Nya dengan meloloskan diri dari penyaliban.  Yesus bisa saja menyelamatkan diri dari penyaliban, tapi bukan itu yang menjadi misi kedatangan-Nya ke dunia ini!

“…Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”  Matius 20:28


Rabu. PENDERITAAN KRISTUS DI KAYU SALIB

Baca: Yohanes 19:28-37

“Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.”  Yohanes 19:30

Penderitaan yang tiada terbayangkan dirasakan oleh orang yang mengalami penghukuman di kayu salib.  Karena ketika orang dalam posisi tergantung sedikit saja bergerak akan menimbulkan sakit yang luar biasa.  Dikenal ada dua cara untuk menyalibkan orang yaitu diikat memakai tali dan dipaku.  Tuhan Yesus kemungkinan mengalami kedua cara itu!  Ketika Tomas berkata,  “‘Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.'”  (Yohanes 20:27), berkatalah Tuhan Yesus kepadanya:  “‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.'”  (Yohanes 20:27).

Secara medis jika orang digantung dengan kedua tangan terangkat ke atas, maka darahnya akan dengan cepat mengalir turun ke bagian bawah tubuhnya.  Diperkirakan antara 6 sampai 12 menit tekanan darahnya akan turun menjadi separuhnya, sementara denyut jantung akan meningkat dua kali lipat.  Jantung akan kekurangan darah dan segera diikuti dengan pingsan.  Hal ini akan memicu kematian karena gagal jantung.  Namun apabila orang yang disalibkan belum mati dalam 2 atau tiga hari kemudian mereka akan dipercepat dengan cara crucifragium atau pematahan kaki.  “…tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,”  (Yohanes 19:33).  Artinya Tuhan Yesus tidak sempat dipatahkan kaki-Nya karena Ia telah mati terlebih dahulu beberapa jam setelah disalibkan.

Fakta ini semakin menegaskan bahwa Tuhan Yesus benar-benar mati di kayu salib,  “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,”  (1 Korintus 15:3).  Dan bukan kebetulan jika Tuhan Yesus disalibkan di antara dua orang penjahat yang adalah gambaran keberadaan manusia yang berdosa.

“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”  Lukas 5:32


Kamis. KEBANGKITAN KRISTUS: Esensi Iman Kristen

Baca: 1 Korintus 15:1-11

“bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;”  1 Korintus 15:4

Kekristenan sejati mengajarkan bahwa Kristus benar-benar mati secara fisik di kayu salib untuk membayar penghukuman atas dosa.  Artinya Kristus benar-benar mencurahkan darah-Nya secara nyata untuk menyucikan dosa-dosa.  Jadi kematian Kristus adalah kenyataan, bukan dogeng atau legenda!  Akan tetapi kematian Kristus di kayu salib tidak akan menghasilkan apa pun, tidak akan berdampak apa-apa, jika Ia sendiri tidak bangkit.

Kebangkitan-Nya di hari ke-3 adalah bukti bahwa Ia telah mengalahkan kuasa dosa, Iblis dan juga maut.  “…maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: ‘Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?’ Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”  (1 Korintus 15:54-57).  Iman Kristen adalah iman yang berdiri atas kebangkitan Kristus!  Inilah yang membedakan kekristenan dengan kepercayaan atau agama apa pun yang ada di dunia ini.  Rasul Paulus berkata,  “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.”  (1 Korintus 15:14).  Andaikata Kristus tidak bangkit dari kematian maka kita tetap hidup dalam dosa,  “Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.”  (1 Korintus 15:18).  Tetapi yang benar adalah bahwa  “…Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.”  (1 Korintus 15:20-21).

Kuasa kebangkitan Kristus inilah yang memberikan kekuatan dan keberanian dalam diri Yohanes dan juga Petrus untuk bersaksi di hadapan Mahkamah Agama bahwa keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia  (baca  Kisah 4:11-12).  Dan karena Kristus telah bangkit kita orang percaya memiliki jaminan keselamatan dan pengharapan masa depan yang baik dari Tuhan.

Kebangkitan-Nya adalah bukti bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat!


Jumat. UMAT TEBUSAN TUHAN: Mengabdi Kepada Tuhan (1)

Baca:  Yesaya 62:10-12
“Orang akan menyebutkan mereka ‘bangsa kudus’, ‘orang-orang tebusan TUHAN’, dan engkau akan disebutkan ‘yang dicari’, ‘kota yang tidak ditinggalkan.'”  Yesaya 62:12

Ditebus oleh darah Kristus artinya hidup kita sepenuhnya menjadi milik Tuhan, kita tidak boleh merasa berhak memiliki hidup ini.  Inilah pernyataan Paulus,  “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”  (Galatia 2:19b-20).  Dengan demikian apa pun yang kita jalani sekarang bukan lagi menurut kehendak diri sendiri melainkan menurut apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Apa kehendak Tuhan?  Menempatkan-Nya sebagai yang terutama dalam hidup ini, sehingga segala sesuatu yang kita kerjakan semata-mata berorientasi untuk kemuliaan nama-Nya.  Ingatlah bahwa di dunia ini status kita hanyalah sebagai pendatang, artinya dunia bukanlah tempat yang permanen untuk kita tinggali melainkan hanya sebagai tempat persinggahan sementara.  Jika menyadari hal ini, maka kita tidak akan mengikat diri dengan segala perkara yang ada di dunia ini.  “Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.”  (Yakobus 4:4).  Jika kita bersahabat dengan dunia berarti kita sedang memposisikan diri sebagai musuhnya Tuhan, karena dunia adalah umpan yang digunakan Iblis untuk menjerat manusia agar tidak bisa mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan melainkan mengutamakan kepentingan diri sendiri dan mengejar kesenangan duniawi.

Ada tertulis:  “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”  (Matius 6:19-20).  Jangan sampai perkara-perkara yang ada di dunia ini semakin menarik kita menjauh dari kehendak Tuhan!

Status kita adalah umat tebusan Tuhan, di mana kita dipanggil untuk menundukkan diri penuh tanpa syarat hanya kepada-Nya, yang telah menebus kita!


Sabtu. UMAT TEBUSAN TUHAN: Mengabdi Kepada Tuhan (2)

Baca:  Markus 10:17-27

“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”  Markus 10:25

Semakin kita memusatkan perhatian kepada kesenangan dan kenikmatan hidup di dunia, semakin kecil kesempatan kita untuk menikmati hidup yang sesungguhnya di kekekalan bersama Kristus,  “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?”  (Matius 16:26).  Karena itu jangan pernah sia-siakan kesempatan yang ada untuk mengejar perkara-perkara rohani lebih dari apa pun.  Tidak menghargai kesempatan berarti kita tidak menghargai Tuhan yang memberi kesempatan.  Orang yang tidak mau kehilangan kesenangan dan kenikmatan daging atau hal-hal yang duniawi akan kehilangan hari esok di dalam kekekalan.  Mana yang Saudara pilih?

Musa menyatakan ini,  “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun,”  (Mazmur 90:10).  Tujuh puluh atau delapan puluh tahun haruslah dianggap sebagai persinggahan sementara.  Karena itu kita tidak boleh bersikap seolah-olah kita akan menetap selama-lamanya di bumi ini.  Biarlah waktu yang terbatas ini kita jadikan kesempatan untuk mengumpulkan harta sorgawi sebanyak-banyaknya!  Banyak orang menganggap bahwa yang paling berharga dalam hidup ini adalah uang, deposito di bank, rumah megah, mobil, aset perusahaan, jabatan dan sebagainya, karena pikirnya memiliki semua itu menjadi jaminan bahwa hidupnya akan nyaman, aman dan berbahagia.  Wajarlah jika mereka akan berpikir 1000X jika harus melepaskannya.  “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”  (Matius 6:21).  Harta kekayaan jika tidak dikelola dengan benar dan dengan sikap hati yang benar bisa menjadi jerat dan membinasakan, sama seperti api, bisa menjadi teman atau lawan.

Namun harus diakui bahwa semakin banyak kita memiliki segala sesuatu semakin berat bagi kita untuk merelakan atau melepaskannya.  Rasul Paulus memperingatkan agar kita tidak berharap kepada sesuatu yang tidak pasti, seperti kekayaan  (baca  1 Timotius 6:17).  Inilah tipu muslihat Iblis untuk membuat manusia terikat begitu rupa dengan segala sesuatu yang ada di dunia ini sehingga tidak lagi mengutamakan Tuhan!

“Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”  Matius 16:19


Minggu. KEMUJURAN ORANG FASIK HANYA SESAAT

Baca: Mazmur 73:1-28

“Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau.”  Mazmur 73:27

Asaf adalah keturunan dari suku Lewi yang bertugas sebagai pelayan pujian di hadapan tabut Tuhan dan kepala paduan suara pada zaman raja Daud  (baca  1 Tawarikh 16:4-5).  Mazmur 73 ini berisikan tentang pergumulan hidup yang dialami oleh Asaf ketika melihat keberadaan orang-orang fasik yang secara kasat mata tampak lebih mujur hidupnya dibandingkan dengan mereka yang hidup takut akan Tuhan.  “Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain…mereka menambah harta benda dan senang selamanya!”  (ayat 4, 5, 12).  Ini menimbulkan kegundahan dalam diri Asaf sehingga ia sempat complain kepada Tuhan mempertanyakan keadilan-Nya.  “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.”  (ayat 13-14).  Kesalehan hidup itu sepertinya sia-sia dan tak berguna.  Benarkah?

Ketahuilah bahwa kemujuran orang fasik itu tidak untuk selama-lamanya, hanya sesaat selama hidup di dunia, alias semu.  “Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.”  (Mazmur 37:10).  Karena itu Daud mengingatkan,  “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.”  (Mazmur 37:1-2).  Sesulit apa pun situasinya biarlah kita tetap mengerjakan bagian kita yaitu hidup benar di hadapan Tuhan dan senantiasa tinggal dekat Dia, di situlah letak kekuatan orang percaya, sebab siapa yang jauh dari Tuhan akan mengalami kebinasaan  (ayat nas).

Akhirnya Asaf pun menyadari bahwa tidak selayaknya ia merasa cemburu dan iri hati dengan kehidupan orang-orang fasik.  Jadi tidak ada kata rugi atau sia-sia mempertahankan hidup benar, sebab pada saatnya Tuhan pasti akan membuat perbedaan!  Ketidaktaatan pasti akan mendapatkan balasan, dan  “…ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi.”  (Mazmur 58:12).

Tuhan selalu ada di pihak orang benar, karena itu kita tak perlu kuatir!

JADIKAN MURID

JADIKAN MURID

(Kehidupan yang diperbarui Roh Kudus akan menghasilkan BUAH ROH/Transforming Life)

PENDAHULUAN

Orang percaya yang hidupnya benar di hadapan Tuhan pasti menghasilkan buah—dan buah itu berdampak bagi orang lain.

ISI

Mazmur 1:1-3 menggambarkan kehidupan orang percaya yang memilih untuk merenungkan firman Tuhan: ia seperti sebuah pohon yang ditanam di tepi aliran air kehidupan (Roh Kudus/Roh Kebenaran), kemudian bertumbuh dan menghasilkan buah pada musimnya; apa saja yang diperbuatnya akan berhasil/menghasilkan buah.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya;  apa saja yang diperbuatnya berhasil.

  • Hidup yang menghasilkan buah merupakan suatu ketetapan Tuhan buat setiap orang yang sudah lahir baru (Yohanes 15:16). SETIAP KITA WAJIB BERTUMBUH (ini merupakan proses seumur hidup).
  • Pohon yang berakar dan sehat akan menghasilkan buah. Orang percaya yang berakar dan memiliki iman yang sehat akan menghasilkan buah setelah menerima pertumbuhan dari Roh Kudus.
  • Buah adalah hasil hidupmu yang bisa dinikmati orang lain. Kalau buahmu tidak bisa dinikmati orang lain, kemungkinan itu bukan buah Roh, tapi ilusi rohani.

Contoh: Kalau kamu mau mengasihi tapi sering melukai orang di sekitarmu.
Kamu mau jadi pembawa damai, tapi kamu mudah marah dan mengadu domba. Jadi, ukurannya bukan apa yang kamu kira/pikir/rasa, tapi apa yang orang lain alami darimu.

Dinikmati di sini maksudnya:

  • Sebagai ‘buah’: dapat menolong/membantu mengatasi masalah orang lain,
  • Sebagai ‘benih’: sesuatu yang dapat diajarkan kepada orang lain (bukan cuma informasi/teori/pengetahuan saja, tapi pengajaran yang disertai buah sebagai bukti valid pengajarannya).
  • Banyak kegagalan rohani bukan karena tidak tahu firman, tetapi karena tidak bisa taat untuk tetap tinggal dalam firman.
  • Buah Roh (Gal. 5:22-23) merupakan tanda pertobatan sejati yang dihasilkan dari keintiman dengan Roh Kudus.
  • Buah Roh adalah hasil transformasi supranatural yang progresif oleh Roh Kudus dalam diri orang percaya yang berserah, jadi bukan hasil usaha manusia. Meski ada sembilan, namun buah Roh merupakan suatu kesatuan terpadu. Rasul Paulus menyebutnya dengan Buah Roh (tunggal), bukan buah-buah Roh (jamak). Penguasaan diri adalah penentu dari semua sifat buah Roh.
  • Buah Roh berbeda dengan karakter/watak natural yang merupakan bawaan lahir, didikan atau hasil pembentukan lingkungan. Buah Roh mencerminkan karakter Kristus, sementara watak/temperamen natural merupakan sifat bawaan lahir yang cenderung dipengaruhi oleh tabiat manusia berdosa.
  • Buah Roh menghasilkan karakter Kristus yang stabil dan melampaui kemampuan natural manusia; sementara watak/temperamen natural bisa tampak baik secara moral, namun tidak memiliki kuasa ilahi dan dapat gagal di bawah tekanan.
  1. Kasih: Kasih ilahi yang memberi tanpa pamrih, tidak bertujuan mencari kepentingan diri sendiri, melainkan kebaikan bagi orang lain. Kasih memiliki cakupan luas sekali; buah dari kasih mengacu pada 1 Korintus 13:4-8. Kasih bukan sekadar perasaan, tapi perilaku kita terhadap sesama yang dilakukan berdasarkan kebenaran.
  2. Sukacita: kegembiraan (joy) yang mendalam yang timbul dari hubungan pribadi kita dengan Allah. Kegembiraan yang berlandaskan kasih, kasih karunia, berkat, janji, dan kehadiran Allah dalam hidup kita.
  3. Damai sejahtera: ketenangan batin/kesejahteraan jiwa  yang didasarkan atas pengampunan Tuhan, dihasilkan dari kebenaran.
  4. Kesabaran: sikap pengendalian diri yang menolak untuk membalas kejahatan dengan kejahatan; tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah; tekun; tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu.
  5. Kemurahan: keramahtamahan, kebaikan hati, suka memberi, tidak mau menyakiti orang lain, mudah mengampuni.
  6. Kebaikan: ketulusan jiwa yang membenci kejahatan, motif dan perilaku yang baik. Sikap ini adalah kelanjutan dari sikap kemurahan.
  7. Kesetiaan: dapat dipercaya dan diandalkan untuk suatu tanggung jawab, tetap bertahan dalam iman dalam berbagai pencobaan.
  8. Kelemahlembutan: pengekangan yang berpadu antara kekuatan dan kerendahan hati. Tunduk pada kehendak Allah, hati yang mau diajar/mudah dibentuk, sering kali dianggap merupakan suatu bentuk kelemahan, padahal merupakan kekuatan karakter.
  9. Penguasaan diri: menguasai keinginan dan hawa nafsu diri sendiri (makan, seks, uang, kecanduan, amarah/emosi).
  • Setelah mengetahui buah Roh di atas, periksa diri sendiri : Apakah ada buah Roh yang dihasilkan dari hidup kita?

Bersambung ke bagian ke-2

DIBERI KUASA UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

DIBERI KUASA UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

PENDAHULUAN

Kita yang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup dalam perbudakan yang menghasilkan ketakutan. Kita adalah ciptaan baru—dipulihkan, diangkat, dan diberi kuasa oleh Roh Kudus untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Karya salib Kristus memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang terputus akibat dosa—mengubah posisi manusia dari yang tadinya musuh, kemudian diadopsi menjadi anak-anak Allah. Hubungan kita dengan Allah adalah layaknya anak dan bapak, yang didasari oleh kasih, keintiman, rasa hormat, hati nurani yang murni dan iman yang tulus.

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak-anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. (Roma 8:15-16).

ISI

Masalah

Pada kenyataannya, banyak kita yang masih terbelenggu oleh roh perbudakan. Kita perlu belajar mengenali ciri roh perbudakan agar timbul self-awareness, hidup dalam pertobatan, dipulihkan oleh kuasa Roh Kudus dan menjadi anak-anak Allah yang merdeka.

1.  Orphan spirit (roh Yatim Piatu) -> Suatu pola pikir atau mental yang berakar pada ketakutan, penolakan, dan mengandalkan diri sendiri.

Ciri-cirinya:

  • Menjalani hidup layaknya anak yatim, sukar menerima kasih Bapa ataupun merasa aman sebagai bagian dari keluarga Allah (gereja lokal/Cool), sehingga ia merasa harus berjuang dengan cara/kekuatan sendiri.
  • Sukar membangun hubungan dan rasa percaya (trust) kepada Tuhan/orang lain, yang berujung pada perasaan ditinggalkan, ditolak, tidak berharga, dan ketidakpercayaan (mistrust).
  • Memandang teguran/koreksi sebagai penolakan/hukuman.
  • Berorientasi pada performa/kinerja: berusaha keras mendapatkan penerimaan/pengakuan melalui kegiatan pelayanan atau jasa yang sudah dilakukan. Apa yang dilakukan lahir dari rasa takut, rasa tidak aman, dan kebutuhan untuk mendapatkan kasih Allah melalui perbuatan.
  • Perfeksionis: lebih mengejar kesempurnaan daripada mengandalkan kasih karunia Allah.
  • Lebih mengejar karunia, nubuatan, panggilan, atau pelayanan yang dikenal orang daripada keintiman dengan Tuhan.
  • Berusaha menjadi pelaku firman atau melayani menurut pikiran dan cara sendiri, tanpa mengandalkan kuasa Roh Kudus.
  • Mementingkan perkenanan manusia daripada perkenanan Tuhan.

Pola pikir orang yang dibelenggu roh yatim piatu harus dipulihkan dengan pemahaman yang benar akan identitasnya sebagai ciptaan baru dalam Kristus: yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang (2 Kor. 5:17). Perlu pembaruan akal budi dengan Firman Tuhan yang adalah kebenaran. Jika akal budi telah mengalami pembaruan, Roh Kudus secara aktif berkarya memulihkan hati/jiwa serta membawanya hidup dalam kemerdekaan sebagai anak-anak Allah. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu (Yohanes 14:18).

2. Legalistic spirit (law-based living) -> Sikap kepatuhan yang kaku dan berlebihan terhadap aturan/peraturan/hukum/tradisi.

Ciri-cirinya:

  • Kesombongan: perasaan superioritas spiritual terhadap mereka yang tidak mengikuti aturan-aturan ketat yang sama.
  • Berorientasi pada perbuatan: keyakinan bahwa penerimaan oleh Tuhan diperoleh melalui ritual agamawi, atau perilaku moral yang Semakin ketat peraturan yang dibuat, merasa semakin saleh lebih dari yang lain.
  • Suka mencari pembenaran diri, gengsi untuk mengakui kelemahan/kesalahannya di depan orang lain, berlaku munafik.
  • Tidak hidup dalam kasih karunia Allah; hanya berfokus pada penampilan religius, bukannya integritas hati dan transformasi batin.
  • Pengetahuan firman ditafsirkan menurut pengertian sendiri untuk menuding/menghakimi orang lain yang tidak hidup menurut standarnya. Pengetahuan firman tanpa kasih = kesombongan; pengetahuan firman disertai kasih = membangun manusia roh.
  • Menggantikan sukacita akan kasih karunia dengan tekanan ketakutan, perasaan tidak layak (never good enough mentality), atau ketaatan yang obsesif terhadap aturan.

Solusi

  • Di dalam Kristus, hubungan kita dengan Bapa adalah seperti hubungan anak dan bapa yang berlandaskan kasih, keintiman, rasa hormat, hati nurani yang murni dan iman yang tulus.
  • Kunci untuk bebas dari roh perbudakan:
  • Tinggal dalam kasih Kristus (Yohanes 15:9). Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Ketakutan mengandung hukuman, dan jika kita takut, kita tidak sempurna di dalam kasih.
  • Tinggal dalam kasih Kristus artinya melakukan perintah-Nya (Yoh. 15:10). Untuk mampu melakukan perintah-Nya: hiduplah dipimpin Roh Kudus. Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14).
  • Orang yang hidup dipimpin Roh Kudus akan terus membarui akal budi dengan firman, melakukan pemberesan hati, hidup dalam pertobatan, dan berjalan dalam kasih karunia (bergantung penuh pada Roh Kudus).

PENUTUP

Roh Kudus diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah yang hidup dalam kemerdekaan. Roh perbudakan mendatangkan rasa takut, Roh Kudus memberikan kekuatan, kasih, dan ketertiban (2 Timotius 1:7). Dengan empowerment dari Roh Kudus, kita bisa melaksanakan Amanat Agung: membawa orang-orang kepada Kristus serta memuridkan, supaya nantinya mereka juga bisa memuridkan orang lain, demikian seterusnya.

TUHAN ADALAH SUMBER KESELAMATAN KITA

TUHAN ADALAH SUMBER KESELAMATAN KITA

PERTOLONGAN TERHADAP LAWAN
Baca: Mazmur 108:1-14

“Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sia penyelamatan dari manusia.”  Mazmur 108:13

Perjalanan hidup yang kita tempuh selama hidup di dunia ini tidaklah selalu berupa jalan yang mulus, ada kalanya kita menghadapi ujian dan rintangan.  Terkadang langkah kaki kita tersandung dan terkadang pula ada jegalan-jegalan dari lawan yang berusaha untuk menjatuhkan.  Kita tidak perlu terkejut akan hal ini, karena hampir semua orang pasti pernah mengalaminya.

Yang disebut lawan di dalam Alkitab ada dua macam, satu pihak adalah Iblis yang merupakan lawan utama, sedangkan yang lain adalah manusia, yang memusuhi dan berusaha untuk menjatuhkan serta menghancurkan.  Mereka memposisikan sebagai oposisi dan berusaha untuk merintangi lingkup gerak kita.  Tak terkecuali raja Daud yang juga harus menghadapi lawan-lawan di sepanjang hidupnya.  Manusia-manusia yang menjadi lawan Daud adalah manusia-manusia yang hatinya dipengaruhi oleh Iblis.  Bagaimana sikap orang percaya ketika berada di situasi sulit seperti ini?  Kita tak perlu panik dan berusaha menyingkirkan lawan dengan kekuatan sendiri.  Serahkanlah semua itu kepada Tuhan melalui doa, karena Dia adalah Hakim yang adil.  Kita dapat berdoa memohon kemenangan dan pembelaan dari Tuhan seperti Daud berdoa  (ayat nas).

Jangan sekali-kali kita menaruh harap atau mencari pertolongan kepada manusia!  “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.”  (Yesaya 31:1).  Selama kita masih mencari pertolongan kepada manusia kita meremehkan kuasa Tuhan dan menempatkan Dia hanya sebagai alternatif.  Berbeda dengan Daud yang dengan sepenuh hati bersandar dan berharap hanya kepada Tuhan.  “Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.”  (Mazmur 108:14).

Saat takut, percayalah hanya kepada Tuhan, karena pada saat yang tepat Tuhan pasti akan menegakkan keadilannya di bumi!


Selasa. TUHAN ADALAH SUMBER KESELAMATAN KITA
Baca: Mazmur 62:1-13

“Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.”  Mazmur 62:7

Sebagai manusia kita tak terlepas dari peristiwa-peristiwa yang terkadang membuat hati letih lesu.  Dan apabila tak terkendalikan, perasaan itu akan berubah menjadi suatu tekanan yang menghimpit dan mengakibatkan orang menjadi depresi.  Depresi adalah suasana hati yang buruk dan berlangsung selama kurun waktu tertentu.  Hal itu bisa mengakibatkan seseorang merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, tidak punya motivasi untuk melakukan sesuatu dan cenderung menyalahkan diri sendiri.

Ketika menghadapi situasi-situasi sulit, saat itulah kematangan iman orang percaya dapat diukur dan dinilai kadarnya.  Jadi yang menjadi ukuran bukan seberapa tinggi tingkat pendidikan atau harta kekayaan yang dimiliki.  Orang yang karib dengan Tuhan pasti tidak akan gelisah dan takkan goyah imannya, sebab ia tahu persis bahwa Tuhan adalah gunung batu, keselamatan dan kota benteng hidupnya.  Daud pun pernah mengalami hal yang sama, namun ia terus menguatkan diri:  “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah!”  (Mazmur 42:6).  Dalam keletihan batinnya ia segera mendekat kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya, sebab  “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.”  (Mazmur 62:2).  Tepatlah bila Daud segera mengambil langkah mencari Tuhan, sebab ketika dalam tekanan berat acapkali manusia kehilangan akal sehatnya.

Bukankah saat-saat ini goncangan terjadi di mana-mana dan sangat meresahkan hati?  Banyak dijumpai orang-orang Kristen mengalami degradasi iman sehingga mereka pun tidak segan-segan melepaskan kepercayaannya kepada Kristus demi mendapatkan jaminan keamanan dari manusia.  Mereka lebih rela menempuh jalan yang berlawanan dengan kehendak Tuhan daripada harus menderita atau kehilangan kesempatan untuk meraih kedudukan dalam dunia ini.  Hal itu seharusnya tidak boleh terjadi!  Karena bagi orang percaya telah tersedia tempat pengungsian yang aman, yaitu di bawah naungan sayap-Nya di mana kita pasti terjaga aman!

Tuhan itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, dan sebagai penolong dalam kesesakan, sungguh benar-benar terbukti!  (baca  Mazmur 46:2)


Rabu. IMAN PERCAYA: Kunci Kesembuhan Ilahi
Baca: Mazmur 103:1-22

“Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,”  Mazmur 103:3

Tujuan dokter atau tabib memberikan obat kepada pasiennya adalah supaya si pasien mengalami kesembuhan dari sakit-penyakit yang dideritanya, karena  “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.”  (Matius 9:12).  Untuk membeli obat diperlukan uang atau biaya, namun untuk mendapatkan kesembuhan ilahi  (mujizat)  dari Tuhan kita tidak perlu mengeluarkan uang dari dompet, tidak diperlukan uang satu sen pun, yang diperlukan adalah iman atau percaya.

Tuhan sama sekali tidak membutuhkan uang kita karena Dia adalah si empunya segala-galanya.  Yang Ia cari dalam diri kita adalah iman kita.  “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”  (Lukas 18:8).  Jadi syarat mendasar untuk menerima kesembuhan Ilahi adalah beriman 100% kepada Tuhan Yesus, sebagaimana yang Ia katakan,  “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”  (Matius 9:29).  Sakit-penyakit apa pun tidak menjadi persoalan bagi Tuhan karena Dia adalah Dokter di atas segala dokter, Tabib yang ajaib.  Tuhan bukan saja mampu menyembuhkan segala jenis penyakit yang diderita oleh manusia, bahkan orang yang sudah mati sekali pun sanggup dibangkitkan-Nya.  Contoh adalah ketika Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus, orang yang sudah empat hari mati  (baca  Yohanes 11:43-44).  Kita harus percaya bahwa kuasa Tuhan Yesus tidak pernah berubah,  “…tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”  (Ibrani 13:8).  Mujizat Tuhan pasti dinyatakan asal kita percaya dengan tidak bimbang,  “…sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.”  (Yakobus 1:6-7).

Apa yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Tuhan!  Tanpa iman percaya kesembuhan Ilahi tidak akan pernah kita alami.  Kesembuhan Ilahi itulah yang disebut mujizat!  Alkitab menyatakan,  “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”  (Matius 8:17).  Jangan pernah berhenti percaya dan tetap nanti-nantikan Tuhan sampai Ia bekerja di dalam kita!

“Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”  1 Petrus 2:24b


Kamis. JANGAN MALU BELAJAR KEPADA SEMUT (1)

Baca: Amsal 30:24-28

“semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas,”  Amsal 30:25

Dalam amsalnya Agur bin Yake menasihati kita agar mau belajar dari kehidupan empat binatang yang paling kecil dan lemah di bumi yaitu semut, kancil, belalang dan cicak.  Umumnya orang akan diminta belajar atau menimba ilmu dari mereka-mereka yang besar, lebih hebat dan berpengalaman lebih, tetapi firman Tuhan hari ini justru mengajak kita untuk belajar bukan dari mereka yang tampak hebat dan besar, melainkan dari empat binatang yang paling kecil;  dan kita tak perlu merasa malu!

Mengapa kita juga harus belajar dari hal-hal yang kecil?  Sebab manusia seringkali hanya memikirkan perkara-perkara yang besar dan heboh, tetapi mereka melewatkan dan mengabaikan hal-hal kecil.  Padahal semua perkara besar selalu berawal atau dimulai dari perkara-perkara kecil terlebih dahulu.  Begitu pula untuk dapat dipercaya mengerjakan perkara-perkara besar kita harus terlebih dahulu menunjukkan kesetiaan dalam mengerjakan perkara kecil.  “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”  (Lukas 16:10).  Pada kesempatan ini kita akan belajar dari semut, binatang kecil yang mempunyai sifat rajin.  Untuk mencari makan saja mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh.  Ketika telah menemukan makanan ia tidak bersikap serakah, melainkan melapor kepada teman-temannya dan mengajak mereka untuk beramai-ramai mengangkat makanan itu.  Inilah sifat-sifat semut yang patut kita teladani.  Semut dikenal sebagai binatang yang rajin bekerja alias tidak malas!  Mereka keluar mencari makanan pada waktu musim panas, sehingga pada waktu musim hujan tiba mereka sudah mempunyai persediaan makanan.

Banyak orang memiliki keinginan yang tinggi tapi malas untuk bekerja dan berusaha!  Tak salah jika keinginan itu akhirnya hanya sekedar angan-angan.  Mereka gagal bukan karena tidak mampu, melainkan karena mereka tidak mau berusaha alias malas!  Sedikit saja menemui kesulitan dan tantangan, pemalas pasti akan berhenti berusaha dan menyerah.  Padahal setiap kali kesulitan atau tantangan datang Tuhan selalu memberikan jalan keluar bagi kita  (baca  1 Korintus 10:13b).


Jumat. JANGAN MALU BELAJAR KEPADA SEMUT (2)
Baca: Amsal 6:6-11

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:”  Amsal 6:6

Serangga sekecil semut yang lemah itu ternyata memiliki keuletan dan kemampuan untuk bertahan hidup.  Bangsa semut layak untuk dijadikan panutan, karena mereka secara naluriah bertindak mengabdi untuk kepentingan koloninya.  Seekor semut rela melepaskan hak pribadinya, dan seluruh karya hidupnya didedikasikan untuk kepentingan koloninya, sehingga di mana pun kita akan menyaksikan iring-iringan semut bekerja keras nyaris sepanjang waktu, siang hingga malam tanpa mengenal lelah.  Mereka tidak pernah menabur benih, namun lumbung-lumbung mereka senantiasa penuh makanan.  Dengan bekerja sama mereka memastikan cadangan makanan telah tersedia pada musim paceklik.

Semut tidak pernah terlihat bermalas-malasan atau tidak melakukan apa pun, kecuali jika ia benar-benar sakit, cedera berat atau sudah sekarat, sehingga di mana pun berada sering terlihat kawanan kecil itu begitu sibuk mencari makanan.  Yang lebih mengagumkan lagi, seekor semut mampu mengangkut beban yang berukuran hingga 10X berat tubuhnya sendiri.  Mereka akti hilir mudik, bergerak ke sana ke mari, fokus, perhatian utamanya adalah bekerja dan bekerja.  Mereka bekerja dengan sangat mementingkan prinsip bertolong-tolongan.  Solidaritas dan kerjasama tim adalah paket kunci keberhasilan hidup semut.  Selagi ada kesempatan mereka terus bekerja mengumpulkan makanan, sebab jika musim hujan tiba aktivitas dan ruang gerak mereka menjadi terbatas, tapi mereka tak perlu kuatir, sebab ada stok makanan.

Jika dalam prinsip kerja semut tidak ada istilah malas, bekerja ala kadarnya dan mementingkan diri sendiri, coba bandingkan dengan kehidupan manusia…  Gaya hidup bermalas-malasan, bekerja dengan kualitas rendah, hidup berpusat pada diri sendiri justru sudah membudaya di mana-mana.  Sebagai orang percaya tidak selayaknya kita berlaku demikian!  Rasul Paulus menasihati,  “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”  (Kolose 3:23), dan  “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!”  (Galatia 6:2a).

Masakan kita tidak malu kepada semut yang mampu berlaku bijak dan memiliki etos kerja yang luar biasa!


Sabtu. MANUSIA DICIPTA BUKAN UNTUK BERMALASAN!

Baca: Pengkhotbah 10:1-20

“Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.”  Pengkhotbah 10:18

Ada banyak ayat di Alkitab yang menggambarkan tentang perilaku dan karakteristik pemalas, di antaranya:  “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia,”  (Amsal 13:4),  “Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya.”  (Amsal 26:14).  Karena mereka tidak melakukan apa pun maka hasilnya pun menjadi nihil atau nol.  Inilah suatu kehidupan yang tanpa produktivitas.  Sangat menyedihkan!

Tuhan menentang segala bentuk kemalasan, sebab Ia menciptakan manusia secara khusus dengan membekali kecerdasan, talenta dan pelbagai kemampuan yang melebihi ciptaan-Nya yang lain, dengan tujuan supaya manusia dapat mengembangkan kehidupannya secara optimal untuk kemuliaan nama-Nya.  Manusia dapat memuliakan nama Tuhan hanya jika mereka mau bertekun, setia dan bekerja keras.  Oleh karena itu  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”  (Pengkhotbah 9:10).  Jadi tidak ada alasan untuk kita bermalas-malasan!  Kemalasan harus dilawan dan diperangi, sebab ada tertulis:  “Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak.”  (Amsal 18:9), perusak rencana Tuhan dan perusak masa depannya sendiri!  Masa depan suatu bangsa dipertaruhkan dan terancam akan hancur jika masyarakatnya malas.  Intinya, tidak ada sisi positif sedikit pun dari kemalasan, selalu mendatangkan kerugian dan bencana, serta  “…mengakibatkan kerja paksa.”  (Amsal 12:24).

Sekali lagi, marilah kita belajar dan mengambil sisi positif dari kehidupan semut yang memiliki mobilitas dan produktivitas tinggi sehingga kelangsungan hidup koloninya menjadi sangat terjamin.  Dengan memperhatikan kebiasaan hidup semut ini seharusnya kita semakin dirangsang untuk membuang rasa malas, mau bekerja dengan keras, bertanggung jawab dan memelihara integritas hidup kita.


Minggu. DUNIA: Bukanlah Tempat Berlindung’

Baca: Mazmur 16:1-11

“Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.”  Mazmur 16:1

Adakah tempat yang paling aman di dunia ini sehingga kita dapat berlindung dari segala bahaya?  Di belahan bumi mana pun tak ada tempat yang benar-benar aman, di mana-mana selalu ada bahaya yang mengincar.  Karena dunia ini bukanlah tempat yang aman, maka semua orang memerlukan perlindungan atau penjagaan selama 24 jam penuh.  Para pemimpin negara, raja-raja, selebritis terkenal atau para jutawan, di mana pun berada dan ke mana pun pergi selalu ditemani oleh pengawal atau bodyguard yang bertugas untuk menjaga dan melindungi, meski penjagaan dan perlindungan mereka sangat terbatas.

Sebagai raja atas Israel tentunya Daud memiliki banyak pengawal yang berjaga-jaga, namun ia tak menggantungkan keselamatan jiwanya pada penjagaan manusia.  Daud hanya ingin dijaga oleh Tuhan dan berlindung kepada-Nya, sebab kekayaan, pangkat atau kekuasaan, kehebatan dan kegagahan manusia tak dapat menyelamatkannya.  Daud berkata,  “Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita. Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak.”  (Mazmur 20:8-9).  Tuhan adalah satu-satunya tempat perlindungan yang aman,  “Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.”  (Mazmur 121:4).  Daud sangat percaya bahwa tak sedetik pun Tuhan lengah menjaga dirinya, bahkan Tuhan menjaga dia bagaikan biji mata-Nya sendiri.  Inilah doa Daud,  “Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak. Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu”  (Mazmur 17:7-8).

Melihat dan mendengar berita-berita yang mengejutkan setiap hari sangatlah wajar jika semua orang menjadi was-was dan takut!  Tapi sebagai orang percaya kita tak perlu gentar, sebab kita berada dalam perlindungan yang aman di dalam Tuhan Yesus.  Oleh sebab itu jangan ragu-ragu untuk menyerahkan seluruh keberadaan hidup kita kepada-Nya.  Jangan sekali-kali berharap kepada siapa pun dan kepada apa pun, karena hanya Tuhanlah tempat perlindungan yang aman dan terbaik, dan itu sudah cukup bagi kita.  “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!”  (ayat 2).

Tuhan Yesus adalah perlindungan bagi orang percaya, tidak ada yang lain!