Monthly Theme

Home / Archive by category "Monthly Theme" (Page 2)
UNDERSTANDING THE HEART OF GOD

UNDERSTANDING THE HEART OF GOD

supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah. (Filipi 2:15-16)

Kehendak Allah bagi orang percaya adalah hidup dalam kemurnian dan kekudusan di tengah generasi yang bengkok hati dan sesat. Hidup dalam kemurnian dan kekudusan artinya kita dipisahkan dari cara hidup/sistem dunia yang jahat, rusak, gelap dan menyesatkan. Sebagai ciptaan baru di dalam Kristus, kita telah diberi hati yang rindu untuk hidup berkenan pada Allah.

Walaupun masih hidup di dunia, kita diperintahkan untuk tidak mengikuti cara hidup dunia yang jauh dari persekutuan dengan Allah seperti yang tertulis dalam Efesus 4:17-20,”Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.”

Pada kenyataannya, banyak orang Kristen yang hidupnya tidak beda dengan orang dunia, tidak memancarkan kemurnian dan kekudusan ilahi. Mengapa? Pertama, tidak mengerti isi hati Tuhan yang menghendaki kita menyembah-Nya dengan cara yang benar. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Ke dua, kurang menghormati hadiratNya. Beribadah karena hanya rutinitas atau motivasi lainnya, akibatnya tidak menerima manfaat dari ibadah karena dilakukan dengan hati tidak tulus (not sincere heart).

Ketiga, tidak mengalami transformasi hidup. Orang bisa rajin datang beribadah secara teratur bahkan pelayanan, tapi hidupnya tidak mengalami perubahan atau hanya berputar-putar di masalah yang sama. Hal ini disebabkan karena kehilangan kasih mula-mula, tidak terhubung secara pribadi dengan Tuhan, tidak mau mengampuni, mengeraskan hati, tidak mau menerima firman dengan hati terbuka, tidak hidup dalam pertobatan, kehilangan arah dan prioritas – sibuk mengejar hal-hal yang materi sehingga tidak ada waktu buat Tuhan, dan mempertahankan doktrin/kebenaran diri sendiri.

AJAKAN KEMBALI KEPADA KASIH YANG SEMULA
Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat (Wahyu 2:5).

Tuhan mau supaya kita kembali kepada kasih yang semula, kasih kepada Tuhan yang kita miliki pada waktu baru bertobat dan mengalami kelahiran baru. Kasih yang timbul dari hati yang suci murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Peliharalah kasih yang semula, karena kasih kepada Allah seharusnya menjadi motivasi satu-satunya, di atas segala pengetahuan firman, karunia, berkat, pelayanan atau apapun yang kita lakukan.

Tinggallah di dalam kasih itu dengan terus terhubung pada pokok Anggur yaitu Tuhan Yesus Kristus. Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. (Yohanes 15:9-10).

MENYEMBAH ALLAH DENGAN CARA YANG BENAR
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran ; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23-24)

Selain diberikan hati yang baru, kita juga menerima benih ilahi yaitu firman Allah (1 Petrus 1:23) untuk dapat hidup dalam kebenaran yang murni serta kekudusan. Ini hanya bisa terjadi jika kita terhubung dengan Pokok Anggur Yang Benar yaitu Tuhan Yesus melalui firman dan penyembahan. Allah menghendaki kita menjadi penyembah yang benar, yang menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Menyembah dalam roh, artinya menyembah dengan iman dan hati yang tulus dalam pimpinan Roh Kudus; dalam kebenaran artinya sesuai dengan firman Tuhan.

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diterapkan:

A. Menghadap Allah melalui doa pujian penyembahan dengan sikap yang benar yaitu hati yang tulus iklas dan iman yang teguh (Ibrani 10:22).

Sesungguhnya Allah berkenan akan kebenaran dalam batin (Mazmur 51:8). Yeremia 17:9 mengatakan bahwa hati manusia itu licik; tidak seorangpun mampu mengenali keadaan hatinya sendiri jika tidak disingkapkan oleh Roh Kudus. Daud minta agar Tuhan menjadikan hatinya tahir, bersih, tidak menyimpan dosa, serta tunduk kepada Dia (Mazmur 139:23-24). Hampiri Allah dengan kerendahan hati, segala bentuk kesombongan harus ditanggalkan. Sebelum masuk hadirat Tuhan, minta Roh Kudus memeriksa kondisi batin kita supaya bisa mengakui dosa/kesalahan, bertobat dan menyembah Allah dalam ketulusan.

Menghadap Allah dengan iman yang teguh. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada (Ibrani 11:6) Dengan iman, kita percaya kepada perkataan-Nya. Orang yang tidak percaya/menolak firman Tuhan akan hidup dalam kesesatan yang menyebabkan mereka percaya kepada dusta (2 Tesalonika 2:11).

B. Disiplinkan diri membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap hari supaya jiwa kita mengalami pembaruan.

Setiap manusia yang telah jatuh ke dalam dosa memiliki benih yang menentang pengenalan akan Allah, yaitu pikiran yang bersifat karnal (a mind governed by the flesh, hanya memikirkan perkara-perkara daging). Akal budi yang tidak/belum diperbarui oleh firman Tuhan tidak mampu memahami ajaran tentang kebenaran. Kita tidak bisa menyembah Allah (yang adalah Roh) dengan pikiran karnal, sebab pikiran karnal tidak takluk kepada hukum/perintah Allah, sehingga tidak mungkin berkenan kepada-Nya.

Jadi jelas bahwa akal budi yang tidak diperbarui firman Tuhan membuat kita berjalan dalam kegelapan. Namun dengan merenungkan dan mempelajari firman, kita dimampukan menyangkal diri (menundukkan pikiran dan kehendak bebas kepada Kristus; mematikan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup) dan memikul salib (menderita karena firman kebenaran, ketaatan melakukan perintahTuhan). Segala pikiran, pendapat/cara pandang, asumsi, logika, kebenaran diri sendiri, serta emosi-emosi negatif dapat ditundukkan kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Dengan demikian, kita tidak lagi berjalan dalam kegelapan melainkan terang Tuhan. Jadikan firman Tuhan sebagai kebutuhan berharga yang sangat kita perlukan tiap hari; sebab manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4).

C. Fokus kepada Pribadi Allah. Jangan turunkan nilai penyembahan dengan sekedar menyanyikan lagu/memainkan alat musik tanpa hubungan secara personal dengan Allah dan pengenalan akan Pribadi-Nya. Penyembahan bukan bertujuan untuk memperoleh berkat dan mendapat apa yang kita inginkan. Kita menyembah Allah sebab IA memang layak untuk disembah dalam seluruh area di hidup kita. Luangkan waktu untuk sendiri bersama Tuhan di pagi hari melalui doa pujian penyembahan yang dilakukan dengan segenap hati, tidak asal dan terburu-buru.

Rasul Paulus mendefinisikan penyembahan sebagai gaya hidup serta seluruh aspek kehidupan yang didedikasikan untuk memuliakan Tuhan. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1).

KESIMPULAN

Roh Kudus dan firman Tuhan adalah dua unsur penting yang tidak bisa dipisahkan untuk menjadi penyembah yang benar, yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Roh tanpa firman Tuhan bisa mengarah pada pengalaman spiritual yang dangkal, tanpa arah, dan emosional. Firman tanpa Roh menghasilkan ibadah yang kering, tanpa gairah sukacita kasih Tuhan dan legalisme belaka. Dengan selalu terhubung kepada Pokok Anggur Yang Benar yaitu Tuhan Yesus melalui doa pujian penyembahan serta perenungan firman, kita jadi mengerti isi hati Allah serta melakukannya, yaitu hidup dalam kemurnian dan kekudusan.

PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN

PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN

PENDAHULUAN

Tuhan Yesus mau mendewasakan kita di akhir jaman ini agar menjadi pribadi yang kuat dan tetap tenang di tengah berbagai krisis/guncangan yang melanda dunia, keluarga ataupun kita secara pribadi. IA mau kita menjadi dewasa, memiliki hikmat ilahi agar siap dipercaya untuk menjadi bagian dalam kegerakan Tuhan di dunia menjelang kedatangan-Nya yang ke dua kali.

ISI

Alkitab mencatat bahwa kedewasaan rohani seseorang ternyata tidak dihasilkan dari berkat atau mukjizat yang diterimanya. Sebagai contoh bangsa Israel yang telah mengalami banyak mujizat di padang gurun selama 40 tahun, namun sebagian besar mereka tidak bertumbuh menjadi dewasa dalam iman, melainkan berubah setia dan tegar tengkuk, bersungut-sungut serta tidak taat kepada perintah Allah karena ketakutan, kekuatiran dan kebosanan hidup yang menekan.Keadaan ini membuat mereka tidak sabar dan menentang Allah dan hambaNya.

Proses pendewasaan merupakan bagian dari perjalanan iman yang diwajibkan bagi setiap orang percaya. Sayangnya banyak orang percaya kurang memahami bahwa karya keselamatan Yesus mencakup kelahiran baru dan pembaruan akal budi melalui pemuridan dan pemurnian agar semakin serupa dengan gambar Kristus (dewasa, berbuah dan memancarkan kemuliaan-Nya).

Ada pula yang menyangka bahwa mengikut Kristus hanya tentang beribadah sekali seminggu secara rutin, memberi persembahan, menyanyikan lagu-lagu pujian, merayakan Paskah dan Natal; mengikut Yesus supaya diberkati, menerima mukjizat atau supaya keinginan/doanya dikabulkan.

Kalau demikian, maka tidak heran jika banyak orang yang meski sudah lama jadi Kristen, masih hidup seperti orang yang tidak mengenal Tuhan dan kembali ke dunia lamanya karena belum mengalami perubahan/transformasi. Suka atau tidak, ternyata masalah, kesulitan, tekanan dan penderitaan dapat menjadi sarana yang tepat untuk membentuk seseorang menjadi pribadi yang dewasa dan tangguh. Pergumulan hidup bersama Tuhan membuat seseorang semakin sempurna dalam iman dan dewasa dalam karakter.

Tuhan memakai guncangan khususnya yang terjadi akhir-akhir ini untuk mendewasakan kita. IA berdaulat dan berhak melakukannya dengan cara yang sering kali tidak terduga oleh pemikiran kita, supaya kita bergantung penuh kepada DIA (bukan kepada hal-hal yang dapat terguncang seperti hal-hal fisik/materi) dan kepada kekuatan kasih karunia-Nya yang memampukan kita keluar sebagai pemenang.

Bagaimana guncangan dapat menjadi sarana yang dapat mendewasakan iman dan karakter kita?

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,  sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.  Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,  supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. (Yakobus 1:2-4).

Kata yang diterjemahkan sebagai ketekunan di sini memiliki arti kekuatan untuk menahan kesulitan atau tekanan, terutama ketabahan batin yang diperlukan untuk bertahan. Terjemahan lain mengartikan kata ketekunan ini antara lain sebagai ketabahan/steadfastness (ESV), ketahanan/endurance (AMP), dan kesabaran/patience (KJV, NKJV).

Kesabaran di sini adalah sebuah pilihan yang merupakan hasil dari penyangkalan diri yang dikerjakan oleh Roh Kudus, dan bukan emosi manusia. Pilihan untuk mengasihi Tuhan, untuk menaati kehendak-Nya, untuk tetap tenang dalam masa penantian, untuk bertahan saat berada di bawah tekanan, serta memilih untuk belajar dan bertumbuh melalui masalah/penderitaan.

Ketekunan merupakan suatu kekuatan karakter yang diperlukan untuk dengan sabar menanggung kesulitan dan penderitaan. Ketekunan memampukan seseorang untuk terus berjuang mencapai tujuan meskipun menghadapi rintangan atau kemunduran. Jadi bukan hanya sekedar bertahan mengatasi tekanan, tetapi mampu mengembangkan kekuatan mental dan emosional menuju kedewasaan.

Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,  supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun (Yakobus 1:4).

Be assured that the testing of your faith [through experience] produces endurance [leading to spiritual maturity, and inner peace]. And let endurance have its perfect result and do a thorough work, so that you may be perfect and completely developed [in your faith], lacking in nothing. (James 1:4, AMP Bible).

Ketekunan memerlukan 3 unsur : pengenalan kita akan Kristus, keputusan kita, dan pertolongan Roh Kudus. Pengenalan akan Kristus akan memperdalam akar (yaitu kasih Tuhan) serta membangun iman kita kepada DIA. Dengan kata lain, iman kita bukan sekedar keyakinan (believe), tapi iman yang berakar dalam kasih Kristus (trust), di mana kita mengenal Tuhan sebagai Pribadi yang kita percayai dan sangat bisa diandalkan. Iman yang berakar dalam kasih berpotensi menjadi iman yang dewasa/menuju kesempurnaan.

Inilah yang mendorong kita untuk memutuskan tetap bertekun, tidak akan menyerah meski di tengah tekanan yang sulit. Tentu saja kita tidak mampu melakukannya sendiri, Roh Kudus-lah yang menolong, memberi kekuatan serta meneguhkan batin kita untuk tetap bertekun, bersabar, bertahan bahkan mampu bersukacita di dalam menghadapi kesesakan. Pada waktunya, kesabaran/ketekunan akan menghasilkan buah yang matang sehingga kita menjadi sempurna, utuh dan tak kekurangan suatu apapun (kedewasaan karakter).

PROSES PENDEWASAAN ROHANI DI AKHIR JAMAN (bagian 2)

TUHAN ITU ADIL

TUHAN ITU ADIL

Bulan lalu kita belajar tentang bagaimana mengelola tanah hati supaya tidak keras melainkan menjadi tanah hati yang subur. Bagi kebanyakan orang, goncangan merupakan bentuk peringatan dan penghakiman Tuhan supaya umat manusia merendahkan hati, bertobat dari dosa/kejahatannya dan berbalik kepada-Nya.

Bagi kita orang percaya, goncangan yang saat ini terjadi dipakai Tuhan untuk mendidik/mendisiplinkan kita supaya memiliki tanah hati yang subur dan memurnikan iman kita. Untuk itu Allah akan menggoncangkan apa yang dapat digoncangkan, supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan (Ibrani 12:27).

MENGENALI KEADILAN TUHAN
Alkitab mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Allah benci akan dosa/kejahatan; IA menyatakan murka-Nya terhadap segala bentuk kefasikan. Dalam keadilan-Nya, Allah harus menghukum semua orang berdosa dengan penghukuman kekal, …sebab upah dosa ialah maut (Roma 6:23a).

Jika demikian beratnya tuntutan keadilan Allah, maka semua manusia pasti akan binasa akibat dosa. Namun karena belas kasihNya (mercy), “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9b).

Keadilan vs Kemurahan / Penghukuman vs Kasih karunia (Justice vs Mercy / Judgment vs Grace)
Allah tidak hanya bersifat adil tapi IA juga bersifat murah hati. Di satu sisi, keadilan Allah akan menghakimi dan menuntut penghukuman setiap pelanggaran, di sisi lain sifat-Nya yang murah hati menjadi solusi dan harapan bagi umat manusia untuk diselamatkan dari belenggu dosa, kutuk dan kebinasaan kekal. Allah membenci dosa tapi menunjukkan belas kasihan terhadap orang berdosa yang mau bertobat.
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yohanes 3:14-17).

Seperti Musa meninggikan ular tembaga (Bilangan 21:4-9), demikian pula Yesus harus ditinggikan di atas kayu salib agar setiap orang yang percaya kepada-Nya diselamatkan. Ular tedung dari tembaga adalah simbol dari penghukuman Allah atas dosa pemberontakan manusia (di mana Allah menghukum bangsa Israel yang memberontak terhadap-Nya dengan melepaskan ular-ular tedung ke antara mereka).

Peninggian ular tembaga di atas tiang menunjukkan bahwa dosa dan hukuman manusia telah ditanggung oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib; sehingga barangsiapa yang percaya kepada-Nya melalui iman akan diselamatkan dan memperoleh hidup yang kekal. Ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan karena usaha perbuatan baik manusia, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah (grace) melalui iman kepada Yesus Kristus (Efesus 2:8-9).

Belas kasihan (mercy) adalah saat kita tidak menerima hukuman yang pantas kita terima. Kasih karunia (grace) adalah ketika kita menerima kebaikan yang tidak layak kita terima.

TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita (Mazmur 103:8-12).

Ayat di atas merupakan neraca kasih Allah yang menyatakan sifat keadilan-Nya yang menuntut penghukuman atas dosa dan pelanggaran, sekaligus menyatakan kemurahan hati-Nya yang tidak membalas setimpal dengan dosa kita melainkan menjauhkan pelanggaran kita sejauh timur dari barat. Allah adalah pengasih dan penyayang; IA tahu dan memahami bahwa manusia begitu lemah dan sarat dengan keinginan-keinginan yang mencelakakan dirinya sendiri.

Di mana ada keadilan Allah, di situ pula kasih karunia-Nya dinyatakan. Itu sebabnya tuntutan keadilan Allah digenapi sepenuhnya dengan menimpakan segenap murka-Nya akan dosa kepada Kristus, dan kemurahan-Nya yang membawa keselamatan dilimpahkan kepada semua orang berdosa yang mau percaya kepada Kristus.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita , dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh (Yesaya 53:5).

Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus (Roma 5:16-17).

Allah tidak kompromi dengan dosa, tapi IA memberi jalan keluar bagi manusia berdosa lewat Yesus Kristus. Contoh: wanita yang kedapatan berzina yang dibawa oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus. Tuhan tidak menghukum wanita tersebut melainkan memberi anugerah pengampunan dan arah hidup yang baru kepadanya…”Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang “ (Yohanes 8:11).

Keadilan dan kasih karunia Allah harus didudukkan dalam perspektif yang benar. Bagaimana sikap yang benar dalam meresponi Keadilan/Penghukuman vs Kemurahan/Kasih karunia Allah?

1. Kita tidak hidup di dalam penghukuman.
Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus (Roma 8:1).
Jika sudah percaya kepada Kristus, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan, sebab Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kita dari hukum dosa dan hukum maut. Jika kita menyerahkan diri untuk berjalan dipimpin Roh Kudus, maka kita tidak berjalan dalam penghukuman melainkan dalam hukum Kasih Karunia.

Artinya walaupun kita masih saja bisa bikin kesalahan, tapi jika kita mengaku dosa dan bertobat, maka kasih karunia Allah menolong kita untuk taat melakukan kehendak Allah dan hidup dalam kebenaranNya.

Jika kita mengaku dosa dan bertobat, maka Allah adalah adil dan setia, Ia akan mengampuni segala dosa dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata bahwa kita tidak berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita (1 Yohanes 1:9-10). Jika kita terus berjalan dalam ketaatan dengan pertolongan kasih karunia Allah, maka kita akan menuai buah-buah kebenaran, kekudusan, berkat dan hidup kekal.

2. Jangan menyalahgunakan kasih karunia.
Kita tidak boleh pandang enteng, menyalahgunakan atau menyia-nyiakan kasih karunia-Nya yang mulia dengan terus hidup dalam dosa, ketidaktaatan, atau dengan cara hidup yang seenaknya (hyper-grace). Milikilah roh yang takut akan Tuhan, hiduplah dalam pertobatan dan kerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar.

3. Hiduplah dengan rasa syukur dan hati yang mengasihi Tuhan.
Rasa syukur atas keselamatan yang Tuhan beri seharusnya memotivasi kita untuk mengasihi DIA. Barangsiapa mengasihi Allah, ia akan menuruti perintah-perintah-Nya. Kita menaati Tuhan bukan karena terpaksa atau dengan rasa ketakutan, tapi karena mengasihi DIA yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.

PENUTUP
Goncangan yang terjadi di masa-masa ini akan membawa pemisahan antara lalang dan gandum. Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan; di tahun Penuaian ini, apa yang kita tabur itu yang kita tuai. Jika kita menabur dalam daging akan menuai kebinasaan; jika menabur dalam Roh akan menuai berkat dan kehidupan. Yang tidak tergoncangkan adalah mereka yang menabur dalam Roh.

MENGUBAH RATAPAN MENJADI PUJIAN

MENGUBAH RATAPAN MENJADI PUJIAN

PENDAHULUAN

Setiap orang pasti pernah mengalami penderitaan. Bagi orang percaya, penderitaan menuntut respon yang tepat agar dapat berhasil dalam menyelesaikan maksud dan rencana Tuhan. Respon yang tepat terhadap penderitaan membawa kita mengalami kuasa Tuhan  dan menikmati kemenangan.

ISI

Penderitaan membawa kita kepada penyembahan yang lebih dalam karena keyakinan penuh bahwa Tuhan itu ada. “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”  (Mazmur 34:19).

Berikut beberapa hal yang perlu kita ketahui supaya dapat meresponi penderitaan dengan benar:

  1. Tuhan tidak membuang rasa sakit/penderitaan melainkan mengijinkan kita melewatinya.

Penyembahan yang paling tulus dan murni justru dihasilkan saat kita berada dalam lembah kekelaman dan penderitaan. Pujian sejati bukan lahir dari kenyamanan atau keadaan sedang baik-baik saja, tapi dari ‘trust’/kepercayaan yang dalam kepada-Nya saat kita menghadapi pergumulan atau hati yang terluka. Tidak perlu menyangkali penderitaan yang sedang dialami; kita boleh saja mengungkapkan isi hati serta perasaan dengan jujur kepada Tuhan disertai rasa hormat dan ucapan syukur. Ucapan syukur membangkitkan iman dan pengharapan kepada Allah.

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga,  tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4:6).

Memuji menyembah saat menghadapi pergumulan merupakan tanda kerendahan hati yang mengakui kedaulatan Tuhan atas hidup kita. Inti dari pujian dan penyembahan kita bukanlah pergumulan yang kita alami, keadaan diri kita atau apa yang Tuhan bisa buat. Esensi dari pujian dan penyembahan kita adalah Pribadi Tuhan sendiri: IA layak dipuji dan disembah oleh seluruh ciptaan-Nya.

Kepada TUHAN,  hai suku-suku bangsa,  kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!  Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya!  Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan,  gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi! (Mazmur 96:7-9).

Refleksi:
Mari kita belajar/melatih diri untuk memuji  dan menyembah Tuhan bukan karena keadaan sedang baik-baik saja, tetapi karena mengenal siapa Dia.

  1. Pujian bisa mengubah keadaan tapi terlebih dahulu mengubah perspektif kita.

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan,  kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,  namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN ,  beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.  (Habakuk 3:17–19).

Pujian merupakan keputusan iman yang dewasa, bukan reaksi emosi. Nabi Habakuk memilih untuk memuji Tuhan di tengah kekosongan dan kekeringan, karena sukacitanya berakar pada Tuhan, bukan pada situasi atau apa yang dia miliki. Pergumulan yang jujur dengan Allah menghasilkan transformasi hati yang mendalam. Saat memuji menyembah, kita bisa melihat segala sesuatu dengan mata rohani dan bukan sekadar realita dunia. Pujian dan penyembahan membawa kita berjalan dalam dimensi roh dan melihat dengan perspektif/cara pandang Tuhan.

Rasul Paulus menghadapi banyak kesulitan, tetapi ia percaya bahwa apa yang tidak kelihatanlah yang bertahan sampai kepada kekekalan. Ia mengatakan bahwa penderitaan ringan yang sekarang ini akan menghasilkan “kemuliaan kekal”. Oleh karena itu, ia tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang “tak kelihatan adalah kekal” (2 Korintus 4:17-18).

Beberapa contoh Deklarasi Iman:

Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku (Mazmur 13:5-6).

Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku,  takkan kekurangan aku (Mazmur 23:1).

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN,  tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!  “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya (Ratapan 3:22-24).

  1. Pujian mengundang hadirat dan kuasa Allah.

“Namun Engkau adalah Yang Kudus, yang bersemayam di atas puji-pujian Israel.” (Mazmur 22:4)

Memuji Tuhan saat keadaan baik-baik saja tentu mudah; tetapi jika sedang dalam penderitaan atau hati terluka, pujian  penyembahan kita menjadi sesuatu yang mahal dan berbau harum di hadapan-Nya karena lahir dari iman yang tulus, murni, dewasa dan berakar dalam kasih. Saat memilih untuk merendahkan hati dengan memuji-muji Tuhan di tengah pergumulan dan rasa sakit, kita sedang membangun takhta bagi DIA untuk berkarya atas situasi kita.

Mari belajar meresponi penderitaan dari raja Yosafat saat menghadapi musuh dalam 2 Tawarikh 20: 3a : Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan…

Saat memutuskan untuk mencari Tuhan dan memuji-muji  Dia, kita sedang menyerahkan segala pergumulan kita kepada Tuhan dan Dia yang akan berperang ganti kita.

“Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah. Lalu bani Amon dan Moab berdiri menentang penduduk pegunungan Seir hendak menumpas dan memunahkan mereka. Segera sesudah mereka membinasakan penduduk Seir, mereka saling bunuh-membunuh (2 Tawarikh 20:22-23).

Yosafat mengajarkan kita strategi dalam menanggapi kabar buruk. Ada empat hal yang dia lakukan yaitu : berseru dalam doa, berpuasa, meminta strategi perang dari Tuhan dan menaikkan puji-pujian bagi Allah di tengah gempuran musuh.

Pujian adalah senjata rohani yang mengubah atmosfer dan membuka pintu surga untuk mengintervensi keadaan kita. Pujian mengarahkan mata kita kepada Tuhan yang besar, hebat, ajaib/pembuat mukjizat, berdaulat atas segala sesuatu; Allah yang tidak bisa dibatasi oleh apapun/siapapun, setia, penuh kasih, serta mampu melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan. Dengan memuji-muji Tuhan, iman kita semakin dibangun/diteguhkan.

Saat dalam pergumulan, tekanan, hati terluka dan merasa seolah Tuhan tidak bertindak, beresponlah dengan benar. Jangan mengasihani diri sendiri, menyalahkan dan patah semangat. Berhati-hatilah dengan perkataan kita, jangan bersungut-sungut seperti yang dilakukan bangsa Israel saat di padang gurun. Allah sangat tidak menyukai perilaku yang bersungut-sungut dan tidak tahu bersyukur.

Jangan pula mencoba mencari solusi dengan kekuatan dan pengertian sendiri, tapi ambil keputusan untuk mencari hadirat Tuhan dan tuntunan-Nya.  Berobatlah jika ada hal yang Roh Kudus ingatkan untuk kita bertobat dan lakukan pemberesan.

Pembaruan akal budi dengan firman Tuhan membawa kita bisa melihat penderitaan dari perspektif ilahi. Ada maksud dan tujuan Tuhan di dalam setiap musim hidup kita. Setiap penderitaan atau luka hati memiliki peluang untuk membuat kita semakin dewasa, semakin mengenal keterbatasan dan kelemahan diri sendiri, semakin mengenal Allah, sifat-sifat-Nya dan makin mengandalkan DIA.

Penderitaan/pergumulan membawa kita hidup dalam rencana Allah, sementara zona nyaman membuat kita  sibuk dengan agenda/keinginan pribadi, sarat dengan hawa nafsu kedagingan, menjadi suam dan melupakan Tuhan. Iman yang tidak bertumbuh membuat kita menjadi buta dan picik, lupa bahwa kita diselamatkan untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. IA mau, supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10).

PENUTUP

Rasa sakit dan tekanan bukan menjadi penghalang untuk kita memuji Tuhan – justru itulah jalan menuju penyembahan yang sejati. Dari salib menuju kebangkitan, Yesus menunjukkan bahwa pujian tetap naik di tengah penderitaan, dan kemenangan akan datang setelahnya.

Berserulah kepada Tuhan dengan iman  yang tulus dan murni melalui doa, pujian, penyembahan serta deklarasi iman. Ubah ratapan menjadi pujian supaya hadirat Tuhan masuk ke dalam badai hidup kita.  Hadirat Tuhan pasti disertai dengan karya-karya-Nya yang ajaib dan tak terduga (1 Korintus 2:9).

KOMITMEN MURID KRISTUS

KOMITMEN MURID KRISTUS

RENUNGAN KHUSUS

Ketika kita percaya dan lahir baru, Alkitab berkata bahwa kita menjadi ciptaan yang baru dihadapan Tuhan. (2 Korintus 5:17) Ketika kita dibenarkan (Justification) maka ada beberapa status yang dianugerahkan Tuhan sebagai bagian dari berkat keselamatan yang kita terima dari-Nya. Tapi ingat, dibalik semua status baru tersebut, ada tanggung jawab dari setiap orang percaya.

Antara lain, ketika kita lahir baru dan diangkat jadi anak-Nya, maka tanggung jawab kita adalah kita harus menjadi anak-anak yang taat, bukan anak-anak gampangan. Kita harus jadi anak yang mengasihi Bapa di surga, karena Dia sudah lebih dahulu mengasihi kita. Sebab pada kenyataannya, ada anak-anak yang tinggal ‘di dalam rumah’, artinya hidup dalam keintiman, tetapi ada banyak juga anak yang tinggal ‘di luar rumah’, yaitu mereka yang mengaku anak, tapi hidupnya jauh dari Tuhan. Bertobatlah supaya jangan sampai terhilang selamanya.

Yang berikutnya ialah ketika kita lahir baru, maka kita disebut murid Kristus. Namun persoalannya, apakah sungguh-sunguh kita sudah menjadi murid yang benar dan taat di hadapan Tuhan, atau kita hanya berhenti pada sebutan ‘murid’, padahal sejatinya kita tidak pernah mau masuk dalam ‘Sekolah Kehidupan’ untuk diajar dan dibentuk oleh Tuhan.
• Jadi “murid” tapi tidak pernah masuk dalam pemuridan,
• Jadi “murid” tapi selalu lari dari proses pendewasaan,

artinya kita telah menjadi murid yang GAGAL dihadapan Tuhan. Persis sama seperti murid Yesus yang bernama Yudas Iskariot. Dia adalah contoh nyata dari seorang murid yang gagal dan kita sama-sama tahu bagaimana akhir hidupnya!

Jadi, murid Kristus adalah orang percaya yang berkomitmen untuk taat dan setia mengikuti Tuhan serta siap sedia untuk diajar, dibentuk dan diubah agar menjadi semakin serupa dengan Sang Guru Agung. yakni Yesus Kristus.

Apa kriterianya menjadi murid yang sejati, dan bagaimana menjadi murid yang baik dan dikenan oleh Tuhan?

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku….
Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Lukas 14:26,27,33

Dalam ketiga ayat diatas, ada 1 kalimat yang diulang 3 kali berturut-turut adalah: “ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Artinya untuk menjadi murid-Ku kata Tuhan Yesus, dari ketiga ayat tersebut kita menemukan ada 3 syarat atau kriteria yang harus dimiliki seorang murid agar siap untuk belajar dan diajar supaya menjadi serupa dengan Dia.

1. Mengutamakan Tuhan diatas Segala-galanya (ayat 26)
Tuhan Yesus berkata bahwa kalau ingin menjadi murid-Nya kita harus ‘membenci’ keluarga kita; bahkan diri kita sendiri. Tentu ini sebuah perkataan yang sangat paradoks dengan banyak ayat lain di Alkitab dimana Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi sesama bahkan mengasihi musuh, terlebih lagi keluarga kita sendiri.
Disini kita menemukan satu gaya bahasa yang lazim digunakan pada waktu itu; bahkan sampai sekarang, yakni gaya bahasa hiperbola. Satu gaya berbicara yang kelihatannya melebih-lebihkan sesuatu, namun maksud sesungguhnya adalah untuk menekankan suatu makna tertentu.

Tentu sama sekali Tuhan tidak menyuruh kita benar-benar membenci diri kita dan keluarga yang kita kasihi, tapi makna yang ditekankan disini adalah bahwa diatas semuanya, kasih dan sayang kita kepada Tuhan harus melebihi apapun juga. TUHAN harus menjadi yang paling pertama dan terutama dalam hidup dan ketaatan kita kalau ingin menjadi murid-Nya.

Sering kali orang Kristen sulit untuk bertumbuh dewasa, sulit untuk berjalan dalam kehendak Allah yang sempurna karena Tuhan tidak pernah menjadi yang nomor satu dalam hidupnya. Tuhan hanya dicari ketika segala cara yang sudah dilakukan tidak berhasil. Dia bukan yang pertama, tapi malah yang terakhir. Padahal Dia adalah fondasi hidup kita, Dia adalah pusat kehidupan setiap orang percaya. Ketika diperhadapkan pada pilihan apakah kita harus mengutamakan keluarga, pekerjaan, hobi, dengan kepentingan Tuhan, hubungan pribadi dengan Tuhan, maka kita harus berkata bahwa Tuhanlah yang terutama. Justru dalam hal ini setiap anggota keluarga haruslah saling mendorong dan mendukung untuk mencintai Tuhan lebih dari apapun.

Pertanyaannya sekarang; bagaimana supaya kita bisa hidup selalu menomor satukan Tuhan? Jawabannya adalah dengan senantiasa memiliki kasih yang mula-mula kepada Tuhan, yaitu kasih yang terbaik, kasih yang selalu bernyala-nyala untuk Tuhan.

Ketika kita menempatkan Kristus sebagai “center of our life” maka sesungguhnya kita akan memiliki keseimbangan dalam setiap aspek kehidupan ini, karena kita akan selalu dituntun oleh Roh-Nya yang tinggal dalam kita.

2. Siap Sedia Memikul Salib (ayat 27)
Apa artinya pikul salib? Salib disini tentu bukanlah salib Kristus, dimana hanya Dialah yang sanggup menanggungnya demi menebus dosa umat manusia. Salib yang kita pikul berbicara mengenai perjuangan, penderitaan dan tantangan yang harus kita hadapi dalam mengikut Tuhan. Yesus tidak pernah berjanji bahwa kalau kita mengikut Dia maka kita tidak akan pernah mengalami penderitaan dan pergumulan. Tapi Dia berjanji bahwa dalam setiap persoalan hidup kita, Dia selalu menyertai untuk memberikan pertolongan dan mujizat-Nya. Pertanyaannya sekarang, untuk apa Dia mengizinkan begitu banyak ujian dan masalah dalam hidup ini? Sekurangnya karena 2 alasan ini:
• Salib membuat kita berfokus kepada Tuhan
Setiap masalah yang dihadapi akan membawa kita untuk mendekat kepada Tuhan, karena kita tahu bahwa hanya Dia yang sanggup menolong kita. Jadi salib membuat kita berharap dan bergantung kepada Tuhan. Yeremia 17:7-8

• Salib mengubahkan karakter kita
Mujizat membuat kita bersyukur akan kebesaran Tuhan, tapi penderitaanlah yang selalu menyadarkan kita untuk berubah. Ujian dan cobaan selalu dipakai Tuhan untuk menunjukkan kekurangan dan kelemahan kita supaya bertobat. Pertobatan kitalah yang senantiasa dirindukan Tuhan, supaya Kristus semakin nampak dalam hidup kita.

Sebab itu ketika masalah dan pergumulan datang, jangan keraskan hati, jangan lari dari salib kita. Tetaplah setia dan taat, jangan marah atau menyalahkan orang lain, jangan undur atau tawar hati, sebab dibalik salib selalu ada kemenangan dan Kemuliaan Tuhan. (Roma 8:17)

3. Tidak Terikat Dengan Harta Duniawi (ayat 33)
Kalau ingin jadi murid-Nya maka kita harus melepaskan diri dari semua yang kita miliki. ‘Milik’ disini berbicara mengenai kepemilikan, atau harta kita. Jadi apakah artinya kita tidak boleh memiliki apapun di dunia ini? Tentu tidak, sebab semua yang Tuhan percayakan untuk kita miliki justru disanalah kita harus jadi berkat bagi kemuliaan-Nya. Jadi apa maksud ayat ini?

Dalam bahasa aslinya (Yunani), kata ‘melepaskan’ digunakan kata ‘apotassomai’, yang berarti “memisahkan atau membuka ikatan”. Jadi, Tuhan mau memberkati kita berlimpah dengan banyak hal, tapi Tuhan ingatkan supaya diri kita jangan sampai terikat olehnya! Sekali kita terikat, akan sulit hidup kita dipakai untuk jadi saluran berkat-Nya. Padahal kita bukan pemilik, kita cuma penilik. Pemiliknya adalah Tuhan, kita hanya pengelola (steward).

Menyadari bahwa kita hanyalah pengelola bukan pemilik maka kita akan memiliki kemurahan hati yang besar untuk selalu menjadi berkat bagi orang lain. Kita tidak pelit dan hitung-hitungan ketika diajak memberi dan menabur. Dengan sukacita kita akan selalu memberikan persembahan yang terbaik bagi pekerjaan Tuhan, sebab untuk itulah kita diberkati.

Dalam Matius 6:21, Tuhan mengingatkan bahwa dimana harta kita berada, disitu hati kita juga berada. Artinya bagaimana kita memperlakukan dan mempergunakan harta kita, hal itu menunjukkan dengan jelas dimana hati kita berpusat. Harta haruslah menjadi alat ditangan kita untuk memuliakan Dia, sementara hati kita biarlah selalu melekat kepada Tuhan, maka hidup ini akan selalu berbuah bagi kerajaan-Nya. Kita akan jadi murid yang mudah diajar untuk berubah setiap hari semakin dewasa, sehingga pribadi Kristus semakin nyata dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati (MK)

image source: https://iliveforjesus.in/tag/2-corinthians-517/
_________________

KUASA KEBANGKITAN KRISTUS

KUASA KEBANGKITAN KRISTUS

RENUNGAN KHUSUS

Salah satu tokoh dalam Alkitab Perjanjian Baru yang mengalami perubahan hidup yang sangat drastis adalah Paulus. Lukas menulis dalam Kisah Para Rasul 8 dan 9, bagaimana Saulus, yaitu nama lain Paulus, adalah seorang Yahudi dan Farisi yang hatinya begitu berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan Yesus. Saulus bahkan meminta izin agar diberi kuasa untuk memburu semua pengikut Tuhan Yesus, membawa mereka semua ke Yerusalem, agar semua pengikut Tuhan tersebut mengalami nasib kematian yang sama seperti yang dialami Stefanus (Kisah Para Rasul 7:54-8:1a). Namun segalanya berubah ketika ia mengalami perjumpaan langsung dengan Tuhan Yesus dalam perjalanan menuju ke Damsyik.

Singkat cerita, setelah melalui proses yang tidak pendek, Saulus dibimbing oleh para pengikut Kristus, diterima di dalam lingkaran orang percaya, bahkan akhirnya ikut dalam persidangan penting di Yerusalem (Kisah Para Rasul 15) dan menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam membesarkan gereja Kristen abad pertama. Dari seorang pemburu pengikut Kristus, menjadi seorang pengikut Kristus yang ‘memburu’ Kristus seumur hidupnya. (Filipi 3:12-14)

Paulus mengungkapkan apa yang menjadi keinginan hatinya dalam Filipi 3:10-11,

“10Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, 11supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.”

Pengalaman perjumpaannya dengan Tuhan Yesus dalam perjalanan menuju Damsyik dan proses pemuridan yang dia alami sesudahnya, membuat Paulus begitu rindu untuk makin mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya, karena kedua hal itulah yang membuat dia mengalami suatu pembalikan total cara pandang dan cara hidupnya. Paulus mengajar jemaat agar sama seperti dirinya, kita pun terus mengejar pengenalan akan Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Kita jangan hanya tahu Yesus tetapi tidak mengalami kuasa kebangkitan-Nya, karena justru oleh kebangkitan-Nya lah iman kita hari ini tidak sia-sia. (1 Korintus 15:14)

Mari kita perhatikan beberapa fakta ini: Peringatan kelahiran Yesus, Natal, senantiasa dirayakan meriah oleh banyak orang diseluruh dunia, sementara kematian dan kebangkitan-Nya tidak dirayakan semeriah Natal, padahal oleh karena kematian dan terlebih karena kebangkitan-Nya lah kekristenan menjadi ada. Bagi umat kristiani, kematian dan kebangkitan Yesus menjadi sentralitas man dan keselamatan kita. (Roma 10:9-10)

Semua orang diatas muka bumi ini mengalami siklus yang sama, yaitu lahir dan mati, namun hanya ada satu pribadi yang bangkit dari kematian, bahkan mengalahkan kematian dan hidup selama-lamanya, yaitu Yesus Kristus. Dengan kematian-Nya Ia membuktikan kebesaran kasih-Nya kepada dunia dan melalui kebangkitan-Nya Ia memberikan jaminan keselamatan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. (Ibrani 7:22; 25-27)

Sebagai orang yang percaya kepada Kristus marilah kita mengucap syukur dan mengenal dengan sungguh-sungguh akan Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya, bahkan mengalami kuasa itu.

KRISTUS DAN KUASA KEBANGKITANNYA
1. Kuasa Kebangkitan-Nya Mengubah Jalan Hidup Kita
Dalam 1 Korintus 15:20-22 dikatakan,

“20Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. 21Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. 22Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.”

Dosa membuat arah jalan hidup orang menuju kepada kebinasaan, namun karena Yesus Kristus telah mati lalu bangkit dari kematian dan mengalahkan maut, maka kita semua yang ada dalam persekutuan dengan diri-Nya, sekalipun tubuh fisik kita akan mati, tetapi kita akan hidup kembali dalam kekekalan bersama dengan Dia. Ini adalah kasih karunia yang Allah anugerahkan dan jaminan keselamatan yang Yesus janjikan kepada semua yang percaya kepada-Nya. (Yohanes 3:16; 14:6)

Namun perubahan jalan hidup yang dialami oleh orang percaya bukan hanya berbicara nanti dalam kekekalan itu saja. Oleh karena kebangkitan Yesus dari kematian, perubahan hidup itu pun sudah terjadi sejak kita lahir baru, yaitu sejak menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Perjalanan hidup kita di dunia ini; baik rohani maupun jasmani – diubahkan oleh Tuhan ke arah yang Ia kehendaki. Kebangkitan-Nya yang mulia memungkinkan kita untuk menjalani hidup dengan iman kepada-Nya dan terus dituntun oleh Roh-Nya menuju kepada keserupaan dengan Kristus. (Efesus 4:13-15 bdk. 2 Korintus 3:18)

Karena Yesus bangkit dan hidup, maka kita pun dapat menjalani kehidupan seperti yang Yesus lakukan. Tidak heran Paulus dalam Galatia 2:20 berkata:

“20namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Sungguh, kebangkitan-Nya mengubahkan jalan hidup kita!

2. Kuasa Kebangkitan-Nya Menghancurkan Musuh Kita
Alkitab sangat jelas memberitahu bahwa musuh-musuh kita bukanlah sesama kita, melainkan roh-roh jahat. (Efesus 6:12)

Kebangkitan Yesus dari kematian mengalahkan kuasa kematian dan pengaruh roh-roh jahat yang mencengkram manusia. (1 Yohanes 5:5)

Kalau Yesus tidak bangkit dari kematian, hidup manusia untuk selamanya akan selalu diperbudak oleh dosa dan tidak dapat merdeka dari pengaruh si jahat. (Roma 7:15-20) Namun sebagaimana telah diterangkan diatas, orang-orang yang percaya kepada Kristus juga akan mengalami kuasa kebangkitan-Nya. Karena Dia bangkit mengalahkan maut (Roma 6:9 bdk. Ibrani 2:14), maka kita sekarang memiliki kuasa untuk berkata ‘tidak!’ kepada tipu-muslihat si jahat, dan kita juga memiliki kuasa untuk menghancurkan sepak terjang musuh ini. (1 Yohanes 5:4; Roma 5:17; 6:5)

Kebangkitan Yesus memungkinkan kita untuk menjalani hidup yang tidak lagi diperbudak dosa oleh karena godaan si jahat. (Roma 6:22) Kebangkitan-Nya memberi kita kemerdekaan dan kemenangan; bahkan kuasa untuk melawan Iblis. (1 Korintus 15:57 bdk. Efesus 6:11; Yak. 4:7)

Tidaklah heran, kita dapat membayangkan betapa sukacitanya Paulus ketika ia menerangkan hal tersebut dan bagaimana ia ber-eksklamasi dalam tulisannya sebagai mana dicatat dalam 1 Korintus 15:57,

“Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”

Betapa besar dan hebatnya kuasa kebangkitan-Nya itu bagi kita.

3. Kuasa Kebangkitan-Nya Memperkuat Iman Kita
Saat kita mempelajari bagaimana Yesus dan para murid-murid-Nya berinteraksi, sangat menarik kita temukan bahwa sekalipun Yesus telah beberapa kali memberitahu dan mengajar bahwa diri-Nya sebagai mesias akan mengalami penderitaan dan kematian, murid-murid tersebut tidak sepenuhnya mengerti dan percaya. Mereka sepertinya “beriman penuh” kepada Yesus, namun peristiwa sengsara dan penyaliban Yesus mengguncang diri mereka. Rasul Yohanes mengingat hal ini dengan baik, sehingga semenjak awal tulisannya ia mengungkapkan betapa mereka dahulu tidak percaya penuh akan firman, tetapi semua berubah semenjak kebangkitan Yesus; mereka menjadi percaya penuh akan apa yang dikatakan Kitab Suci dan perkataan yang telah diucapkan Yesus. (Yohanes 2:22)

Salah satu bukti nyata bahwa Yesus benar-benar bangkit adalah para rasul, mereka memberitakan mengenai Yesus bahkan sampai berujung hilangnya nyawa mereka sendiri. Paulus pun memiliki sikap yang sama sebagaimana ditulis dalam 2 Timotius 2:8,

“Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.”

Apabila kebangkitan Yesus adalah sebuah hoax atau tipuan yang dibuat oleh para rasul, maka secara logika tidak akan ada dari mereka yang akan mati karena Kristus. Ini perlu dicamkan karena tidak akan ada orang yang mau mati fisik atas kebohongan yang dibuatnya sendiri. Orang lain mungkin saja mati untuk sebuah kebohongan yang dibuat orang lain, tetapi tidak ada orang yang akan mau mati untuk kebohongan yang dibuatnya sendiri. Para rasul telah melihat sendiri bahwa Yesus bangkit dari kematian, dan berita inilah yang senantiasa mereka sampaikan dalam penginjilan mereka. (bdk. Kisah Para Rasul 2:24-36)

Iman para murid-murid menjadi semakin kuat mengetahui dan percaya Yesus bangkit dari kematian. Hari ini kita pun dengan iman percaya bahwa Yesus telah bangkit dari kematian, mengalahkan maut dan memberi kita kemenangan! Haleluya!

Pendeta Adrian Rogers pernah berkata (terjemahan bebas),

“Kebangkitan Yesus bukanlah sekedar sejarah dalam dunia kekristenan; tanpa kebangkitan-Nya tidak akan ada yang namanya kekristenan. Kebangkitan-Nya adalah satu doktrin yang mengangkat kekristenan diatas iman lainnya di dunia.”

Kehidupan yang kita miliki sekarang, yang memungkinkan kita untuk bangkit dan jadi pemenang, terjadi karena Tuhan Yesus telah bangkit dan hidup. Amin! (CS)

______________________

(Seluruh ayat yang digunakan diambil dari Alkitab Terjemahan Baru Edisi Kedua, terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), 2023]

image source: https://faithtrustandbreastcancer.blogspot.com/2017/06/philippians-310-11-part-12-studio-tour.html

TERDAHULU DAN TERBELAKANG

TERDAHULU DAN TERBELAKANG

Ayat bacaan : Matius 20:1-16

Pada perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur dalam Matius 20:1-16 dikatakan bahwa perihal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan pemilik kebun anggur yang mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.

Tuan pemilik kebun anggur yang keluar memanggil para pekerja (pagi-pagi benar, jam 9, 12, 3 dan 5 sore). Ini menunjukkan kerinduan Tuhan agar semua orang percaya turut mengambil bagian dalam pekerjaanNya, tidak ada yang menganggur tetapi bersama-sama bekerja sesuai panggilan masing-masing. Tuhan sudah menyiapkan ladang yang harus kita garap dan kerjakan. Jika merenungkan tentang para pekerja, ada beberapa hal yang perlu kita pelajari sebagai pekerja Tuhan.

Cara pandang yang keliru adalah akar persoalan

Saat pemilik kebun anggur membagikan upah yang sama yaitu sedinar kepada para pekerja, maka mereka yang bekerja terdahulu (yang memang dijanjikan mendapat upah sedinar) jadi bersungut-sungut karena menilai tuan itu telah berlaku tidak adil.

“Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka : Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; akum au memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat. 20:13-15)

“or is your eye evil because I am good?” (Matt. 20:15b, NKJV)

Cara pandang yang keliru membuat sikap hati kita mudah berubah ketika kita membandingkan keadaan kita dengan orang lain. Akibatnya timbul iri hati/cemburu, jengkel, kepahitan dan salah paham dengan Tuhan/sesama. Kebanyakan orang belum dewasa dalam memahami kebaikan Allah, cenderung tidak menyukai proses, lebih suka kenyamanan/hal yang menguntungkan dirinya; tidak mau merendahkan hati dan berserah penuh kepada kehendakNya.

Tuhan Yesus mengatakan perumpamaan ini agar kita memiliki perspektif yang benar tentang kemurahan hati Allah. Perbarui akal budi kita dengan firman agar kita tidak salah paham dengan Tuhan dan dengan prosesNya. Percayalah dengan segenap hati bahwa Tuhan itu baik, murah hati dan adil.

Hal-hal yang harus kita waspadai sebagai pekerja di ladang Tuhan :

1. Merasa lebih rohani, senior dan berjasa sehingga menuntut haknya

Seberapa lama kita menjadi Kristen dan seberapa lama kita melayani Tuhan bukanlah menjadi suatu ukuran yang membuat kita layak menuntut hak dari Tuhan dan manusia.
Upah sudah Tuhan sediakan tetapi bukan kita yang menentukan upah kita. Itu adalah hak Tuhan secara mutlak.

Perlu diketahui agar tidak salah mengerti dengan Tuhan, cara Tuhan menentukan upah bukan seperti pemikiran dan cara kita. Oleh sebab itu jangan kita merasa berjasa sehingga berhak menuntut karena sudah melakukan ini dan itu. Kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah; karena Allah-lah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya (Filipi 2:13). Tidak ada alasan bagi kita untuk bermegah selain di dalam Kristus.

Kristus adalah tuan, kita adalah hamba. Firman Tuhan dalam Lukas 17:10 mengatakan “Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Bagian kita sebagai pekerja/hamba adalah menjaga sikap dan motivasi hati agar tetap melekat pada Tuhan seumur hidup kita; memiliki integritas, berlaku rendah hati, setia dan dapat dipercaya; serta berfokus membangun kualitas iman, bukan hal-hal yang kuantitas sehingga perkenanan Tuhanlah yang kita rindukan.

2. Bersungut-sungut dan tidak dapat bersukacita saat orang lain menerima anugerah

Dalam jaman itu, satu dinar adalah upah yang biasanya didapatkan seorang pekerja dalam sehari yaitu 12 jam. Pekerja yang pertama menerima 1 dinar sesuai dengan kesepakatan dengan tuannya karena ia dinilai memiliki kemampuan dan kapasitas. Kepada pekerja-pekerja yang lain sang tuan tidak membuat kesepakatan 1 dinar, tapi akan memberikan apa yang pantas bagi mereka (ayat 4 “.. apa yang pantas akan kuberikan kepadamu.”).

Pada petang hari, sang pemilik kebun menyuruh hambanya untuk memulai pembayaran, mulai dari pekerja yang datang terakhir. Orang-orang yang baru bekerja terakhir ini hanya bisa mengharapkan upah yang pantas sesuai kerelaan pemilik kebun anggur. Mereka akhirnya diberi upah 1 dinar walau sebenarnya mereka tidak berhak. Melihat hal itu pekerja yang terdahulu bersungut-sungut (ayat 12) karena ia merasa dirinya telah bekerja berat sepanjang hari dan menanggung panas terik sehingga dia tidak terima dan timbul iri hati.

Bagaimana dengan kita? Seperti apa respon kita melihat cara pemilik kebun anggur membagikan upah kepada para pekerjanya? Apakah kita merasa bahwa tuan pemilik kebun anggur bersikap tidak adil karena ia hanya berbuat baik kepada pekerja yang bekerja terbelakang. Sepertinya secara logika manusia, ia sama sekali tidak menunjukkan kebaikan kepada pekerja yang bekerja terdahulu.

Atau, dapatkah kita turut bersukacita dan mengucap syukur melihat tuan pemilik kebun anggur memiliki hati yang berbelas kasihan? Kemurahan hati Allah berpusat kepada Pribadi Kristus. Kasih Allah berorientasi kepada kebenaran, keselamatan dan perkara-perkara yang kekal; bukan berdasarkan kelayakan, untung rugi cara manusia, jasa-jasa, kebaikan ataupun kuat gagah kita.

Firman Tuhan dalam perumpamaan ini mengajar kita bagaimana memiliki sikap hati yang benar dalam mengikut DIA, dalam menanggapi kebaikanNya, belajar mengucap syukur dalam segala perkara agar tidak menjadi kecewa dan menolak Tuhan.

Tuhan mengenal dan menguji hati setiap kita. Seluruh kemampuan dan talenta yang kita miliki berasal dari Tuhan. Sudah seharusnya kita bersyukur dan merendahkan hati sehingga bisa turut bersukacita jika pekerja lain juga memperoleh anugerah belas kasihan Tuhan. Tidak perlu membanding-bandingkan diri dengan orang lain karena masing-masing akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah (Roma 14:12). Lakukanlah bagian kita dengan sikap hati yang tertuju kepada Kristus.

1 Tim 6: 11-12
11) Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. (Pursue righteousness, godliness, faith, love, steadfastness, gentleness)
12) Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.

Kemenangan bukan untuk orang yang cepat, hebat, berkarunia atau sudah melakukan banyak hal; tapi akan dialami orang yang hatinya senantiasa melekat kepada Tuhan.
Marilah kita belajar serta melatih diri untuk mengejar hal-hal yang ilahi, yaitu kebenaran dan perkenanan Tuhan. Dalam melayani Tuhan, pasti ada tantangan, masalah dan gesekan baik antara sesama pekerja dan pemimpin tetapi jangan jadikan itu alasan untuk kita tawar hati dan mundur!

Kejarlah (arti ‘kejar’ menurut KBBI : menyusul dengan berlari, memburu, berusaha keras, menginginkan dengan sungguh-sungguh) keadilan, kebenaran, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan; sehingga kita dapat terus bertanding dalam pertandingan iman yang benar sampai garis akhir. Jadilah kuat karena kita berakar di dalam kasih Kristus sehingga tidak menjadi kecewa dan menolak Tuhan; tetap menjadi yang terdahulu dan tidak menjadi yang terbelakang.

image source: https://m.facebook.com/109443787436921/photos/a.109466677434632/142015360846430/?type=3

TAHUN 2023  TAHUN UNTUK BANGKIT, JADILAH PEMENANG!

TAHUN 2023 TAHUN UNTUK BANGKIT, JADILAH PEMENANG!

The Year to Rise Up, Be Victorious!

Shalom Saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus,

kita baru saja memasuki tahun yang baru, yaitu tahun 2023. Kita baru saja meninggalkan tahun 2022, Tahun Paradigma yang Baru, tahun dimana Tuhan membuat sesuatu yang baru, yang lama sudah berlalu.

Kita sedang melihat bahwa tahun 2023 pandemi COVID-19 masih belum berakhir; perang Rusia – Ukraina yang masih berkelanjutan; informasi tentang inflasi dan resesi ekonomi tahun 2023 diberitakan di semua platform media sosial. Mungkin ada yang bertanya-tanya bagaimana dengan keadaan saya? Apakah keadaan saya akan lebih baik atau lebih jelek? Bagi Saudara yang sedang bertanya-tanya seperti itu saya katakan bahwa kita harus berpegang kepada firman Tuhan.

TAHUN 2023 AKAN LEBIH BAIK DARIPADA TAHUN 2022

Tahun 2023 akan lebih baik daripada tahun 2022 karena:

1. Kasih Tuhan Tidak Berkesudahan
​Ratapan 3:22-23 yang berkata:

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”

​Berdasarkan ayat ini kita harus percaya bahwa kasih setia Tuhan selalu baru tiap hari, selalu baru tiap minggu, selalu baru tiap bulan dan selalu baru setiap tahun. Karena itu saya mengajak Saudara untuk memperkatakan ini:

“Tuhan, saya percaya, bagi saya tahun 2023 akan lebih baik dari tahun 2022, karena kasih setia Tuhan selalu baru setiap pagi, selalu baru tiap minggu, selalu baru setiap bulan dan selalu baru setiap tahun.”

2. Kita Hidup Berharap dan Berkenan Kepada Tuhan
Ratapan 3:24 berkata:

“TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.”

Jadi karena kita akan selalu berharap kepada-Nya, maka kita akan berkata tahun 2023 akan lebih baik daripada tahun 2022. Haleluya!

​Apa yang terjadi kalau kita berharap kepada-Nya?

a. Mendapat kekuatan yang baru, yang akan melebihi kekuatan orang-orang muda. (Yesaya 40:30-31)
• Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya.
• Mereka berlari dan tidak menjadi lesu.
• Mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. Haleluya!!

b. Mazmur 37:23-24 berkata:

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.”

Orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan adalah orang yang berharap kepada Tuhan.

Bagi orang yang seperti itu, Tuhan akan menetapkan langkah-langkahnya dan apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya. Perlu dicatat: Sebagai orang-orang yang berkenan kepada Tuhan, kita bisa jatuh ke dalam berbagai macam kegagalan dan masalah.

Alkitab memang berkata bahwa k ita bisa saja jatuh, tetapi tidak sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangan kita. Katakan Haleluya!!

c. Yeremia 17:7-8 berkata:

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”

Haleluya!!

d. Mazmur 32:8 dan Mazmur 33:18 berkata:
Bahwa mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya. Tuhan akan mengajar, menasehati dan menunjukkan jalan yang harus kita tempuh. Tuntunan Tuhan ini akan kita mengerti, hanya kalau mata kita tertuju kepada Dia.

3. Hati Kita Melekat Kepada Tuhan, Karena Hidup Intim Deng an Tuhan
Dalam Mazmur 91:14-16, Tuhan berkata:

• “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akanmeluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.
• Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akanmenyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.
• Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akanKuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.”

Jadi kalau hati kita itu melekat kepada Tuhan, kalau kita hidup intim dengan Tuhan, maka:

• Tuhan akan meluputkan dan membentengi kita terhadap sakit penyakit, panah api dari si jahat, jerat penangkapburung, kedahsyatan malam atau terror of the night yangberbicara tentang penculikan, perampokan, pemerkosaan,pembunuhan, terorisme, peperangan.
• Tuhan akan menjawab ketika kita berseru dalam masa kesesakan.
• Tuhan akan memuliakan kita.
• Tuhan akan memberikan panjang umur dengan berkat yang melimpah.
• Tuhan akan memberikan keselamatan. Haleluya!!

TAHUN 2023 ADALAH TAHUN UNTUK BANGKIT, JADILAH PEMENANG

Tuhan menuntun kita untuk memasuki tahun 2023 dengan memberikan tema bahwa:

“Tahun 2023 adalah Tahun untuk Bangkit, JadilahPemenang!

The Year to Rise Up, Be Victorious!”

Tuhan memberikan ayat emas untuk tema tahun ini dari Efesus 5:14 dan 2 Korintus 2:14.

Mungkin ada sebagian orang ketika mendengar Tahun 2023 adalah Tahun untuk Bangkit, Jadilah Pemenang; langsung pengertiannya adalah bangkit dari keterpurukan dalam bidang ekonomi, sosial, kesehatan, keluarga, sekolah dan lain-lain. Apalagi menghadapi tahun 2023 dimana:

• Pandemi belum selesai.
• Perang Rusia Ukraina yang belum berakhir yang berujungkepada krisis ekonomi dan energi yang melanda dunia.
• PHK massal di perusahaan-perusahaan besar seperti Twitter, Facebook, Disney, Amazon.
• Rusia dan Inggris dinyatakan mengalami resesi.

Banyak yang merasa takut, kuatir dan panik. Namun ketika mendengar tema yang Tuhan berikan untuk tahun 2023, itumemberikan suatu pengharapan yang baru bagi mereka yang bergantung kepada Tuhan Yesus.

Kita baru saja meninggalkan tahun 2022 yang berarti meninggalkan tahun paradigma yang baru. Selama ini kita merasakan bahwa cara-cara yang lama ketika memasuki tahun 2022 sudah tidak dapat digunakan lagi. Harus memakai cara yang baru yang Tuhan berikan kepada kita.

Mungkin ada di antara kita yang justru mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri sehingga mengalami frustasi, tertekan, tidak tahu apa yang harus diperbuat. Di tengah-tengah keadaan seperti itu Tuhan berbicara kepada kita bahwa Tahun 2023 adalah Tahun untuk Bangkit, Jadilah Pemenang. Saya percaya Tuhan memberikan kepada kita kekuatan untuk bangkit dan meraih kemenangan.

Efesus 5:14 berkata:

“Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamuyang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”

BANGKIT

Dalam pengertian bahasa Ibrani kata ‘bangkit’ diterjemahkan sebagai ‘Qum’ yang memiliki pengertian yang sama dengan bahasa Inggris: ‘arise’ dan ‘stand’. Yang menarik adalah kata ‘Qum’ juga memberi pengertian bahwa yang namanya bangkit itu adalah berdiri tegak. Bangkit dari mindset yang salah.Bangkit kepada jati diri sebagai murid Kristus, dimana para murid diminta oleh Tuhan Yesus untuk bangun dan melihat tuaian jiwa-jiwa.

John Wesley, bapa Gerakan Metodis dan Kekudusan, memberikan komentar bahwa Efesus 5:14 ini menyiratkan pesan agar pengikut-pengikut Kristus selaku murid-murid Kristus juga bangkit dari ketidakpedulian kepada Tuhan maupun kepada diri sendiri.

Supaya Efesus 5:14 itu terjadi, yaitu supaya kita bangkit dan bangun sehingga Kristus akan bercahaya atas kita, maka kita harus melakukan Efesus 5:15-21. Karena itu:

• Perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup,janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan
• Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalahjahat.
• Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.
• Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggurmenimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,dan
• Berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur,kidung puji-pujian dan nyanyian rohani.
• Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.
• Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita, dan
• Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

2 Korintus 2:14 berkata,

“Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana.”

Dalam ayat ini Paulus menggambarkan orang percaya seperti sedang dipamerkan oleh Allah kepada dunia sebagai suatu kemenangan dan trophy (piala) kasih karunia Kristus yang menyelamatkan. Kehidupan orang percaya yang sudah ditebus itu dinyatakan sebagai bau yang harum di hadapan Allah dan umat manusia. Kehidupan orang percaya yang dimaksudkan ini adalah mereka yang hidupnya berkemenangan. Hidup sebagai pemenang.

JADILAH PEMENANG

Wahyu pasal 2-3, yang merupakan pesan Tuhan Yesus kepada 7 Sidang Jemaat, yang berarti pesan Tuhan Yesus kepada gereja sepanjang masa, selalu diakhiri dengan perkataan sebagai berikut:

“Barangsiapa bertelinga, hendaklah mendengarkan apayang dikatakan oleh ROH kepada jemaat-jemaat.”

Jadi ini dapat disimpulkan barangsiapa menang, upahnya masuk surga. Hanya pemenang yang masuk surga.

Dalam 2 Korintus 2:14 ini, Paulus juga mengucap syukur karena Kristus selalu membawa Paulus di jalan kemenangan-Nya. Dalam kaitannya dengan kehidupan kekristenan maka Allah menunjukkan jalan kemenangan yaitu jalan salib atau pikul salib yang telah dijalani oleh murid-murid Kristus, sehingga mereka menghidupi hal ini memperoleh kemenangan.

Sama seperti Kristus telah menunjukkan bahwa Ia telah melalui jalan kemenangan dengan memikul salib-Nya, demikian jugadengan para pengikut-Nya yaitu para murid-Nya, Saudara dan saya juga harus jalan dan pikul salib.

Berita firman Tuhan tentang pikul salib sudah tidak populer bagisebagian orang Kristen. Mereka mengira bahwa untuk masuk surga cukup mengalami kelahiran baru, setelah itu hidup dengan ‘semau gue’. Disini saya tegaskan; orang yang mempunyai pengertian seperti itu harus bertobat, agar diselamatkan secara sempurna.

Hari-hari ini tidak ada waktu untuk main-main lagi dengan kekristenan. Orang Kristen yang berkenan di hadapan Tuhan, artinya berbau harum di hadapan Tuhan dan manusia, adalah mereka yang mengikuti jalan kemenangan-Nya yaitu dengan pikul salib.

Melalui perjalanan hidup pengikut Kristus yang dipertontonkan kepada banyak orang, mereka akan menjadi kesaksian dan alat penginjilan. Dalam menyelesaikan Amanat Agung hanya murid yang bisa memuridkan. Proses pemuridan ini terjadi melalui kesaksian hidup kita sebagai murid Tuhan Yesus kepada orang lain, bukan karena pelajaran yang hebat-hebat tentang pemuridan.

Perlu dicatat bahwa arti menang atau kemenangan dalam Alkitab bahasa Inggris yang disebutkan sebagai Triumphant, tidak pernah berbicara mengenai keuntungan secara pribadi maupun berkat secara pribadi. Pengertian ini juga sama dengan pengertian dalam bahasa Yunaninya. Pengertian kemenangan yang Tuhan maksudkan ternyata bertentangan dengan pengertian secara dunia. Sebagai perbandingan perhatikanpengajaran Tuhan Yesus di Matius 5 tentang Kotbah di Bukit dimana terlihat perbedaan yang menyolok tentang definisi bahagia secara surgawi dengan definisi umum secara duniawi.

Selanjutnya tentang pengertian menang dan kemenangan kita harus mengingat 2 hal sebagai berikut:

1. Kemenangan terjadi karena pengurapan Tuhan, seperti yang dikatakan dalam Mazmur 20:7.
Hal ini dipertegas dalam Zefanya 3:17 yang menyebutkan bahwa kemenangan berasal dari Tuhan.

2. Sesuai dengan yang tertulis dalam 1 Yohanes 5:4 makaKemenangan yang mengalahkan dunia adalah iman kita. Orang yang menang atas dunia akan mendapatkan upah yang spesial dari Tuhan.

Seperti yang tertulis dalam 1 Yohanes 2:15-17 yang berkata:

• Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
• Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
• Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup sampai selama-lamanya.

Karena itu orang yang menang atas dunia ini akan mendapatkan hidup kekal selama-lamanya.

Selamat Tahun Baru 2023.

Tahun untuk Bangkit, Jadilah Pemenang!

The Year to Rise Up, Be Victorious!

Tuhan Yesus memberkati Saudara berlimpah-limpah. Amin.

image source: https://wiirocku.tumblr.com/post/667200742971539457/embed