Author: EM

Home / Articles posted by EM (Page 11)
MEMILIH UNTUK TETAP PERCAYA SAAT TUHAN DIAM ATAU TERASA JAUH

MEMILIH UNTUK TETAP PERCAYA SAAT TUHAN DIAM ATAU TERASA JAUH

PENDAHULUAN

Setiap kita pernah atau sedang mengalami pergumulan dan merasa Tuhan seolah diam dan terasa jauh padahal kita sudah mengucap syukur, memuji menyembah Tuhan, berdoa, deklarasi iman, dsb. Pendeknya kita ada dalam titik iman terendah, terlemah karena merasa Allah sengaja meninggalkan kita. Lalu bagaimana seharusnya respon yang benar supaya kita tetap kuat bertahan dan tidak menjadi tawar hati?

ISI

Mari belajar dari seseorang yang memiliki keintiman dengan Tuhan; yang kesukaannya merenungkan firman serta memuji menyembah DIA, yaitu raja Daud. Alkitab mencatat bahwa raja Daud memiliki kehidupan yang sarat dengan masalah dan pergumulan baik dalam kehidupan pribadi, keluarga dan pemerintahannya. Sebagai manusia biasa, ia juga merasa begitu tertekan dalam menghadapi badai persoalan yang datang silih berganti. Namun demikian keintimannya dengan Tuhan membuat dia berani berperkara dengan Allah dengan cara mencurahkan seluruh isi hatinya seperti yang ditulis dalam Mazmur 13.

Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku  terus-menerus ? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku,  dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? (Mazmur 13:2-3).

Mazmur 13 merupakan doa berupa ungkapan kesesakan hati yang jujur dari raja Daud atas pergumulan hidupnya. Dalam ketidakmengertiannya, Daud merasa Tuhan sengaja menyembunyikan diri justru di saat ia sangat membutuhkan pertolongan-Nya. Belajar dari raja Daud, kita pun bisa mengungkapkan semua pikiran, perasaan/emosi yang bergejolak dan kerinduan hati terdalam dengan jujur kepada Tuhan. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat mengalami tekanan, kita bisa dilanda beragam emosi negatif seperti kecemasan, ketakutan, kemarahan, kesedihan, frustasi, kelelahan mental, merasa ditinggalkan, hingga perasaan putus asa.

Pengalaman raja Daud ini mengajar bahwa mengungkapkan kesedihan dan frustrasi kepada Tuhan adalah tindakan yang alkitabiah. Reaksi emosional yang kurang sehat dan perlu dihindari adalah tidak berlaku jujur terhadap apa yang dirasakan/menyangkali perasaan kita. Ini menyebabkan perasaan semakin tertekan, dan sebagai pelampiasannya kita akan berusaha mengatasi perasaan yang tertekan itu dengan mencari hal-hal  yang duniawi guna membalut luka hati, menutupi rasa bersalah, atau untuk mengisi kekosongan jiwa dan perasaan kesepian.

Pertanyaan Diskusi :

Pernahkah Anda merasa sepertinya Tuhan jauh atau melupakan kita? Mengapa penting membawa emosi kita kepada-Nya?

Manfaat dari mengakui/ mengungkapkan semua pikiran, perasaan dan isi hati yang terdalam kepada Tuhan :

  • beban emosional kita terlepas,
  • pikiran yang gelap diterangi oleh firman Tuhan sehingga kita jadi memahami diri sendiri, keadaan yang terjadi, dan orang lain,
  • kita bisa melihat kasih setia Tuhan yang jauh melebihi pergumulan kita, serta mengerti kehendak-Nya melalui semua yang terjadi – mengerti bahwa justru dalam kelemahan kita, kasih karunia Allah menjadi sempurna.
  • cara pandang kita diubah menjadi cara pandang Tuhan dalam melihat segala sesuatu,
  • terjadi transformasi hati karena mengalami pemulihan,
  • iman percaya kita dibangun dan didewasakan, karakter kita diubahkan semakin menyerupai Kristus.

Proyek ketaatan :

Tulislah journal/surat doa pribadi kepada Tuhan yang mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya. Jujurlah seperti Daud di kitab Mazmur 13.

Sebelum raja Daud percaya kepada firman/janji Allah, ia terlebih dulu mengenal sifat karakter Allah yang baik dan berlimpah kasih setia. Demikian pula kita, mari belajar mengenal karakter Tuhan agar dapat memercayai janji firman-Nya. Memilih untuk tetap percaya saat Tuhan seolah diam/tidak menolong dan meninggalkan kita.

Orang benar harus hidup karena percaya, bukan karena melihat (2 Kor. 5:7); bukan pula dipimpin oleh pikiran dan perasaan. Pikiran dan logika menuntut bukti yang terlihat, perasaan menuntut untuk dipuaskan. Kita punya kecenderungan ingin memahami segalanya atau melihat bukti terlebih dahulu baru percaya; tetapi Tuhan mau supaya kita untuk percaya lebih dulu, mengalami, baru mengerti. Iman yang sejati berjalan dalam kepercayaan, bukan dalam bukti atau pemahaman yang sempurna. “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Amsal 3:5-6)

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9). Ayat ini mengajar kita bahwa  pikiran Tuhan jauh lebih tinggi dari pikiran kita. Percaya berarti tunduk kepada kebijaksanaan ilahi yang melebihi logika manusia.

PENUTUP

Saat berada dalam pergumulan dengan titik iman terendah dan emosi yang bergejolak, respon yang paling bijak adalah mengungkapkan seluruh pikiran, perasaan dan kerinduan hati yang terdalam di hadapan Tuhan dengan jujur. Menyangkali perasaan justru membuat kita semakin tertekan dan berusaha mencari pelampiasan dengan hal/cara yang keliru. Dengan berlaku jujur, Tuhan akan memulihkan hati dan jiwa kita. Sekalipun masih berada di tengah pergumulan, tapi hati dan jiwa yang dipulihkan menjadikan kita kuat bertahan sebab hidup karena percaya akan janji Tuhan, bukan karena melihat.

Baca janji Tuhan dalam Ulangan 31:6, Yosua 1:5 dan Ibrani 13:5.

MENGUBAH RATAPAN MENJADI PUJIAN

MENGUBAH RATAPAN MENJADI PUJIAN

PENDAHULUAN

Setiap orang pasti pernah mengalami penderitaan. Bagi orang percaya, penderitaan menuntut respon yang tepat agar dapat berhasil dalam menyelesaikan maksud dan rencana Tuhan. Respon yang tepat terhadap penderitaan membawa kita mengalami kuasa Tuhan  dan menikmati kemenangan.

ISI

Penderitaan membawa kita kepada penyembahan yang lebih dalam karena keyakinan penuh bahwa Tuhan itu ada. “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”  (Mazmur 34:19).

Berikut beberapa hal yang perlu kita ketahui supaya dapat meresponi penderitaan dengan benar:

  1. Tuhan tidak membuang rasa sakit/penderitaan melainkan mengijinkan kita melewatinya.

Penyembahan yang paling tulus dan murni justru dihasilkan saat kita berada dalam lembah kekelaman dan penderitaan. Pujian sejati bukan lahir dari kenyamanan atau keadaan sedang baik-baik saja, tapi dari ‘trust’/kepercayaan yang dalam kepada-Nya saat kita menghadapi pergumulan atau hati yang terluka. Tidak perlu menyangkali penderitaan yang sedang dialami; kita boleh saja mengungkapkan isi hati serta perasaan dengan jujur kepada Tuhan disertai rasa hormat dan ucapan syukur. Ucapan syukur membangkitkan iman dan pengharapan kepada Allah.

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga,  tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4:6).

Memuji menyembah saat menghadapi pergumulan merupakan tanda kerendahan hati yang mengakui kedaulatan Tuhan atas hidup kita. Inti dari pujian dan penyembahan kita bukanlah pergumulan yang kita alami, keadaan diri kita atau apa yang Tuhan bisa buat. Esensi dari pujian dan penyembahan kita adalah Pribadi Tuhan sendiri: IA layak dipuji dan disembah oleh seluruh ciptaan-Nya.

Kepada TUHAN,  hai suku-suku bangsa,  kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!  Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya!  Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan,  gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi! (Mazmur 96:7-9).

Refleksi:
Mari kita belajar/melatih diri untuk memuji  dan menyembah Tuhan bukan karena keadaan sedang baik-baik saja, tetapi karena mengenal siapa Dia.

  1. Pujian bisa mengubah keadaan tapi terlebih dahulu mengubah perspektif kita.

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan,  kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,  namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN ,  beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.  (Habakuk 3:17–19).

Pujian merupakan keputusan iman yang dewasa, bukan reaksi emosi. Nabi Habakuk memilih untuk memuji Tuhan di tengah kekosongan dan kekeringan, karena sukacitanya berakar pada Tuhan, bukan pada situasi atau apa yang dia miliki. Pergumulan yang jujur dengan Allah menghasilkan transformasi hati yang mendalam. Saat memuji menyembah, kita bisa melihat segala sesuatu dengan mata rohani dan bukan sekadar realita dunia. Pujian dan penyembahan membawa kita berjalan dalam dimensi roh dan melihat dengan perspektif/cara pandang Tuhan.

Rasul Paulus menghadapi banyak kesulitan, tetapi ia percaya bahwa apa yang tidak kelihatanlah yang bertahan sampai kepada kekekalan. Ia mengatakan bahwa penderitaan ringan yang sekarang ini akan menghasilkan “kemuliaan kekal”. Oleh karena itu, ia tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang “tak kelihatan adalah kekal” (2 Korintus 4:17-18).

Beberapa contoh Deklarasi Iman:

Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku (Mazmur 13:5-6).

Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku,  takkan kekurangan aku (Mazmur 23:1).

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN,  tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!  “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya (Ratapan 3:22-24).

  1. Pujian mengundang hadirat dan kuasa Allah.

“Namun Engkau adalah Yang Kudus, yang bersemayam di atas puji-pujian Israel.” (Mazmur 22:4)

Memuji Tuhan saat keadaan baik-baik saja tentu mudah; tetapi jika sedang dalam penderitaan atau hati terluka, pujian  penyembahan kita menjadi sesuatu yang mahal dan berbau harum di hadapan-Nya karena lahir dari iman yang tulus, murni, dewasa dan berakar dalam kasih. Saat memilih untuk merendahkan hati dengan memuji-muji Tuhan di tengah pergumulan dan rasa sakit, kita sedang membangun takhta bagi DIA untuk berkarya atas situasi kita.

Mari belajar meresponi penderitaan dari raja Yosafat saat menghadapi musuh dalam 2 Tawarikh 20: 3a : Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan…

Saat memutuskan untuk mencari Tuhan dan memuji-muji  Dia, kita sedang menyerahkan segala pergumulan kita kepada Tuhan dan Dia yang akan berperang ganti kita.

“Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah. Lalu bani Amon dan Moab berdiri menentang penduduk pegunungan Seir hendak menumpas dan memunahkan mereka. Segera sesudah mereka membinasakan penduduk Seir, mereka saling bunuh-membunuh (2 Tawarikh 20:22-23).

Yosafat mengajarkan kita strategi dalam menanggapi kabar buruk. Ada empat hal yang dia lakukan yaitu : berseru dalam doa, berpuasa, meminta strategi perang dari Tuhan dan menaikkan puji-pujian bagi Allah di tengah gempuran musuh.

Pujian adalah senjata rohani yang mengubah atmosfer dan membuka pintu surga untuk mengintervensi keadaan kita. Pujian mengarahkan mata kita kepada Tuhan yang besar, hebat, ajaib/pembuat mukjizat, berdaulat atas segala sesuatu; Allah yang tidak bisa dibatasi oleh apapun/siapapun, setia, penuh kasih, serta mampu melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan. Dengan memuji-muji Tuhan, iman kita semakin dibangun/diteguhkan.

Saat dalam pergumulan, tekanan, hati terluka dan merasa seolah Tuhan tidak bertindak, beresponlah dengan benar. Jangan mengasihani diri sendiri, menyalahkan dan patah semangat. Berhati-hatilah dengan perkataan kita, jangan bersungut-sungut seperti yang dilakukan bangsa Israel saat di padang gurun. Allah sangat tidak menyukai perilaku yang bersungut-sungut dan tidak tahu bersyukur.

Jangan pula mencoba mencari solusi dengan kekuatan dan pengertian sendiri, tapi ambil keputusan untuk mencari hadirat Tuhan dan tuntunan-Nya.  Berobatlah jika ada hal yang Roh Kudus ingatkan untuk kita bertobat dan lakukan pemberesan.

Pembaruan akal budi dengan firman Tuhan membawa kita bisa melihat penderitaan dari perspektif ilahi. Ada maksud dan tujuan Tuhan di dalam setiap musim hidup kita. Setiap penderitaan atau luka hati memiliki peluang untuk membuat kita semakin dewasa, semakin mengenal keterbatasan dan kelemahan diri sendiri, semakin mengenal Allah, sifat-sifat-Nya dan makin mengandalkan DIA.

Penderitaan/pergumulan membawa kita hidup dalam rencana Allah, sementara zona nyaman membuat kita  sibuk dengan agenda/keinginan pribadi, sarat dengan hawa nafsu kedagingan, menjadi suam dan melupakan Tuhan. Iman yang tidak bertumbuh membuat kita menjadi buta dan picik, lupa bahwa kita diselamatkan untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. IA mau, supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10).

PENUTUP

Rasa sakit dan tekanan bukan menjadi penghalang untuk kita memuji Tuhan – justru itulah jalan menuju penyembahan yang sejati. Dari salib menuju kebangkitan, Yesus menunjukkan bahwa pujian tetap naik di tengah penderitaan, dan kemenangan akan datang setelahnya.

Berserulah kepada Tuhan dengan iman  yang tulus dan murni melalui doa, pujian, penyembahan serta deklarasi iman. Ubah ratapan menjadi pujian supaya hadirat Tuhan masuk ke dalam badai hidup kita.  Hadirat Tuhan pasti disertai dengan karya-karya-Nya yang ajaib dan tak terduga (1 Korintus 2:9).

MENGUBAH RATAPAN MENJADI PUJIAN (bagian 2)

MENGUBAH RATAPAN MENJADI PUJIAN (bagian 2)

Sekilas review minggu lalu:

Penderitaan menuntut respon yang tepat agar dapat berhasil dalam menyelesaikan maksud/ rencana Tuhan serta membawa kita mengalami kuasa-Nya  dan menikmati kemenangan yang telah disediakan.

Beberapa hal yang perlu kita ketahui supaya dapat meresponi penderitaan dengan benar:

  1. Tuhan tidak membuang rasa sakit/penderitaan melainkan mengijinkan kita melewatinya.
  2. Pujian bisa mengubah keadaan, tapi terlebih dahulu mengubah perspektif kita.

Sambungan minggu ini:

  1. Pujian mengundang hadirat dan kuasa Allah.

“Namun Engkau adalah Yang Kudus, yang bersemayam di atas puji-pujian Israel.” (Mazmur 22:4)

Memuji Tuhan saat keadaan baik-baik saja tentu mudah; tetapi jika sedang dalam penderitaan atau hati terluka, pujian  penyembahan kita menjadi sesuatu yang mahal dan berbau harum di hadapan-Nya karena lahir dari iman yang tulus, murni, dewasa dan berakar dalam kasih. Saat memilih untuk merendahkan hati dengan memuji-muji Tuhan di tengah pergumulan dan rasa sakit, kita sedang membangun takhta bagi DIA untuk berkarya atas situasi kita.

Mari belajar meresponi penderitaan dari raja Yosafat saat menghadapi musuh dalam 2 Tawarikh 20: 3a : Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan…

Saat memutuskan untuk mencari Tuhan dan memuji-muji  Dia, kita sedang menyerahkan segala pergumulan kita kepada Tuhan dan Dia yang akan berperang ganti kita.

“Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah. Lalu bani Amon dan Moab berdiri menentang penduduk pegunungan Seir hendak menumpas dan memunahkan mereka. Segera sesudah mereka membinasakan penduduk Seir, mereka saling bunuh-membunuh (2 Tawarikh 20:22-23).

Yosafat mengajarkan kita strategi dalam menanggapi kabar buruk. Ada empat hal yang dia lakukan yaitu : berseru dalam doa, berpuasa, meminta strategi perang dari Tuhan dan menaikkan puji-pujian bagi Allah di tengah gempuran musuh.

Pujian adalah senjata rohani yang mengubah atmosfer dan membuka pintu surga untuk mengintervensi keadaan kita. Pujian mengarahkan mata kita kepada Tuhan yang besar, hebat, ajaib/pembuat mukjizat, berdaulat atas segala sesuatu; Allah yang tidak bisa dibatasi oleh apapun/siapapun, setia, penuh kasih, serta mampu melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan. Dengan memuji-muji Tuhan, iman kita semakin dibangun/diteguhkan.

Saat dalam pergumulan, tekanan, hati terluka dan merasa seolah Tuhan tidak bertindak, beresponlah dengan benar. Jangan mengasihani diri sendiri, menyalahkan dan patah semangat. Berhati-hatilah dengan perkataan kita, jangan bersungut-sungut seperti yang dilakukan bangsa Israel saat di padang gurun. Allah sangat tidak menyukai perilaku yang bersungut-sungut dan tidak tahu bersyukur.

Jangan pula mencoba mencari solusi dengan kekuatan dan pengertian sendiri, tapi ambil keputusan untuk mencari hadirat Tuhan dan tuntunan-Nya.  Berobatlah jika ada hal yang Roh Kudus ingatkan untuk kita bertobat dan lakukan pemberesan.

Pembaruan akal budi dengan firman Tuhan membawa kita bisa melihat penderitaan dari perspektif ilahi. Ada maksud dan tujuan Tuhan di dalam setiap musim hidup kita. Setiap penderitaan atau luka hati memiliki peluang untuk membuat kita semakin dewasa, semakin mengenal keterbatasan dan kelemahan diri sendiri, semakin mengenal Allah, sifat-sifat-Nya dan makin mengandalkan DIA.

Penderitaan/pergumulan membawa kita hidup dalam rencana Allah, sementara zona nyaman membuat kita  sibuk dengan agenda/keinginan pribadi, sarat dengan hawa nafsu kedagingan, menjadi suam dan melupakan Tuhan. Iman yang tidak bertumbuh membuat kita menjadi buta dan picik, lupa bahwa kita diselamatkan untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. IA mau, supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10).

PENUTUP

Rasa sakit dan tekanan bukan menjadi penghalang untuk kita memuji Tuhan – justru itulah jalan menuju penyembahan yang sejati. Dari salib menuju kebangkitan, Yesus menunjukkan bahwa pujian tetap naik di tengah penderitaan, dan kemenangan akan datang setelahnya.

Berserulah kepada Tuhan dengan iman  yang tulus dan murni melalui doa, pujian, penyembahan serta deklarasi iman. Ubah ratapan menjadi pujian supaya hadirat Tuhan masuk ke dalam badai hidup kita.  Hadirat Tuhan pasti disertai dengan karya-karya-Nya yang ajaib dan tak terduga (1 Korintus 2:9).